
Acara pertunangan Danu dan Sindi sudah usai. Kalin dan Dokter Leoni pamit. Mia sedih saat mereka tidak bisa lebih lama bersamanya. Tapi Mia tahu mereka punya kesibukan tersendiri.
"Sayang, jangan sedih. Kalian bisa kumpul lagi kapan-kapan," ucap Dion.
"Iya A," jawab Mia.
Mia dan Dion segera kembali ke kamarnya dan beristirahat. Sementara Narendra dan Naura dibawa oleh kedua perawatnya. Begitupun Nyonya Helen dan Tuan Wira. Semuanya beristirahat. Hanya tersisa Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan. Mereka nampak asik berbincang dengan Sindi.
"Mi, pulang yuk! Udah sore nih," ajak Tuan Ferdinan.
"Nanti dulu Pi. Mami kan masih mau ngobrol sama Sindi," ucap Nyonya Nathalie.
"Kan bisa besok lagi. Kasihan Sindi cape Mi. Biarin dia istirahat dulu," ucap Tuan Ferdinan.
"Gak apa-apa Pak. Aku gak cape kok," ucap Sindi.
"Tuh kan Papi dengar sendiri apa kata Sindi. Dia gak cape Pi," ucap Nyonya Nathalie mempertegas jawaban Sindi.
"Mi, setidaknya Mia harus ganti baju. Bulu matanya juga belum dicopot. Biarin Sindi ganti baju dulu," ucap Tuan Ferdinan.
Sindi yang tidak pernah terlihat memakai bulu mata palsu, memang tampak kurang nyaman. Tuan Ferdinan sampai beberapa kali ikut tidak nyaman saat melihat calon menantunya itu.
"Iya Mi, pulang aja. Mami kan juga harus istirahat. Ingat kita akan menyiapkan pesta pernikahan. Jangan sampai Mami kecapean ya!" ucap Danu.
Bujukan Danu akhirnya berhasil membuat Nyonya Nathalie segera pulang. Pernikahan Danu dan Sindi memang impian bagi Nyonya Nathalie. Hingga ia akan selalu mengikuti apapun jika sudah berhubungan dengan pesta itu.
"Kamu juga harus pulang," ucap Nyonya Nathalie pada Danu.
"Iya, nanti aku juga pulang. Mami pulang duluan sama Papi ya!" ucap Danu.
"Ya sudah. Ayo Pi!" ajak Nyonya Nathalie.
Setelah Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan pulang, Danu menatap Sindi begitu lekat. Sindi sampai memalingkan wajahnya karena salah tingkah.
"Kenapa sih?" tanya Sindi.
Danu menggenggam tangan Sindi. Nampak keduanya saling bicara. Saling mengungkapkan kekagumannya satu sama lain.
"Ehemmm,"
Suara dehaman dari Nyonya Helen berhasil membuat Danu dan Sindi langsung membungkam mulut.
"Nyonya," ucap Sindi.
"Kamu gak pulang?" tanya Nyonya Helen.
Matanya mengarah pada Danu.
"Ini mau pulang," ucap Danu.
Danu yang sebenarnya masih ingin berlama-lama dengan Sindi akhirnya mengalah. Ia segera pamit dan pergi.
"Sindi, selamat ya!" ucap Nyonya Helen.
Sebuah pelukan hangat mendarat di tubuh Sindi. Tanpa ragu, Sindi kembali memeluk erat Nyonya Helen.
"Nyonya, terima kasih untuk semuanya. Seharusnya Nyonya tidak perlu menyiapkan semua ini. Ini terlalu berlebihan Nyonya," ucap Sindi.
Jujur saja, Sindi sebenarnya terkejut saat melihat acara lamarannya digelar begitu mewah. Tempatnya memang di kediaman Nyonya Helen, tapi semua tertata begitu cantik dan mewah.
"Ini sudah jadi kewajibanku. Kamu adalah anakku," ucap Nyonya Helen.
"Nyonya," ucap Sindi.
Isak tangis Sindi membuat Nyonya Helen ikut menangis. Ia mengusap punggung Sindi.
"Jangan menangis! Aku jadi ikut sedih," ucap Nyonya Helen.
Saat Nyonya Helen melepaskan pelukannya dan berniat menghapus air mata Sindi, ia malah dibuat tertawa. Sindi yang tengah menangis langsung diam.
"Bulu matanya lepas Nyonya," ucap Sindi sembari mengambil bulu mata itu.
"Iya," jawab Nyonya Helen disela tawanya.
"Papa senang kalau kalian bahagia seperti itu," ucap Tuan Wira yang tiba-tiba datang.
Nyonya Helen dan Sindi diam saat mendengar suara Tuan Wira.
"Papa katanya mau tidur?" tanya Nyonya Helen.
"Gak bisa tidur," jawab Tuan Wira.
"Gabung sini aja yuk!" ajak Nyonya Helen.
Acara ganti baju Sindi harus tertunda kembali saat Tuan Wira malah ikut bergabung. Banyak hal yang mereka bicarakan. Sindi hanya mengangguk-angguk saat suami istri itu memberi petuah padanya.
"Nyonya, ada telepon." Salah satu pekerja datang memberi tahu Nyonya Helen.
"Siapa?" tanya Nyonya Helen.
"Katanya dari teman lama Nyonya," jawab pekerja itu.
"Siapa sih," gumam Nyonya Helen.
Melihat Nyonya Helen pergi, Tuan Wira ikut meninggalkan Sindi.
"Akhirnya aku bisa ganti baju," gumam Sindi.
__ADS_1
Baru saja Sindi selesai mengganti baju, panggilan dari Tuan Felix masuk.
"Tuan," sapa Sindi saat panggilan sudah masuk.
"Selamat Sindi. Maaf aku gak bisa hadir. Tapi aku lihat semuanya tadi. Mia mengirimkan rekaman videonya," ucap Tuan Felix.
"Terima kasih Tuan," ucap Sindi.
Sindi tidak bisa mengucapkan apapun selain terima kasih. Ia sangat terharu saat banyak sekali yang sayang dan perhatian padanya. Bahkan Tuan Felix saja sampai meluangkan waktu untuk menghubunginya.
Rasa bahagia itu belum berhenti saat Rian ikut nimbrung dalam panggilan itu.
"Kak Sindiii, selamat ya! Akhirnya jadi Nyonya Danu. Cieeee," goda Rian.
"Aku baru lamaran Rian," ucap Sindi.
"Tapi kan sebentar lagi," ucap Rian.
"Kamu sehat?" tanya Sindi yang berusaha mengalihkan bahasan Rian.
Akhirnya Rian ikut dalam pembahasan Sindi. Dengan antusias Sindi menanyakan beberapa hal yang berhubungan dengan negara Jerman.
"Kalau jalan-jalan jangan lupa video call sama aku. Biar aku berasa ikutan ada di sana. Aku kan belum pernah ke luar negeri," ucap Sindi.
"Mana sempat aku jalan-jalan. Ada banyak hal yang harus aku pelajari Kak," ucap Rian.
Ya, memang selama Rian ke Jerman, Tuan Felix belum memberi Rian kesempatan untuk liburan. Ia fokus pada pendidikan Rian. Sesekali ia membawa Rian ke kantornya. Memberinya sedikit gambaran tentang keadaan kantor dan bisnisnya.
Awalnya Rian memang sempat kecewa dan jenuh. Namun melihat kegigihan Tuan Felix, Rian malu sendiri. Tuan Felix yang sudah sukses saja masih rajin bekerja dan belajar. Apalagi dirinya yang belum sukses.
Mendengar cerita Rian, Sindi menyemangati Rian agar tetap semangat dan menjadi orang yang sukses. Setelah itu, panggilan pun berakhir.
Malam ini Sindi tidur pulas. Saat bangun dan sarapan, Sindi terkejut saat Mia dan Dion sudah siap dengan kopernya masing-masing.
"Mi, kamu mau kemana?" tanya Sindi.
"Aku ke Singapura dulu," jawab Mia.
"Narendra dan Naura?" tanya Sindi.
"Titip sama kamu ya!" jawab Mia.
"Kamu mau honeymoon ya?" tanya Sindi.
"Mia nemenin A Dion aja kok. Tapi kalau nanti ada waktu santai ya sekalian aja honeymoon," jawab Mia sembari tertawa.
Mia tidak berniat jujur pada Sindi. Cukup Nyonya Helen dan Tuan Wira saja yang tahu tujuannya pergi ke sana. Mia beruntung karena kedua mertuanya bisa mengerti keadaannya. Walaupun seblumnya sempat berdebat, namun akhirnya Mia bisa pergi dengan izin dari keduanya.
Dalam perjalanan, Mia tampak pucat. Keringat dingin membasahi tangannya. Dion tidak melepaskan genggamannya.
"Kamu jangan khawatir. Jangan banyak pikiran. Pak tua itu pasti sembuh kok," ucap Dion.
"Mi, kamu jangan berlebihan dong. Iya aku tahu dia berjasa tapi bukan berarti dia sebegitu pentingnya dong," ucap Dion.
"Pusing, mual A," ucap Mia.
"Hah?" ucap Dion terkejut.
Jadi selama ini Mia diam bukan karena khawatir keadaan Haji Hamid, melainkan mabuk perjalanan. Ini pertama kalinya Mia naik pesawat.
"Sini! tidur di sini!" ucap Dion.
Dion segera meraih kepala Mia dan menjatuhkannya di bahunya.
Ya ampun, norak sekali istriku. Tapi dia lucu kalau begini. Mukanya lucu.
"A, masih lama gak?" tanya Mia.
"Aku pikir kamu tidur. Sebentar lagi kok. Kamu tidur aja biar gak pusing," ucap Dion.
Mia tidak banyak bicara. Ia hanya mengikuti apa yang Dion ucapkan. Berharap kalau perjalanan ini segera selesai.
Setelah berjuang dengan perjalanan yang melelahkan, Mia akhirnya bisa bernapas lega saat ia sudah tiba di Singapura. Mata Mia mengedar. Ia benar-benar menikmati suasana di sana.
"Kenapa?" tanya Dion.
"Gak," jawab Mia sembari menggeleng.
Kalau tidak kasihan pada Dion, Mia pasti sudah berteriak-teriak bahagia karena bisa ke luar negeri. Impiannya selama ini yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya bisa terwujud.
"Kita istirahat ke hotel dulu ya!" ucap Dion.
"Surat nikahnya dibawa gak?" tanya Mia.
"Surat nikah?" tanya Dion.
"Tkut di gerebek A kalau gak bawa surat nikah," jawab Mia.
Dion hanya tersenyum dan menarik tangan Mia. Ia segera membawa Mia ke hotel untuk beristirahat. Mata Mia masih terus mengamati setiap keadaan di sana. Banyak hal menakjubkan yang baru Mia lihat saat ini.
Dion tidak mengganggu Mia. Ia membiarkan istrinya bersikap apa adanya. Sama sekali tidak malu saat dikatakan norak oleh orang lain. Bagi Dion, ini adalah hal menyenangkan.
Melihat Mia bahagia adalah impian Dion selama ini. Ia tidak peduli dengan cara apapun, bahkan kenorak'an Mia seperti itu.
"Kamu tidur aja dulu. Istirahat ya!" ucap Dion.
"Ke rumah sakitnya kapan?" tanya Mia.
__ADS_1
"Nanti ya! Kamu harus istirahat dulu," jawab Dion.
"Mia gak cape kok. Tadi cuma pusing aja A. Tapi sekarang udah gak kok," ucap Mia.
"Kenapa gak besok aja? Sekalian aku meeting, kamu bisa ke sana." Dion memberi saran.
"Mia maunya sama Aa. Biar Aa juga jenguk Pak Haji," ucap Mia.
"Aku kan gak kenal," jawab Dion.
"Tapi kan Aa mau bilang terima kasih sama Pak Haji. Pak Haji pasti seneng dengernya," bujuk Mia.
"Terus besok pas aku meeting kamu mau ke sana lagi?" tanya Dion.
"Gak. Kalau Aa kerja, Mia bisa tunggu di sini." Mia memasang wajah memohon.
"Kamu akan bosan kalau besok hanya diam di sini," ucap Dion.
"Mana mungkin Mia bosan di tempat seindah ini," ucap Mia.
"Kamu yakin gak mau besok aja?" tanya Dion.
"Mia mau sama Aa aja. Biar Aa tahu apa aja yang Mia bicarakan sama Pak Haji," jawab Mia.
Untuk yang kesekian kalinya Dion dibuat senang dengan alasan Mia. Mia masih tetap menjadikan dirinya yang utama. Istrinya benar-benar menjaga dirinya agar Dion tidak berpikiran macam-macam saat meeting besok.
"Sebentar lagi ya! Rumah sakitnya gak jauh dari sini kok," ucap Dion.
"Iya A," ucap Mia.
Setelah gelisah dan tidak sabar, akhirnya Dion mengajak Mia untuk ke rumah sakit. Dalam hatinya ia terus berdoa agar Haji Hamid segera sembuh.
"Ini ruangannya Mi. Ayo masuk!" ajak Dion.
Mia mengangguk. Langkahnya terasa berat. Rasanya tidak sanggup melihat Haji Hamid terbaring lemah.
"Mia," ucap Dev yang duduk di samping Haji Hamid.
"Dev, gimana perkembangan Pak Haji?" tanya Mia.
"Masih sama," jawab Dev.
"A," ucap Mia.
Tak kuasa melihat keadaan Haji Hamid, Mia memeluk Dion dengan erat. Ia benar-benar ikut sakit. Hatinya sakit melihat orang yang sudah banyak sekali berjasa dalam hidupnya nyaris tidak bisa diselamatkan.
"Duduk di sana. Bicara dengan dia. Siapa tahu suaramu bisa membuat dia semangat lagi," ucap Dion.
Dev bangun dan bergeser.
"Di sini Mi," ucap Dev.
Diantar oleh Dion, Mia duduk di samping Haji Hamid.
"Pak Haji, ini Mia. Mia datang. Pak Haji sakit apa? Bilang sama Mia," ucap Mia sembari terus menangis.
Tangannya tidak lepas dari Dion. Dion terus menguatkan Mia.
"Pak Haji, ini A Dion. Suami Mia. Pak Haji bilang kalau Mia pasti akan bertemu dengan pria baik yang bisa membahagiakan Mia. Dan sekarang Mia bawa pria baik yang udah bikin Mia bahagia. Pak Haji gak mau kenalan sama suami Mia?" ucap Mia.
Dion mengangkat tangannya dan meraih tangan Haji Hamid. Meskipun lemas dan tidak ada respon. Namun Dion tetap memperkenalkan dirinya.
"Aku Dion. Bangunlah! Anda harus melihat bagaimana caraku membahagiakan Mia. Tidak maukah Anda melihat Mia bahagia? Tidak maukah Anda mengucapkan terima kasih padaku? Sembuhlah! Mia begitu mengkhawatirkan Anda. Jangan buat istriku menangis seperti ini," ucap Dion.
Bukan hanya Mia, nampaknya Dev juga sangat tersentuh dengan ucapan Dion. Dev berusaha mengalihkan matanya agar air matanya tidak jatuh.
"Pak Haji, terima kasih udah menyelamatkan masa depan Mia. Terima kasih buat semuanya. Berkat Pak Haji Mia benar-benar menemukan kebahagiaan Mia. Dan Mia ingin berbagi kebahagiaan ini. Pak Haji bangun ya!" ucap Mia.
"Kalau Anda sampai sembuh lagi, aku tunggu makan bersama. Anda boleh memilih menu apapun sebagai ucapan terima kasihku," tambah Dion.
Mia masih menangis dan menatap Haji Hamid. Ia berharap ada keajaiban seperti di film yang sering ia tonton. Berharap jika Haji Hamid mendadak menggerakkan jarinya dan sadar. Namun sudah satu jam Mia di sana, tapi hasilnya sama.
"Pak Haji, Mia punya anak kembar. Namanya Narendra sama Naura. Nanti Pak Haji main ya ke rumah Mia. Lihat anak Mia," ucap Mia.
Haji Hamid masih tidak sadarkan diri. Mia berkali-kali mencoba mengajak bicara Haji Hamid, namun tetap tidak ada respon.
"A, kedatangan Mia ke sini sia-sia. Pak Haji gak bangun," ucap Mia.
"Mi, aku yakin Hamid bisa mendengar semua ucapan kamu kok. Terima kasih sudah ke sini. Hamid pasti senang. Kehadiran kalian di sini gak sia-sia kok. Hamid pasti ikut bahagia dengan kebahagiaan kalian," ucap Dev.
"Dev, sampaikan salam Mia sama Pak Haji ya, kalau nanti Pak Haji bangun!" ucap Mia.
"Iya Mi. Aku pasti sampaikan," ucap Dev.
"Mau pulang sekarang?" tanya Mia.
"Iya A," jawab Dion.
Sebenarnya Mia masih ingin di sana. Menemani Haji Hamid dan terus bercerita dengannya. Berharap Haji Hamid bangun dan merespon ceritanya. Namun ia tahu Dion harus istirahat. Besok Dion harus meeting. Suaminya harus istirahat.
#####################
Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.
Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.
Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..
__ADS_1
Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍
Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.