
"Tante, lebih baik kita lanjut aja ya! Gak ada gunanya berdebat di sini. Itu hanya membuang-buang waktu saja," ucap Niki.
Niki berusaha menghindar dari Dion. Ia tak ingin pernikahannya dengan Danu batal hanya karena Dion.
"Iya Mi. Malu dilihatin orang," ucap Danu.
Nyonya Nathalie nampak masih belum puas, tapi tangannya sudah digenggam oleh Niki.
"Waw, takut ya? Kok kabur sih?" ucap Dion.
Mia mencubit tangan Dion agar menghentikan ocehannya dan pergi dari sana. Sama halnya seperti Danu, Mia juga merasa malu karena beberapa pengunjung mall melihat ke arah mereka.
Ucapan Dion yang ditujukan untuk Niki ternyata salah sasaran. Justru Nyonya Nathalie yang menanggapi ucapan Dion. Ia merasa Dion menganggapnya takut untuk menghadapi mereka berdua.
"Apa maksud kamu? Siapa yang takut? Aku tidak takut sama sekali," ucap Nyonya Nathalie dengan kesal.
"Sudah lah Mi, ayo kita pergi!" ajak Danu.
"Sebentar Danu! Anak ini kurang ajar sama Mami. Harus diberi pelajaran. Biar dia kapok," ucap Nyonya Nathalie.
"Tolonglah, paling tidak kamu hargai ibuku. Bukankah kamu juga memiliki ibu?" tanya Danu.
"Hey, aku tidak menyindir ibumu. Aku hanya sedang menyindir calon istrimu," jawab Dion.
Danu dan Mia hanya menatap bingung pada Dion dan Niki secara bergantian. Namun tatapan Dion pada Niki penuh kebencian, sedangkan Niki terlihat gugup dan takut. Mia memang tidak mengenal betul sosok Niki, namun ia tahu kalau Niki adalah wanita yang sudah membuat suaminya kecewa.
"Kenapa? Kamu iri kan sama Danu karena dia sudah move on dan bisa mendapatkan yang lebih baik dari Mia?" tanya Nyonya Nathalie.
"Lebih baik? Dari sisi mana Anda menilai kalau dia lebih baik dari pada Mia? Apa hanya karena Mia tidak bisa memberikan cucu untukmu? Tapi jika pernikahan anakmu hanya kau investasikan untuk cucu, aku yakin Niki adalah wanita yang tepat. Dia bisa hamil. Dia bisa memberikan cucu untukmu. Tapi aku tidak jamin kalau itu adalah darah daging anakmu," ucap Dion.
"Tutup mlutmu! Kamu hanya iri kan?" ucap Nyonya Nathalie.
"Hai, santai Nyonya. Aku sama sekali tidak pernah iri. Untuk apa aku iri pada sampah? Padahal aku sudah mendapatkan berlian dalam hidupku," ucap Dion.
"Cukup Dion! Kamu keterlaluan. Sudah dua kali aku dengar kau mengatai ku sampah. Kamu keterlaluan," ucap Niki.
"Loh, memang itu kan kenyataannya?" ucap Dion.
"Cerita kita sudah menjadi masa lalu. Dan Danu adalah masa depanku. Hidup lah dengan kehidupan kamu sendiri, tidak perlu mengganggu kehidupanku lagi. Aku juga berhak bahagia," ucap Niki.
Danu dan Nyonya Nathalie menatap Niki.
"Kalian?" tanya Danu.
"Tidak perlu cemburu. Dia hanya masa laluku. Aku sudah tidak ada hubungan apapun. Ambil, ambil saja. Jika memang itu bisa membuatmu bahagia. Aku hanya mengingatkan, pasang cctv dalam tubuhnya. Biar kamu tahu kemana saja dia melangakah," ucap Dion.
"Heh Dion, kamu itu memang tidak bisa melihat orang lain bahagia ya?" ucap Nyonya Nathalie.
"Loh, jangan berburuk sangka seperti itu dong. Aku kan hanya mengungkapkan kenyataan saja. Ini kok pada baperan semua ya?" ucap Dion dengan santainya.
"Kamu yang kelewatan. Niki itu calon menantu idaman. Ibumu pasti akan menyesal jika tahu Niki akan menjadi menantuku," ucap Nyonya Nathalie.
"Oh ya? Aku rasa Mama akan lebih bahagia. Mama akan bersyukur karena akhirnya Anda yang akan mengalami nasib buruk itu," ucap Dion.
"Cukup! Tolong hentikan! Aku tidak ingin kamu mencampuri urusanku. Bukankah Niki masa lalumu? Biarkan dia bersamaku. Aku tidak peduli dengan masa lalunya," ucap Danu.
"Meskipun dia sudah tidur dengan pria lain dalam statusnya yang masih gadis itu?" tanya Dion.
"Jadi kalian pernah tidur bareng?" tanya Danu.
Apa? Benarkah Aa pernah tidur dengan dia?
Dion menyadari pertanyaan Danu akan sangat melukai istrinya. Hingga dengan cepat Dion menggenggam tangan istrinya.
"Tidur dengannya? Kalau aku sudah menidurinya, tentu aku yang akan menikahinya. Sayangnya dia justru tidur dengan temanku sendiri," ucap Dion.
Meskipun Mia belum percaya seratus persen, tapi setidaknya, Mia merasa yakin kalau apa yang diucapkan semua ucapan suaminya itu penuh dengan kejujuran.
"Jangan asal nuduh kamu!" bentak Niki.
"Nuduh? Tuduhan macam apa? Itu kenyataan Niki. Wanita sampah seperti kamu, memang pantas diberi peringatan." Dion menatap Niki dengan tajam.
Rasanya Niki ingin pergi dan menyerah. Dion yang ia kenal dulu tidak seperti ini. Dion seperti manusia yang lahir dengan pribadi yang baru. Kalau dulu lebih mendahulukan emosinya, sekarang Dion jauh lebih banyak bicara dan nampak tenang.
"Tante, ayo kita pergi!" ajak Niki.
"Kenapa panik? Takut kalau calon mertuamu itu percaya dan membatalkan pernikahannya? Kamu jangan khawatir Niki, mereka itu pengumpul sampah. Jadi kamu jangan takut dibuang, kamu akan didaur ulang dengan baik kok," ucap Dion. "Bukan begitu, Nyonya?" lanjut Dion.
"Eh, kalaupun ada yang harus dikatai sampah, Itu lebih tepatnya untuk dia," ucap Nyonya Nathalie.
__ADS_1
Telunjuk lentik Nyonya Nathalie menunjuk ke arah Mia. Dion yang merasa kesabarannya sudah habis, tidak bisa mengendalikan lagi emosinya. Tidak peduli lawannya adalah seorang wanita paruh baya. Tidak peduli lagi dengan aturan di tempat umum. Ini pertama kalinya Dion membentak Nyonya Nathalie dengan penuh kebencian.
"Jaga mulut Anda, Nyonya!" teriak Dion.
"A, sudah. Jangan marah-marah. Ayo kita pulang!" ajak Mia menarik tangan Dion.
Saat Dion berusaha meredam emosinya dan mengikuti keinginan Mia untuk pulang, Nyonya Nathalie kembali berulah.
"Eh, istri kamu hamilnya gede banget. Test DNA deh! Masa belum genap empat bulan, tapi perutnya udah segede gitu? Kamu gak curiga?" pancing Nyonya Nathalie.
Tanpa banyak kata, Dion berbalik arah dan mendekati Nyonya Nathalie. Nyaris tak ada jarak. Hingga Nyonya Nathalie harus mendongak untuk melihat wajah Dion.
"A, jangan begitu. Ayo pulang!" ajak Mia.
Begitupun dengan Danu. Meskipun Danu tahu kalau ibunya salah, namun apa yang dilakukan Dion sudah sangat membuatnya emosi. Hampir saja Danu menghajar Dion. Namun melihat Mia, Danu Mengurungkan niatnya.
Danu sangat tahu kalau Mia tidak suka dengan kerusuhan. Bagaimana jadinya jika kerusuhan itu justru diciptakan oleh suami dan mantan suaminya. Apalagi saat ini Mia sedang hamil. Danu takut ketakutan Mia berakibat buruk untuk bayi yang ada dalam perut Mia.
"Apa yang harus curigai dari istriku?" tanya Dion dengan nada mengancam.
"Ya kamu harusnya curiga. Perutnya lebih besar dari usia kandungan pada umumnya. Bisa aja kan dia hamil sebelum kalian menikah," ucap Nyonya Nathalie.
Apa? Serendah itu Nyonya Nathalie melihat Mia? Apa salah Mia, Nyonya? Anda sangat jahat.
Tak bisa ditahan, air mata Mia menetes begitu saja. Namun Mia juga tidak ingin membuat suasana semakin panas, hingga segera menyeka sudut matanya. Sayang, air mata itu terlihat oleh Dion. Dan Dion sangat tidak menyukai itu.
Maafkan aku Danu. Tapi ibumu yang memaksaku untuk mengucapkan semua hal yang tidak aku inginkan ini.
"Jaga mulut Anda. Mana mungkin aku curiga pada istriku ini? Karena aku adalah pria pertama yang mendapatkan kesuciannya. Kalau tidak percaya, boleh tanya pada anak Anda, Nyonya." Dion menyeringai.
Tangan Dion segera melingkar di tubuh Mia. Seolah ia menenangkan Mia. Kalau ada Dion di sampingnya. Dan benar, kehadiran tangan Dion membuat Mia lebih lega dan jauh lebih tenang. Paling tidak, saat semua orang memandangnya buruk, ada Dion yang selalu menganggapnya sebagai manusia baik.
"Nyonya, sebelum Mia pulang Mia hanya ingin mengingatkan untuk tidak selalu mencampuri urusan Mia lagi. Kesabaran setiap orang itu ada batasannya. Dan Mia tidak tahu sampai mana batas kesabaran Mia. Bahkan Mia juga tidak tahu apa yang akan Mia lakukan saat kesabaran itu tak lagi membersamai. Benar apa kata suami Mia, dia ayah kandung dari bayi ini. Pria yang sudah mendapatkan kesucian Mia pertama kali. Jadi percuma Anda selalu memintanya untuk test DNA. Untuk ukuran perut Mia yang lebih besar dari biasanya, itu karena Mia mengandung anak kembar. Jadi wajar kalau kehamilan Mia lebih besar. Mia rasa semuanya penjelasan Mia sudah cukup. Mia permisi," ucap Mia.
Tanpa memberikan waktu untuk merespon pada mereka bertiga, Mia langsung pergi. Dion yang tidak percaya dengan ucapan Mia, hanya bisa bungkam dan mengikuti Mia untuk keluar dari mall itu.
"Mi," panggil Dion saat sudah sampai ke dalam mobilnya.
"Hemm," jawab Mia.
Mia nampak sedang mengusap-usap dadanya. Mungkin ia sedang menenangkan dirinya karena perdebatan tadi cukup alot dibanding perdebatan sebelumnya.
"Ngomong apa emang?" tanya Mia.
Saking terlalu banyak kalimat yang Mia keluarkan, Mia sampai tidak mengerti kalimat mana yang dimaksud oleh Dion.
"Kamu hamil anak kembar? Kata siapa? Kok aku gak tahu?" tanya Dion antusias.
"Ya ampun A, Mia sampai lupa kalau Mia mau kasih Aa kejutan." Mia menjawab dengan raut wajah bahagia.
"Kejutan apa sih?" tanya Dion.
"Ya tentang bayi kembar kita sayang. Lagian Aa datangnya gak sesuai prediksi sih. Paginya Aa langsung anuan, ehalah tragedi surat dari Mama. Sekarang, keburu ada keributan. Maaf ya!" ucap Mia memegang tangan suaminya.
"Jadi maksudnya?" tanya Dion.
"Maksud yang mana?" tanya Mia.
"Hamil kembar itu?" tanya Dion.
"Iya hamilnya kembar. Bayinya ada dua A. Aa tahu kembar gak sih?" ucap Mia.
"Itu beneran?" tanya Dion.
"Ya beneran dong A. Masa bohongan sih?" jawab Mia.
"Miaaa," teriak Dion sambil memeluk Mia.
"A, jangan keras-keras ngomongnya. Malu sama orang. Ini juga peluknya jangan lama-lama. Mia engap," ucap Mia.
"Ah iya maaf," ucap Dion.
Dion segera melepaska pelukannya, namun matanya masih menatap Mia.
"Aa kenapa lihat Mia begitu?" tanya Mia.
"Aku bahagia Mia. Aku bahagia," jawab Dion.
"Ya syukurlah kalau Aa bahagia. Mia juga ikut bahagia," ucap Mia mengusap pipi Dion.
__ADS_1
"Mama sudah tahu?" tanya Dion.
Tentu. Nyonya Nathalie adalah orang yang mendampingi Mia saat kontrol. Awalnya Mia izin untuk bertemu dengan Dokter Leoni, namun Dokter Leoni justru mengajaknya ke rumah sakit. Perut Mia yang berukuran lebih besar dari biasanya, menarik perhatian Dokter Leoni.
Disaat yang sama, Nyonya Helen langsung membawanya ke Rumah Sakit. Ia tidak ingin terjadi sesuatu dengan kandungan Mia. Setelah di cek, ternyata sesuai dengan prediksi Dokter Leoni.
Teriakan bahagia dari Nyonya Helen sambil memeluk Mia, meyakinkan dokter Leoni kalau Mia memang diterima dengan tulus di keluarga barunya.
"Kok kamu gak bilang sih sama aku? Mama juga gak cerita apa-apa?" tanya Dion.
"Karena kita mau bikin kejutan buat Aa. Memangnya cuma Aa yang bisa bikin kejutan?" ucap Mia.
"Ini kejutan luar biasa Mia. Aku bahagia," ucap Dion sambil mencium tangan Mia.
"A, aku mungkin tidak secantik, sekaya, dan sepintar Niki. Tapi aku janji akan selalu memberikan yang terbaik buat Aa," ucap Mia.
"Miaaaaa, kamu tidak berhak membandingkan diri kamu dengan Niki. Kamu jauh lebih segalanya dibandingkan dengan dia. Aku tidak butuh yang lebih dari kamu. Kamu sudah cukup untuk aku. Jadi jangan pernah membandingkan diri kamu lagi ya!" ucap Dion.
"Terima kasih ya A," ucap Mia.
Dion memang tidak pernah sekalipun membandingkan Mia. Namun ucapan Nyonya Nathalie, masih terngiang di telinga Mia. Lagi pula, sesuai yang Mia lihat, Niki itu cantik dan modis.
"Mi, aku masih berasa mimpi loh ini. Aku keren ya!" uca Dion.
"Keren?" tanya Mia.
"Iya dong. Sekali sembur langsung dua," ucap Dion sambil tertawa bahagia.
"Ya Mia dong yang keren. Mia bisa bawa dua bayi sekaligus di perut Mia," ucap Mia.
"Tapi kan bibit unggulnya dari aku, Mi. Jadi aku dong yang keren," ucap Dion.
"Jadi Mia gak keren?" tanya Mia.
"Kamu itu keren pas prosesnya berlangsung. Bikin aku mau lagu dan mau terus," ucap Dion.
Mia tidak menjawab. Ia hanya tersenyum malu dengan wajah yang memerah. Mia bahkan harus memalingkan wajahnya agar Dion tidak mengejeknya.
Yes, berhasil! Akhirnya Mia bisa kembali tersenyum. Sebenarnya Dion bukan hanya senang dengan berita kehamilan kembar itu, tapi ia juga berusaha untuk mengalihkan perhatian Mia tentang Niki.
"Mi, mau bantu aku gak?" tanya Dion.
"Bantu apa A?" tanya Mia.
"Bujuk papa dong biar aku pindah kerja ke Jakarta. Ya, paling gak kan aku bisa dua minggu sekali ke Surabaya. Biar bisa sering-sering jenguk bayi kembar kita," jawab Dion.
"Mana bisa? Mia gak bisa begitu. Urusan kerja kan urusan Aa sama Papa. Mia gak mau mencampuri urusan kerja sama urusan pribadi. Takut Papa kecewa. Papa pernah bilang kalau perusahaan di Surabaya itu adalah mimpi besar papa. Dan setelah Aa yang pegang, perusahaan itu semakin maju. Papa terlihat sangat bahagia A. Mana bisa Mia membuat Papa sedih?" ucap Mia.
Dion menghela nafas panjang. Benar! Tuan Wira memang sengaja mempercayakan perusahaan di Surabaya pada Dion. Bahkan akhir-akhir ini, Tuan Wira terlihat jauh lebih bahagia karena perusahaannya semakin maju. Mungkin bukan hanya perusahaan, tapi karena kehadiran Mia dan kedua bayi yang ada di perut menantunya itu mempengaruhi kebahagiaannya.
"A," panggil Mia.
"Hemm," jawab Dion.
"Jangan melamun dong. Jangan sedih ya! Kalau kita ikhlas bantu orang tua, nanti pasti hidup kita jadi berkah. Ini salah sati contoh keberkahannya sayang," ucap Mia sambil menunjuk perutnya.
Dion tersenyum. Ia mengangguk dan mengusap perut istrinya.
"Loh, kok malah pulang?" tanya Mia saat menyadari kalau mobil sudah sampai di depan rumah Dion.
"Kita foto di rumah saja. Biar sekalian sama Mama dan Papa. Kamu jangan kecapean," ucap Dion.
"Oh begitu. Ya sudah, yang penting fotonya jadi ya!" ucap Mia.
"Iya, tenang saja. Fotonya pasti jadi," jawab Dion.
Aku tahu kamu tidak cape dengan perjalanan kita ke mall. Tapi saat menghadapi wanita ular itu, jangankan kamu, aku saja capenya sampai lahir batin.
#################
Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.
Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.
Terima kasih..
__ADS_1