Janda Bersegel

Janda Bersegel
Bayi tabung


__ADS_3

Waktu terus berlalu, Mia banyak belajar tentang benda pusaka dan cara memanjakannya. Kini Mia sudah mulai terbiasa dengan persneling milik Danu. Hal itu bukan hal yang aneh lagi bagi Mia. Danu rasa Mia sudah sangat berpengalaman hingga selalu membuat Danu puas dengan pelayanan Mia.


Sepertinya bahagia masih belum berpihak sepenuhnya pada pernikahan mereka berdua. Mia sudah menani Danu berobat setiap dua minggu sekali. Obat terus Danu minum, terapi terus dilakukan. Hingga enam bulan, semuanya masih saja seperti itu. Danu masih belum sembuh. Danu menjadi stres saat orang tuanya terus menerus memintanya untuk memeriksakan Mia ke dokter. Mia dengan sabar menerima ucapan-ucapan yang mulai tidak nyaman di telinganya dari kedua orang tua Danu. Tak pernah sekalipun Mia mengungkapkan kenyataan dalam rumah tangganya.


Dokter menyarankan untuk melakukan program bayi tabung agar Mia bisa hamil.


"Bayi tabung?" tanya Mia dan Danu bersamaan.


"Ya, bayi tabunh. Itu juga jika kalian bersedia," ucap Dokter.


"Dokter apa kita tidak akan dipenjara?" tanya Mia.


"Maaf Nyonya, apa maksud Anda?" tanya Dokter.


"Jahat sekali bayi dimasukkan ke dalam tabung," ucap Mia.


Danu menggelengkan kepalanya dan menepuk dahinya. Sedangakan Dokter hanya bisa menahan tawanya dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan program bayi tabung. Berbeda dengan Danu yang terlihat sangat malas, Mia justru mendengarkan penuturan Dokter dengan sangat antusias.


Mia mengangguk setuju saat mendengar saran dokter. Namun Danu menolaknya dengan keras. Tanpa memberi tahu alasannya di hadapan dokter, Danu hanya bersikeras menolak saran dokter.


"Ayo pulang!" ajak Danu.


"Mas, tapi ini cara agar kita bisa punya anak. Mas pikir-pikir lagi. Jangan egois begitu," ucap Mia.


"Aku sudah memikirkannya dengan baik. Ini keputusanku. Ayo pulang!" ucap Danu menarik tangan Mia.


"Saya permisi pulang Dokter. Terima kasih banyak," ucap Mia sebelum ia benar-benar di seret untuk pulang oleh Danu.


"Mas, mas, pelan-pelan dong." Mia berjalan lebih cepat agar bisa mengimbangi langkah kaki Danu yang terburu-buru.


"Masuk!" perintah Danu saat sampai di tempat parkir.


Mia tak berani lagi menatap Danu. Ini pertama kalinya Mia melihat Danu begitu marah. Wajahnya merah dengan napas yang memburu.


BRAAAAAK


Pintu mobil dibanting dengan sangat keras. Tanpa berucap sepatah katapun, Danu menginjak gas dengan kecepatan tinggi. Mia hanya diam dengan dada yang berdebar. Wajah Mia pucat, kepalanya pusing.


"Uweeee, uweee, uweee,"


Mobil baru berhenti saat Danu menyadari kaca mobilnya disembur oleh Mia.


"Miaaaaa," teriak Danu kesal.


"Mas, perut Mia sakit. Mual, pusing sekali." Mia mengelap mulutnya dan menyandarkan kepalanya.


"Kau ini jorok," ucap Danu kesal.


Danu segera keluar dan segera meminta Mia untuk keluar. Danu menyeret Mia untuk membersihkan pakaiannya yang kotor kena muntahnya sendiri dengan air mineral.


"Mas, bawa mobilnya pelan-pelan dong. Ini kan jalan raya, bukan sirkuit. Mia sudah tidak kuat ini, kepala Mia pu-"


Bruuugh


Mia pingsan sebelum menyelesaikan kalimatnya. Tapi Danu paham, Mia hendak menyampaikan keluhannya.


"Mia, Mia, bangun!" ucap Danu mengguncang tubuh Mia.


Mia tak bergeming. Ia belum membuka matanya. Danu menjadi panik, dan segera mengambil ponselnya dalam saku celananya dan menghubungi ambulance.


Danu mendampingi Mia saat ada di rumah sakit. Ada sedikit penyesalan atas apa yang sudah dilakukan. Namun masih besar kekesalannya atas apa yang dialaminya. Ia tidak kunjung sembuh walaupun sudah berobat secara teratur dan terapi rutin. Kekesalannya bertambah saat mendengar ide konyol dari dokter, yang ternyata malah disambut senang oleh Mia.


"Mas," panggil Mia setelah ia sadar dan melihat Danu ada di sampingnya.


"Maafkan aku ya!" ucap Danu.


"Mas, dimana ini?" tanya Mia sambil memegang kepalanya yang masih terasa sangat berat.


"Kamu di rumah sakit. Tadi pingsan," jawab Danu.


Danu menunggu Mia benar-benar pulih lalu mengajaknya untuk pulang.


"Mas, kenapa ganti mobil?" tanya Mia.

__ADS_1


"Mobil tadi masih di tempat cuci. Harus di cuci tujuh hari tujuh malam karena muntahmu yang berceceran kemana-mana," jawab Danu ketus.


"Salah Mia?" tanya Mia menunjuk dirinya sendiri.


"Salah aku," jawab Danu.


"Tumben mas mengakui kesalahan mas?" tanya Mia.


"Cepat masuk!" ucap Danu.


Danu tak ingin membahas tentang siapa yang salah dengan tragedi mobilnya. Itu hanya akan menambah kekesalannya saja.


"Mas, kita mau kemana?" tanya Mia saat melihat jalan yang mereka lalui bukan menuju rumah Danu.


"Ke hotel," jawab Danu.


"Mas, mau belajar? Kan masih siang. Lagipula di rumah juga bisa," ucap Mia.


"Miaaa," ucap Danu kesal sambil menginjak rem dengan sangat cepat.


Jedaak


"Aw, mas. Pelan-pelan dong ngeremnya. Kan sakit kepala Mia," ucap Mia memegang dahinya yang terbentur.


"Bagus dong. Biar otak kamu gak mikirin belajar terus," ucap Danu kesal.


"Mas udah gak mau ya belajar sama Mia?" tanya Mia dengan mata yang berlinang.


"Mia kenapa sih kamu cengeng sekali? Aku kesal dengan tingkahmu," ucap Danu yang kembali menginjak gas dengan kecepatan tinggi.


Saat melihat wajah Mia pucat, Danu segera menurunkan kecepatan mobilnya.


"Jangan muntah lagi" ucap Danu.


"Iya mas," jawab Mia sambil memegang perutnya.


Danu memasuki sebuah hotel dan memesan dua kamar.


"Jangan bawel. Ayo ikut!" ajak Danu.


Mia membungkam mulutnya dengan tanganny sendiri. Kakinya mengikuti setiap langkah Danu. Meskipun di kepalanya banyak sekali pertanyaan, tapi Mia tak berniat mengungkapkannya. Mia hanya akan diam dan mengikuti apa yang Danu perintahkan.


Mia sadar, Danu sedang frustasi. Banyak menyangkalnya hanya akan menambah bebannya saja.


"Duduk!" pinta Danu sambil menunjuk sebuah kursi yang berhadapan dengannya.


Mia mengikuti apa yang Danu perintahkan. Tanpa bertanya dan mengeluarkan kata apapun, Mia melihat ke sekeliling sudut kamar hotel itu. Sangat indah dan wangi. Ya, paling tidak pemandangan dan aroma hotel itu mengurangi rasa takutnya pada Danu.


"Apa alasanmu menerima saran konyol dari dokter itu?" tanya Danu.


Mia mengerutkan dahinya sebelum ia menjawab pertanyaan Danu. Bahkan ia hampir lupa saran konyol itulah yang memicu kemarahan Danu.


"Apa salahnya?" tanya Mia.


"Apa salahnya?" ucap Danu mengulang pertanyaan Mia.


"Ya, apa salahnya?" desak Mia.


"Kau tidak ingat bagaimana dirimu?" tanya Danu.


"Apa maksud mas?" tanya Mia tidak mengerti.


"Kamu itu masih virgin. Mana mungkin melakukan bayi tabung?" tanya Danu.


Mia menyadari setelah dua kali menikah, tidak satupun dari pria yang pernah menjadi suaminya itu menyentuh pabrik pusatnya.


"Kenapa tidak mungkin? Aku sudah menikah dan itu wajar bukan?" tanya Mia.


"Wajar?" desak Danu sambil mendekatkan wajahnya ke arah Mia.


"Lalu apa yang salah jika Mia masih virgin?" tanya Mia.


"Kamu bodoh! Berapa banyak wanita yang mengeluarkan uang banyak hanya untuk kembali virgin. Sedangkan kamu?" tanya Danu.

__ADS_1


"Mas, Mia melakukan semua ini agar kita bisa memenuhi keinginan mami dan papi. Agar rumah tangga kita bisa tetap baik-baik saja." Mia menenangkan Danu.


"Hanya itu?" tanya Danu.


"Ya, memangnya ada alasan lain?" tanya Mia.


"Kau tidak akan menyesal?" tanya Danu.


"Apa yang harus disesali?" tanya Mia.


Dari sekian percakapan mereka, setiap pertanyaan akan selalu dijawab dengan pertanyaan lain. Sepertinya keduanya masih belum menemukan titik tengah.


"Kalau begitu tidurlah dengan pria lain agar kita bisa memiliki anak," ucap Danu dengan bibir yang gemetar.


"Apa?" tanya Mia membelalakkan matanya. Ia tak percaya dengan apa yang terucap dari mulut Danu.


"Cari pria lain yang kamu inginkan dan biarkan dia memberikan anak untuk kita. Kamu berhak bahagia Mia. Kamu berhak merasakan apa yang seharusnya kamu rasakan. Saat harta paling berharga milikmu yang selama ini kamu jaga hilang," ucap Danu.


PLAAAAK


Sebuah tamparan keras melayang dan mendarat di pipi Danu.


"Mia?" ucap Danu memegang pipinya. Ia tak percaya denga apa yang dilakukan Mia padanya.


"Kenapa? Sakit?" tanya Mia dengan wajah yang memerah dan suara yang bergetar. Namun ia menguatkan dirinya agar tidak menangis di depan Danu.


"Mia," ucap Danu lirih.


"Ini lebih sakit," ucap Mia menunjuk dadanya.


"Maafkan aku Mia," ucap Danu memegang tangan Mia.


Mia menolak. Ia melepaskan tangannya dari Danu.


"Mia pikir cuma bapak yang jahat sama Mia. Mia pikir cuma bapak yang menganggap Mia sampah. Kenyataannya suami yang Mia cintai justru memandang Mia lebih rendah dari pada sampah. Bapak meminta Mia untuk menjual diri, dan sekarang mas meminta Mia untuk menjadi sampah?" ucap Mia dengan berapi-api.


Mia bertepuk tangan dan tertawa dengan sangat keras. Mungkin itu adalah salah satu cara agar Mia bisa menahan air mata yang sudah mendesaknya untuk keluar.


"Mia, tidak seperti itu." Danu berusaha memeluk Mia agar ia bisa lebih tenang.


"Mas jahat sama Mia. Mas egois," ucap Mia yang sudah tak sanggup menahan air matanya. Ia menangis dengan tersedu.


Sepertinya Mia salah paham. Danu justru tidak ingin egois. Danu ingin Mia merasakan bagaimana indahnya kehilangan kehormatan dengan cara yang normal. Mia berhak merasakan bahagia. Walaupun pada kenyataannya, Danu akan merasa sangat terluka jika semua itu benar-benar terjadi.


"Mia, aku minta maaf. Aku tidak tahu kalau ucapanku akan sangat melukaimu," ucap Danu.


"Mas jahat, mas jahat," ucap Mia lirih.


"Lalu sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanya Danu.


Danu bukan tidak tertarik untuk menyentuh pabrik pusat milik Mia. Namun ia hanya tidak ingin Mia kecewa. Menurut Danu ia tidak berhak. Mia berhak mendapat kebahagiaan atas apa yang sudah ia jaga.


"Mia mau program bayi tabung mas," jawab Mia di sela tangisnya.


"Aku tidak yakin," jawab Danu.


"Tapi Mia yakin mas," ucap Mia.


"Apa yang membuatmu yakin?" tanya Danu.


"Rumah tangga kita. Mia yakin kita akan selalu bahagia jika berhasil melakukan program bayi tabung ini mas," jawab Mia.


Danu menunduk, memang benar apa yang diucapkan oleh Mia. Tapi Danu merasa sangat jahat jika saja ia tidak pernah memberikan kesempatan Mia untuk merasakan indahnya surga dunia.


######################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..

__ADS_1


__ADS_2