
Tanpa sepengetahuan Danu dan Tuan Ferdinan, Nyonya Nathalie melakukan penyelidikan tentang Mia. Ia sempat tidak enak hati saat kehilangan kontak dengan anak buahnya yang sudah ditugaskan untuk mencari Mia. Namun kini hatinya sangat bahagia saat anak buahnya sudah kembali dan membawa kabar bahagia.
"Danuuuu," panggil Nyonya Nathalie.
Danu yang sedang tidur pulas tidak mendengar teriakan ibunya, karena telinganya juga sedang memakai headset.
Nyonya Nathalie masuk dan membuka pintu kamar Danu yang tidak dikunci. Wanita yang tengah bahagia itu juga membuka paksa headset yang menutupi telinga Danu dan berteriak di telinganya.
"Danuuuu," teriak Nyonya Nathalie.
Danu terperanjat dan langsung memegang telinganya.
"Mami, ada apa sih?" tanya Danu kesal.
"Kamu, mami panggil kok susah banget. Mami ada kabar bahagia nih," ucap Nyonya Nathalie. " Danu bangun!" lanjutnya saat melihat Danu malah tidur lagi.
Danu menggeliat karena ibunya terus mengguncang tubuhnya.
"Ayo cuci muka dulu. Kamu libur kerja bukannya mandi yang segar, ini malah tiduran begini. Mana ada wanita yang mau sama pria malas," ucap Nyonya Nathalie.
Danu tidak ingin meladeni ibunya untuk berdebat. Hingga ia memaksa membuka matanya yang merasa masih sangat ngantuk. Danu pergi ke kamar mandi dan bersiap mendengarkan hal penting apa yang akan disampaikan oleh ibunya.
"Danu, kau mandi atau tidur?" tanya Nyonya Nathalie.
"Mandi Mi," jawab Danu dari kamar mandi.
"Cepat dong. Lama sekali," gerutu Nyonya Nathalie.
"Sabar Mi. Orang sabar disayang Tuhan," jawab Danu.
Setelah menunggu cukup lama, Danu akhirnya keluar juga. Nyonya Nathalie yang sudah tidak sabar segera menarik tangan Danu, untuk duduk di tepi ranjang.
"Duduk di sini!" ucap Nyonya Nathalie menepuk tepi ranjang di sampingnya.
Danu tidak melakukan penolakan. Ia hanya mengikuto semua perintah dari ibunya dan siap mendengarkan ceritanya. Ya meskipun Danu berpikir pasti ceritanya tidak akan menarik. Tidak jauh dari soal menikah dan perusahaan. Mungkin Nyonya Nathalie sudah menemukan calon istri yang baru untui Danu. Begitu pikiran pria berusia 35 tahun itu.
Matanya mendadak membulat sempurna dan terlihat berbinar. Mulutnya yang menganga dan rasa malasnya berubah semangat. Semua itu terjadi saat Nyonya Nathalie mengucapkan satu nama yang ia rindukan. Ya, Mia. Nama itu berhasil membuat Danu menjadi semangat kembali.
Berdasarkan pengamatan anak buah Nyonya Nathalie, ternyata Mia masih setia dan tidak pernah dikunjungi mantan suaminya. Pria yang datang ke rumahnya hanya bapak-bapak sekampungnya, yang akan melakukan pengajian.
Perihal komunikasi, ada masalah yang terjadi di kampungnya Mia. Signal hilang karena jalur utama terjadi longsor yang menyebabkan sinyal ke daerah Mia belum diperbaiki. Ketika anak buahnya mencari tahu sosok mantan suami Mia, ternyata Pak Haji itu tidak pernah mengunjungi Mia lagi setelah perceraiannya. Dan ada satu hal yang paling membuat Danu semakin bahagia, kalau Mia mengakui Danu sebagai calon suaminya.
Informasi itu dianggap terpercaya, karena didapat dari Bu RT. Orang yang selama ini paling dekat dengan Mia. Hati Danu berbunga. Kalau saja tidak malu, Danu ingin berlompat riang saat mendengar berita yang sangat membahagiakan itu.
"Jadi kamu jangan berprasangka buruk lagi sama Mia. Mami juga yakin kok kalau Mia tidak mungkin macam-macam. Hanya saja, Mami tidak tahu bagaimana hubungan Mia dengan mantan suaminya itu. Itu tugas kamu yang mencari tahu," ucap Nyonya Nathalie.
"Makasih ya Mi," ucap Danu.
Danu tak menyangka kalau ibunya sangat mendukung hubungannya dengan Mia. Tapi soal mencari tahu tentang hubungan Mia dengan Pak Haji itu, rasanya tidak mungkin. Percuma, karena Mia tidak akan menceritakan apapun pada Danu. Mia sempat berkata kalau semua cerita masa lalunya akan ia beberkan pada suaminya kelak. Dan Danu mempunyai kesempatan untuk mendengar semua cerita Mia nanti setelah mereka menikah.
Menikah? Ah, Danu rasanya tidak sabar saat mengingat kalau ia akan menjadi suami Mia. Ia akan memiliki Mia seutuhnya. Ya walaupun hanya sebatas sebuah simbiosis mutualisme saja. Setidaknya Danu akan hidup dengan bahagia dengan orang yang tulus dan sangat baik seperti Mia.
"Hey, jangan melamun dong." Nyonya Nathalie menepuk bahu Danu yang tampak sedang tersenyum dengan tatapan kosong.
Ada rasa bahagia pada hati Nyonya Nathalie saat melihat Danu bersemangat kembali. Setelah merasa tugasnya sudah selesai, ia kembali ke kamarnya dan membiarkan Danu menikmati rasa bahagianya sendirian.
Seperti dugaan Nyonya Nathalie, setelah keluar dari kamar Danu, Danu memang sangat menikmati rasa bahagia yang tengah mengisi relung hatinya. Ia berlompat bahagia dan menengadahkan tangannya. Seolah ia sedang bersyukur karena Tuhan sudah menjawab doanya. Tuhan memberikan apa yang ia harapkan selama ini.
Danu membuka ponselnya dan masuk ke menu kelender. Ia mulai menghitung, tanggal berapa Mia akan kembali ke Jakarta? Rasanya sudah tidak sabar melihat wajah cantik yang masih polos, namun menyimpan kecerdasan yang luar biasa itu.
Waktunya hanya seminggu lagi. Mungkin waktu yang sebentar, namun akan terasa sangat lama bagi Danu yang sudah sangat menanti hari itu tiba.
__ADS_1
Hari-hari Danu jalani dengan sangat semangat dan penuh penantin. Hal itu membuat Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan senang melihat anaknya.
Hari ini sudah seminggu dari waktu yang sudah diprediksi. Danu bangun lebih pagi dan mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Mia. Detik jam terasa lebih lama dibanding hari-hari sebelumnya.
"Mau kemana? Kok sudah rapi?" tanya Tuan Ferdinan.
"Mau jogging. Ya mau ngantor dong Pi. Papi gak lihat aku udah siap begini?" tanya Danu.
"Loh bukannya kamu mau izin hari ini?" tanya Tuan Ferdinan.
Kemarin Danu memang sempat mengajukan cuti untuk hari ini. Ia berniat untuk menunggu Mia dan menyambutnya saat wanita itu datang dari Bandung. Namun Danu berubah pikiran. Lebih baik ia menunggu Mia sambil bekerja. Karena kalau menunggunya di rumah, itu akan terasa sangat lama. Biarlah kedatangan Mia menjadi kejutan saat ia pulang kerja saja.
"Gak jadi Pi. Cutinya aku ganti jadi besok aja ah," jawab Danu.
Tuan Ferdinan dan Nyonya Nathalie yang tidak tahu apa-apa hanya mengiyakan saja, tanpa ada rasa curiga sama sekali. Mereka tidak seperti Danu yang menghitung angka demi angka untuk mengetahui kapan kedatangan Mia ke Jakarta.
Di kantor, Danu beberapa kali melihat pergelangan tangannya. Jam yang melingkar di tangan kirinya itu sudah berganti angka. Bahkan sampai jam makan siang, Danu belum mendapat telepon juga. Ia memeriksa ponselnya. Hasilnya nihil. Tidak ada panggilan dari Mia ataupun dari ibunya. Ah, mungkin Mia belum sampai.
Danu berusaha untuk selalu mengenyahkan pikiran buruknya. Ia selalu berusaha untuk berpikiran pisitif meskipun kenyataannya itu sangat sulit.
Jam makan siang sudah berlalu. Namun ponselnya masih saja sepi. Hatinya maish terus bertanya dan menerka. Mungkinkah Mia tidak ke Jakarta hari ini? Atau justru Mia tidak akan pernah ke Jakarta lagi? Bisa jadi kalau Mia ke Jakarta tanpa menemuinya kembali. Mia wanita yang cerdas, kalaupun Mia mencari kerja di perusahaan lain, itu bukan hal sulit baginya.
Krriiiiing.. Kriiiiing.. Kriiiing
Dering ponsel membuyarkan lamunannya. Nyonya Nathalie? Apakah ibunya akan memberi tahu tentang kedatangan Mia? Danu yang sudah tidak sabar segera menjawab panggilan itu dengan sangat semangat.
"Danu, pulangnya jangan malam-malam ya! Mami sudah masak banyak. Malam ini spesial pokonya," ucap Nyonya Nathalie dari balik sambungan teleponnya.
Dengan mantap Danu mengiyakan dan akan mengabari ayahnya secepatnya. Hatinya kembali berbunga dan pikiran buruk itu langsung hilang seketika.
Nyonya Nathalie sengaja menyiapkan makan malam spesial untuknya karena ada Mia. Danu berpikir kalau ibunya akan memberikan kejutan spesial dengan kedatangan Mia.
Jam kerja sudah usai. Dengan cepat ia menutup laptopnya dan merapikan semua berkas yang ada di mejanya. Dalam suasana hati yang sedang berbunga, Danu segera pulang. Ia sudah sabar untuk bertemu dengan Mia.
Dengan wajah yang berseri, Danu turun dari mobil dan masuk dengan setengah berlari. Bayangan Mia masih terbayang di pelupuk matanya. Bagaimana senyumnya, lucunya, polosnya, ahh segalanya. Danu sudah membayangkan semua hal indah tentang Mia.
Ketika kakinya sudah melangkah di dalam rumahnya yang mewah, Danu melihat keadaan rumah yang sepi. Dimana Mia? Danu mencari Mia ke setiap ruangan. Tidak ada. Danu tidak menemukan sosok Mia di rumahnya.
"Maaf Tuan, mencari apa?" tanya Bibi.
"Mami mana?" tanya Danu.
"Ada di kamarnya Tuan. Mau saya panggilkan?" tanya Bibi.
"Tidak perlu. Biar aku saja," ucap Danu dengan segera pergi ke kamar ibunya.
Sebelum pergi ke kamar ibunya, Danu melihat ke arah dapur. Banyak masakan spesial yang sudah dihidangkan. Seperti ada pesta. Danu yakin kalau ini adalah pesta untuk penyambutan kedatangan Mia.
Danu mengurungkan niatnya untuk mencari Mia di kamar ibunya. Biar saja itu menjadi kejutan paling istimewanya saat nanti makan malam. Sekarang, yang harus Danu lakukan adalah mandi dan bersiap untuk bertemu dengan Mia saat makan malam.
Setibanya di kamar, Danu menyimpan tas kerjanya dan melemparkan jas yang sudah berhasil ia lepas ke atas sofa. Kemudian ia membuka dasinya dan mulai membuka kancing kemejanya satu per satu, dan membukanya. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Di bawah guyuran shower, Danu menutup matanya. Ia membayangkan kembali wajah Mia yang selalu membuatnya rindu.
"Kita akan bertemu lagi Mia," gumamnya.
Setelah selesai mandi ia memilih pakaian santai terbaiknya. Tak lupa minyak wangi ia semprotkan, agar aroma maskulinnya bisa membuat Mia betah berlama-lama di dekatnya.
Danu menatap wajahnya di depan cermin. Memastikan kalau penampilannya akan membuat Mia terkesima dan sulit untuk melupakan ketampanan Danu. Tak terasa bibirnya mengembang begitu saja. Senyum bahagia itu muncul dengan sendirinya, untuk mengekspresikan rasa yang mengisi ruang hatinya.
Sudah waktunya makan malam, Danu keluar setelah pintu kamarnya diketuk oleh Bibi yang memintanya untuk segera turun. Nyonya dan Tuan besar sudah menunggunya di ruang makan.
__ADS_1
Hati Danu berdebar tak karuan. Ia belum mempersiapkan kata-kata apa yang akan diucapkannya pada Mia saat mereka bertemu lagi untuk yang pertama kalinya.
"Sayang, rapi sekali." Nyonya Nathalie menyambut Danu.
Danu mengerutkan dahinya saat melihat hanya ada ayah dan ibunya di ruang makan itu. Dimana Mia? Apakah ia masih disembunyikan oleh ibunya?
"Biasa aja kok Mi," ucap Danu sambil duduk.
"Eum, ini minyak wangi abis sebotol pasti. Menyengat sekali Mi," ucap Tuan Ferdinan sambil mengibaskan tangannya di depan hidungnya.
"Apaan sih pi? Jangan lebay deh," ucap Danu yang sudah mulai kesal.
"Mi, sebenarnya ada acara apa sih masak sebanyak ini? Apakah ada sesuatu yang spesial?" tanya Danu.
Jujur saja Danu masih sangat penasaran, dimana ibunya menyembunyikan Mia.
"Sayang, ini sangat spesial. Hari ini Mami menang arisan," ucap Nyonya Nathalie dengan girang.
"Apa?" tanya Danu terkejut.
"kamu tidak usah terkejut gitu Danu. Mami tahu kok memang uangnya cukup besar. Jadi mami mau niat modal bikin rumah kontrakan Pi," ucap Nyonya Nathalie.
"Wah, bagus Mi. Mau jadi juragan kontrakan ya?" tanya Tuan Ferdinan.
Ayah dan ibunya dengan sumringah membahas tentang arisan dan rencana bisnis baru Nyonya Nathalie untuk menjadi seorang juragan kontrakan. Hanya Danu yang cemberut.
Jadi selama ini, harapannya pupus? Begitu percaya dirinya Danu hingga menganggap Mia akan kembali menemuinya. Tapi harapan itu didukung oleh argumen anak buah ibunya, yang mengatakan bahwa Mia menganggap Danu sebagai calon suaminya. Lalu apa lagi yang akan diharapkannya sekarang? Mia tidak kembali. Danu tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
Moodnya berantakan. Danu merasa selera makannya hilang begitu saja. Makanan yang tersaji di meja, sama sekali tidak menarik baginya.
Rasa kecewanya sudah membuat Danu kenyang. Ya, kenyang karena menikmati harapan palsu.
"Ayo makan yang banyak ya sayang!" ucap Nyonya Nathalie kepada Danu.
Andai saja bisa, ia ingin segera pergi dari sana dan kembali ke kamarnya. Ia ingin sekali memejamkan matanya. Berharap kalau semua rasa kecewanya ini adalah sebuah mimpi buruk baginya. Namun semua ini adalah kenyataan pahit yang harus ia terima.
Danu masih tetap makan menikmati sajian yang sudah disiapkan ibunya. Meskipun ia sudah kehilangan selera makannya, namun Danu masih berusaha untuk menyantapnya. Ya, mungkin hanya sekedar untuk menghargai ibunya saja.
"Mi, aku masuk ke kamar dulu ya!"ucap Danu.
"Jangan langsung tidur! Kamu baru beres makan dan itu tidak baik untuk kesehatanmu," ucap Nyonya Nathalie.
"Aku mau menelepon temanku Mi. Ponselku ada di kamar Tenang saja, aku gak langsung tidur kok Mi," ucap Danu yang melambaikan tangannya pada kedua orangtuanya.
Sesampainya di kamar, Danu mengepalkan tangannya dan beberapa kali meninju bantalnya. Ia menahan suaranya agar tidak mengeluarkan suara apapun. Danu tidak ingin kalau orang tuanya tahu kekecewaan yang sedang ia rasakan. Bisa-bisa Tuan Ferdinan mengejeknya habis-habisan.
Jangankan langsung tidur, Danu malah tidak mengantuk sama sekali. Ia hanya bisa membaringkan tubuhnya atas ranjang dan menatap langit-langit kamarnya. Sesekali ia memejamkan matanya dan berharap bisa tidur.
Jarum jam terus berdetak. Sudah jam sebelas malam, namun rasa ngantuk itu entak kemana. Sampai akhirnya kegelisahan itu terjeda ketika suara ketukan pintu terdengar nyaring dalam heningnya malam.
"Siapa?" tanya Danu.
Tak ada yang menjawab. Namun ketukan pintu itu masih terus terdengar. Danu menjadi takut saat tak ada seorangpun yang menjawab panggilannya. Perlahan, ia turun dari ranjangnya dan membuka pintu kamarnya.
Danu sangat terkejut ketika melihat orang yang ada di depannya. Berkali-kali ia mengucek matanya dan memastikan kalau ia tidak salah melihat.
"Mia?" ucap Danu meyakinkan dirinya sendiri.
###################
Hayuuuuk atuuh bantuin aku buat like, vote, love, dan kasih bintang 5nya.
__ADS_1
Gak bikin pegel jempol kok. Dijamin. Cobain deh.
Selamat membaca.. Terima kasih..