Janda Bersegel

Janda Bersegel
Perkara cemburu berujung CUP


__ADS_3

Mia menggisik matanya saat secercah cahaya mengganggu tidurnya. Mia menguap dan memaksa matanya untuk terbuka. Tidak berniat bangun. Mia hanya meraih ponselnya untuk mengetahui jam berapa ini.


"Masih jam sembilan," gumam Mia.


Mia kembali menyimpan ponselnya dan menutup matanya.


Apa jam sembilan?


Mia segera membuka matanya kembali dan memastikan kalau ini benar-benar sudah jam sembilan.


"Astaga. Mas, mas, bangun! Ini sudah siang," ucap Mia panik.


Mia mengguncang tubuh Dion beberapa kali. Namun suaminya tidak bergeming. Masih tidur nyenyak karena lelah setelah bertempur tadi malam. Mia segera turun dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi.


Sebenarnya Mia juga sama, masih ngantuk dan lelah. Namun ini sudah terlalu siang. Mereka di hotel bersama Nyonta Helen dan Tuan Wira. Bagaimana mungkin Mia baru bangun sesiang ini? Apa kata mertuanya nanti? Ah Mia sangat panik.


Aduh, bisa-bisa Mia dipecat jadi menantu ini!


Mia mempercepat mandinya. Mungkin ini adalah mandi tercepat sepanjang masa bagi Mia. Bayangan kedua mertuanya tergambar jelas dalam pelupuk mata Mia. Bagaimana mungkin Mia menjadi menantu malas seperti ini.


"Mas, mas, bangun. Ini sudah jam sembilan. Ayo mandi mas," ucap Mia.


Dion menggeliat dan malah menarik Mia hingga Mia terjatuh ke atas ranjang.


"Mas, ini sudah siang. Ayo bangun! Nanti mama dan papa pasti marah sama Mia. Mas mau Mia dipecat jadi menantu?" tanya Mia kesal.


"Jangan berisik Mia. Aku masih ngantuk. Kepalaku berat sekali ini. Kamu tenang saja. Gak ada yang bakal mecat kamu jadi menantu," ucap Dion.


Mia tidak mengindahkan jawaban Dion. Ia semakin panik saat melihat jam terus bergerak. Ini sudah semakin siang, namun Dion masih betah di atas ranjangnya. Mia. melepaskan tangan Dion dari tubuhnya dan turun dari ranjang. Setelah banyak melakukan pertimbangan, akhirnya Mia memutuskan untuk keluar kamar. Mia akan menemui mertuanya tanpa Dion.


"Ma, pa," panggil Mia setelah mengetuk pintu kamar mertuanya.


Tidak ada jawaban. Mia kembali memanggil mertuanya sembari mengetuk pintu. Namun hingga tiga kali berulang, pintu itu tidak kunjung dibuka. Bahkan tidak ada sahutan dari dalam kamarnya.


Mia memutuskan untuk pergi mengelilingi hotel. Mungkin saja Mia akan bertemu dengan mertuanya di tempat lain. Mia mulai berjalan meninggalkan kamar hotel mertuanya.


Sayup terdengar suara gelak tawa. Tak asing. Ya, itu suara mertuanya. Mia mempercepat langkahnya dan mencari sumber suara itu. Saat sampai, Mia melihat Nyonya Helen dan Tuan Wira tengah bersalaman dengan pemilik seperti hendak berpisah.


Setelah melihat pemilik hotek itu pergi menjauh, Mia memberanikan diri menghampiri kedua mertuanya.


"Mia?" sapa Nyonya Helen yang merasa terkejut dengan kedatangan Mia.


"Ma, pa. Tadi Mia cari ke kamar tapi gak ada. Tahunya di sini," ucap Mia.


"Oh ya? Duduk di sini Mia!" ucap Nyonya Helen sambil menepuk kursi di sampingnya.


"Iya," jawab Mia.


Mia duduk di samping Nyonya Helen. Jujur saja Mia tengah menyembunyikan rasa gugupnya. Mia takut sekali kalau tiba-tiba mertuanya itu berubah sikap dan membenci dirinya. Bayangan Nyonya Nathalie menghantui pikiran Mia. Mia takut hal itu akan terjadi pada Nyonya Helen.


"Ada kamu mencari mama?" tanya Nyonya Helen.


"Mia, Mia," Mia menggantungkan ucapannya saat melihat Nyonya Helen menatapnya lekat.


"Kenapa? Mau nanyain resep biar bisa menghadapi anak mama ya?" goda Nyonya Helen.


"Bukan, bukan itu." Mia terlihat sangat panik.


Ini emak ngomongnya gak ada saringan banget sih? Padahal kan banyak orang. Malu ini.


"Lalu kenapa? Ada apa sih Mi? Mama kok jadi penasaran," tanya Nyonya Helen.


"Mia mau minta maaf sama mama dan papa," ucap Mia pelan dan menunduk.


"Minta maaf kenapa?" tanya Tuan Wira.


"Mia bangunnya kesiangan. Maaf ya pa, ma. Mia janji nanti bangunnya lebih pagi lagi," ucap Mia.


"Ya ampun Mia, mama pikir ada apa. Kamu tenang aja. Mama tahu kok, pengantin baru itu emang suka begitu. Apalagi dulu kita ya pa?" ucap Nyonya Helen.


"Iya, papa dulu waktu pengantin baru seharian gak keluar kamar. Benar-benar menghabiskan waktu berdua," timpal Tuan Wira.


"Jadi mama dan papa gak marah?" tanya Mia bingung.


"Kenapa mama harus marah? Tugas kamu itu melayani Dion dan kerja sama yang kompak. Ingat PR nya, kasih mama cucu secepatnya. Jangan malas ya!" ucap Nyonya Helen.


Susah emang ya sama keluarga somplak. Sepertinya kerjaan Mia cuma harus bikin anak deh ini. Ah, senangnya punya mertua begini. Gak apa-apa lah somplak juga, yang penting sayang sama Mia.


"Dion mana?" tanya Tuan Wira.


"Masih tidur. Tadi sudah dibangunin, cuma gak bangun-bangun pa. Makanya Mia tinggalin," jawab Mia.


"Aduh untung punya papa bangun, kalau gak bangun bisa ditinggalin mama nih. Punya papa masih bangun kan ma? Masih ok kan?" tanya Tuan Wira.


"Papa masih ok. Manteppp pokoknya," jawab Nyonya Helen sambil tersenyum lebar.


Helehh, kok jadi bahas yang lain yak? Padahal kan Mia jawab serius kalau mas Dion masih tidur. Ampuuun, somplak yang sudah mendarah daging emang.


"Eh Mia, kamu ngapain di sini?" tanya Tuan Wira.


"Mia kan cari papa dan mama mau minta maaf karena bangun kesiangan," jawab Mia.


"Ya ampun, kamu ini. Kamu pesan sarapan yang bergizi, dan bawa ke kamar ya! Ajak Dion makan, abis makan hajar lagi sebelum kalian pulang. Mama dan papa mau pulang duluan," ucap Nyonya Helen.


"Kita pulangnya barengan saja ma. Biar Mia panggilkan Dion," ucap Mia.


Namun Nyonya Helen menarik tangan Mia dan mencegahnya, karena sudah ada sopir yang menunggunya.


"Mia, mama titip Dion ya! Mama tahu kamu pasti bisa membahagiakan Dion," ucap Nyonya Helen sambil memeluk Mia.


"Kami pulang dulu ya!" ucap Tuan Wira.

__ADS_1


"Iya, selamat jalan. Hati-hati," ucap Mia sembari menyalami kedua mertuanya.


Mia mengantarkan kedua mertuanya hingga parkiran. Melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan. Setelah mobil mertuanya menjauh, Mia kembali ke dalam hotel.


"Kamu gak lupa sama pesan mama kan?" tanya Dion yang tiba-tiba berdiri di hadapan Mia.


"Mas," ucap Mia terkejut.


"Ayo!" ajak Dion.


"Kemana?" tanya Mia.


"Bikin cucu buat mama," jawab Dion.


"Loh, kan malam sudah mas." Mia berusaha Mengingatkan.


"Semalam, kamu yang mau. Sekarang, mama yang mau. Ayo! Keburu siang," ajak Dion menarik tangan Mia.


Hah? Apa? Bisa kamu ulang mas? Perasaan kamu untung banyak deh kalau gini caranya.


"Tapi aku belum makan," ucap Mia sambil mengikuti langkah Dion.


"Kamu jangan khawatir, makanan sudah siap sedia di kamar. Ayo jalan lebih cepat lagi!" ucap Dion.


Ternyata Dion sudah turun agak lama. Mendengarkan ucapan Nyonya Helen dan Mia. Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Dion segera memesan makanan untuk mereka berdua, karena Mia harus banyak mengkonsumsi makanan bergizi.


"Ayo makan Mia, sebentar lagi kita harus tempur." ucap Dion.


"Mas, kalau sudah makan langsung tempur, kita bisa sakit kram usus loh. Bahaya buat kesehatan," ucap Mia.


"Ya sudah kalau begitu kita tempur dulu. Nanti baru makan," ucap Dion.


"Lemes mas, kita kan belum makan." Mia memegang perutnya.


Dion menghela nafas panjang.


"Ya sudah ayo makan!" ajak Dion dengan cemberut.


"Jadi tempurnya?" tanya Mia.


"Nanti di rumah. Tapi di rapel ya. Jadi dua kali," ucap Dion dengan mata yang menggoda Mia.


"Mana bisa?" tanya Mia.


"Bisa. Makanya sekarang makan yang banyak biar nanti kita bisa praktek ya!" ucap Dion.


Gantian, sekarang giliran Mia yang cemberut. Mia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau mereka harus bertempur dua kali? Sekali saja membuat Mia hampir pingsan.


Ah, bodo amat. Yang penting sekarang Mia makan dulu. Cacing udah pada demo ini. Bahaya kalau gak di kasih asupan. Bisa-bisa usus Mia yang dimakan. Sabar ya cing. Nih Mia kasih makanan enak buat kamu.


Mia dan Dion mulai makan. Tanpa suara, hanya sesekali terdengar suara piring dan sendok yang beradu. Sendawa Dion mengakhiri suapannya. Sedangakan Mia sudah berhenti saat Dion masih makan dengan lahap.


"Mas, gak baik tahu sendawa depan orang begitu." Mia mengingatkan.


"Memangnya Mia bukan orang?" ucap Mia.


"Bukan, kamu itu daging segar yang siap aku lahap nanti. Tunggu nanti malam ya!" ucap Dion.


Terserah deh terserah. Tuhaaaan tolong Mia dalamenghadapi dua putaran pertempuran nanti. Mia jadi khawatir, kalau sampai dua kali, bukan hanya benda pusakanya mas Dion yang pingsan, tapi Mia juga bisa pingsan sih ini.


Waktu terus berlalu, hingga keduanya harus meninggalkan hotel itu.


"Mi, kita ke mall dulu ya!" ajak Dion.


Sebagai pengantin baru, Dion sedang ingin menikmati hari-harinya bersama Mia. Wanita yang sudah memberikan kejutan indah dalam hidupnya.


"Mau apa mas?" tanya Mia.


"Beli kemeja buat Reza. Kemarin kan gak jadi. Kamu gak cape kan?" tanya Dion.


"Ayo mas. Mia gak cape kok," jawab Mia.


Keduanya tidak langsung pulang ke rumah. Menikmati waktu mereka untuk dihabiskan berdua saja. Kalau di rumah, pasti diganggu sama Nyonya Helen.


"Kamu bantu pilih kemeja yang bagus buat Reza ya Mi," ucap Dion.


"Mana Mia bisa? Mia itu tidak mengenal Reza. Bagaimana selera Reza saja, Mia gak tahu. Mas aja yang pilih," jawab Mia.


Akhirnya Dion memilih kemeja yang ia juga suka. Keduanya sudah berteman sangat lama. Tak jarang, selera mereka itu sama. Termasuk kali ini, Dion yakin kalau Reza pasti suka dengan pilihannya.


"Bagus mas," ucap Mia.


"Gak nanya," jawab Dion.


"Kan ngasih komentar mas," ucap Mia.


"Gak minta komentar," jawab Dion.


"Mas kenapa sih?" tanya Mia.


"Kamu kenapa? Ngapain kamu ngasih komentar sama baju buat Reza?" tanya Dion kesal.


Dih, kamu sehat mas? Pengen deh Mia pegang dahi kamu. Kali aja panas sama kayak ketek Mia.


"Mas cemburu ya? Cieeee, mas Dion cemburu." Mia menggoda Dion.


"Gak. Gak ada cemburu-cemburuan. Apaan sih kamu. Norak tahu gak? Alay yang begitu tuh," ucap Dion. "Tunggu di sini! Aku mau bayar dulu kemejanya," lanjut Dion.


Gengsi banget sih mas? Bilang aja kalau kamu cemburu kan sama Mia? Cemburu itu tanda cinta mas, bukan alay. Dasar katro kamu mas.


Wajah Dion memerah, rasanya ubun-ubunnya sudah mendidih. Bagaimana tidak, saat Dion membayar kemeja yang akan diberikan pada Reza, Mia nampak tengah mengobrol dengan seorang pria.

__ADS_1


"Ayo kita pulang!" ajak Dion menggenggam tangan Mia.


"Mia permisi dulu ya!" ucap Mia pada pria tadi.


Jalannya agak cepat karena Dion setengah menyeretnya. Membuat Mia harus setengah berlari agar bisa mengikuti langkah kaki Dion.


"Mas, pelan-pelan dong Jalanny!" ucap Mia.


Dion tidak menjawab ucapan Mia. Hanya saja, Dion mengurangi kecepatan jalannya. Setelah sampai ke dalam mobil, Dion menatap Mia dengan tatapan mengintimidasi.


"Siapa dia?" tanya Dion.


"Dia teman Mia waktu kerja dulu mas," jawab Mia.


"Kamu gak perlu terlihat akrab begitu Mia. Kamu ini kenapa sih?" tanya Dion kesal.


Lah? Kamu ini kenapa? Kamu yang kenapa mas. Bingung Mia sama kamu.


"Kamu suka sama dia?" tanya Dion.


"Dia itu teman mia mas. Ya Mia pasti suka dong. Kalau gak suka, dia pasti jadi musuh Mia," jawab Mia.


"Jadi kamu suka sama dia?" tanya Dion.


"Ya suka sebagai teman gak masalah kan?" tanya Mia.


"Masalah. Itu masalah. Kamu tidak boleh suka sama siapapun kecuali sama aku," jawab Dion kesal.


"Loh kok begitu mas?" pancing Mia.


"Karena aku tidak suka. Aku cemburu Mia. Kamu mengerti tidak?" tanya Dion.


Kena juga. Masooook pak ekooo. Ngaku kan?


"Mas gak boleh cemburu," ucap Mia.


"Kenapa?" tanya Dion.


"Cemburu itu norak. Alay. Mia gak mau ah punya suami norak dan alay," jawab Mia dengan sangat puas.


Apaaaa? Aku masuk dalam jebakanku sendiri. Dion ayo berpikir, apa yang harus aku lakukan. Aku harus jawab apa sama Mia?


"Kamu gak mau punya suami kayak aku?" tanya Dion dengan menatap Mia tajam.


"Kan lagi bahas cemburu yang norak dan alay mas. Kenapa jadi bahasannya kemana-mana sih?" tanya Mia.


"Itu bukan jawaban. Jawab pertanyaanku, Mia. Kamu gak mau punya suami kayak aku?" tanya Dion.


Duh, gimana ini? Mia jawab apa ya?


"Mia gak bilang gak mau punya suami kayak mas kok. Mia kan cuma bilang Mia gak mau punya suami yang norak dan alay. Begitu mas," ucap Mia membela diri.


"Jadi aku norak dan alay?" tanya Dion.


Pertanyaan Dion kian menyudutkan Mia. membuat Mia semakin bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Mia menatap wajah Dion yang terus menatapnya dengan sangat tajam.


CUP


Jurus terakhir yang Mia tahu adalah itu. Namun kali ini berbeda. Dion tidak bergeming. Dion masih menatapnya dengan sangat tajam.


Tuhaaaan, Mia harus gimana lagi ini?


"Mas, maafin Mia. Mia kan cuma bahas cemburu. Kata mas kan cemburu itu norak dan alay. Tapi katanya mas cemburu," ucap Mia.


"Jadi aku norak dan alay?" tanya Dion.


"Mas yang bilang," jawab Mia.


"Itu bukan jawaban Mia," ucap Dion.


Mia semakin pusing saat Dion hanya muter-muter di sana. Mia kembali mengecup pipi Dion. Dion masih belum luluh.


Ini jurus terakhir, kalau sampai gak berhasil kamu kebangetan google. Awas aja ya! Nanti Mia gak mau belajar sama kamu lagi.


Mia menutup matanya dan menyambar bibir Dion yang hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya. Mia mencoba memberikan serangan di sana. Sesuai harapan, Dion menarik tubuh Mia dan mengikuti permainan itu. Saling bertautan dalam waktu yang cukup lama, hingga Mia melepaskan dirinya.


"Mas, kita di mobil." Mia mengingatkan sembari mengusap bibirnya.


"Yang bilang kita di rumah siapa?" tanya Dion.


"Maksudnya malu mas," jawab Mia.


"Tenang saja, kacanya gelap. Gak kelihatan dari luar. Ayo lanjut," ucap Dion.


Mia menahan tubuh Dion dan memintanya untuk segera pulang. Tidak enak jika berlama-lama di dalam mobil. Takut di demo oleh tukang parkir.


"Ok. Sekarang kita pulang. Tapi nanti dilanjut ya! Aku suka. Kamu sudah banyak belajar rupanya," goda Dion.


Mia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Merasa malu dengan apa yang bari saja dilakukannya pada Dion. Tapi Mia juga menyadari dan semakin yakin, kalau benar kata google, itu memang jurus ampuh untuk mengahadapi suami yang sedang marah.


Terima kasih google. Meskipun Mia malu, tapi akhirnya Mia selamat dari mas Dion.


#################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2