Janda Bersegel

Janda Bersegel
Baju Baru


__ADS_3

Baru saja Mia merebahkan tubuhnya, pintu kamarnya sudah terbuka.


"Aa?" tanya Mia sembari mengucek matanya.


"Ganti baju!" ucap Dion.


"Hah?" tanya Mia.


"Temani aku!" ucap Dion.


"Kemana?" tanya Mia.


"Pacaran," jawab Dion.


"Pacaran?" tanya Mia bingung.


"Ayo Mia!" ajak Dion.


Dion menarik tangan Mia dan membawanya ke kamar mandi.


"Mau aku mandikan?" tanya Dion.


"Gak usah. Mia bisa mandi sendiri," ucap Mia.


Mia segera mendorong Dion keluar dari kamar mandi. Sambil mengguyur tubuhnya dengan air, bayangan kata pacaran terus menghantui Mia. Apa maksud dari kata yang diucapkan oleh suaminya itu.


"Mia, lama sekali." Dion mengetuk pintu kamar mandi.


"I-iya A," jawab Mia.


Mia mempercepat mandinya dan segera keluar. Dengan hati-hati Mia menatap wajah suaminya dengan penuh tanya.


"Jangan banyak tanya! Ayo cepat!" ucap Dion.


A Dion kok buru-buru begini sih? Katanya mau pacaran. Ini sih namanya mau kawin lari.


Mia segera menyelesaikan semuanya walaupun kepalanya penuh dengan pertanyaan yang belum sempat terjawab.


Dion membawa Mia pergi tanpa pamit pada kedua orang tuanya. Hanya Sindi yang tahu kemana mereka pergi.


"Kamu suka?" tanya Dion.


Mia menatap sekeliling danau yang begitu indah. Langit sudah mulai redup, namun mata bahagia Mia tidak bisa disembunyikan.


"Aa," ucap Mia.


Letak danau yang agak jauh dari rumahnya membuat Dion harus terburu-buru. Ia takut kalau mereka pulang terlalu malam. Sebenarnya Dion sudah berniat menyewa sebuah hotel untuk kencan mereka. Namun ia yakin Mia akan menolak karena alasan Narendra dan Naura.


"Aku romantis?" tanya Dion.


Mia mengangkat kepalanya dan tersenyum.


"Romantis," jawab Mia.


"Apa kamu mau aku begini setiap hari?" tanya Dion.


Mia menggeleng.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Kalau keseringan ini gak bakal jadi spesial dong A," jawab Mia.


"Tapi kamu mau aku romantiskan? Kamu akan jauh lebih bahagia kalau aku punya banyak waktu dan romantis begini kan?" tanya Dion.


Mia mengerutkan dahinya. Apa maksudnya pertanyaan itu? Kenapa terdengar aneh di telinga Mia. Rasanya membuat ia tidak nyaman.

__ADS_1


"Iya, aku membaca curhatanmu di buku lusuh itu. Aku gak tahu berapa leter ingus yang netes di kertas itu. Tapi tulisanmu bagus. Aku juga suka cara curhatmu yang jadul itu," ucap Dion.


Melihat Mia curiga, Dion segera mengakui apa yang membuatnya bersikap seperti itu. Mia hanya cemberut dan memukul dada Dion.


"Enak saja jadul," ucap Mia.


"Iya dong jadul. Di saat semua orang menumpahkan apa yang menjadi keresahan mereka pada sebuah status di media sosial, kamu hanya menulisnya di selembar kertas. Setelah puas, kamu bahkan membuangnya begitu saja. Nyaris tidak ada yang tahu," ucap Dion.


"Mia gak mau update status. Nanti banyak orang yang tahu soal rumah tangga kita. Masih mending kalau mereka peduli, kalau mereka cuma tepuk tangan? Makanya Mia pilih nulis. Paling untung dibaca sama tukang sampah. Itupun kalau tukang sampahnya rajin," ucap Mia.


"Jadi aku tukang sampah dong?" tanya Dion.


"Terus ngapain ngubek-ngubek tempat sampah?" tanya Mia.


Dibalik kejadulan Mia, ada rasa bahagia saat istrinya itu tidak mengumbar masalahnya di media sosial. Dion berhasil mendidik Mia. Mia tahu betul kalau Dion bukan orang sembarangan. Hal buruk pasti akan selalu diincar dari suaminya itu.


Sebagai seorang istri yang menjag martabat suami, Mia tidak ingin membuat Dion malu. Seberat apapun masalah yang mereka hadapi jangan sampai menjadi konsumsi publik.


"Terima kasih sudah menjaga nama baikku. Aku tahu pasti lelah menjadi kamu. Tapi aku usahakan untuk selalu luangkan waktu buat kamu, Mi." Dion mendekap Mia.


"Maafin Mia ya A. Mungkin Mia kurang bersyukur. Mia terlalu banyak menuntuk untuk ini dan itu. Padahal apa yang Mia dapatkan dari Aa udah lebih dari cukup," ucap Mia.


"Kamu berhak mengungkapkan apa yang kamu inginkan. Biar aku tahu apa yang jadi beban dalam hatimu," ucap Dion.


"Tapi ini malah jadi beban buat Aa," ucap Mia.


"Gak dong. Justru ada berita bagus nih," ucap Dion.


Mia melepaskan pelukannya.


"Apa?" tanya Mia.


"Nanti kita akan sering ketemu walaupun aku kerja tiap hari," jawab Dion.


"Kok bisa?" tanya Mia.


"Kerja?" tanya Mia.


Dion menceritakan kabar bahagia itu. Tuan Felix siap meresmikan kerja samanya dengan Dion. Dan semua itu akan dikelola oleh Dion dan Mia secara langsung. Bahkan Tuan Felix sudah menyiapkan ruangan Mia dengan kamar bayi kembarnya yang begitu luas.


"Ini seperti mimpi A," ucap Mia.


"Ini jawaban atas semua mimpi kamu, Mi." Dion menggenggam erat tangan Mia.


"Terima kasih A," ucap Mia.


Mia menggenggam erat tangan Dion dan tersenyum lebar. Tuan Felix benar-benar mewujudkan mimpi Mia. Ia ingin menjadi wanita karir yang tidak meluangkan banyak waktu tanpa kedua anak kembarnya itu.


"Kapan semuanya diresmikan?" tanya Mia.


"Lima hari lagi," jawab Dion.


"Yah, padahal kalau lima hari lagi kan Papa Felix bisa hadir dipernikahan Sindi," ucap Mia.


"Yang penting kan nanti bisa ke sini buat kumpul di sini," ucap Dion.


Dion melihat gurat kecewa pada Mia. Namun ia segera menghiburnya. Tidak ingin pacarannya gagal, Dion kembali membawa Mia untuk menikmati kesempatan ini dengan begitu baik.


Waktu terasa begitu cepat bagi mereka yang sedang bahagai saat ini. Hingga sopir mereka mengingatkan jika ini sudah jam sembilan malam.


"Kapan-kapan pacaran lagi ya!" ajak Dion.


"Iya A," jawab Mia.


Saat pulang ke rumah, Nyonya Helen dan Tuan Wira masih berkumpul di ruang keluarga. Ada Sindi juga tentunya.

__ADS_1


"Kalian dari mana aja? Pacaran kok gak ngajak-ngajak Mama," ucap Nyonya Helen.


"Mana ada pacaran ngajak Mamanya," ucap Dion.


"Mama mau papa ajak pacaran gak?" tanya Tuan Wira.


"Cieeee," ucap Dion.


Sindi hanya tersenyum melihat keluarga Nyonya Helen yang begitu hangat. Ia benar-benar bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga itu.


"Udah, udah. Kasihan Sindi. Belum ada yang ngajak pacaran tuh," ucap Mia.


"Gak apa-apa, kan cuma beberapa hari lagi." Tuan Wira ikut menambahkan.


"Oh ya hampir lupa, baju buat kamu sama Tuan Dion ada di kamar. Sebentar ya!" ucap Sindi mengalihkan.


Semuanya tersenyum saat melihat Sindi yang salah tingkah. Tak lama Sindi kembali membawa baju untuk Mia dan Dion, lalu pamit kembali karena sudah ngantuk.


"Ngantuk apa ngantuk?" tanya Tuan Wira.


"Ya udah kamu tidur aja yang nyenyak. Sebelum nanti kamu gak bisa tidur semalaman karena tikus nakal," ucap Nyonya Helen.


Wajah Sindi memerah saat mendengar Tuan Wira dan Nyonya Helen menggodanya. Mia dan Dion pun pamit saat Sindi sudah kembali ke kamarnya. Mencoba baju yang akan mereka pakai di acara pernikahan Sindi nanti.


"Bajunya bgus banget ya!" ucap Mia.


"Biasa aja," jawab Dion.


Mia menatap Dion.


"Iya A biasa aja," ucap Mia.


"Bajunya bagus. Kamunya yang biasa aja. Mentang-mentang dari dia," ucap Dion.


"Ih, Aa. Mia juga udah biasa kok. Aa cemburu?" tanya Mia.


"Ih, kata kamu jug cemburu itu cuma buat orang yang gak percaya diri. Aku sih percaya diri banget," ucap Dion.


"Kata Dilan, bukan kata Mia." Mia meralat ucapan suaminya.


"Kata Dion, cemburu itu saat hati terlalu takut kehilangan." Dion menutup wajahnya yang memerah.


Dion malu sendiri saat ia merasa terlalu lebay. Apalagi saat Mia tidak berkomentar apapun dan hanya menatapnya.


"Udahan ah. Jangan liatin begitu," ucap Dion sembari mengusap wajah Mia.


"Aa ganteng pakai baju itu," ucap Mia.


"Gantengan mana sama Dilan?" tanya Dion.


"Dilan," jawab Mia. "Dilannya Mia kan Aa," lanjut Mia saat Dion terlihat akan protes.


"Udah bisa gombal ya!" ucap Dion sembari menggelitiki Mia.


"Udah A, udah. Aduh ampun. Awas nanti bajunya sobek. Ini kan baju baru," ucap Mia.


"Nanti aku beliin baju baru sama tokonya kalau perlu," ucap Dion.


#####################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2