Janda Bersegel

Janda Bersegel
Terima kasih, Dion


__ADS_3

Melihat pintu kamar Sindi benar-benar tertutup rapat, Rian kembali ke kamarnya. Tanpa Tuan Felix, Rian merasa kalau ia hampa di rumah Mia. Ukuran rumah yang sangat luas, dengan para pekerja yang juga cukup banyak, namun Rian tetap merasa sepi. Apalagi saat Sindi, satu-satunya harapan ternyata tidak bisa menemaninya.


Rian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia melihat ke sekeliling kamarnya. Luas, namun semakin hari Rian justru merindukan rumahnya. Meskipun tidak terlalu besar, namun ia bebas melakukan apapun di sana.


"Di sini semua serba gak boleh. Aku kok ngerasa madesu begini sih?" gumam Rian.


Memejamkan matanya sebentar. Tak lama matanya kembali di buka. Ia mengingat Tuan Felix yang akan ke makam ibu Ningsih. Rian bangun dan duduk di tepi ranjang. Memainkan kakinya yang menyentuh lantai kamarnya.


"Kenapa dunia ini sangat sempit ya? Ternyata aku, Kak Mia dan Tuan Felix berada pada masa lalu yang saling berhubungan satu sama lain," ucap Rian pada dirinya sendiri.


Rian meninggalkan ranjangnya dan berdiri di dekat jendela. Sengaja ia buka jendela itu, agar ia bisa merasakan sejuknya udara saat ini.


"Tuan Felix lagi apa ya?" gumam Rian.


Sebuah pesan singkat dikirim untuk menanyakan kabar Tuan Felix. Rian khawatir karena Tuan Felix baru sembuh dari sakitnya. Walaupun bersama Dion, ia yakin Tuan Felix tidak akan terbuka tentang rasa sakitnya seperti padanya.


Berkali-kali Rian melihat ponselnya. Masih sepi. Tidak ada jawaban sama sekali dari Tuan Felix. Hatinya mulai gelisah. Ia khawatir pada Tuan Felix.


"Semoga Tuan Felix baik-baik saja. Sampai lagi ke sini dengan keadaan selamat," gumam Rian.


Gerimis mulai membasahi tanah. Rian mulai menutup jendela kamarnya saat hujan semakin besar dan membasahi jendelanya. Angin juga mulai datang, membuat Rian kembali ke atas ranjangnya.


Petir yang mulai bersahutan membuat kepala Rian berpikir buruk, saat melihat pesannya tidak direspon oleh Tuan Felix.


Rian memejamkan matanya. Berharap ia bangun dan hujan sudah mereda. Tidak ada angin dan petir yang harus membuatnya ketakutan lagi. Namun sayangnya ia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Rian terus mengkhawatirkan Tuan Felix yang pada kenyataannya pria itu baik-baik saja. Di Bandung tidak hujan sama sekali. Jika ditanya kenapa tidak membalas pesan Rian, itu karena Tuan Felix tidak memainkan ponselnya.


"Dion, apa kita bisa ke makam sekarang?" tanya Tuan Felix.


"Bagaimana kalau besok? Ini sudah malam. Makamnya jauh dan jalan menuju ke sana juga cukup sulit dilewati," ucap Dion.


"Oh ya sudah," ucap Tuan Felix.


Tuan Felix diam. Ia berusaha menyembunyikan perasanan kecewanya. Harapannya adalah melihat makam itu secepat mungkin. Ia ingin mengatakan penyesalannya pada Bu Ningsih.


"Kamu tidur saja duluan!" ucap Tuan Felix.


Sepertinya Tuan Felix tahu kalau Dion memang cape. Mungkin itu juga menjadi salah satu penyebab Dion mengundur waktu ke makam.


"Sebaiknya Tuan juga istirshat," ucap Dion.


"Dion, aku harap kamu tidak lupa kalau aku adalah ayah mertuamu," ucap Tuan Felix.


Dion menyadari kesalahannya.


"Mana mungkin aku lupa, Pah." Dengan canggung Dion berusaha membiasakan diri memanggil Tuan Felix dengan sebutan Papa.


"Ya, syukurlah. Sekarang kamu tidur! Istirahat karena besok aku ingin kamu mengantarku ke makam ibunya Mia," ucap Tuan Felix.


"Ya, selamat istirabat Tuan!" ucap Dion.


Badannya yang memang merasa cukup lelah membuatnya tidak bisa berbohong. Ia segera tidur dan mengistirahatkan tubuhnya.


Melihat Dion sudah tidur nyenyak, Tuan Felix menatap langit-langit kamarnya. Bayangan wajah cantik Bu Ningsih berkeliaran. Berfantasi membuat kerinduan dan penyesalan semakin memberontak hatinya.


Bangun dan pergi ke dapur. Tuan Felix mengambil air putih dan meminumnya. Ia berusaha menjaga dirinya agar tetap waras. Sampai akhirnya ia mendengar suara orang di luar rumah.


"Pak, mau kemana?" tanya Tuan Felix.


"Kami sedang ronda," jawab salah satu dari tiga orang yang melewati rumah Mia di Bandung.


"Ronda?" tanya Tuan Felix.


Pria asal Jerman itu rupanya asing dengan kata ronda yang digunakan oleh warga sekitar. Mereka menjelaskan maksud kata ronda sampai akhirnya Tuan Felix mengerti apa istilah ronda.


"Pak Bule ngapain di sini?" tanya warga.


"Mau ke makam Bu Ningsih. Kalian ronda melewati makam Bu Ningsih tidak?" tanya Tuan Felix.


Ketiga orang itu malah tertawa. Tuan Felix nampak mengernyitkan dahinya saat melihat tanggapan mereka atas pertanyaannya. Kenapa mereka menjawab pertanyaannya dengan tawa? Mungkin itu membuat Tuan Felix tidak mengerti.

__ADS_1


"Pak Bule, mana ada ronda ke makam?" tanya dalah satu warga.


"Memangnya tidak lewat?" tanya Tuan Felix.


Tuan Felix rupanya tidak tahu kalau makam Bu Ningsih melewati area pesawahan dan cukup jauh dari pemukiman. Jadi mana mungkin ronda bisa sampai ke area makam.


"Memangnya Pak Bule siapanya Bu Ningsih?" tanya salah satu warga.


Tuan Felix diam. Ia menganalisa tatapan dan ekspresi dari ketiganya secara bergantian. Jujur? Atau justru ia harus berbohong saja?


"Aku saudaranya," jawab Tuan Felix setelah menimbang kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi jika ia jujur.


"Saudara? Baru tahu kalau mendiang Bu Ningsih punya saudara bule," ucap salah satu warga.


"Oh, pantas saja Bu Ningsih pergi ke luar negeri. Karena ada saudaranya ya di sana," timpal warga yang lain.


"Iya," jawab Tuan Felix singkat.


Meskipun ragu, ia mencoba mengikuti pembicaraan ketiga warga. Mungkin dengan berpura-pura menjadi saudara Bu Ningsih, Tuan Felix bisa mencari informasi tentang Pak Baskoro.


"Mau keliling atau mau minum kopi dulu di sini?" tanya Tuan Felix.


"Wah, ada kopi gratis nih?" tanya warga.


"Ada," jawab Tuan Felix.


"Aduh mau kopi tapi belum keliling. Gimana ya?" tanya salah satu warga pada warga yang lain.


"Kamu keliling biar aku yang ngopi di sini," jawab warga yang lain.


"Enak aja. Sembarangan," ucap salah satu warga.


"Kalau begitu aku ikut keliling biar nanti kita ngopi pulang ronda," ucap Tuan Felix.


"Ah, Pak bule serius gak nih? Masa mau ikutan ronda. Ada-ada aja," ucap salah satu warga.


"Loh memangnya kenapa? Gak boleh?" tanya Tuan Felix.


"Bukannya gak boleh, tapi kita gak enak aja." ucap salah satu warga.


"Gimana kalau kopinya dibawa ke pos ronda? Nanti pulang keliling kita minum kopi di pos aja Pak Bule?" tanya salah satu warga.


"Boleh," jawab Tuan Felix.


Tuan Felix membawa kopi dan segera mengikuti ketiga warga yang sedang ronda. Ketiga warga dengan sarung yang melingkar di tubuhnya itu, menarik perhatian Tuan Felix. Sementara ketiga warga nampak senang saat melihat banyaknya kopi yang dibawa oleh Tuan Felix.


"Keliling dulu ya!" ucap salah satu warga.


"Iya," jawab Tuan Felix.


Obrolan basa basi tentang keadaan di daerah itu mulai terjadi. Tuan Felix menyimak semuanya. Ia benar-benar ingin mengetahui tentang daerah itu, sebelum tahu tentang kehidupan Bu Ningsih dan Mia saat di sana.


"Suaminya Bu Ningsih kemana?" tanya Tuan Felix pura-pura.


"Wah, semenjak cerai dengan Bu Ningsih, Pak Baskoro pergi karena dapat kompensasi dari menantunya," jawab salah satu warga.


"Menantu?" tanya Tuan Felix.


"Iya menantunya yang pertama," jawab salah satu warga.


Tuan Felix yang hanya mengetahui Dion sebagai menantu Bu Ningsih cukup terkejut dengan informasi yang baru saja ia dengar. Ia mulai mengorek informasi tentang Bu Ningsih. Marah dan kecewa tengah berkecamuk dalam hatinya.


Kamu jahat sekali Baskoro. Kamu sakiti wanita yang paling aku cintai tak henti-hentinya. Kalau saja kamu masih hidup, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri.


"Pak Bule, apa kamu baik-baik saja?" tanya salah satu warga.


Tuan Felix tersadar dalam lamunan kemarahannya. Tangannya yang masih mengepal erat mulai ia lemaskan.


"Maaf, aku hanya tidak bisa bayangkan bagaimana Bu Ningsih hidup menderita saat itu," ucap Tuan Felix.


"Tapi untungnya ada Mia. Dari SMP Mia yang membantu keuangan Bu Ningsih," ucap salah satu warga.

__ADS_1


"Mia? Membantu keuangan?" tanya Tuan Felix.


Cerita tentang Mia pun dimulai. Hampir saja air matanya jatuh, saat mendengar darah dagingnya hidup menderita. Ia yang selama ini hidup enak di Jerman, tidak tahu sama sekali kalau anak kandungnya pernah menjadi buruh cuci bahkan sejak masih sekolah.


Bahkan saat ia tahu kalau Mia menikah di usia yang sangat muda dan hanya karena tuntutan ekonomi, sampai akhirnya Mia dua kali menjadi janda, membuat hatinya sakit berkeping-keping. Ia tidak bisa membayangkan sulitnya hidup Mia. Perjalanan yang Mia lalui bukan hanya berliku, namun terjal dan membahayakan.


Kamu beruntung bertemu dengan Dion, Mia. Aku yakin Wira tidak akan mengecewakanmu. Dia pasti jadi ayah yang baik selama ini. Mia, aku sudah tidak mau melihat air mata kesedihanmu. Sudah cukup! Kini saatnya kamu bahagia Mia. Aku akan membuatmu bahagia. Apapun caranya.


Tuan Felix menghabiskan malamnya bersama warga. Ia mendapat banyak sekali kenyataan pahit yang dialami dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya.


Informasi itu sudah memenuhi kepalanya. Kesabarannya sudah hampir habis. Dadanya mulai sesak. Dengan alasan mengantuk, Tuan Felix izin untuk pulang.


Sesampainya di rumah, ia segera ke kamar mandi. Menengadahkan kedua tangannya dibawah kran dan membasahi wajahnya yang sengaja ingin ia basuh. Wajahnya merah, tanda jika ia benar-benar marah. Kepalan tangannya berkali-kali ia pukulkan pada dinding kamar mandi.


"Kurang ajar kamu Baskoro," ucap Tuan Felix dengan mengeratkan gigi-giginya.


Melihat jam dinding, Tuan Felix segera masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya. Mencoba menenangkan hatinya sejenak.


Sampai tiba waktunya pagi hari, Dion bangun dan memijat pelan kepalanya. Ia membuka gorden kamar dan jendela. Semilir angin membuatnya lebih segar karena oksigen pagi hari mulai masuk ke dalam paru-parunya.


Setelah cukup lama, ia ke kamar mandi dan bersiap untuk ke makam. Namun saat ia akan mengajak Tuan Felix, ia melihat pintu kamarnya terbuka. Menampakkan pria asal Jerman itu masih tidur dengan nyenyak.


Dion mengurungkan niatnya untuk pergi lebih pagi. Ia keluar untuk mencari sarapan. Saat di perjalanan, banyak sekali orang yang menatapnya. Tidak sedikit gosip ibu-ibu di warung yang membuatnya harus mendelikan mata karena lelah dengan ocehan yang menyudutkan istrinya.


"Saya mencintai istri saya dengan segala yang ia miliki. Yang katanya tidak ada apa-apanya, tapi bagi saya dia adalah wanita yang sangat istimewa. Permisi," ucap Dion sebelum pergi meninggalkan warung.


Ucapan Dion membungkam mulut ibu-ibu yang sedang menggosip. Kini hanya tertinggal rasa iri yang semakin menusuk hati. Mereka tidak menyangka jika Mia begitu beruntung. Mereka yang berpikir Mia hanya dimanfaatkan saja ileh suaminya yang kaya dan tampan, ternyata harus menerima kenyataan kalau Mia justru dicintai begitu dalam oleh suaminya itu.


"Aduh, si Mia peletnya dari mana ya? Kok bisa dapat yang sempurna kayak gitu?" ucap salah satu ibu-ibu.


"Husssst, jangan begitu. Nanti kalau didengar sama suaminya, bisa panjang urusannya." Salah satu dari mereka mengingatkan.


"Habisnya aku gak habis pikir. Si Mia kok bisa ya tiga kali nikah semuanya sama yang kaya-kaya," ucap ibu itu.


"Ya bagus aja kali rejekinya," ucap salah satunya.


"Kok sekarang jadi belain si Mia sih?" tanya sakah satubya dengan nada kesal.


"Dari pada panjang urusannya sama suaminya? Ngeri. Orang berduit bisa ngelakuin apa aja," ucap salah satunya.


"Terserah ah," ucap ibu-ibu yang kemudian meninggalkan warung.


Setelah salah satu ibu pergi, tak lama kemudian mereka membubarkan diri. Takut jika suami Mia kembali dan membubarkan mereka. Namun tidak lama, gosip itu dilanjutkan di salah satu rumah karena mereka belum puas dengan gosip tentang Mia.


Mia memang selalu menjadi topik menarik bagi setiap penggosip. Wajar saja, mereka menganggap cerita Mia seperti negeri dongeng. Dimana si miskin selalu bahagia dengan gelimangan harta yang tak kunjung habis. Dan cinta yang tak terbatas dari sang pangeran tampan.


Di rumah itu sanga pangeran tampan tengah duduk dan memainkan ponselnya. Ia mengalihkan kemarahannya dengan menelepon Mia. Melihat wanita cantik bersama dengan kedua anak kembarnya, membuat amarahnya berkurang dan perlahan hilang.


"Dion," sapa Tuan Felix sembari mengucek matanya.


Dion yang baru saja menyudahi panggilannya segera menoleh ke sumber suara. Ia melihat Tuan Felix dengan mata yang masih merah.


"Sudah bangun Pah?" tanya Dion basa basi.


"Aku kesiangan ya?" tanya Tuan Felix.


"Gak masalah Pah. Ayo sarapan dulu!" ajak Dion.


Setelah mandi, Tuan Felix duduk berhadapan dengan Dion untuk menyantap sarapan pagi ini. Hening, keduanya tidak ada yang bersuara. Mereka diam dengan pikirannya masing-masing.


Ingin rasanya Tuan Felix mengucapkan terima kasihnya karena telah mengangkat Mia dari kesengsaraan hidupnya. Membahagiakan anak kandungnya dengan cinta kasih yang tulus. Namun lidahnya kelu saat berhadapan dengan menantunya itu.


Mungkin aku akan cari waktu yang tepat untuk mengucapkan rasa terima kasihku.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..

__ADS_1


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.


__ADS_2