Janda Bersegel

Janda Bersegel
Perpisahan


__ADS_3

Sindi yang baru saja sampai di pekarangan rumah Dion, merasa tak enak hati. Ia gelisah. jantungnya berdebar kencang saat akan bertemu dengan Mia. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya Mia padanya.


Baru saja ia membuka pintu, Mia sudah berteriak memanggil namanya.


"Sindi," panggil Mia.


Mia menghambur memeluk Sindi. Ada air mata yang membasahi bahu Mia. Seketika tubuhnya kaku, bibirnya kelu. Sindi tidak bisa berkata apapun. Hatinya tengah bergelut antara rasa bersalah dan penyesalannya.


"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Mia sembari mebgusap kedua pipinya.


"Gak kok Mi. Kamu jangan nangis. Aku kan jadi gak enak," ucap Sindi.


Sindi semakin tidak enak saat melihat Nyonya Helen dan Tuan Wira menghampirinya.


"Sindi, ayo kita ke dokter!" ajak Nyonya Helen.


"Tidak usah Nyonya. Aku udah minum obat dan sekarang juga udah mendingan. Maaf membuat kalian khawatir," ucap Sindi.


"Kamu tinggal di sini untuk menemani Mia. Bagian dari keluarga ini. Bukan pelayan atau pekerja. Bersikaplah kalau kita adalah sebuah keluarga. Jangan sampai ada kesan kami membeda-bedakan kalian," ucap Tuan Wira.


Sindi menunduk. Ia tidak bisa menahan air matanya. Rasa bersalah dan penyesalannya semakin besar sejalan dengan banyaknya orang yang khawatir padanya.


"Tidak Tuan. Aku tidak merasa Tuan dan Nyonya membeda-bedakan. Aku merasakan kasih sayang kalian secara tulus. Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian. Aku hanya ingin belajar mandiri. Itu saja, tidak lebih." Sindi berusaha menjelaskan alasannya pulang sendiri.


Mungkin itu memang bukan alasan utamanya, namun ia tidak bohong dengan ucapannya. Ia memang benar-benar ingin belajar mandiri.


"Sudahlah, biarkan dulu Sindi istirahat," ucap Tuan Felix yang kemudian ikut menghampiri Sindi.


"Biar aku yang antar. Ayo kak!" ajak Rian.


Sindi mengangguk dan pergi bersama Rian. Meninggalkan mereka yang sudah sempat khawatir atas keadaan Sindi.


Rian ikut masuk ke kamar Sindi dan menutup pintu kamarnya. Sindi yang merasa heran dengan sikap Rian, mengernyitkan dahinya.


Kenapa Rian tidak keluar? Begitu mungkin pertanyaan yang ada di kepala Sindi.


"Kak, gimana tadi?" tanya Rian.


"A-apanya yang gimana?" tanya Sindi gugup.


"Ketemu gak sama monster gantengnya?" tanya Rian.


"Bukan monster ganteng, Rian. Dia itu monster galak," jawab Sindi.


"Iya apapun itu. Tapi tadi ketemu kan?" tanya Rian.


"Kok kamu tahu?" tanya Sindi.


"Jadi bener Kakak pergi buat nemuin dia kan?" tanya Rian.


Sindi menutup mulutnya dan menggelengkan kepalanya. Berusaha membantah apa yang sempat diakuinya.


"Jujur aja Kak," ucap Rian.


Setelah lama berpikir, akhirnya Sindi mengakui semuanya pada Rian.


"Lagian kamu tahu dari mana sih?" tanya Sindi.

__ADS_1


"Ya aku sih cuma nebak aja," jawab Rian.


Sindi cemberut saat ia terpancing oleh pertanyaan menjebak dari Rian.


"Rian, jangan sampai ada yang tahu ya!" pinta Sindi.


"Kenapa Kakak gak jujur aja sih sama Kak Mia?" tanya Rian.


"Jangan! Aku takut Mia kecewa. Aku dipanggil ke sini buat menemani Mia oleh Tuan Dion. Kalau sampai ketahuan aku malah ketemuan sama si monster galak itu, Tuan Dion pasti kecewa." Sindi nampak khatwatir.


"Bukannya Kak Mia akan jauh lebih kecewa kalau tahu Kakak bohong sama Kak Mia? Kakak gak takut kalau semua itu terjadi?" tanya Rian.


Sindi bungkam saat mendengar pertanyaan Rian. Tentu ia takut jika semua itu terjadi. Namun Sindi tidak punya pilihan lain.


"Kak," panggil Rian.


"Gak tahu ah. Lagi pula Mia gak perlu tahu. Ini juga aku gak tahu arahnya kemana. Mungkin tadi juga pertemuan yang terakhir sama dia," ucap Sindi.


"Kok sedih Kak? Ngarep ketemu terus ya?" gida Rian.


"Ih Rian, kamu ngeselin." Sindi melempar Rian dengan bantalnya.


Rian hanya tertawa dan keluar setelah puas menggoda Sindi. Yang terpenting Rian tahu bagaimana suasana hati Sindi saat ini.


Dalam kamarnya, Sindi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Berusaha melupakan semua bayangan Danu yang selalu memenuhi kepalanya.


Sementara di tempat lain, hal yang sama juga terjadi pada Danu. Danu juga berusaha melupakan bayangan Sindi yang menghiasai kepala dan hatinya. Terlebih saat kejutan Sindi untuk Nyonya Nathalie, itu menjadi kesan terbaik untuknya.


Aku gak tahu apa mungkin kini posisi Mia sudah tergeser olehmu?


Kini bertemu dengan Dion pun tidak menjadi beban sama sekali baginyan. Saat ini Danu benar-benar tidak mengerti akan perasaannya.


"Tapi statusku duda. Belum tentu dia mau padaku," gumam Danu.


Danu yang selama ini iri pada Dion, pria yang berhasil membuat Mia jatuh cinta. Kini perlahan rasa iri itu pergi, seiring ia yang merasa kalau Sindi mungkin akan membalas cintanya.


Ah cinta? Tidak! Danu mengelak. Ia selalu meyakini kalau tidak ada cinta diantara mereka. Ia tidak ingin kembali merasakan kecewa hanya karena cinta.


Dibawah langit yang sama, Dion justru sedang pusing dengan tingkah rekan bisnisnya. Bertele-tele mungkin bagi Dion. Karena ia tidak suka menghabiskan waktu terlalu banyak dengan orang baru. Apalagi sampai mengganggu acara keluarganya seperti hari ini.


Lagi-lagi hanya Mia yang membuatnya sabar menghadapi rekan kerjanya itu.


"Semua demi kamu Mia," gumam Dion.


Dion pulang hingga larut malam. Namun rasa lelahnya terobati saat Mia masih bangun dan menyambutnya. Mia berusaha menyembunyikan rasa ngantuknya.


Dion yang sudah mandi melambaikan tangannya agar Mia mendekat. Mia yang sedang bersandar di ujung ranjang, turun dan mendekat. Ia duduk tepat di samping suaminya, di atas sofa.


Dion membawa kepala Mia agar bersandar padanya. Mia merasakan sebuah kenyamanan yang tak terhingga saat berada di posisi seperti itu.


"Kamu belum tidur?" tanya Dion.


"Belum ngantuk A," jawab Mia.


"Oh ya bagaimana acara tadi?" tanya Dion.


"Seru a. Hanya saja Sindi pulang lebih dulu," jawab Mia.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Dion.


Mia menceritakan semua yang terjadi. Tanpa ia tahu kalau ia sedang menceritakan kebohongan yang sudah Sindi lakukan padanya.


Dion mendengar dan menanggapi semua cerita Mia. Setelah Mia selesai, kini giliran Dion yang bercerita. Ia mengeluh atas sikap yang menurut Dion tidak menyenangkan dari rekan kerjanya.


Awalnya Mia menyimak dan sempat menanggapi cerita Dion. Namun semakin lama Dion bercerita, suara Mia semakin pelan bahkan tidak ada lagi suara selain suara dirinya.


"Mia," panggil Dion.


Tidak ada sahutan dari Mia. Dion membungkukan kepalanya dan melihat Mia sudah tidur. Kepalanya masih bersandar di bahu Dion.


Lucu, begitu reaksi Dion saat melihat Mia tidur. Dengan pelan, Dion mengangkat tubuh Mia dan memindahkannya ke atas ranjang. Menyelimutinya dan mengecup lembut dahinya.


Kamu pintar menyembunyikan apa yang kamu rasakan. Pura-pura belum ngantuk hanya karena ingin menemaniku. Terima kasih Mia.


Dion menatap lekat wajah Mia yang tidur lelap tanpa polesan make up sedikitpun. Tidak mengurangi kecantikan Mia, Dion merasa jika Mia akan tetap cantik, bahkan ketika tidur seperti ini sekalipun.


Dion menahan tawanya saat melihat cara tidur Mia. Tangan yang sempat Dion rapihkan, tiba-tiba terangkat dan kaki yang mengangkang. Mulut yang sedikit terbuka dengan dengkuran kecilnya.


"Kamu kalau lagi tidur lucu," gumam Dion.


Dion ikut merebahkan tubuhnya di samping Mia. Kembali merapikan kaki dan tangan Mia. Menguncinya dengan kaki dan tangan Dion, hingga mereka benar-benar tidur nyenyak malam ini.


Pagi hari mereka bangun dengan aktivitas yang hampir sama. Begitulah hari demi hari mereka lalui. Sampai tiba waktunya kepergian Tuan Felix dan Rian ke Jerman. Pagi ini diselimuti haru dari Mia dan Sindi, karena perpisahan dengan orang yang terkasih akan mereka alami.


Mia yang paling sedih saat ditinggal Tuan Felix menangis cukup keras saat berusaha mengungkapkan perasaannya. Sementara Sindi sedih saat ia kehilangan Rian. Teman curhat yang terlanjur tahu banyak hal tentang dirinya. Terutama tentang cerita cintanya dengan monster galaknya itu.


"Mia, jangan menangis. Papa tidak pergi. Papa ada di hati kamu," ucap Tuan Felix.


"Pa, jaga diri baik-baik ya! Maaf Mia gak bisa nemenin Papa. Mia sayang sama Papa," ucap Mia.


Pelukan erat Mia mendarat pada Tuan Felix. Dengan penuh kasih sayang, Tuan Felix mengusap Mia dan menenangkannya. Meskipun Mia masih menangis, namun sudah sedikit mereda.


"Rian, aku titip Papa ya! Sayangi Papa seperti kamu menyayangi Bapak," ucap Mia.


"Kak Mia jangan khawatir. Aku akan selalu menyayangi Tuan Felix sebisaku," ucap Rian.


"Terima kasih," ucap Mia.


"Rian," ucap Sindi.


"Aku akan rindu sama Kak Sindi," ucap Rian.


Rian dan Sindi berpelukan melepas rasa harunya. Tangis Sindi membasahi bahu Rian. Rian yang sudah menganggap Sindi sebagai Kakaknya sendiri, berusaha menenangkannya. Meyakinkannya pada Sindi kalau jarak raga saja yang berjauhan. Namun jiwa mereka akan tetap bersama.


######################


Terima kasih buat support dan komentar kalian. Sehat-sehat ya semuanya.


Jangan lupa like, love, vote, dan kasih bintang 5 ya.


Terima kasih buat kalian yang sudah baca novel ini.. Semoga suka..


Terima kasih juga buat yang udah kasih koinnya buat novel aku iniii. 😍😍


Yang punya waktu boleh baca juga ke novelku yang lain, TERJEBAK CINTA WANITA BERCADAR.

__ADS_1


__ADS_2