
"Apa kita mau berangkat sekarang?" tanya Dion.
"Tentu," jawab Tuan Felix dengan semangat.
Memang sudah sejak malam ia ingin segera pergi ke makam Bu Ningsih. Dengan penuh semangat, Tuan Felix mengikuti langkah Dion yang berjalan di depannya.
Tuan Felix cukup terkejut saat mereka harus melewati pematang sawah. Ia sampai mengernyitkan dahinya dan berhenti sebentar. Entah ragu atau bahkan tidak percaya pada Dion.
"Dion, kemana ini? Apa kamu tidak lupa jalan ke sana?" tanya Tuan Felix meyakinkan dirinya sendiri.
"Tenang saja. Aku masih sangat ingat jalan menuju makamnya. Papa ikuti aku saja!" ucap Dion.
Setelah itu, Dion melanjutkan kembali langkahnya. Ia berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya agar bisa melewati pematang sawah. Berhasil! Tanpa terjatuh, Dion sudah berada di ujung area pesawaha.
"Pah," panggil Dion.
Saat ia tidak mendapat respon, Dion melihat ke belakang. Nampak Tuan Felix masih tertatih-tatih jauh di belakang Dion. Celananya yang kotor, menjadi saksi kalau perjuangannya sangat berat dan sulit.
Dion menahan tawanya. Ia ingat saat pertama kali ia ke sana. Sama seperti Tuan Felix, jatuh berkali-kali karena sangat asing dengan pematang sawah.
"Hati-hati!" teriak Dion pada Tuan Felix.
Tanpa jawaban, Tuan Felix tetap fokus pada jalan yang sedang ia tapaki. Sampai akhirnya ia sampai walaupun sempat jatuh kembali dan mengundang tawa menantunya.
"Kalau saja bukan karena wanita pujaanku, mana mungkin aku mau melewati jalanan seperti ini. Celanaku kotor," gerutu Tuan Felix.
"Karena untuk membuktikan rasa cinta itu butuh pengorbanan dan perjuangan Pah," ucap Dion memberi semangat.
Pengorbanan? Perjuangan? Mungkin semua itu terlambat. Seharusnya perngorbanan dan perjuangan itu bisa ia lakukan saat Bu Ningsih masih hidup. Mungkin seharusnya ia tidak membiarkan wanita yang sangat ia cintai itu hidup sengsara dengan darah dagingnya.
"Pah," panggil Dion.
Guncangan kecil di bahu Tuan Felix memang tidak menyakitinya, namun berhasil menyadarkannya dari lamunannya. Ini adalah panggilan Dion yang ketiga kalinya, setelah dua panggilannya diabaikan begitu saja oleh Tuan Felix.
"Iya," jawab Tuan Felix.
"Papa baik-baik saja?" tanya Dion meyakinkan.
"Ya, tentu. Aku baik," jawab Tuan Felix.
Menyembunyikan semua penyesalan yang memang tiada berarti lagi baginya.
Ah syukurlah dia tidak apa-apa. Aku cuma takut dia kesambet. Aduh, kalau sampai itu semua terjadi, aku bakal lari ninggalin dia. Gak peduli aku dicap sebagai menantu kurang ajar. Ngeri juga kalau sampai kesurupan kan? Ih, amit-amit deh. Jangan sampai! Tuhaaaan, bantu aku agar semuanya tetap baik-baik saja sampai akhirnya kami kembali ke Jakarta.
Dion melanjutkan kembali langkahnya. Perjalanan yang sudah tidak jauh lagi membuat Tuan Felix akhirnya mengusap dadanya.
"Ini?" tanya Tuan Felix sembari menunjuk makan Bu Ningsih. Nampak jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan makam-makam yang ia tahu.
"Di sini memang seperti ini. Aku sudah memperbaiki makam ini," ucap Dion.
Melihat bentuk protes dari raut wajah mertuanya, Dion segera menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin Tuan Felix memang tidak terbiasa dengan keadaan yang berbeda dengan di negaranya.
"Oh, begitukah?" tanya Tuan Felix.
Dion mengangguk dan menjelaskan keadaan pemakaman yang umum di daerah sana. Tidak ada alasan untuk Tuan Felix tidak percaya. Lagi pula tidak ada waktu untuk berdebat.
"Wanita hebat," ucap Tuan Felix lirih.
Kakinya mulai runtuh. Ia bersimpuh di samping makam Bu Ningsih. Tangannya dengan gemetar mulai menyentuh batu nisan bertuliskan nama yang sangat tidak asing. Nama yang terpatri dan terukir dalam hatinya.
"Aku mencintaimu hingga detik ini. Maaf atas kebodohanku selama ini," ucap Tuan Felix.
Pria itu nampak mengusap-usap batu nisan Bu Ningsih. Tidak ada air mata yang mengalir di pipinya, namun bisa dipastikan bahwa rasa sakit itu tengah menghujam relung hati terdalamnya.
Merasa Tuan Felix butuh waktu sendiri, Dion menjauh. Ia membiarkan Tuan Felix mengungkapkan isi hatinya tanpa kecuali.
Selepas kepergian Dion, Tuan Felix mengucek matanya yang sudah merah. Tidak ingin terlihat cengeng dan lemah, namun fisiknya tidak bisa menyembunyikan rasa dalam hatinya.
Tanpa kecuali, Tuan Felix mengungkapkan kekecewaannya atas sikap dirinya sendiri. Kebodohannya yang semata-mata menjadikan semua beban harus ditanggung sendiri oleh Bu Ningsih.
"Mia bersamaku. Istirahatlah dengan tenang! Aku ada di sini. Akan kulanjutkan semua perjuanganmu untuk membahagiakan Mia. Kamu tidak perlu khawatir lagi," ucap Tuan Felix.
Banyak kalimat yang tidak sempat ia ucapkan. Namun Tuan Felix yakin jika Bu Ningsih bisa mendengar dan memahami semua yang ada dalam hatinya. Bukannya malas, tapi dadanya sesak. Ia tidak lagi punya kekuatan karena rasa bersalah itu semakin lama semakin menghujamnya.
Lama, ia menunduk di samping makam Bu Ningsih. Meluapkan rasa rindu hanya pada sebuah batu nisan. Rasa yang selama ini sempat ia pendam.
Sementara dari kejauhan, Dion diam-diam mengambil foto Tuan Felix. Ia mengirimnya pada Mia. Mia yang menerima kiriman foto itu langsung menangis. Penyesalan itu ia rasakan karena sempat tidak percaya pada Tuan Felix. Bahkan ketika Tuan Felix menceritakan kisah masa lalunya, Mia masih menyimpan sedikit keraguan.
Tapi tidak saat Tuan Felix ingin mengunjungi makam Bu Ningsih. Terlebih saat ia mendapat kiriman foto dari Dion. Nampak ayah kandungnya itu sangat terpukul. Duduk menunduk dan menahan kepalanya dengan batu nisan, adalah bukti kuat kalau semua itu terjadi atas dasar ketulusan.
__ADS_1
Saling mengirim pesan antara Dion dan Mia, harus disudahi saat Dion melihat Tuan Felix ambruk.
"Pah," panggil Dion.
Tuan Felix membuka matanya dan tersenyum.
"Aku baik-baik saja," ucap Tuan Felix.
Tidak! Tuan Felix tidak baik-baik saja. Tubuhnya lemas dan wajahnya pucat. Dion segera mengajak Tuan Felix untuk kembali ke rumah. Meski sempat menolak, namun Dion akhirnya berhasil membujuk Tuan Felix untuk pulang.
Perjalanan pulang lebih lama dibanding dengan perjalanannya saat berangkat ke makam. Dengan tertatih, Tuan Felix akhirnya sampai di rumah. Dion membantunya untuk tidur di kamar. Sopirnya memberikan segelas air mineral untuk Tuan Felix agar ia lebih tenang.
"Ayo keluar! Biarkan dia tenang," ucap Dion.
Sopir itu mengangguk dan mengikuti Dion untuk keluar dari kamar Tuan Felix.
"Dion!" panggil Tuan Felix.
Baru saja sampai ambang pintu, Tuan Felix memanggil Dion hingga Dion menghentikan langkahnya.
"Iya Pah," jawab Dion.
"Ke sini!" ucap Tuan Felix.
Tuan Felix melambaikan tangannya dan menepuk tepi ranjangnya. Dion mendekat dan duduk di samping Tuan Felix yang masih berbaring.
"Kamu mau kemana?" tanyaTuan Felix.
"Aku tunggu di luar. Papa istirahat aja ya!" ucap Dion.
"Tetaplah di sini. Temani aku, Dion. Aku butuh teman," ucap Tuan Felix.
Dion mengangguk. Tidak berkata apapun, ia hanya mengiyakan apa yang diinginkan Tjan Felix.
"Apa kamu mencintai Mia?" tanya Tuan Felix.
Dion mengernyitkan dahinya dan menatap dalam Tuan Felix. Ia menyelami pertanyaan yang menurutnya janggal. Ada apa ini?
"Kamu mencintai Mia?" tanya Tuan Felix kembali.
"Apa Papa tidak bisa melihat apa yang aku rasakan?" tanya Dion.
"Aku ingin mendengar jawaban kamu," ucap Tuan Felix setelah lama diam dan mengamati Dion.
"Kalau aku tidak mencintai Mia, aku tidak akan berada di sini saat ini. Karena aku diajarkan oleh Mia, cintailah apa yang menjadi bagian dari pasanganmu. Mia pasanganku dan aku akan melakukan apapun untuk Mia," ucap Dion.
Akhirnya Tuan Felix mendengar langsung apa yang disampaikan oleh Dion. Jawaban yang memang sesuai dengan harapannya.
"Terima kasih Dion. Terima kasih karena kamu sudah membuat dunia Mia berubah. Aku terlambat, tapi aku senang karena akhirnya kamu lebih dulu membahagiakan Mia. Aku berjanji akan membahagiakan Mia semampuku," ucap Tuan Felix.
"Pah, tidak perlu berterima kasih. Ini sudah menjadi kewajibanku. Aku yang memilih Mia. Maka aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku pilih," ucap Dion.
"Mia beruntung karena menjadi wanita terpilih untukmu. Meskipun masa lalu Mia yang kelam, tapi kamu dan orang tuamu menerima dengan begitu tulus. Aku berhutang budi pada kalian," ucap Tuan Felix.
"Tidak ada hutang budi Pah. Ini terjadi atas dasar takdir yang kami inginkan," ucap Dion.
Tuan Felix memalingkan wajahnya dari Dion. Takdir? Apakah yang terjadi antara dia dan wanita yang sangat ia cintai juga takdir? Apakah kebodohannya juga sebuah takdir?
"Sepertinya kamu lelah. Kamu istirahat saja," ucap Tuan Felix.
Dion menatap Tuan Felix dengan banyak pertanyaan yang tidak bisa ia jabarkan. Kerutan di dahinya berlangsung lama, karena Tuan Felix tak kunjung menjelaskan maksud kalimatnya. Setelah menyadari semuanya, Dion segera keluar dan memberikan waktu untuk sendiri pada Tuan Felix.
"Pah, aku tunggu di luar. Kalau mau pulang, kabari aku!" ucap Dion.
Langkahnya terasa hampa. Ia belum mendapat semua jawaban atas pertanyaannya untuk Tuan Felix. Ada apa dengan mertuanya itu?
"Ah, haruskah serumit ini?" gumam Dion.
Dion mengacak rambut hitamnya dengan kasar dan mengusap wajahnya. Kepalanya dipijat karena mulai terasa sakit. Ia harus menajamkan penglihatannya di tengah sakitnya kepala. Ia memastikan jika pemanggil itu adalah Reza, sahabat terbaiknya. Sahabat yang sudah mulai sibuk dan hampir lost kontak dengan dirinya.
"Halo, Za." Dion menyapa dengan beberapa pertanyaan basa basi pada Reza.
Sampai akhirnya Reza menyadari jika Dion berbeda.
"Kamu sakit, Di?" tanya Reza.
"Gak. Mungkin karena banyak kerjaan, tadi kurang fokus aja. Sory ya!" ucap Dion.
"Aku ganggu ya?" tanya Reza memastikan.
__ADS_1
Dion memejamkan wajahnya sebentar. Ia berusaha berperan seolah tidak terjadi apapun padanya.
"Ah, gila aja bilang keganggu. Kayak sama tetangga baru kamu, Za. Ada apaan sih? Tumben-tumbenan nelepon lagi. Ada masalah perusahaan?" tanya Dion.
Dion berhasil mengelabui Reza dengan nada bicara yang ia buat seceria mungkin. Sampai akhirnya Reza mengungkapkan tujuan panggilannya.
"Maya hamil, Di. Jadi maaf banget kalau kemarin-kemarin aku jarang laporan tentang perusahaan. Maya ngidamnya repot. Tapi kamu tenang aja, perusahaan aman terkendali kok." Nada suara Reza terdengar sangat ceria.
Dion senang, namun masalah yang dihadapinya tidak seringan yang ia pikir. Di sisi lain, tidak adil rasanya jika Reza yang sedang bahagia tidak mendapat dukungan darinya.
Melupakan sejenak apa yang terjadi pada Tuan Felix, Dion bersorak senang dengan sangat antusias.
"Hamil? Kamu serius Za?" tanya Dion.
"Bukan hanya serius. Ini sih dua rius kayaknya, Di." Dengan nada bahagia Reza berucap.
"Yeaaay, akhirnya kamu jadi bapak juga. Jaga istrimu dengan baik. Jangan buat Maya kecapean. Mia pasti seneng kalau tahu berita ini," ucap Dion.
"Iya dong. Aku berhasil juga Di," ucap DmReza dengan bangga.
"Ya malu lah kalau masih gak berhasil," ucap Dion.
"Dih, kemarin-kemarin perasaan pas ngasih semangat kamu manis banget Di, kata-katanya. Kok sekarang pedes banget sih?" ucap Reza.
"Haha. Karena sekarang, sepedas apapun ucapanku, kamu pasti akan tetap merasa manis," jawab Dion.
"Iya juga sih. Eh, Nanti kalau pulang kabari Mia ya! Aku mau tahu gimana ekspresi Mia dengan kabar ini," ucap Reza.
Pulang? Reza pasti berpikir jika Dion sedang di kantor. Ia hanya mengiyakan dan berjanji untuk merekam ekspresi Mia saat mendengar kabar bahagia itu.
"Tapi kalian sehat kan?" tanya Reza melanjutkan basa basinya.
Dion menjawab setiap apa yang ditanyakan oleh Reza. Tanpa menunjukkan apapun, Reza bahkan tidak tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu.
"Ya sudah, lanjutkan kerjanya. Nanti jangan lupa kasih tahu Mia ya!" ucap Reza.
"Siap," ucap Dion sebelum mengakhiri panggilannya.
Dion menggenggam ponselnya dengan erat. Ia tersenyum. Kini ia percaya jika hidup itu bagai roda yang berputar. Dulu, saat ia tengah bahagia-bahagianya dan tanpa beban apapun dengan Mia, Reza justru tengah menghadapi peliknya hidup.
Sekarang, semua itu berganti. Saat Reza tengah menikmati indahnya perjalanan hidup, Dion justru harus menyaksikan drama kehidupan istrinya yang begitu rumit.
Tuhan memang adil. Aku harap semua ini tidak lama. Tapi aku yakin akan selalu bisa melewati semuanya dengan baik. Kita akan kembali bahagia seperti dulu Mia.
Seperti Reza dan Maya, Dion belajar untuk menghadapi semuanya dengan rasa cinta dan ketulusan.
"Dion," panggil Tuan Felix.
"Pah," ucap Dion terperanjat.
Seketika lamunannya buyar saat ia tahu kalau ayah mertuanya sudah ada di sampingnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Tuan Felix.
"Oh ya tentu. Aku baik-baik saja. Papa mau pulang sekarang?" tanya Dion.
Pertanyaan basa basi, karena sebenarnya Dion sudah melihat Tuan Felix siap untuk pulang. Pakaian yang cukup rapi dan ransel yang sudah menempel di punggungnya, menjadi bukti kalau Tuan Felix sudah ingin segera meninggalkan tempat itu.
"Ayo!" ajak Tuan Felix.
Dion hanya menyambar tas ransel yang sudah ia siapkan di atas meja dan segera meninggalkan rumah itu. Perjalanan yang cukup jauh itu terasa sangat jauh saat tidak ada satu orangpun yang angkat bicara.
Semua bungkam, menyelam dalam pikirannya masing-masing. Dion sesekali melirik Tuan Felix yang masih menatap jalanan dengan tatapan kosong.
Tidur, Dion pulas saat mobil membawanya semakin jauh dari kawasan Bandung. Ia menyiapkan energi, karena besar kemungkinan jika nanti malam Mia tidak bisa tidur. Ia akan meminta semua informasi darinya.
Dion terbangun saat guncangan di bahunya mulain terasa. Setelah ia bangun, ia melakukan hal yang sama. Mengguncang pelan bahu Tuan Felix. Memberi tahunya kalau mereka sudah sampai. Mereka sudah kembali ke Jakarta.
Ada Mia di dalam. Pikiran itu membuat Tuan Felix dengan semangat keluar dari mobil karena akan menemui anak kandungnya.
######################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
__ADS_1
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.