Janda Bersegel

Janda Bersegel
Mau pulang


__ADS_3

Tuan Felix sama sekali tidak memberi tahu kalau ia akan ke Indonesia. Ia hanya mengucapkan selamat dan meminta maaf.


"Kapan-kapan ke Indonesia lagi kan?" tanya Sindi penuh kecewa.


"Iya nanti ya. Nunggu Rian libur panjang," ucap Tuan Felix.


"Maaf ya Kak Sindi," ucap Rian.


Sindi berusaha tersenyum meskipun ada luka di hatinya.


"Gak apa-apa. Aku doain kamu lancar ya sekolahnya," ucap Sindi.


Panggilan berakhir. Sindi memberikan kembali ponselnya pada Mia. Ia kecewa, tapi tidak ingin menunjukkannya pada siapapun. Padahal tanpa sepengetahuan Sindi, Rian dan Tuan Felix sedang berkemas karena mereka akan ke Indonesia besok.


"Jangan sedih gitu dong. Kan ada kita semua," ucap Mia.


"Terima kasih ya Mi," ucap Sindi.


"Oh iya, anak kamu ganteng banget. Lucu," ucap Mia.


"Tapi kita gak jadi besanan Mi. Anaknya Maya lahir duluan," ucap Sindi.


"Jodoh gak ada yang tahu. Siapa tahu yang besanan kamu sama Mia," ucap Mia.


"Eh iya ya. Nanti aku ajarin anak aku buat berjuang suapaya dapat cintanya Naura," ucap Sindi.


"Jadi berondong dong," ucap Nyonya Nathalie.


"Bu, kalau bedanya cuma dua sampai tiga tahun sih gak apa-apa. Asal jangan bedanya sepuluh tahun," ucap Sindi.


"Iya Mi, udah deh. Yang mau besanan juga Sindi sama Mia. Kenapa Mami yang repot sih?" ucap Tuan Ferdinan.


"Tuh dengar kata Tuan Ferdinan. Lagian kalau anaknya Sindi gak boleh sama anaknya Mia juga gak apa-apa. Aku yakin masih banyak cowok lain yang mau sama Naura. Naura itu kan cantik," ucap Nyonya Helen yang merasa tersinggung dengan ucapan Nyonya Nathalie.


"Ma, udah dong. Ini di rumah sakit. Dilarang ribut-ribut," ucap Tuan Wira menengahi.


"Tuh dengerin. Jangan ribut-ribut," ucap Nyonya Nathalie.


"Mi, Mami juga udah dong. Kalau begini terus kapan selesainya?" ucap Tuan Ferdinan.


Saat Nyonya Helen akan bicara, Tuan Wira segera menatap Nyonya Helen kembali mengatupkan mulutnya. Ia tidak ingin suaminya kembali memarahinya di depan orang lain. Apalagi di depan musuh bebuyutannya.


Nyonya Nathalie dan Nyonya Helen memang diam. Namun suasana menjadi aneh. Biasanya selalu ramai, namun kini berubah menjadi sepi dan kaku.


Sudah terlalu malam, Mia dan keluarganya pamit. Tidak lama, Nyonya Helen dan Tuan Ferdinan juga ikut pulang. Hanya ada Danu dan Sindi. Secara personal, Danu mengucapkan rasa terima kasih yang mendalam pada Sindi.


"Gak perlu berterima kasih begitu. Melahirkan kan udah jadi kodrat aku sebagai perempuan dan seorang ibu," ucap Sindi.

__ADS_1


"Aku melihat perjuangan kamu untuk anak kita. Kalau saja bisa, aku bersedia menggantikan rasa sakit itu. Ingatkan aku jika aku menyakitimu. Cukup saat melahirkan aku melihat kamu kesakitan seperti itu," ucap Danu.


"Sepertinya rasa syukurku harus lebih banyak. Ternyata suamiku ini begitu manis," ucap Sindi sembari menahan senyumnya.


"Aku serius," ucap Danu.


Tatapam Danu begitu tajam. Bibirnya cemberut menahan kesal karena ucapan dan tingkah Sindi. Sindi menutup mulutnya dan mengangguk.


"Tidur! Ini sudah malam. Kamu harus banyak istirahat," ucap Danu.


"Kapan kita pulang?" tanya Sindi.


"Fasilitas di sini tidak membuatmu nyaman?" tanya Danu kembali.


Sindi nampak mengerutkan dahinya.


"Pelayanannya gak bagus?" tanya Danu lagi.


"Kamu kenapa sih? Aku kan cuma nanya kapan kita pulang. Kok kamu jadi bahas fasilitas sama pelayanan rumah sakit?" tanya Sindi bingung.


"Aku meminta fasilitas dan pelayanan terbaik buat kamu. Biar kamu nyaman di sini," ucap Danu.


"Mau sebagus apapun fasilitas dan pelayanan di rumah sakit, aku rasa gak ada yang betah deh. Setiap pasien pasti mau pulang," ucap Sindi.


"Ya kan paling gak sampai kamu benar-benar sehat," ucap Danu.


"Dokter belum memeriksa kamu lagi. Kita akan pulang kalau Dokter bilang kamu boleh pulang," ucap Danu.


"Kapan?" tanya Sindi.


"Ya mana aku tahu," jawab Danu.


"Dokternya bisa dipanggil gak? Aku mau tanya sama dokternya langsung," ucap Sindi.


"Ini sudah malam, sebaiknya kamu tidur." Danu menyelimuti Sindi.


"Memangnya dokter dibayarnya gak sampai malam ya?" tanya Sindi.


"Sindi, kalaupun kata dokter kamu sudah sehat dan boleh pulang, aku gak akan mungkin bawa kamu pulang. Ini sudah malam. Jangan membuatku pusing. Sekarang kita tidur," ucap Danu.


"Baru aja tadi manis," ucap Sindi.


Danu hendak menepis anggapan Sindi, namun ia melihat istrinya sudah memejamkan matanya. Danu mengurungkan niatnya dan berbaring di atas sofa.


Waktu terus melaju, namun rasa ngantuk tidak Danu dapati. Bayangan Sindi saat kesakitan tadi membuat ia tidak bisa tidur. Menjelang pagi, Danu baru bisa tidur dengan nyenyak. Bahkan saat Dokter datang untuk memeriksa keadaan Sindi pun, Danu masih tertidur nyenyak.


Danu baru terbangun saat mendengar suara tangis bayi. Sindi tersenyum melihat Danu yang memaksa matanya untuk terbuka saat mendengat anak mereka menangis.

__ADS_1


"Kamu tidur aja. Nanti juga anak kita tidur lagi. Aku mau menyusuinya," ucap Sindi.


"Aku gak ngantuk kok," jawab Danu.


Sementara Sindi hanya menggelengkan kepalanya saat melihat kebohongan Danu. Bagaimana mungkin Danu berkata tidak mengantuk sementara matanya merah dan menguap beberapa kali.


"Udah kamu tidur aja. Nanti sore kita pulang," ucap Sindi.


"Aku udah bilang nanti kita tanya dokter dulu," jawab Danu.


"Kamu masih tidur waktu dokter periksa aku," jawab Sindi.


"Hah?" tanya Danu tidak percaya.


Beneran ada dokter ya tadi? Gila, kok aku tidur kayak kebo sih? Masa gak inget sama sekali?


"Nanti sore periksa lagi. Buat memastikan kita pulang atau gak," jawab Sindi.


Setelah bicara banyak hal, Danu sudah tidak sanggup menahan rasa ngantuknya. Akhirnya ia menyerah dan tertidur kembali.


Saat sore, Dokter kembali memeriksa Sindi. Menurut hasil pemeriksaan semuanya bagus, hanya tekanan darah saja yang masih rendah.


"Kita gak bisa pulang sekarang. Besok aja ya! Aku mau pulang kalau kamu benar-benar sudah sehat," ucap Danu.


"Tapi kata dokter ini bisa sembuh kalaupun kita di rumah. Ini hanya karena pola tidur yang tidak teratur aja kok," bujuk Sindi.


"Gak Sin. Besok aja," ucap Danu.


Danu meminta dokter keluar setelah selesai memeriksa keadaan Sindi. Ia menarik napas panjang saat melihat Sindi marah padanya. Saat akan membujuk Sindi, tiba-tiba Maya dan Reza datang menjenguk.


Wajah Sindi berubah menjadi jauh lebih baik. Ia membahas perjodohan anaknya dengan anak Mia yang hampir gagal. Namun ia meyakinkan Maya agar bisa menerima kenyataan kalau suatu saat nanti anaknya berhasil mendapatkan cintanya Naura.


"Jadi kita bersaing nih?" goda Maya.


"Iya dong," jawab Sindi.


Mereka nampak tertawa lepas. Sindi seolah sudah melupakan kemarahannya. Danu senang melihat itu. Ternyata benar. Kehadiran orang-orang yang Sindi sayangi di sekelilingnya akan menjadi obat tersendiri untuk istrinya itu.


Setelah Maya dan Reza pamit, Danu mendekat pada Sindi. Ia melihat Sindi kembali marah dan kesal. Padahal ia sudah merasa terselamatkan dengan kehadiran Maya dan Reza.


"Besok aku janji akan membawamu pulang. Aku cuma mau kamu mendapatkan penanganan yang terbaik Sin," ucap Danu.


"Tapi aku mau pulang," jawab Sindi.


"Besok. Aku janji besok kita pulang. Tolong ya Sin. Satu malam lagi," ucap Danu dengan memohon.


Sindi menatap wajah tulus Danu. Akhirnya ia menyadari apa tujuan Danu. Sindi mengiyakan bahkan meminta maaf atas sikapnya yang kekanak-kanakkan. Beruntung Danu mengerti dengan hormon wanita yang baru saja melahirkan.

__ADS_1


Benar kata dokter. Kamu naik turun kayak roller coaster. Baru aja tadi marah-marah, sekarang kamu udah meminta maaf. Aku harus lebih sabar menghadapi kamu.


__ADS_2