
"Mia mana?" tanya Nyonya Helen pada Dion.
"Masih di kamar Narendra sama Naura," jawab Dion.
"Si kembar belum siap?" tanya Nyonya Helen.
"Sebentar lagi Ma," jawab Dion.
Tak lama Mia datang dan duduk di samping Dion.
"Kamu baik-baik aja kan, Mi?" tanya Nyonya Helen.
Pertanyaan dari Nyonya Helen membuat Mia menjadi pusat perhatian. Semua yang duduk di ruang makan menatap Mia.
"Mia baik-baik aja kok," jawab Mia.
Masih tetap berusaha tenang. Mia tidak ingin masalah kecil tadi membuat keluarganya menjadi ikut sedih.
"Mia cuma kurang tidur aja. Semalam dia kepikiran sama acara peresmian ini," ucap Dion.
Sebagai seorang suami, Dion tahu kalau Mia tengah membutuhkan bantuannya.
"Aduh Mia, kamu bikin Mama khawatir aja. Kamu gak perlu khawatir. Mama yakin kamu bisa. Kamu ini wanita yang cerdas," ucap Nyonya Helen sembari memeluk Mia.
Perlakuan dan ucapan Nyonya Helen berhasil membangkitkan semangatnya. Mia yakin kalau ia bisa. Ia tidak mungkin mengecewakan orang-orang yang sudah sangat mendukungnya.
"Terima kasih ya Ma," ucap Mia.
Selesai sarapan, semua berangkat mendampingi Mia dan Dion. Rian sedikit berlari dan berbisik.
"Kak Mia keren. Masih muda udah bisa mimpin perusahaan. Aku juga mau belajar lebih rajin, biar sukses kayak Kakak," ucap Rian.
Mia tersenyum lebar. Ia meyakinkan Rian jika semua usaha tidak akan sia-sia. Selama Rian berusaha dengan sungguh-sungguh, kesuksesan pasti akan dirasakannya.
Saat mereka sampai di perusahaan itu, Reza sudah ada di sana. Ia sangat membantu semua persiapan hingga acara ini berlangsung. Tak lupa Maya juga hadir dengan perutnya yang semakin membesar.
Tidak lama, beberapa tamu undangan berdatangan. Orang-orang penting yang sama sekali tidak Mia kenal. Ada rasa sedih saat hanya ada Sindi dan Maya yang ia kenal.
"Kamu kenapa?" tanya Dion.
"Gak. Memangnya kenapa?" tanya Mia.
"Muka kamu kelihatan kayak orang banyak utang. Bingung," jawab Dion.
__ADS_1
"Enak saja," ucap Mia sembari memukul tangan Dion.
Lumayan, Dion berhasil membuat bibir Mia tersenyum. Meskipun sebenarnya ia tahu kalau istrinya menyembunyikan kesedihannya.
Acara peresmian dimulai. Beberapa acara sudah berjalan lancar sesuai arahan pemandu acara. Kini giliran Mia yang bicara. Dengan begitu percaya diri Mia naik dan bicara di hadapan banyak orang yang berpengaruh di dunia bisnis.
Di tengah sambutannya, Mia dibuat terkejut dengan kehadiran Kalin, Dev, Dokter Leoni serta Haji Hamid. Matanya berkaca-kaca saat sahabatnya mengangkat tangannya dan memberi semangat pada Mia.
Saat Mia selesai bicara, riuh tepuk tangan bergema di perusahaan barunya. Senyum bangga dan bahagia Mia nampak jelas di wajahnya.
Selesai acara, semua menikmati jamuan yang sudah disediakan. Saat itu semua sahabat Mia mendekat dan memberinya bunga. Ucapan selamat dan pelukan Mia terima dengan penuh haru.
"Mia pikir kalian gak datang," ucap Mia.
"Ini idenya Tuan Dion," ucap Dokter Kalin.
"Hah?" tanya Mia sembari melihat Dion.
Dion segera menjauh dan tidak ingin membahas tentang kejutan yang dibuatnya. Ternyata diam-diam, Dion menyimpan nomor sahabat Mia. Sebelum Mia, Dion sudah mengundangnya terlebih dulu. Namun ia meminta agar mereka masuk saat sudah mendapat pesan dari Dion. Ia juga memint agar mengabaikan pesan Mia.
Dion sengaja ingin membuat Mia tidak selalu mendapat apa yang ia mau dengan mudah. Ia ingin Mia belajar banyak hal tentang kecewa. Karena menjadi pemimpin tidak semudah saat ia menjadi karyawan.
"Suami kamu romantis banget sih Mi," puji Dokter Leoni.
"Ah, kalian berlebihan. Mia cuma terlalu beruntung saja karena di kelilingi orang yang baik. Bukan cuma suami, tapi sahabat-sahabat seperti kalian juga. Terima kasih sudah menajdi bagian dari hidup Mia," ucap Mia.
Mereka tidak lama, pamit dan membuat Mia sempat sepi. Namun kesepian Mia diganti dengan hadirnya Sindi dan Maya.
"Selamat ya Mi," ucap Sindi.
"Kamu memang best, Mi. Dari awal aku selalu yakin kalau kamu pasti bisa menjadi yang terbaik," ucap Maya.
"Terima kasih ya!" ucap Mia.
"Nyonya Maya, kapan HPL nya?" tanya Sindi.
"Jangan panggil Nyonya ah. Panggil Maya saja," ucap Maya.
"Kenapa?" tanya Sindi.
"Kamu itu sudah jadi Nyonya Danu. Pengusaha yang sukses. Jangan sampai Danu merasa direndahkan," ucap Maya.
"Wah, gak dong Nyonya." Sindi tersenyum.
__ADS_1
"Udah ah jangan panggil Nyonya. Maya saja ya," ucap Maya.
"Iya Sin, kita ini sahabat. Jangan ada Nyonya-Nyonyaan diantara kita," ucap Mia.
Sindi terlihat canggung karena pada saat di Surabaya, ia selalu memanggil Maya dengan sebutan Nyonya. Namun pernikahannya dengan Danu membuat Maya memintanya untuk tidak memanggilnya dengan sebutan Nyonya lagi.
Ketiganya masih terus bercerita satu dan lain hal. Dari kejauhan Dion dan Reza memperhatikan keadaan di sekeliling. Tampak Tuan Felix dan Rian yang tengah berbincang. Sepertinya Rian sedang mendapat arahan tentang dunia bisnis.
Di salah satu meja juga nampak Nyonya Helen dan Nyonya Nathalie mengobrol sebentar. Sepertinya Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan pamit. Dion tersenyum. Hal yang dulu ia anggap mustahil namun akhirnya terjadi di depan matanya. Dua wanita itu berdamai meskipun belum begitu hangat.
Dalam waktu yang sama, mata Reza menangkap Danu di sudut ruangan. Ia sendiri dan hanya memainkan ponselnya. Sikut Reza mengenai tangan Danu. Arah matanya menuntun Dion untuk menjelaskan maksud dari sikutannya tadi.
Dion kembali menatap Reza. Meminta tanggapan dari sahabatnya itu. Reza menganggukkan kepalanya. Meskipun Dion sudah mengernyitkan dahinya, namun Reza terus memaksanya untuk menemui Danu.
"Emaknya udah akur. Masa anaknya masih musuhan?" bisik Reza.
"Siapa yang musuhan?" tanya Dion.
"Terus apa? insecure?" tanya Reza sembari menahan tawanya.
"Gak ada alasan buat insecure. Sejak kapan seorang Dion bisa insecure sih?" ucap Dion dengn begitu percaya diri.
"Buktiin. Jangan cuma cuap-cuap," tantang Reza.
Dion menahan kesal dengan tantangan dari Reza. Namun demi harga dirinya ia melakukan apa yang Reza inginkan. Langkahnya berat dan penuh dengan keraguan. Namun akhirnya Dion berdiri di hadapan Danu. Danu mengangkat wajahnya dan tersenyum. Kepalanya penuh tanya tentang maksud kedatangan Dion di hadapannya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Dion.
Pertanyaan yang berhasil membuat lidah Danu kelu. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan Dion. Hanya anggukan kepala saja. Itupun terasa berat bagi Danu.
"Terima kasih sudah hadir," ucap Dion.
"Aku yang seharusnya berterima kasih. Kalian mengundang kami di acara bahagia ini. Oh ya selamat buat perusahaan barunya ya!" ucap Danu sembari mengulurkan tangannya.
Dion menjabat uluran tangan Danu dan mengucapkan terima kasih. Dari kejauhan Reza sedang menggunakan ponselnya untuk mengabadikan momen keduanya.
Kamu ngapain sih Za? Awas aja kalau macam-macam. Aku sikat kamu, Za.
Reza yang sudah tahu kekesalannya malah menggooda Dion dengan mengulurkan lidahnya sembari menahan tawa.
Mia melihat Danu dan Dion duduk satu meja. Hal itu menimbulkan pertanyaan. Hatinya gelisah. Ia takut jika keduanya tengah berseteru. Mata Mia pun segera mencari keberadaan Reza. Namun saat Reza mengangkat jempol tangannya, Mia yakin kalau semuanya baik-baik saja.
"Aman," ucap Reza dari kejauhan.
__ADS_1
Tidak terasa waktu terus berjalan. Akhirnya acara benar-benar berkakhir. Sindi dan Danu pamit. Keluarga Mia pun bersiap untuk pulang. Narendra dan Naura yang ikut menghadiri haru bahagia itu kini dalam gendongan Mia dan Dion. Selama acara berjalan, kedua anak kembar itu tidak rewel sama sekali. Sepertinya mereka ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh kedua orang tuanya.