
Jam kerja sudah usai. Tuan Ferdinan lebih awal dari Mia, Nyonya Nathalie memintanya untuk pulang lebih cepat. Sementara Mia masih ada di ruangannya. Tuan Ferdinan meminta seseorang untuk mengabarinya jam berapa Mia pulang dari kantor.
Ketika sudah sampai di rumahnya, Tuan Ferdinan disambut dengan hangat oleh Nyonya Nathalie. Ternyata hari ini ulang tahun Tuan Ferdinan. Istrinya memberi kejutan berupa kado dan kue ulang tahun.
"Selamat ulang tahun, Papi." Nyonya Nathalie mencium pipi kiri dan kanan suaminya. Tak lupa sebuah kecupan singkat ia daratkan di bibir suaminya yang hampir tertutup kumisnya.
Matanya berkaca-kaca, bahkan Tuan Ferdinan sendiri lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunnya.
"Mami, thank you so much. I Love you," ucap Tuan Ferdinan memeluk istrinya.
"Happy bitrhday Pi, maafin Danu kalau selama ini belum bisa menjadi yang terbaik. Sehat-sehat ya Pi," ucap Danu.
Ucapan Danu disambut pelukan hangat dari ayahnya. "Thank you. Maafin papi kalau selalu menekanmu. Kamu satu-satunya anak papi. Kamu adalah suatu piala bagi papi. Kamu adalah kemenangan papi dalam hidup ini. Papi hanya ingin kamu hidup bahagia, bukan hanya sekarang tapi sampai nanti menua bersama pasanganmu."
Danu sangat malas mendengar semua itu. Kenapa ujung-ujungnya harus pasangan? Danu paham betul kalau inti dari ucapan ayahnya adalah 'kapan menikah? Kapan punya cucu?'. Ah, sudahlah. ini adalah hari bahagia bagi ayahnya. Hanya hari ini saja Danu akan memberi kebebasan untuk ayahnya, Danu akan membiarkan ayahnya semalaman membahas tema 'kapan nikah' sepuasnya. Perlu digarisbawahi, hanya hari ini. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun dari Danu untuk Tuan Ferdinan.
"Papi tenang saja, kan sudah ada Mia. Tinggal menghitung hari kok pi," jawab Nyonya Nathalie mewakili Danu karena sudah pasti Danu tak akan menjawab bahasan tentang pernikahan. "Oh iya ini kado dari Mami dan Danu," lanjut Nyonya Nathalie mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuat mood Danu kacau.
"Wah, terima kasih." Tuan Ferdinan menerima giftbox yang terlihat sangat mahal.
Satu buah kado sari istrinya berisi sepasang sepatu olah raga yang harganya dibanderol sangat fantastis.
"Ini biar papi meluangkan waktu untuk berolah raga. Selain itu juga filosopi sepatu itu mami ambil agar kita bisa selalu berjalan beriringan. Meskipun kita sering sekali berbeda pendapat, tapi kita harus selalu menyamakan tujuan kita." Nyonya Nathalie berhasil membuat Tuan Ferdinan tersenyum bahagia.
Tuan Ferdinan tak pernah berpikir kalau istrinya akan sangat memperhatikan dan begitu romantis. Ia sangat terharu sekali. Kemudian ia membuka sebuah kado dari Danu. Kado yang lebih kecil dibanding dengan kado dari istrinya.
Jam tangan? Merknya membuat Tuan Ferdinan tersenyum. Ini jam tangan mahal yang selama ini ia impikan. Bukan tidak mampu membelinya, namun Tuan Ferdinan belum bisa memesannya karena terlalu sibuk. Jam tangan seri terbaru dari merk dunia itu lebih mahal dari harga sepatu dari istrinya.
"Itu biar papi lebih tahu waktu, jaga kesehatan." Ucapan Danu membuat Tuan Ferdinan semakin bahagia. Namun bahagia nyaris hilanh saat Danu melanjutkan ucapannya. "Dan papi juga harus tahu umur kalau papi udah tau. Jangan marah-marah terus, nanti struk dan --" ucapan Danu terhenti saat Tuan Ferdinan melemparkan tutup kado pada Danu.
Tutup Kado itu mengenai mulut Danu yang sedang mengejeknya. Kelakuan suami dan anaknya itu membuat Nyonya Nathalie tertawa senang.
__ADS_1
"Pi, kan Danu sudah mengingatkan agar papi jangan marah-marah," ucap Nyonya Nathalie menenangkan suaminya.
Sebenarnya Nyonya Nathalie juga hampir saja melupakan hari istimewa suaminya. Beruntung Mia mengingatkannya.
Mia menghampiri Nyonya Natahalie saat di kantor. Mia meminta maaf atas sikapnya dengan Danu hingga membuat kesalahpahaman. Mia juga mengucapkan selamat ulang tahun untuk Tuan Ferdinan melalui Nyonya Nathalie. Mia enggan mengucapkannya secara langsung karena takut pada bosnya itu.
Awalnya Nyonya Nathalie bingung dari mana Mia tahu tanggal lahir suaminya? Ketika ia mendengar jawabannya, Nyonya Nathalie tersenyum. Hanya dengan melihat profil pemilik perusahaan ketika sedang mengerjakan tugasnya, Mia langsung peduli walaupun hubungannya dengan Tuan Ferdinan sering kali tidak baik.
"Oh iya, hampir lupa. Ini dari Mia," ucap Nyonya Nathalie menyerahkan sebuah plastik.
"Apa ini?" tanya Tuan Ferdinan.
"Anggap saja sebagai kado," ucap Nyonya Nathalie.
Tuan Ferdian membuka plastik hitam dari istrinya. Ia melihatnya dengan kerutan di dahinya. Ya, memang nampak bak lelucon. Mia memberinya sebuah buku dan bolpoin. Serta secarik kertas yang berisi sebuah ucapan.
Tuan Ferdinan membacanya dengan sesekali mengerutkan dahinya dan menyunggingkan senyum. Mungkin lebih tepat seperti surat, bukan sebuah ucapan. Isinya lumayan panjang. Beruntung tulisannya rapi dan bagus.
'Yang terhormat Tuan Ferdinan. Mia ingin mengucapkan selamat ulang tahun. Semoga semakin berkah dalam rejeki dan usianya. Maafkan Mia hanya bisa memberikan buku dan pulpen ini. Mia belum gajian. Lagi pula Mia tahu hari ulang tahun Tuan Besar hari ini hingga tidak sempat membeli kado. Kertas dan pulpen ini boleh Tuan gunakan untuk menulis perasaan dan harapan yang tidak perlu orang lain tahu. Karena memang ada kalanya tidak setiap perasaan dan harapan itu diketahui orang lain, termasuk keluarga terdekat. Sejatinya setiap orang memiliki rahasia pribadinya. Cukup hanya kita dan Tuhan saja yang tahu. Kita tidak tahu apakah perasaan dan harapan kita membebani orang yang kita sayangi atau tidak. Untuk itu, Tuan boleh menuliskannya di buku ini agar bisa meluapkan perasaan harapan itu sepuasnya. Salam hormat, Mia'
"Sampaikan ucapan terima kasihku pada Mia," ucap Tuan Ferdinan.
Nyonya Nathalie mengangguk dan ikut terenyuh ketika membaca surat dari Mia. Memang benar, kadang harapan Tuan Ferdinan adalah doktrin bagi Danu dan dirinya. Semua harapan suaminya adalah sebuah aturan dan keharusan bagi anak dan istrinya.
"Maafin Papi yang selalu membebani Mami ya!" ucap Tuan Ferdinan di sela-sela menikmati kue ulang tahunnya.
"Papi selalu memberikan yang terbaik untuk kami. Apapun itu, mami yakin tujuan papi adalah untuk kebaikan kami. Ya kan Danu?" ucap Nyonya Nathalie.
Danu hanya mengangguk. Sebenarnya dia enggan menjawab ucapan ibunya. Karena memang benar, ayahnya selalu menekan Danu agar menjadi apa yang ia inginkan. Seperti halnya cita-cita. Bukan ini yang Danu inginkan. Danu berharap ia tumbuh menjadi seorang dokter. Ia akan bermanfaat bagi banyak orang yang membutuhkannya.
Harapan hanyalah tinggal harapan. Takdirnya yang dilahirkan dari keluarga pengusaha kelas atas sebagai anak tunggal, membuat ayahnya mengharuskan Danu untuk menjadi penerus ayahnya. Mau tidak mau, tidak ada pilihan selain mengikuti semua harapan ayahnya itu.
__ADS_1
Danu bergumam, seharusnya dia yang mendapat kado itu dari Mia. Danu memang butuh wadah untuk mencurahkan semua tekanan dalam hidupnya. Apalagi akhir-akhir ini, Danu merasa semakin tertekan saat ayahnya terus membahas pernikahan dan calon pewaris perusahaan.
Malam sudah semakin larut dan mereka sudah istirahat di kamar masing-masing. Danu langsung tertidur karena kakinya yang terkena knalpot terasa semakin sakit saat obat luka ia taburkan. Dengan segera ia meminum obat pereda nyeri yang diresepkan oleh dokter. Entah ada pengaruh dari obat, atau mungkin rasa lelah hingga membuat Danu tak lama tertidur dengan nyenyak.
Nyonya Nathalie juga terlihat sudah pulas karena seharian ia mengantar Danu berobat dan menyiapkan sebuah kejutan untuknya. Hanya Tuan Ferdinan yang belum tidur. Ia mengangkat tangan istrinya yang melingkar di pinggangnya. Turun dari ranjangnya dan duduk di sofa kamarnya. Ia meneguk air yang sengaja disiapkan untuknya setiap malam.
Teringat surat yang ditulis oleh Mia. Betapa sangat niat Mia mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Di ruangannya ada laptop dan printer. Kenapa di tulis tangan? Kadonya memang sangat sederhana bahkan bisa dibilang sangat murah. Namun makna yang Mia sampaikan membuatnya sangat berharga.
Tuan Ferdinan menimbang ulang tentang rencana Danu yang akan menikahi Mia. Mungkin memang sudah seharusnya Mia yang mendampingi Danu. Kenapa Tuan Ferdinan menjadi gila status? Status janda yang Mia sandang itu hanya membuat Tuan Ferdinan menjadi bahan pertimbangan. Banyak hal sebenarnya. Tapi ah sudahlah. Mungkin ini memang cara Tuhan menyadarkannya bahwa tidak ada yang berbeda di mata Tuhan, selain kadar keimanan seseorang.
Setelah puas merenungi semuanya, Tuan Ferdianan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk. Di samping istrinya yang sudah tertidur pulas. Wajah cantiknya tidak pernah pudar baginya. Istri yang sudah setia menemaninya itu, selalu menjsdi wanita yang paling cantik dalam hatinya. Tidak pernah terbersit untuk menggantikan posisi wanita cantik itu oleh wanita lain.
"Selamat tidur sayang. Mimpi indah, dan tetaplah bersamaku hingga Tuhan meminta kita berpisah," ucap Tuan Ferdinan mengecup kening istrinya.
Nyonya Natahlie hanya menggeliat dan memeluk kembali suaminya tanpa membuka matanya. Tuan Ferdinan mulai tertidur saat tangan istrinya menghangatkna tubuhnya.
Sementara semua orang sudah tertidur, Mia masih terjaga dalam tangisnya. Matanya sudah bengkak. Mia menangis dari jam 10 malam setelah mendapat kabar bahwa ibunya masuk rumah sakit. Mia bingung, ingin segera pulang tapi tidak tahu naik apa. Jam 4 pagi Mia akan berangkat ke Bandung untuk menemui ibunya.
"Bertahan ya bu! Mia pulang bu," ucap Mia disela isak tangisnya.
Mia terus menangis dengan mendekap sebuah tas kecil yang akan dibawanya pulang. Tak banyak yang ia bawa. Ia hanya membawa ponsel dan dompet saja. Masih banyak baju Mia di Bandung, hingga ia tak perlu repot-repot bawa baju ganti.
##############
Yuks tap like, love, vote, dan rate5...
Semangatku adalah kalian. Sehat-sehat ya biar bisa selalu mampir di novelku.
Maaf sering telat up.. Banyak urusan di dunia nyata..
Yang punya waktu senggang boleh juga mampir ke novelku yang lain.
__ADS_1
TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
terima kasih...Happy reading all...