Janda Bersegel

Janda Bersegel
Jangan ngintip, nanti bintitan


__ADS_3

"Permisi Tuan," ucap seseorang dengab jas putihnya.


"Oh ya. Silahkan masuk. Tolong periksa dia," ucap Dion menunjuk Mia.


Hah? Dia ke sini bawa dokter? Apa jangan-jangan dia sengaja ingin menyuntik mati Mia? Dzolim sekali Anda Tuan, Mia tidak menyangka kalau Anda sejahat itu. Huhu


"Mi-Mia baik-baik saja, Tuan. Mia sembuh. Jadi tidak perlu di suntik," ucap Mia gugup.


"Siapa yang mau menyuntikmu? Aku memintanya untuk memeriksa keadaanmu. Itu saja," ucap Dion.


"Janji ya?" ucap Mia mengangkat jari kelingkingnya.


Apa-apaan janda aneh ini? Haruskah? Ini norak sekaliii. Cih.


"Janji," ucap Dion malas sembari mengangkat jari kelingkingnya juga.


"Baiklah, ayo Dokter!" ucap Mia sembari berdiri.


"Hey mau kemana?" tanya Dion.


"Ke kamar," jawab Mia.


"Mau apa?" tanya Dion.


"Diperiksa," jawab Mia.


"Tidak harus di kamar. Bisa di sini. Kembali duduk!" perintah Mia.


"Tapi kan lebih baik jika pemeriksaan dilakukan sembari telentang. Bukan begitu, Dokter?" tanya Mia.


Ini sih aku yang kena sasaran kalau sampai salah jawab.


"Biasanya begitu, tapi bisa dilakukan di sini jika Tuan tidak menghendaki." Dokter itu cari aman.


"Ya sudah, ayo ke kamar!" ajak Dion yang berjalan lebih dulu.


Mohon maaf pak. Tapi ini rumah kontrakan saya. Kenapa Anda bertindak seolah-olah Tuan rumah?


Tak ingin banyak berdebat, Mia mengikuti Dion untuk masuk ke dalam kamarnya.


Dion tak melepaskan pandangannya dari tangan dokter itu. Sepertinya ia tidak rela saat ada yang menjamahnya.


Sudah cukup dua suamimu dulu yang menyentuhmu Mia. Sekarang hanya aku yang boleh menyen.... Eh tidak Dion. Pernikahanmu hanya karena kalah taruhan dari Reza. Kamu bahkan boleh menikah lagi, karena Mia sudah mengizinkanmu. Tapi Mia? Ah tidak. Aku tidak mencintainya. Aku hanya peduli saja padanya. Kepedulian pada karyawannya. Hanya itu.


Setelah selesai diperiksa, dokter memberikan tiga jenis obat yang harus dikonsumsi oleh Mia. Dion nampak sangat menyimak penjelasan dari dokter itu mengenai hal yang boleh dan tidak boleh Mia makan dan kerjakan. Rasanya Dion justru ingin terlibat dengan jauh.


"Tetaplah tidur, aku akan mengantarkan Dokter," ucap Dion saat melihat Mia hendak bangun.


Mia mengangguk dan kembali berbaring.


"Aku pulang. Nanti aku kirim makanan. Sekarang istirahatlah. Cepat sembuh ya!" ucap Dion sambil menyelimuti Mia.


"Tuan," panggil Mia.


Dion yang sudah sampai ke ambang pintu kamar, kembali menghampiri Mia.


"Ada apa? Jangan bilang kalau kamu masih sangat merindukanku," ucap Dion.


Mia menggeleng. "Mia hanya ingin berterima kasih. Setelah Sindi, ternyata Mia menemukan orang yang peduli pada Mia. Terima kasih," ucap Mia dengan mata yang berlinang.


"Bagaimana aku tidak peduli? Kamu itu calon istriku Mia," ucap Dion yang menatap Mia lekat.


Dion, sadarlah. Apa yang sudah kau katakan. Kau sudah menjatuhkan harga dirimu.


"Ya paling tidak kau harus sehat, karena harus menemui orang tuaku. Ingat jangan katakan kalau ini pernikahan yang konyol ya!" ucap Dion.


Dion sengaja menegaskan kalau pernikahannya hanyalah sebuah kekonyolan. Untuk apa? Tentu untuk menutupi harga dirinya yang di atas segalanya itu.


"Kapan Mia bertemu dengan orang tua Anda, Tuan? tanya Mia.


"Setelah kau sehat, kita ke sana dulu ya! Karena pernikahan kita akan ditunda sebulan lagi, kau bisa kembali ke sini sebelum pernikahan itu dilangsungkan," jawab Dion.


"Kalau seandainya orang tua Anda tidak menerima Mia? Pernikahan kita batal, kan? Dan itu bukan salah Mia. Jadi Mia tidak dihukum kan?" tanya Mia.


"Enak saja. Itu tugas kamu! Aku tidak mau tahu, pokoknya kamu harus bisa membuat orang tuaku menerimamu," jawab Dion.


"Tapi Mia sadar diri, Mia kan hanya karyawan pabrik di perusahaan Anda. Belum lagi status Mia sebagai seorang janda. Itu pasti akan Membuat orang tua Anda semakin sulit untuk menerima Mia," ucap Mia.


"Itu bukan urusanku. Semuanya tugasmu Mia. Kau yang harus menyelesaikan tugasmu itu," ucap Dion.


"Atau begini saja. Tuan tinggal katakan pada teman Tuan, kalau ternyata tidak diizinkan oleh orang tua Anda. Kan taruhannya bisa dibatalkan," ucap Mia.


Enak saja main batalkan. Apa hak mu Mia. Dasar kamu, janda tidak tahu diuntung.


"Bisa sih, tapi masalahnya," ucap Dion menggantung kalimatnya.


"Tapi masalahnya apa?" tanya Mia.


"Masalahnya kalau taruhannya batal, maka sebagai ganti aku harus memiliki anak dari kamu. Ya, lebih enak begitu sih. Jadi aku selesaikan taruhanku, tanpa ribet berurusan dengan orang tuaku." Dion berhasil membuat Mia menatapnya dengan lekat.


Ayooo.. masih berharap memenangkan permainan ini? Aku tidak bisa semudah itu melepaskanmu Mia. Sekalipun nanti, papa dan mama akan akan menolakmu Mia.


"Bagaimana? Pilih yang mana?" tanya Dion.


"Eh, pilih yang pertama saja. Enak saja mau anak dari Mia tapi gak nikahin Mia. Memangnya Mia kambing apa?" ucap Mia kesal.

__ADS_1


"Bagus. Istirahatlah. Cepat sembuh dan segera selesaikan tugasmu ya!" ucap Dion yang menepuk pelan kepala Mia.


"Terima kasih, Tuan." Mia tersenyum lebar.


Tuan, terima kasih. Ternyata Anda masih punya perasaan juga ya! Walaupun Anda tidak selucu ikan cup4ng, tapi Anda masih lucu seperti ikan lumba-lumba kok.


Mia tidur saat Dion sudah keluar dari kamarnya. Belum sampai satu jam, Mia harus bangun karena Sindi sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Sin," ucap Mi terkejut.


"Maaf ya! Aku gak ketuk pintu dulu. Aku tahu kamu lagi tidur, jadi langsung masuk aja soalnya pintu gak dikunci. Maaf ya!" ucap Sindi.


"Gak masalah. Mia hanya terkejut saja karena tidak biasanya kamu seperti ini," ucap Mia.


"Tapi aku sudah dapat izin dari Tuan Dion kok," ucap Sindi.


"Tuan Dion?" tanya Mia.


"Iya, Tuan Dion menyiapkan ini untukmu. Katanya jangan ganggu istirahatmu. Begitu," ucap Sindi menunjukkan makanan yang sangat bnyak di kamarnya.


Tuan Dion, makanannya banyak sekali. Syukurlah. Ini bisa menghemat pengeluaran Mia. Hehe


"Mia, sepertinya hidupmu akan segera berubah." oceh Sindi sambil membuka makanan dan buah yang harus disantap Mia.


"Maksudnya gimana?" tanya Mia.


"Sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Dion. Kamu akan jadi istri pemilik perusahaan di tempat kamu bekerja. Nanti kalau sudah menikah, jangan lupakan aku ya Mi. Kabari aku setiap kali kamu sedih. Ah tapi tidak, aku yakin hidup bersama Tuan Dion tidak akan membuatmu sedih," ucap Sindi.


Sin, kamu tidak tahu kenyataan hidup Mia yang begitu rumit. Tapi maaf, Mia tidak bisa cerita. Tuan Dion pasti marah kalau ada yang tahu alasan pernikahan ini.


"Sin, kamu tidur saja. Nanti malam kan kamu kerja. Jangan sampai kamu dihukum gara-gara ngantuk pas lagi kerja," ucap Mia yang mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Dion.


"Aku libur dong," jawab Sindi.


"Kok bisa. Memangnya besok tanggal merah ya?" tanya Mia.


"Gak tanggal merah. Cuma Tuan Dion memberi aku libur selama kamu masih sakit. Jadi kerjaanku sekarang jadi babysitter kamu Mia. Ah Tuan Dion itu sweet sekali. Kalau ada sisain buat aku satu Tuhaaaan," ucap Sindi.


"Serius?" tanya Mia.


"Serius. Aku harus menginap di rumah kamu. Menemani dan mengurusmu. Tanpa dipecat dari pabrik, plus dapat bonus tiga kali lipat gaji. Gimana gak bahagia jadi aku? Makanya kamu kalau ada apa-apa jangan sungkan bilang sama aku ya! Kalau aku bisa milih, aku mending kerja buat ngurusin kamu saja lah dari pada di pabrik," ucap Sindi dengan senyum lebarnya.


"Hussst, jangan kebanyakan mimpi. Mia juga masih kerja di pabrik kok," ucap Mia.


Walaupun sebenarnya, Mia memang sudah dilarang kerja di pabrik, namun Mia menolaknya. Rasanya Mia belum bisa menerima kenyataan kalau dirinya akan dinikahi oleh Dion, tapi hanya sebagai bahan taruhan.


"Tapi Mi, aku yakin Tuan Dion akan sangat mencintai kamu. Kamu beruntung banget Mi," ucap Sindi sambil berteriak kegirangan.


"Apaan sih?" ucap Mia sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Pasti buat ngontrol kerja karyawannya. Kamu tahu kan kalau dia itu hobbynya marah-marah terus. Sebentar lagi juga kepalanya pasti beruban," ucap Mia.


"Hahaha, kamu ini Mi. Bukan itu, Tuan Dion sengaja ke pabrik karena kangen sama kamu. Eaaaa," goda Sindi.


Benarkah? Modus And Tuan. Mia yakin Anda sudah rindu sama Mia karena tidak ada yang bisa menyenangkan Anda selain memarahi Mia. Mia sumpahin jatuh cinta beneran sama Mia.


"Ah kamu ini Sin. Sudah lah, mana makanannya? Mia mau minum obat nih," ucap Mia.


"Astaga, sampai lupa aku." Sindi segera menyiapkan makan siang untuk Mia.


Seperti yang diperintahkan oleh Tuan Dion, Sindi benar-benar melayani Mia layaknya seorang ratu. Sindi menyuapi Mia dan tidak memperbolehkan Mia mengerjakan apapun.


"Apaan sih Sin, sini biar aku saja." Mia hendak mengambil semangkok bubur dari tangan Sindi.


"Jangan begitu dong Mi. Masa kamu gak sayang sama aku sih? Kamu gak mau kan kalau bonus dari Tuan Dion diambil lagi? Aku lagi butuh uang loh ini, buat orang tuaku di kampung." Sindi memohon karena sudah tahu kelemahan Mia.


"Tapi kan tidak ada Tuan Dion di sini?" ucap Mia yang masih berusaha untuk mengambil mangkok bubur dari tangan Sindi.


"Tapi kan Tuan Dion bisa tahu meskipun tidak melihat langsung," ucap Sindi.


Benar juga. Mungkin dia kerja sama dengan cicak kali ya bisa sampai tahu urusan orang. Heran deh sama orang kaya yang sibuk ngurusin hidup orang.


"Ya sudah ayo lanjut lagi," ucap Mia.


Dengan pasrah Mia membiarkan Sindi menyuapinya hingga makan siangnya selesai. Bahkan untuk minum saja Sindi tidak membiarkan Mia turun dari ranjangnya. Mia memanh risih, tapi di satu sisi Mia sangat terharu. Ia benar-benar diperlakukan sangat baik. Entah keberuntungan apa yang membuatnya bertemu dengan Sindi.


"Mia mau tidur, kamu pulang saja Sin." Mia mencari alasan agar Sindi bisa istirahat.


"Ya sudah kamu tidur saja. Aku tunggu di luar kan bisa. Kamu gak mau kan kalau bonus aku diambil lagi?" ucap Sindi.


"Iya, iya. Terserah kamu saja lah," ucap Mia pasrah.


Hari-hari berjalan lebih baik. Semua berkat obat dan dukungan dari Sindi.


"Sin, besok Mia mulai masuk kerja. Mia shift berapa ya?" tanya Mia.


"Yakin Mi?" tanya Sindi.


"Yakin. Mia sudah enakan. Lagi pula gak enak juga sudah seminggu bolos kerja," ucap Mia.


"Kamu gak enak, padahal aku enak loh Mi." Sindi tersenyum lebar.


"Ih, bahaya libur kelamaan. Bisa dipecat kita. Kamu tahu kan cari kerja jaman sekarang itu susahnya ampun-ampunan?" ucap Mia.


"Iya, iya. Ya sudah aku pulang dulu. Mau bobo cantik. Soalnya nanti malam mau balik jadi kuli lagi. Padahal sudah nyaman sama kerjaan baru," ucap Sindi.

__ADS_1


"Eh, apaan sih?" ucap Mia sambil mencubit pinggang Sindi.


"Haha... iya maaf. Ya sudah aku balik dulu ya!' ucap Sindi.


Mia menghabiskan malamnya dengan menulis di buku kesayangannya. Menceritakan semua rasa syukurnya karena sudah bertemu dengan sahabat yang sangat baik seperti Sindi.


Pagi ini Mia bangun lebih awal. Rasanya rindu juga setelah seminggu tidak menggunakan seragam kerjanya.


"Mau kemana kamu?" tanya Dion yang tiba-tiba berdiri di depan Mia.


"Ma-mau kerja," jawab Mia terkejut.


"Ganti bajumu!" perintah Dion.


"Sudah ada seragam baru ya Tuan?" tanya Mia.


Ya ampuuuuun, selalu harus detile saat bicara dengannya.


"Hari ini aku akan membawamu menemui orang tuaku," jawabnya dengan sikap dingin.


"Oh," jawab Mia.


"Oh?" tanya Dion.


"Loh terus harus gimana?" tanya Mia.


"Cepat ganti bajumu," ucap Dion.


"Oh iya baik," ucap Mia.


Saat menyadari Dion mengikutinya, Mia mendorong Dion dan segera mengunci pintunya.


"Tuan tunggu diluar saja," jawab Mia.


"Hey Mia, Mia," ucap Dion kesal.


Selesai mengganti pakaian, Mia membuka pintunya dan menyapa Dion dengan senyuman manisnya.


Ah, kamu cantik sekali Mia. Hey Dion, sadarlah. Sembuhlah dari kegilaan ini.


"Nih," ucap Dion memberikan sebuah goodiebag pada Mia.


"Apa ini?" tanya Mia.


"Ganti bajumu! Aku tidak menyuruhmu menggunakan baju norakmu itu," ucap Dion kesal.


"Loh, kenapa tidak dari tadi sih Tuan?" ucap Mia yang tak kalah kesalnya.


"Kamu yang mendorongku dan mengunci pintunya. Bukan salahku. Cepat ganti bajumu!" ucap Dion sambil melirik pergelangan tangannya.


Iya, iya.. Mana mungkin sultan salah. Semuanya Mia yang salah.


"Jangan ngintip. Nanti bintitan," ucap Mia.


"Hemmmm," jawab Dion.


Ngapain aku harus ngintip kamu? Sebulan lagi, aku bisa dengan bebas menatapmu sepuasnya. Ah benarkah? Tidak Dion, ini hanya taruhan saja. Mia bukan jodohmu yang sesungguhnya. Tuhaaaan, tolong angkat penyakit gilaku ini. Ku mohooon.


"Ayo!" ajak Mia.


Waw, aku tidak pernah melihat wanita secantikmu sebelumnya Mia. Kamu benar-benar membuatku gila.


"Tuan, ayo!" ajak Mia.


"Eh, iya. Ayo berangkat!" ajak Dion.


Perjalanan yang jauh membuat Mia nampak tidur. Mia tidak menyadari kalau kepalanya bersandar di bahu Dion, dan Dion menikmati semua ini.


"Sudah puas tidur di bahuku? Atau masih mau semalaman lagi?" tanya Dion.


Mia menggisik matanya. Ia mulai menggeliat dan menguap.


"Ish, tidak bisakah kau bersikap lebih anggun Mia?" tanya Dion.


"Maaf, Tuan. Dimana ini?" tanya Mia.


Bahkan saking tidak pedulinya, Mia tidak bertanya dimana keberadaan orang tua Dion.


"Di neraka," jawab Dion.


Maaf Mia, tapi untuk sementara kamu pasti akan diperlakukan tidak nyaman di sini. Tapi aku janji akan selalu melindungimu.


"Memang Tuan pernah ke neraka ya? Pasti cocok deh buat Tuan," jawab Mia.


"Kurang ajar! Ayo cepat turun!" ucap Dion.


Ya, ini memang neraka baru untuk Mia. Tak apa Mia. Tenang. Kamu sudah banyak makan asam garam kehidupan. Kamu pasti bisa melewati semua ini. Paling juga diperlakukan jadi pembantu. Oh, itu tidak masalah. Mia jagonya. Semnagat Miaa.


###################


Yuks jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5.


Terima kasih sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


Terima kasih..


__ADS_2