Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tanda tangan kontrak


__ADS_3

"Hooooamm, jam berapa ini?" gumam Mia sembari meraih ponselnya di atas nakas.


Dengan mata yang masih mengantuk, Mia membuka matanya perlahan yang silau dengan cahaya dari layar ponselnya.


"Hah? Jam delapan?" ucap Mia setengah berteriak.


Sejak kapan Mia jadi suka kesiangan begini? Aduh rejeki bisa dipatok ayam nih. Mia kan harus nyari kerja.


Mia segera membersihkan tubuhnya dengan sangat ekspres. Setelah merasa beban hidupnya semakin berat, Mia merasa memang jadwal tidurnya tidak teratur.


Mulai dari mana ya? Tapi kata ibu warung kemarin, ada pabrik baru di sekitar sini. Ayo Mia semangat!


Mia menyambar surat lamaran kerjanya. Mencari tahu alamat pabrik dari ibu warung, karena Bu Ningrum sepertinya tidak ada di rumah. Sepi.


Dengan naik ojek, Mia berangkat dengan penuh harap. Apapun pekerjaannya, Mia harus semangat. Semua demi masa depannya. Mia akan buktikan pada keluarga Danu kalau Mia bisa mandiri tanpa bantuannya. Kalau Mia memang tidak butuh uang dari keluarga Danu. Tapi apa mungkin bisa sukses kalau hanya menjadi seorang karyawan? Ah tapi apa salahnya mencoba? Mia harus berusaha. Apapun hasilnya, itu urusan nanti.


Mia turun di sebuah gedung besar. Tidak terlalu mewah dan masih terlihat seperti masih dalam proses pembangunan. Masih ada beberapa alat berat dan pekerja berhelm kuning. Memberanikan diri untuk bertanya ke bagian mana jika Mia harus melamar kerja, Mia mengikuti arahan yang diberikan.


"Maaf ya mba, sedang penuh. Tidak ada lowongan." Seorang wanita dengan rok di atas lutut dan kemeja bitu itu sembari mengembalikan surat lamaran yang Mia berikan.


Penuh? Tidak ada lowongan? Bagaimana bisa? Padahal pabrik ini kan masih dalam pembangunan. Masa sudah penuh?


"Oh iya. Terima kasih. Saya permisi," ucap Mia.


Mia melangkahkan kakinya gontai. Mencari ojek untuk kembali ke kontrakannya. Mia berhenti di warung nasi untuk makan siang.


"Hey, mba yang ngontrak di tempat Bu Ningrum kan?" ucap seseorang yang menghampiri Mia.


"Loh, mba juga yang ngontrak di sana kan?" tanya Mia.


"Iya mba Mia, aku Sindi. Masa sudah lupa?" ucap Sindi.


"Panggil Mia saja," ucap Mia.


"Ya sudah panggil aku Sindi saja ya. Biar lebih akrab. Oh iya, kamu lagi ngapain di sini?" tanya Sindi.


"Ngelamar kerja ke pabrik. Tapi katanya penuh. Mia cari kerja kemana lagi ya?" tanya Mia pasrah.


"Coba ke bu Ningrum saja," ucap Sindi.


"Ku Bu Ningrum?" tanya Mia.


"Iya, ibu kontrakan itu." Sindi mengingatkan Mia.


"Iya, Mia ingat. Jadi Mia kerja apa kalau di Bu Ningrum. Buruh cuci?" tanya Mia dengan wajah sedih.


Rasanya Mia enggan jika harus kembali menjadi buruh cuci. Mia sudah berusaha untuk menempuh pendidikan sampai sarjana. Tak pernah terlintas di pikirannya untuk kembali menjadi buruh cuci.


Pak Haji pasti kecewa kalau Mia jadi buruh cuci lagi. Huhu


"Bukan jadi buruh cuci dong. Kamu bawa surat lamaran ini ke Bu Ningrum," ucap Sindi.


"Buat apa?" tanya Mia.


"Buat cari kerja. Sudah, pokoknya kamu kasih saja amplop ini sama Bu Ningrum. Aku duluan ya," ucap Sindi.


Mia mengangguk. Setelah makan siangnya selesai, Mia kembali ke kontrakannya. Walaupun belumengerti betul apa maksud Sindi, Mia menuruti kata-katanya. Mia segera menemui Bu Ningrum.


"Selamat siang Bu!" sapa Mia.


"Siang juga Mia. Mau kemana nih?" tanya Bu Ningrum.


"Mau ke ibu," jawab Mia sembari melempar senyum manisnya.


"Ke ibu?" tanya Bu Ningrum.


Mia mengangguk.


"Kan belum waktunya bayar kontrakan?" ucap Bu Ningrum.


Duit terooooss.


"Bu-bukan itu Bu. Mia mau cari kerja. Tadi udah dari pabrik, tapi katanya penuh gak ada lowongan. Kata Sindi coba minta bantuan sama Ibu saja," ucap Mia.


"Oh, mau cari kerja?" tanya Bu Ningrum.


"Iya bu. Mia kan harus cari uang buat bayar kontrakan," ucap Mia.


Oh iya ya. Anak ini harus kerja. Kalau gak kerja nanti gak bayar kontrakan lagi.


"Memangnya kamu tamat SMA?" tanya Bu Ningrum.


Waduhhh... Memang wajah Mia kelihatan kayak yang gak sekolah ya?


"Sarjana Bu," jawab Mia dengan percaya diri.


"Sarjana?" tanya bu Ningrum yang terlihat sangat ragu.

__ADS_1


"Iya Bu. Tapi kalau masalah kerja sih, Mia mau kerja apa saja. Gak apa-apa yang penting kerja lah," ucap Mia.


"Coba mana bawa ijazahmu ke sini," pinta Bu Ningrum.


Ya ampun, memangnya Mia kelihatan kayak tukang bohong ya? Gak percaya banget sih.


"Sebentar Bu!" ucap Mia.


Setengah berlari Mia kembali ke kontarakannya untuk membawa persaratan untuk melamar kerja.


"Ini bu!" ucap Mia.


Bu Ningrum menerima amplop dari Mia dan membuka lembaran demi lembaran persaratan kerjanya. Dengan kerutan di dahinya, Mia yakin kalau Bu Ningrum pasti amsih meragukan ijazahnya.


"Kamu lumayan pintar ya Mia," ucap Bu Ningrum.


Lumayan pintar? Bu Ningrum, Mia ini rangking satu. Ya meskipun SMA harus mengikuti paket C, tapi nilainya tetap bagus kok.


"Terima kasih Bu," jawab Mia.


"Saya bawa surat lamaran kamu ya! Nanti saya kabari lagi keterima atau tidaknya." Bu Ningsih merapikan kembali persaratan Mia.


"Wah, Bu Ningrum bisa bantu Mia?" tanya Mia.


"Memangnya kamu pikir mereka yang masuk pabrik itu sama siapa? Kebanyakan, mereka bisa masuk itu karena bantuan saya." Dengan bangga Bu Ningrum menjelaskan betapa pentingnya dirinya.


Bu Ningrum memang diberi kesempatan untuk merekrut karyawan baru.Ya, sebagai jasa karena tanah yang dibangun pabrik itu dibeli dari Bu Ningrum.


"Aduh, kebetulan sekali ya. Mia beruntung bisa bertemu dengan ibu. Tapi katanya di sana sudah penuh bu. Tidak ada lowongan," ucap Mia.


"Sudah kamu tenang saja. Kamu siapkan uang tiga juta lima ratus ribu rupiah," ucap Bu Ningrum.


"Hah? Buat apa?" tanya Mia.


"Buat apa? Ya buat masuk kerja lah," jawab Bu Ningrum.


"Kan Mia kerja mau cari uang. Kenapa malah harus bayar?" tanya Mia.


"Jadi kamu gak mau?" tanya Bu Ningrum.


"Ya, bukan gak mau bu. Tapi kan," belum sempat Mia menyelesaikan ucapannya, Bu Ningrum sudah memotongnya.


"Ya kalau gak mau gak apa-apa. Nih kamu bawa pulang lagi surat lamarannya. Kamu ngelamar sendiri aja," ucap Bu Ningrum.


"Eh iya Bu. Nanti Mia bawa uangnya dulu. Permisi," ucap Mia.


Mia segera berlari ke kontarakannya. Menghitung uang sebanyak tiga juta lima ratus ribu rupiah. Sebelum kembali ke rumah Bu Ningrum, Mia duduk sebentar di tepi ranjangnya. Mia tidak mengerti kenapa harus membayar uang sebesar itu.


"Ini bu," ucap Mia memberikan uang sebanyak tiga juta lima ratus ribu rupiah.


"Sini," ucap Bu Ningrum membawa uang dari Mia.


Bu Ningsih menghitung uang dari Mia.


"Pas. Ngapain masih di sini? Kamu pulang saja. Besok atau lusa kalau sudah ada panggilan, kamu pasti saya kabari." ucap Bu Ningrum.


"Tapi bisa masuk kerja kan bu?" tanya Mia.


"Kamu meragukan ibu? Gak percaya sama ibu? Duit sudah banyak ngapain nipu kamu?" ucap Bu Ningrum kesal.


Iya tahu Bu, tahu. Ibu mah sultan. Tanah luas, kontrakan banyak, duit numpuk. Apalah Mia yang harus mencurigai ibu. Huuhffhh


"Maaf bu. Mia percaya kok. Mia cuma sudah tidak sabar saja ingin segera masuk kerja bu," ucap Mia menyembunyikan keraguannya.


"Sabar dong. Pokoknya kamu duduk manis saja di rumah ya! Tunggu kabar dari saya," ucap Bu Ningrum.


"Ya sudah bu kalau begitu Mia pulang dulu. Permisi," ucap Mia.


Meninggalkan rumah Bu Ningrum dan kembali ke kontrakannya. Duduk kembali di tepi ranjangnya dan membuka ponselnya. Mia melihat ada pesan dari Kalin. Katanya dia merindukan Mia. Dengan senyum lebar, Mia membalas pesan itu. Mengatakan kalau ia juga begitu merindukan Kalin.


Eh, ada pesan lagi. Dari Dokter Leoni?


Mia segera menghubungi donter Leoni. Ia meminta maaf kalau tak sempat pamit ketika pindah. Mia akhirnya menceritakan semua yang terjadi dengan Danu. Mia mengakui kalau ucapan Dokter Leoni memang benar. Harusnya Mia sudah membuang perasaan Mia sejak saat itu, hingga tidak perlu merasakan kecewa yang teramat dalam ketika diceraikan oleh Danu.


Namun Mia tidak memberitahukan alamat Mia di sana. Mia hanya memberi tahu kalau Mia sudah tidak di Jakarta. Rasanya Mia tidak ingin bertemu dulu dengan orang-orang di masa silamnya. Mia hanya ingin membangun dirinya menjadi orang baru, yang sudah siap untuk melupakan Danu. Hingga nanti bisa kembali ke Jakarta dengan Mia yang baru.


Maaf ya Kalin, Dev, Dokter Leoni. Mia belum siap jika kalian mencari Mia. Mia janji akan kembali menemui kalian setelah Mia siap.


Setelah dua hari Mia menunggu, akhirnya Mia mendapat panggilan dari pabrik itu. Bu Ningrum memberi tahu kalau besok Mia diminta untuk ke pabrik. Menandatangani kontrak dan mendapat informasi selengkapnya seputar aturan pabrik.


"Bu Ningrum, terima kasih banyak ya!" ucap Mia sambil memeluk Bu Ningrum saking senangnya.


"Iya, iya. Awas ah lepasin. Engap ini, uhuk.. uhuk," Bu Ningsih sampai batuk karena Mia memeluknya sangat erat.


"Oh iya Bu, maaf maaf," ucap Mia segera melepaskan pelukannya.


Mia merasa sangat senang karena akan mendapat pekerjaan. Meskipun Mia sendiri tidak tahu seperti apa pekerjaannya nanti. Yang penting Mia bekerja dulu. Bukan hanya sekedar untuk mendapat uang. Tapi Mia ingin melupakan semua beban hidupnya. Mungkin jika Mia memiliki aktivitas, Mia akan lebih cepat mengobati luka di hatinya. Menata hidup agar lebih baik lagi. Keluar dari zona hitam dan naik dari titik rendahnya.

__ADS_1


Mia tidur lebih awal dan memasang alarm agar tidak kesiangan. Mia tidak mau kehilangan kesempatan untuk bekerja, hanya karena kesiangan.


Teteet.. Teteet.. Teteet.


Bunyi alarm membuat Mia segera membuka matanya. Mandi dan bersiap untuk pergi bekerja.


"Mia, mau kemana?" tanya Sindi.


"Eh, mau ke pabrik. Kata Bu Ningrum aku dipanggil buat tanda tangan kontrak. Kamu mau ke pabrik juga Sin?" tanya Mia.


"Iya. Ayo bareng saja sama aku!" ajak Sindi.


"Gak ngerepotin?" tanya Mia.


"Ngerepotin apa sih? Kan aku juga mau ke pabrik. Jadi sekalian dong," ucap Sindi.


Mia mengangguk dan segera menaiki motor Sindi.


"Sin, terima kasih ya!" ucap Mia.


"Hah?" tanya Sindi.


"Terima kasih," ucap Mia setengah berteriak.


"Buat apa?" tanya Sindi.


"Karena informasi dari kamu, Mia bisa masuk kerja juga di pabrik." Mia menepuk bahu Sindi.


"Iya, sama-sama. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan ya sama aku. Kita kan tetanggaan. Aku malah mau berteman sama kamu. Bisa kan?" tanya Sindi.


"Wah, senang sekali Sin. Mia mau," ucap Mia.


Sesampainya di pabrik, Sindi yang sudah memakai seragam segera masuk ke dalam pabrik. Sedangkan Mia menemui dulu bagian kantor untuk melakukan penandatanganan kontrak.


Mia membaca dengan seksama apa saja isi surat yang akan ia tandatangani.


Gajinya empat juta. Bekerja senin sampai jumat, dibagi dua shift. Tiap karyawan akan tolling shift setiap satu minggu sekali. Bekerja selama delapan jam setiap harinya.


"Bagaimana?" tanya wanita cantik di hadapannya.


Wanita yang sama dengan saat Mia melamar kerja dulu. Yang katanya penuh dan tidak ada lowongan. Ternyata kalau sudah diberi uang, semuanya lancar jaya.


"Sudah," ucap Mia yang segera menandatangani surat kontrak itu.


"Ini seragamnya. Kamu boleh masuk mulai besok ya. Mulai dari shift dua. Ada yang mau ditanyakan?" tanya wanita itu.


"Tidak. Terima kasih ya!" ucap Mia.


Mia kembali ke kontrakannya. Kepalanya kembali berpikir bagaimana bisa Mia harus ke pabrik saat shift dua. Masuk jam delapan malam, pulang jam empat pagi. Apakah masih ada ojek di jam itu?


Biar nanti tanya ke Sindi saja ah.


Saat sore hari, Mia sudah menunggu Sindi. Ia harus mendapat info ini sekarang. Karena besok malam, Mia harus sudah masuk kerja. Beberapa kali, Mia melihat jam tapi Sindi belum juga pulang.


"Sin," panggil Mia saat melihat Sindi sudah pulang.


"Heyy, Mi. Gimana tadi?" tanya Sindi.


Mia menghampiri Sindi dan menceritakan semuanya. Termasuk tentang ojek.


"Kalau di jam shift dua itu memang susah ojek. Makanya aku juga kredit motor. Kamu bisa bawa motor gak?" tanya Sindi.


"Bisa. Memangnya kenapa?" tanya Mia.


"Kita kan beda shift, jadi kamu pakai motor aku saja ya! Aku kan pulang jam tiga atau jam empat sore. Jadi bisa gantian," ucap Sindi.


Mia tersenyum. Ia tak menyangka kalau bisa bertemu dengan orang baik di perantauan.


"Kamu gak keberatan?" tanya Mia.


"Gak dong. Kita kan teman. Jadi harus saling menolong," ucap Sindi.


Nambah satu lagi nih orang baik. Mia janji tidak akan melupakan semua kebaikanmu Sindi. Mia janji.


"Terima kasih ya Sin. Maaf merepotkan," ucap Mia.


"Ah kamu ini kayak sama siapa saja. Kita ini sama-sama merantau. Jadi harus menjadi saudara. Kan di sini kita jauh dari keluarga," ucap Sindi.


Bukan jauh dari keluarga Sin, tapi Mia gak punya saudara. Mia bahkan gak punya siapa-siapa.


"Iya Sin. Makasih banyak ya!" ucap Mia.


###################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


Terima kasih..


__ADS_2