Janda Bersegel

Janda Bersegel
Rebutan cucu


__ADS_3

Mia dan Dion menyaksikan dua pria berumur menggendong Naura dan Narendra dan menepuk-nepuk bayi yang ada dalam gendongannya. Keduanya menggerak-gerakkan badannya sembari sedikit mengayunkan bayinya.


"Duduk Pa," ucap Nyonya Helen mengingatkan.


Nyonya Helen yang menyadari usia suaminya tidak lagi muda, mengingatkan Tuan Wira untuk duduk. Sudah cukup lama Tuan Wira dan Tuan Felix berdiri mengayunkan bayi kembarnya dalam gendongannya.


"Ah, kalau duduk nanti bayinya nangis. Kalau begini kan berasa naim ayunan mereka. Iya ga?" tanya Tuan Wira pada Tuan Felix.


Tuan Felix hanya mengangguk dan tersenyum. Tidak lama, karena kemudian matanya menatap kembali bayi yang ada dalam gendongannya.


Terserah deh Pa, terserah. Tapi kalau sampai encoknya kumat lagi jangan sampai nyalahin aku ya. Nyonya Helen.


Setelah itu hening. Kumpulan keluarga itu tidak bersuara. Mia dan Dion kembali mengamati kelakuan dan raut muka mereka semua. Nampak Tuan Wira dan Tuan Felix tengah bahagia, sedangkan Nyonya Helen nampak cemberut dan gelisah. Ia yang sudah tidak sabar ingin segera kembali ke Indonesia untuk bertemu cucu kembarnya, justru sekarang ia yang gek kebagian menggendong cucunya. Karena kedua cucunya sudah dikuasai oleh dua pria yang ada di hadapannya.


"Kok bayinya mirip aku ya?" tanya Tuan Felix yang tiba-tiba memecah keheningan.


Kalimat itu sontak membuat Nyonya Helen berdelik seolah tidak menerima. Tak ada sangakalan langsung yang keluar dari mulutnya, namun senyum terpaksanya menandakan bahwa ia menolak kerasa apa yang sudah diucapkan oleh Tuan Felix.


"Enak saja. Mirip aku lah. Kan aku kakeknya," ucap Tuan Wira.


"Aku juga bisa jadi kakeknya. Aku kan seumuran denganmu. Berarti aku juga cocok kan?" tanya Tuan Felix.


"Tapi mereka cucuku," bantah Tuan Wira.


"Tapi cucumu bisa aku anggap sebagai cucuku juga," jawab Tuan Felix.


"Gak bisa. Khusus untuk mereka, kita tidak berteman. Kamu bukan siapa-siapa buat cucuku," ucap Tuan Wira.


Melihat Tuan Wira merasa kesal padanya, Tuan Felix justru senang dan terus memancing kekesalan Tuan Wira. Tiba-tiba saja Tuan Felix merindukan perdebatan-perdebatan kecil yang sering terjadi di kelas saat kuliah dulu. Anggap saja Tuan Felix sedang mengenang masa-masa menyenangkannya dulu.


"Eh, sudah. Kalian ini kenapa sih? Nanti bayinya nangis kalau kalian ribut terus," ucap Nyonya Helen mengingatkan.


Nyonya Helen yang tidak tahu bagaimana mereka berdua, sempat khawatir jika salah satunya tersulut emosi. Ia tidak mau kalau Narendra atau Naura jadi korban mereka berdua.


"A, udah kayak upin-upin ya!" bisik Mia.


Dion tersentak dan menahan tawanya.


"Mama kayak Kak Ros nya ya?" bisik Mia lagi.


"Bukan, Mama kayak oppa nya," bisik Dion.

__ADS_1


Kini giliran Mia yang berusaha keras untuk menahan tawanya. Setelah cukup lama menggendong Narendra dan Naura, Tuan Felix dan Tuan Wira terpaksa harus melepaskan bayi yang ada dalam gendongannya karena jadwal menyusu.


"Ma, kok Mama cemberut gitu sih?" tanya Mia.


"Kesel banget sama Papa dan Tuan Felix. Mereka ngabisin waktu sama Narendra dan Naura, padahal Mama yang mau cepat-cepat ketemu sama cucu kembar yang lucu ini," ucap Nyonya Helen.


Kini Naura memang sudah ada dalam gendongannya. Tapi sekarang waktunya menyusu. Kalau sudah menyusu, mereka pasti tidur lagi.


"Kan masih ada besok. Lagi pula sekarang Mama baru sampai. Mama pasti cape, jadi istirahat dulu ya!" ucap Mia.


"Justru ini adalah obat cape buat Mama. Cape mendadak hilang saat ketemu sama mereka," ucap Nyonya Helen.


Mia diam. Ia memang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Memang benar, Narendra adalah obat cape. Bukan hanya untuk Nyonya Helen, tapi bagi Mia dan yang lainnya. Rasa lelah akan dengan mudah sirna begitu saja saat melihat kedua bayi kembar itu.


Apa boleh buat. Seperti yang sudah Nyonya Helen perkirakan, mereka tidur setelah menyusu. Mau tidak mau, Nyonya Helen dan Mia keluar setelah kedua bayi kembar itu terlelap karena perut yang sudah kenyang.


"Ma, Tuan Felix lama gak di sini?" tanya Mia.


"Kayakny sih lama. Soalnya mau bahas bisnis baru sama Dion katanya. Memangnya kenapa?" tanya Nyonya Helen.


"Gak apa-apa. Mia cuma nanya aja," jawab Mia.


Nyonya Helen kembali ke kamarnya setelah memastikan kalau Tuan Felix sudah istirahat di kamar tamu yang sudah disiapkan. Di dalam kamar ia mengeluarkan semua unek-uneknya pada Tuan Wira. Suaminya memberi alasan yang bisa membuatnya bungkam sebentar.


Semakin lama, rasa kesal itu muncul lagi. Bagi Nyonya Helen, tetap saja ia tidak puas mengasuh kedua cucunya. Ia juga tidak butuh pengakuan kelucuan dari siapapun termasuk dari Tuan Felix. Tuan Wira tidak berhenti sampai sana. Ia berusaha mencari alasan lain yang bisa membuat Nyonya Helen lebih tenang.


"Bagaimanapun juga, Tuan Felix adalah orang yang akan mengajak Dion kerja sama. Jadi dia harus bahagia Ma. Kalau dia gak bahagia, gimana kalau kerja samanya dibatalkan? Mama mau Dion gagal kerja sama? Ingat ya Ma, Dion itu kerja buat masa depan Naura dan Narendra juga. Mama mau kan masa depan mereka cerah?" ucap Tuan Wira.


Sebentar Nyonya Helen terdiam untuk mencerna apa yang disampaikan oleh suaminya. Setelah ia mengerti, ia menganggukkan kepalanya sebagai tanda kalau sekarang ia sudah setuju dengan maksud suaminya.


"Jadi sekali-kali Mama mengalah ya? Mengalahnya Mama hari ini, sama artinya Mama member jalan untuk masa depan cucu kembar kita yang sangaaaaaat cerah," ucap Tuan Wira penuh dengan bujukan.


"Ya udah deh kalau gitu Mama ngalah aja. Tapi berapa lama nih Pa?" tanya Nyonya Helen.


Memang benar ya. Perempuan kalau udah urusan keuangan bisa langsung luluh. Tapi aku harus bersyukur, itu artinya istriku masih normal. Hehe


"Mana Papa tahu. Tapi setelah semua kerja samanya benar-benar deal, Tuan Felix pasti akan pulang. Jadi Mama gak usah khawatir ya!" ucap Tuan Wira.


"Mama berdoa biar semuanya lancar dan Tuan Felix segera pulang ke Jerman. Mama gak mau jadi rebutan cucu terus sama Tuan Felix," ucap Nyonya Helen.


"Iya. Mama tenang aja. Aman pokoknya Ma. Dia pasti pulang kalau semuanya sudah beres," ucap Tuan Wira.

__ADS_1


"Iya," jawab Nyonya Helen.


Setelah waktunya makan malam, Nyonya Helen ke ruang makan lebih awal. Ia memastikan menu makan malam sudah siap untuk menyambut Tuan Felix.


Ketukan pintu terdengar nyaring ke dalam kamar. Membuat Tuan Felix terkejut saat ia sedang mengamati beberapa foto yang ada dalam pangkuannya.


"Apa kau tidur?" tanya Tuan Wira.


"Tidak. Sebentar," jawab Tuan Felix.


Ia menyimpan foto itu di atas ranjang. Tidak lama, pintu kamar terbuka. Tuan Wira mengajak makan malam, namun Tuan Felix malah menarik tangan Tuan Wira untuk masuk ke dalam kama.


"Kamu mau ngapain?" tanya Tuan Wira.


"Siapa ini? Apakah ini Mia?" tanya Tuan Felix menunjuk foto wanita dengan gaun pengantin adat sunda yang terlihat sangat cantik.


"Ya ampun, maafkan aku. Ternyata foto-foto ini menumpuk di sini. Padahal aku sudah meminta orang untuk membersihkan kamar ini. Maaf jika ini membuatmu tidak nyaman," ucap Tuan Wira.


"Ah tidak! Aku justru tertarik dengan foto ini. Lagi pula foto ini ada dalam lemari. Aku iseng saja membuka lemari itu dan ternyata menemukan ini. Kamu belum menjawab, apa ini Mia?" tanya Tuan Felix mengulang pertanyaannya.


"Iya, itu Mia. Menantuku cantik kan?" ucap Tuan Wira.


Tuan Felix belum menjawab. Ia hanya mengusap foto yang sedikit berdebu itu oleh telapak tangannya.


"Ada apa dengan foto Mia? Apa dia mengingatkanmu pada seseorang?" tanya Tuan Wira.


Tuan Felix mengangkat kepalanya dan melihat wajah Tuan Wira yang penuh dengan tanya. Ia berdeham dan menyimpan kembali foto itu ke dalam lemari.


"Iya menantumu cantik. Oh ya ada apa kamu menemuiku?" tanya Tuan Felix yang berusaha mengalihkan pertanyaan Tuan Wira.


Masih dengan rasa penasarannya, Tuan Wira memberi tahu alasannya mencari Tuan Felix.


"Oh ya sudah. Ayo kita makan!" ajak Tuan Felix.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2