
Mia merasa perutnya mules. Ia menggeser tubuh suaminya agar bisa turun dari ranjang. Berjalan perlahan menuju kamar mandi. Cukup lama, bahkan sampai keringat dingin. Mia mengusap perutnya berkali-kali. Ia mengingat makanan yang masuk ke dalam perutnya akhir-akhir ini. Tidak ada yang membahayakan. Bahkan makanan Mia sangat dipantau oleh Dion.
Mia keluar dari kamar mandi. Ia melihat jam di dinding. Masih jam tiga pagi. Duduk di sofa dan merasakan perutnya yang masih mules. Setelah lima menit, mules itu menghilang dan Mia bisa duduk lebih santai. Mia tersenyum menatap punggung Dion yang tengah terlelap.
Bahkan Mia bisa sangat bahagia walaupun hanya melihat punggung Aa. Mia mencintai Aa.
Setelah perutnya tidak mules lagi, Mia berjalan ke arah ranjang dan tidur di samping Dion. Gerakan Mia ternyata membuat Dion bangun dari tidurnya.
"Mia, kamu udah bangun?" tanya Dion dengan suara serak.
"Eh, Aa keganggu ya?" tanya Mia.
"Gak, ini udah jam berapa sih?" tanya Dion.
"Masih jam tiga. Ayo tidur lagi," ajak Mia.
Dion melihat wajah Mia. Kenapa Mia bisa bangun saat jam masih menunjukkan pukul tiga?
"Kamu sakit?" tanya Dion.
Sakit? Apa Aa tahu kalau Mia tadi mules?
"Gak," jawab Mia yang berusaha menyembunyikan kepanikannya.
Mia tahu siapa dan bagaimana suaminya. Ia pasti panik kalau sampai tahu Mia mules. Sementara Mia tidak tahu jam berapa Dion tidur, ia pasti lelah. Lagi pula, jadwal lahiran masih dua minggu lagi dari HPL.
Mendengar jawaban Mia, Dion menatap istrinya dengan lekat. Memastikan kalau Mia memang baik-baik saja.
"Kamu gak bohong?" tanya Dion.
"Kapan Mia bohong sama Aa?" tanya Mia.
Maaf ya A. Tapi Mia gak mau Aa khawatir. Lagi pula sekarang mulesnya udah ilang kok.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun dari aku ya Mi. Aku berhak tahu semua tentang kamu," ucap Dion mengingatkan.
"Iya. Aa tenang aja. Sekarang tidur yu! Masih ada waktu buat istirahat," ucap Mia.
"Ayo!" ajak Dion.
Mia bisa bernafas lega saat bisa mengelak dari pertanyaan Dion. Ia segera tidur di pelukan Dion agar tidak ada pertanyaan lagi untuknya.
"Pagiii," sapa Dion saat melihat Mia membuka matanya.
"Aa sudah siap?" tanya Mia.
"Iya. Hari ini aku semangat sekali. Sepertinya rejeki anak kembar kita semakin lancar sayang," ucap Dion dengan wajah yang sangat bahagia.
"Apakah ada proyek baru lagi?" Mia menatap Dion penuh tanya.
"Mandi dulu. Nanti aku cerita semuanya," ucap Dion.
Mia mengangguk dan segera ke kamar mandi. Dion membantunya hingga membawakan handuk dan menunggu di tepi ranjang. Sambil menunggu Mia, Dion membuka ponselnya. Mengecek email masuk. Pantauannya tidak lepas dari perusahaan di Surabaya. Ya, memang tidak sebaik saat ada Dion di sana. Tapi paling tidak, perusahaan itu tidak merosot drastis. Hanya menunggu waktu, perusahaan itu akan kembali stabil bahkan berkembang jauh lebih baik saat Reza memegang perusahaan itu.
"Sayang," panggil Dion.
Dion merasa Mia mandi terlalu lama.
"Iya A," jawab Mia.
"Boleh aku masuk?" tanya Dion.
"Sebentar lagi," ucap Mia.
Rupanya Mia sedang menahan mules yang kembali datang pagi ini. Namun sampai saat ini Mia masih menutupi hal ini dari Dion. Alasannya hanya karena tidak mau Dion khawatir. Mia masih fokus pada HPL yang jatuh dua minggu ke depan.
Tidak lama, Mia keluar dengan senyuman manisnya. Wajahnya yang masih polos tanpa polesan riasan, bibir merah mudanya yang alami, dan rambutnya yang masih basah membuat Mia nampak sangat cantik. Dion tidak bisa mengelakkan kekagumannya atas kecantikan istrinya itu. Meskipun berat badan Mia terus bertambah, itu tidak mengurangi sedikitpun rasa cinta Dion untuk Mia.
"Aa kok bengong sih?" tanya Mia.
Pertanyaan Mia membuyarkan lamunan Dion.
"Kamu cantik," jawab Dion.
"Dari lahir A," ucap Mia sambil tertawa.
"Aduh, sudah mulai tinggi ya tingkat narsisnya." Dion menggoda Mia.
"Hahaha, kan belajar dari Aa." jawab Mia.
"Enak aja. Mana ada aku narsis?" tanya Dion.
"Dih, Aa selalu bilang aku yang tampan, mapan, beriman. Masih ingat kan?" tanya Mia.
"Loh? Narsisnya dimana? Itu kan memang sebuah kenyataan Mia. Kamu kali-kali terima kenyataan kenapa sih? Kayaknya susah banget buat jujur," ucap Dion.
"Ih males deh kalau narsisnya udah mulai kumat," ucap Mia.
Mia meninggalkan Dion yang berdiri di depan kamar mandi. Mia duduk di depan meja rias. Mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk putih. Ia juga memolekan cream wajah dan lipstik nude pada bibirnya.
Mia melihat Dion dari cermin. Pria yang ia cintai itu nampaknya sedang menatap Mia.
"Oh ya A, katanya mau cerita. Kenapa Aa bisa seceria itu hari ini?" tanya Mia.
"Ah, aku hampir lupa. Aku memang sedang bahagia Mia. Semalam aku ketemu sama teman Papa dari Jerman, dia mengajak bisnis dengan Papa. Dan kamu tahu?" tanya Dion menjeda ceritanya.
Mia nampak diam. Namun matanya terlihat berkaca-kaca.
"Mia," panggil Dion.
Mia masih diam dan memegang dadanya.
"Sayang," panggil Dion untuk keduakalinya.
__ADS_1
Kali ini Dion menguncang bahu Mia. Ia khawatir melihat keadaan Mia. Mia melihat ke arah Dion dan segera tersadar.
"Eh iya," jawab Mia.
"Sayang, apa yang terjadi? Apa kamu sakit?" tanya Dion.
"Iya Mia baik-baik saja A. Gimana tadi?" tanya Mia.
"Mi, kamu kenapa? Apa yang membuat pagi ini kamu begitu aneh?" tanya Dion.
"Gak A. Mungkin Mia cuma gak sabar nunggu kelahiran bayi kembar kita," jawab Mia.
"Kamu sabar ya! Sebentar lagi. Hanya dua minggu lagi. Siang ini sambil jenguk Reza kita kontrol ya!" ucap Dion.
Mia kembali terenyuh Hatinya. Ternyata Dion ingat betul HPL bayi kembarnya.
"Iya. Oh ya A, terusin lagi dong ceritanya. Mia kan mau tahu," pinta Mia.
Sebenarnya Dion tidak mau melanjutkan ceritanya karena keadaan Mia, Dion yakin kalau ada yang Mia sembunyikan darinya. .Namun rasa bangga dan bahagianya membuat Dion kembali melanjutkan ceritanya.
Dengan bangganya Dion menceritakan bagaimana Tuan Felix begitu tertarik dengan apa yang ia sampaikan. Bagaiman teman Tuan Wira itu bertepuk tangan dengan beberapa ide yang sempat Dion sampaikan kemarin malam.
"Wah, Aa hebat ya! Padahal baru ketemu sekali ya! Semoga lancar ya A proyeknya," ucap Mia.
"Iya Mi. Lain kali aku pasti kenalin kamu sama Tuan Felix. Kamu pasti suka. Dia itu sangat cerdas Mi. Kata Papa dulu dia lulusan terbaik di kampusnya," ucap Dion.
"Berarti Papa kalah pintar dong?" tanya Mia.
"Enak saja. Papa juga lulusan terbaik dong," jawab Dion.
"Loh kok lulusan terbaiknya ada dua?" tanya Mia.
"Satu. Kan Papa sama Tuan Felix beda angkatan. Tuan Felix kakak tingkat Papa waktu kuliah," jawab Dion.
"Oh, begitu ya! Mia jadi inget jaman kuliah dulu," ucap Mia.
"Inget siapa kamu?" tanya Dion.
"Lah kok inget siapa?" tanya Mia.
"Terus kamu inget apa?" tanya Dion.
"Mia juga lulusan terbaik waktu itu. Tapi bedanya gak ada yang sebangga itu sama Mia," ucap Mia sedih.
Ya, saat itu Bu Ningsih memang senang saat tahu Mia sudah lulus kuliah. Namun tidak ada respon luar biasa dari ibu yang sudah melahirkannya itu. Dion bahkan tidak pernah melihat ijazah Mia. Mana Dion tahu nilai Mia yang luar biasa. Tapi tanpa melihat kertas yang berisi deretan nilai itu, Dion yakin kalau Mia memang wanita yang sangat cerdas.
Jangan tanya apa buktinya. Dua kali Mia berhasil memenangkan proyek luar biasa di perusahaan Tuan Wira. Namun perlu diakui, memang Dion tidak sentusias saat menceritakan kehebatan Tuan Felix dan Tuan Wira.
"Kamu gak perlu bangga jadi lulusan terbaik," ucap Dion.
"Loh kok gitu?" tanya Mia.
Wajah Mia yang tengah sedih kini berubah menjadi kesal.
Dan kini wajah kesal itu berubah memerah karena merasa malu dan tersanjung. Dion memang tahu kapan waktu yang tepat untuk gombal. Saat Mia merasa dirinya tidak ada apa-apanya, justru Dion akan menjadikan Mia segalanya.
"Oh ya A, maafin Mia ya. Semalam Mia ngantuk jadi gak tahu kalau Aa udah pulang," ucap Dion.
"Iya, gak apa-apa. Aku ngerti kok. Aku yang seharusnya minta maaf, karena meninggalkanmu hingga pulang larut malam," jawab Dion.
"Gak apa-apa A. Mia juga ngerti kok," ucap Mia.
"Mi, udah siang nih. Ayo sarapan. Kamu istirahat ya! Nanti siang siap-siap ya! Aku jemput kamu, kita kontrol sekalian jenguk Reza." Dion merapikan rambut Mia yang berantakan.
Mia mengangguk dan menggandeng tangan Dion untuk keluar kamar dan sarapan. Sudah ada Tuan Wira dan Nyonya Helen.
"Hati-hati Mia. Duduk di sini!" ucap Nyonya Helen menggeser kursi di sampingnya.
"Terima kasih Ma," ucap Mia.
"Dion, hari ini kamu gak lupa kan kalau Mia harus kontrol?" tanya Nyonya Helen.
"Mana mungkin aku lupa. Mia itu kan istriku. Jadi aku pasti ingat. Mama tenang aja. Nanti siang aku jemput Mia," ucap Dion.
Mia menatap Nyonya Helen dengan perasaan tidak percaya.
Mama. Mama ingat jadwal kontrol Mia? Sebegitu pedulinya Mama sama Mia? Mia sayang sama Mama.
"Gak perlu dijemput. Biar Mia mama antar. Kita ketemu di rumah sakit saja," ucap Nyonya Helen.
Dion menatap Mia, meminta jawaban dari istrinya itu. Setelah Mia mengangguk, akhirnya mereka sepakat untuk bertemu di rumah sakit siang nanti.
Selesai sarapan, Dion dan Tuan Wira berangkat ke kantor. Sedangkan Mia dan Nyonya Helen duduk santai di taman belakang. Mia bercerita banyak hal pada Nyonya Helen, termasuk tentang Niki. Saat ini adalah waktu yang sangat tepat untuk Nyonya Helen meyakinkan Mia agar tidak perlu khawatir tentang wanita itu lagi.
"Hah? Mama serius?" tanya Mia.
Mia nampak tidak percaya saat mendengar Nyonya Helen menceritakan pertemuan antara Tuan Wira dan Niki hingga akhirnya suaminya itu punya kartu as Niki.
"Tapi kok A Dion gak cerita apa-apa ya ke Mia?" tanya Mia.
"Karena Mama melarang Dion untuk menceritakan wanita manapun padamu. Mama cuma khawatir kamu akan salah faham. Kamu percaya kan sama Mama? Mama yakin kalau Dion setia sama kamu. Mama bisa pastikan kalau kamu adalah wanita kedua yang Dion cintai," ucap Nyonya Helen.
"Loh kok kedua?" tanya Mia.
"Kan yang pertamanya Mama," jawab Nyonya Helen sambil tertawa.
Mia pun ikut tertawa. Hatinya mengiyakan. Memang Dion sangat mencintai Nyonya Helen. Dibalik sikap dingin Dion, Mia sempat beberapa kali menyaksikan perhatian kecil dari Dion untuk Nyonya Helen.
Bercerita hal ini dan itu ternyata cukup menyita waktu. Tak terasa panas mentari mulai terik. Jam terus berdetak, waktu bergerak terus.
"Kamu tidur lah sebentar Mia, sebelum ke rumah sakit." Nyonya Helen menggenggam tangan Mia.
Mia merasakan benar-benar sebuah ketulusan dari seorang ibu kandung. Tidak sekalipun Mia merasa kalau wanita yang ada bersamanya itu ibu mertua. Nyonya Helen sangat baik pada Mia, hingga Mia juga sangat menyayangi Nyonya Helen seperti ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
Nyonya Helen bahkan mengantarkan Mia ke kamarnya dan memastikan Mia beristirahat di atas ranjangnya. Mengecup dahi Mia dan mengusap perut besarnya.
"Selamat istirahat ya Mi," ucap Nyonya Helen.
"Terima kasih ya Ma," ucap Mia.
Ada waktu dua jam untuk Mia beristirahat sebelum ia harus ke rumah sakit. Seharusnya Mia tidur dulu sebentar. Tapi sayangnya Mia tidak ngantuk sama sekali. Akhirnya Mia meraih ponselnya dan menghubungi Sindi.
Ya, saat ini teman yang cukup sering berkomunikasi dengan Mia adalah Sindi. Mungkin karena Kalin dan Dokter Leoni sibuk. Maka satu-satunya orang yang paling tepat untuk Mia bercerita adalah Sindi.
"Ha-halo," ucap Sindi gugup.
"Sin, kok kamu gugup begitu. Kamu lagi apa? Sibuk?" tanya Mia.
"Mi, eh Nyonya Mia," ucap Sindi.
Mia menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap layar ponselnya. Ada yang aneh, Sindi berbeda dari biasanya.
"Sin, kamu kenapa sih? Panggil Mia saja. Mia lebih nyaman," ucap Mia.
Sindi pun akhirnya menceritakan semua kejadian semalam.
"Hah? A Dion nelepon kamu?" tanya Mia.
"Iya. Katanya aku jangan ganggu waktu istirahat kamu Mi. Makanya aku takut pas ada telepon dari kamu," jawab Sindi.
"Takut kenapa?" tanya Mia.
"Takut kalau yang nelepon bukan kamu," jawab Sindi.
Mia tertawa. Ia membayangkan bagaimana ekspresi takutnya Sindi saat mendengar suara Dion.
"Maaf ya Sin. Mia gak tahu kalau A Dion nelepon kamu. Nanti Mia bilangin sama Aa biar gak bikin kamu takut ya!" ucap Mia.
"Eh jangan!" ucap Sindi.
"Loh kok jangan?" tanya Mia.
"Bisa-bisa nanti Tuan Dion makin marah. Disangkanya aku ngadu lagi sama kamu," jawab Sindi.
Mia mengerti dan kembali bercerita tentang hari-harinya pada Sindi. Sindi bisa merasakan betapa bahagianya menjadi Mia. Mendengarnya saja sudah ikut tersenyum, apalagi kalau ia bisa melihat bahagianya Mia tinggal di rumah Dion.
Merasa cukup puas, Mia mengakhiri panggilannya dan mencoba memejamkan matanya. Awalnya tidak berniat untuk tidur, tapi kenyataannya bantal dan ranjang nyamannya membuat Mia akhirnya terlelap juga. Bahkan Mia sampai mengabaikan panggilan dari Dion.
Mia bangun saat Nyonya Helen masuk ke dalam kamarnya. Suara dan sentuhan Nyonya Helen akhirnya membuat Mia membuka matanya perlahan.
"Mama," ucap Mia.
"Jangan lama-lama tidurnya. Bangun dan siap-siap ya! Kita harus periksa kandungan kamu," ucap Nyonya Helen.
"Iya Ma," jawab Mia.
Setelah Mia bangun, Nyonya Helen ke luar dari kamar Mia. Ia tidak tahu kalau Mia tidur belum selama yang ia fikir.
"Ma, ayo!" ajak Mia.
Nyonya Helen yang sudah menunggunya langsung berangkat ke rumah sakit diantar oleh sopir pribadinya.
"Sudah mengabari Dion?" tanya Nyonya Helen.
"Sudah. Katanya Aa sudah di rumah sakit," jawab Mia.
"Hah? Kok bisa?" tanya Nyonya Helen.
"Tadi katanya ada meeting di daerah dekat rumah sakit. Jadi aa langsung ke rumah sakit saat meetingnya udah beres. Sekarang lagi jenguk Maya," jawab Mia.
"Maya? Wanita mana lagi yang berani mengganggu Dion?" tanya Nyonya Helen emosi.
"Ma, tenang Ma. Maya itu istrinya Reza," jawab Mia.
"Oh, Mama fikir ada wanita ular lagi yang mengganggu kalian. Mia ingat ya! Jangan pernah memberikan celah pada siapapun untuk mengganggu rumah tangga kalian. Kalau sampai ada yang berani macam-macam, jangan tinggal diam." Ucap Nyonya Helen.
"Terus Mia harus gimana?" tanya Mia.
"Sikaaaat," ucap Nyonya Helen berapi-api.
"Siap Ma," ucap Mia.
Ternyata ketakutannya dikatakan wanita yang barbar mulai memudar saat mendapat dukungan dari Nyonya Helen.
"Jadi kalau ada wanita yang macam-macam sama A Dion?" tanya Mia.
"Sikaaaat," ucap Mia dan Nyonya Helen bersamaan.
Dari Nyonya Helen Mia banyak belajar. Sebagai istri dari seorang pengusaha sukses, memang akan sangat mudah khawatir kalau suaminya diganggu wanita lain. Namun sebagai istri sah, Mia diajarkan untuk tidak lemah. Bukan untuk merendahkan dirinya sendiri, namun itu adalah salah satu menunjukkan kalau Mia bukan istri yang lemah.
####################
Buat pembaca semua, mohon bijak dalam berkomentar. Aku tahu kok gak setiap ide yang keluar dari kepala aku bisa diterima oleh kalian. Aku juga nerima kritikan kalian, tapi kritikan yang membangun, bukan yang menjatuhkan.
Mungkin bagi aku membuat suatu cerita itu tidak semudah curhat yang bisa keluar begitu saja. Belum lagi banyak typo dalam penulisan novel aku. Tapi aku harap kalian bisa jadi saksi kalau aku banyak belajar dari komen kalian juga.
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1