Janda Bersegel

Janda Bersegel
Permisi


__ADS_3

Pagi ini Mia bangun lebih siang dibanding Dion. Saat Mia membuka matanya, Dion nampak sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Pagi sayang," ucap Dion saat melihat Mia membuka matanya.


"Pagiii," jawab Mia setelah menggeliat.


"Kalau masih ngantuk, tidur lagi. Aku hari ini berangkat pagi ya!" ucap Dion.


"Iya," jawab Mia singkat.


Karena memang Mia masih ngantuk, Mia kembali tidur. Ia merasa kepalanya sedikit sakit. Dion melihat Mia dan tersenyum.


Dion membiarkan Mia tidur dan melakukan apapun yang ia inginkan. Bagi Dion, kesehatan jiwanya lebih penting agar Mia kembali menjadi Mia yang ceria. Kehilangan keceriaan Mia sama dengan kehilangan keceriaan di rumahnya.


Dion berangkat lebih pagi bahkan ia tidak sempat sarapan. Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan pagi ini karena meeting akan dilakukan dikantornya.


"Selamat tidur sayang! Aku berangkat ya!" ucap Dion sebelum berangkat kerja.


Mia hanya membuka matanya sebentar dan kembali tertidur. Saat merasa kepalanya sudah enakan, Mia terbangun. Ia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Bergegas ke kamar mandi, namun langkahnya tertahan saat melihat nampan berisi sarapan di atas nakas.


Sebuah kertas terselip diantara gelas dan piring. Dengan wajah penuh tanya, Mia meraih kertas itu. Duduk di tepi ranjang dan membaca tulisan pada kertas itu.


'Selamat sarapan sayang! Sehat-sehat ya! Maaf aku gak nemenin kamu sarapan. Ada meeting pagi ini. Love you, istriku.'


Mia dibuat salah tingkah dan senyum-senyum sendiri saat membaca tulisan untuknya. Dion memang sangat romantis. Ia tahu apa yang membuat Mia kembali tersenyum saat sedang penuh beban.


"Terima kasih, A." gumam Mia.


Mia melanjutkan niatnya yang sempat tertunda. Ia segera mandi karena harus menyiapkan ASI untuk Narendra dan Naura. Tidak lupa Mia menghabiskan sarapan yang disediakan oleh suaminya.


Setelah kenyang, Mia rasa ASInya sudah siap untuk kedua buah hatinya. Mia meninggalkan kamar karena sudah jadwalnya menyusui. Saat Mia masuk ke kamar bayi kembarnya, nampak kedua anaknya sedang dimandikan. Mia tersenyum lebar melihat kedua anaknya sangat ceria.


"Eh, kesayangan Mama lagi mandi ya?" ucap Mia.


"Iya Nyonya," jawab perawat.


Tak lama Mia mendapat senyuman manis dari kedua anaknya. Seolah mengerti kalau ibunya sudah datang, mereka terlihat sangat bahagia pagi ini.


"Gimana malam ini? Kenapa Mia tidak mendengar Narendra dan Naura menangis? Apa Mia terlalu nyenyak?" tanya Mia.


Narendra dan Naura tidur nyenyak. Hanya bangun satu kali dan itupun tidak menangis Nyonya," jawab salah satu perawat.


"Oh syukurlah," ucap Mia.


Terima kasih ya Nak. Kalian mungkin mengerti keadaan Mama. Maafkan Mama jika apa yang Mama lakukan membuat kalian terkena imbasnya. Mama sayang sama kalian.


Sembari menyusui dan memompa ASInya, Mia berpikir tentang langkah apa yang harus ia ambil untuk ke depannya. Apakah ia harus bungkam dan membiarkan semua ini menjadi rahasianya saja? Adilkah itu?


Bicara keadilan, Mia kembali berpikir kalau apa yang dilakukan Tuan Felix juga tidak adil untuknya. Ah, lagi-lagi Mia dibuat kacau dengan masalah ini.


"Nyonya, apa Anda baik-baik saja?" tanya salah satu perawat yang melihat Mia melamun.


"Ah iya. Mia gak apa-apa," jawab Mia.


Dengan cepat Mia berusaha mengembalikan fokusnya. Ia tidak mau jika semakin banyak orang yang curiga dengan beban berat yang sedan ia jalani. Selesai menyusui, Mia keluar dari ruangan bayinya dan berjalan-jalan di taman belakang. Rasanya ia butuh udara segar untuk mengembalikan fokusnya pagi ini.


"Selamat pagi, Nyonya." Mba menyapa Mia yang baru saja keluar dari ruangan bayinya.

__ADS_1


"Pagi, Mba." Mia membalas sapaan Mba.


"Sarapannya sudah? Saya mau membereskannya jika Nyonya sudah sarapan," ucap Mba.


"Oh ya Mia lupa gak dibawa ke sini," ucap Mia.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Biar saya yang mengambilnya ke kamar Anda," ucap Mba.


"Oh terima kasih. Ayo!" ajak Mia.


Bersama Mba, Mia ke kamarnya dan memberikan nampan yang ada di atas nakas itu. Acara jalan-jalan ke taman belakang ia batalkan. Karena sudah kembali ke kamar, Mia memilih untuk naik ke atas ranjangnya dan memainkan ponsel di sana.


Mia melihat sebuah pesan yang dikirim oleh Sindi.


"Sindi?" ucap Mia.


Mia bahkan melupakan kehadiran Sindi. Ia segera keluar dan mencari keberadaan Sindi.


Kasihan dia pasti canggung karena gak ada aku. Maaf ya Sin.


Mia mencari Sindi ke kamarnya, namun Sindi tidak ada di sana. Ia mencoba memanggil nomornya. Ternyata dering ponsel itu ada di dalam kamarnya. Artinya Sindi tidak membawa ponselnya.


"Kemana kamu Sin?" gumam Mia di depan pintu kamar Sindi.


"Maaf, apakah Nyonya mencari Sindi?" tanya slssh satu pekerja di sana.


"Ya. Apa kamu melihatnya?" tanya Mia.


"Sindi ada di taman belakang," jawab pekerja.


"Di taman belakang?" tanya Mia


Sudah Mia duga. Mereka pasti bertiga. Kesal dan marah karena mereka berkumpul tanpa mengajak dirinya. Ia melihat ketiganya dari kejauhan. Sindi dan Rian nampak membantu Tuan Felix untuk belajar berjalan. Sindi melihat Mia yang tengah memperhatikan mereka.


"Rian, sebentar ya! Aku mau minum dulu," ucap Sindi.


Tidak memberi tahu kalau Mia ada di sana, Sindi memilih untuk menjelaskan semuanya sendiri. Ia tidak mau masalah semakin besar dan panjang.


Menyadari Sindi yang akan menghampirinya, Mia justru menjauh dan menghindar dari Sindi. Beruntung Sindi bisa mengejar Mia dan menahannya saat akan masuk kamar.


"Mi, Mi, dengerin aku dulu!" ucap Sindi sembari menahan tangan Mia.


"Lepasin Sin," ucap Mia.


Bulir bening itu mulai berjatuhan karena Mia sudah tidak sanggup lagi untuk menahannya. Dengan cepat Sindi memeluk Mia. Tanpa bicara apapun, yang Sindi lakukan hanya mendekap Mia. Membiarkan sahabatnya itu menangis sepuasnya dalam dekapannya.


Setelah tangis Mia mulai mereda, perlahan Sindi melepaskan pelukannya. Ia memegang tangan Mia dan menatap matanya yang memerah.


"Mi, apa kamu sakit melihat semua itu?" tanya Sindi.


Pertanyaan itu tidak dijawab oleh Mia. Tapi sebenarnya Sindi juga sudah tahu jawabannya.


"Mi, apa kamu tahu rasa sakit itu akan semakin besar saat kamu memendam semua ini sendirian?" tanya Sindi.


"Kamu itu sebenarnya datang ke sini buat apa Sin?" tanya Mia.


"Untuk membantu siapapun yang membutuhkanku. Saat itu, Tuan Dion memintaku ke sini untuk menemanimu. Membantumu agar tidak sedih terus-terusan. Tapi karena kamu begitu, aku bisa apa?" tanya Sindi.

__ADS_1


Begitu? Apa yang Sindi maksud dengan kata begitu?


"Mia gak suka kamu mendekati Tuan Felix," ucap Sindi terang-terangan.


"Tenang saja. Aku gak jadi daftar jadi emak tiri kamu kok Mi," ucap Sindi.


"Sin, Mia serius." Mia menatap Sindi dengan tatapan mengintimidasi.


"Iya, aku mengerti. Kamu cemburu kan saat melihat Tuan Felix dekat dengan orang-orang yang kamu kenal lebih dulu?" selidik Sindi.


Mia bingung. Benarkah seperti itu alasan Mia marah saat melihat Sindi atau Rian bersama Tuan Felix? Kenapa Sindi berpikiran sama dengan Rian, jika ia cemburu atas Tuan Felix?


"Mi, kamu akan lebih sakit hati kalau kamu sesuatu tentang Rian dan Tuan Felix," ucap Sindi.


"Sesuatu apa?" tanya Mia.


Dengan pura-pura tidak peduli, Mia masih berharap Sindi menjelaskan semuanya tanpa kecuali.


"Ah sudahlah. Mungkin ini tidak penting juga untukmu," jawab Sindi.


Sindi yang cukup mengenal Mia, sengaja membuatnya penasaran. Ia ingin melihat bagaimana respon Mia. Mia nampak ingin tahu namun Sindi tetap berpura-pura acuh. Sampai akhirnya Mia memohon pada Sindi.


"Sin, ayo dong. Aku mohon kasih tahu Mia. Sesuatu itu apaan sih? Jangan bikin orang penasaran begini," ucap Mia.


Sindi kini bisa menebak perasaan Mia. Ternyata ia tidak seacuh itu pada Tuan Felix. Bahkan Sindi melihat adanya rasa peduli dan cemburu saat Tuan Felix bahagia dengan orang lain. Namun Sindi tahu, berat untuk Mia menerima semua ini.


"Tuan Felix akan kembali ke Jerman kalau sudah sembuh. Dan kamu tahu?" tanya Sindi menjeda ceritanya.


Mia menggeleng. Wajahnya sudah mulai berubah. Ia begitu fokus mendengar cerita Sindi. Lama, Sindi tidak melanjutkan ucapannya. Mia sudah tidak sabar dengan cerita selanjutnya.


"Kamu tahu apa? Ceritanya yang bener dong Sin. Kenapa di pause sih?" ucap Mia kesal.


"Ah udah lah. Skip aja kali ya!" ucap Sindi.


"Eh, enak aja main skip-skip aja. Jahat banget sih bikin orang penasaran begini," ucap Mia.


Semakin terlihat jika Mia memang peduli pada Tuan Felix.


"Katanya Tuan Felix mau bawa Rian ke Jerman," ucap Sindi.


Mia diam. Ia melepaskan tangannya dari Sindi.


"Aku gak tahu ini kabar gembira atau justru membuatmu sedih," ucap Sindi.


"Mia mau istirahat dulu ya Sin! Permisi," ucap Mia.


Mia masuk ke kamarnya, meninggalkan Sindi yang menerka sikap Mia. Kini Sindi yakin kalau sebenarnya Mia takut kehilangan Tuan Felix. Itu artinya Mia menerima kenyataan kalau Tuan Felix itu memang ayah kandungnya.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍

__ADS_1


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2