Janda Bersegel

Janda Bersegel
Tersisih


__ADS_3

"Kenapa sih? Kok mukanya kesel begitu?" tanya Sindi saat Danu sudah masuk lagi ke dalam kamarnya.


"Gak apa-apa," jawab Danu.


Sebuah bantal ia ambil dan digunakan untuk menahan kepalanya di atas sofa.


"Sini! Ngapain tiduran di situ? Gak mau deket-deket aku ya? Aku kan belum gendut. Tadi katanya aku tetap cantik buat kamu," ucap Sindi.


"Kata Papi sama gak boleh ganggu kamu. Aku sebenarnya senang sih kamu lagi hamil begini. Tapi kok kadang aku ngerasa jadi kayak anak tiri ya?" tanya Danu.


"Kayak anak tiri gimana?" tanya Sindi.


"Tersisih," jawab Danu.


"Ya ampun. Kamu itu udah mau jadi bapak. Masa begitu aja ngambek? Malu nih sama dede bayi," ucap Sindi sembari mengusap-usap perutnya.


Sindi menghampiri Danu dan duduk di samping Danu. Danu segera bangun dan memeluk Sindi.


"Sehat-sehat ya! Biar aku gak diomelin Mami dan Papi," ucap Danu.


Sindi tertawa dan mengiyakan. Ia sebenarnya wanita yang kuat. Hanya saja kemarin-kemarin ia sempat tidak nafsu makan hingga mengalami pingsan. Dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga kesehatannya.


"Siapa lagi tuh?" tanya Danu saat mendengar ponsel Sindi berdering.


"Aku cek dulu," ucap Sindi.


Saat Sindi hendak berdiri, Danu mencegahnya.


"Biar aku saja. Kamu tetap duduk di sini," ucap Danu.


"Siapa?" tanya Sindi saat Danu menatap layar ponselnya.


"Rian," jawab Danu.


"Sini," pinta Sindi dengan wajah yang sangat girang.


Danu memperhatikan sikap Sindi saat menelepon dengan Rian dan Tuan Felix. Mereka mengucapkan selamat atas kehamilan Sindi.


Kalau sama mereka kok Sindi kelihatan bahagia banget ya? Kayaknya beda banget sama aku. Apa aku udah mulai ngebosenin kali ya?


"Udah?" tanya Danu basa basi saat Sindi selesai menelepon tapi bibirnya masih tersenyum lebar.


"Udah," jawab Sindi.


"Kamu seneng?" tanya Danu.


"Seneng dong A. Mereka itu orang yang udah aku anggap sebagai Papa dan adik aku sendiri," ucap Sindi.

__ADS_1


"Baguslah," ucap Danu dengan malas.


"Kok gitu sih?" tanya Sindi.


"Gitu gimana?" tanya Danu.


"Ah, kamu ngeselin." Sindi tiba-tiba marah dengan sikap cuek Danu.


Kehamilan Sindi rupanya membawa kehidupan rumah tangga mereka naik turun seperti rollercoster. Membuat keduanya marah dan cemburu tidak jelas lalu tiba-tiba merindu dan ingin bermanja.


Ngidam Sindi yang aneh dan menyebalkan pada akhirnya bisa Danu taklukan. Semua yang Sindi inginkan memang selalu dipenuhi oleh Danu meskipun melewati drama yang panjang. Belum lagi Nyonya Nathalie dan Tuan Ferdinan yang selalu menbambah beban Danu saat Sindi sedang hamil.


Hanya saja, ada yang berbeda pada Nyonya Helen. Wanita yang bisa disebut sebagai musuh bebuyutan Nyonya Nathalie itu justru nampak lebih sabar dan bijaksana saat Sindi sedang hamil. Banyak perseteruan diantara keduanya, namun Nyonya Helen selalu mengalah dan memilih tidak meladeni Nyonya Nathalie.


"Nyonya, maafkan ibu saya. Mungkin itu hanya karena Mami sangat takut kasih sayang Sindi terbagi," ucap Danu.


"Gak masalah. Ini pengalaman pertamanya mau punya cucu. Aku juga dulu begitu," jawab Nyonya Helen dengan begitu santai.


Danu sampai tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Padahal biasanya Nyonya Helen paling anti jika harus kalah saat berdebat dengan Nyonya Nathalie. Danu pun penasaran dengan apa yang membuat Nyonya Helen berubah.


Ternyata Nyonya Helen itu sangat baik. Dia sampai mengalah hanya karena takut Sindi merasa terbebani dengan pertengkaran sama Mami. Aku harus bicara sama Mami.


Danu tidak enak juga jika setiap kali Nyonya Helen main ke rumahnya namun selalu saja berseteru. Ia tidak ingin membebani Nyonya Helen terlalu berat dengan ulah Nyonya Nathalie. Ia harus bicara dengan ibunya. Karena bagaimanapun, Nyonya Helen akan menjenguk Sindi paling tidak seminggu tiga kali.


"Mi, jangan gitu sama Nyonya Helen. Dia juga kan calon oma opanya. Mami gak kasihan sama Sindi? Sindi sedih loh kalau Mami cari gara-gara terus sama Nyonya Helen," ucap Danu.


"Mi, Nyonta Helen sama sekali tidak mengancam Sindi dan kehamilannya," ucap Danu.


"Tapi kita gak tahu kalau dia datang bawa virus," ucap Nyonya Nathalie.


"Ya ampun Mami. Nyonya Helen itu sangt menjaga kebersihan," ucap Danu.


Danu selalu menjelaskan bahwa jika Nyonya Helen ngambek dan tidak mau menemui Sindi lagi, maka Sindi akan sedih. Bahkan bukan tidak mungkin jika Sindi akan marah pada Nyonya Helen.


Begitu terus, bujukan demi bujukan Danu akhirnya didengar oleh Nyonya Nathalie. Kesabaran Nyonya Helen mengahdapi Nyonya Nathalie akhirnya membuahkan hasil. Kini Nyonya Nathalie mulai mengerti dan berbagi kebahagiaan. Bahkan Nyonya Nathalie memberi kebebasan untuk memilih akan tinggal dimana pasca melahirkan.


"Biarkan Sindi bersama suaminya. Bagaimanapun pasca melahirkan itu butuh motivasi dari suami. Tapi jika Sindi mau ke rumah kami, pintu rumah akan selalu terbuka." ucap Nyonya Helen dengan begitu bijak.


"Nanti kalau kamu udah sembuh dari lahiran, kamu bisa kok sesekali nginep di rumah Nyonya Helen. Tapi jangan lama-lama ya Sin," ucap Nyonya Nathalie.


"Iya Bu," ucap Sindi dengan begitu bahagia.


Danu hanya bisa menarik napas panjang dan menggelengkan kepalanya. Kehamilan Sindi belum melewatin trimester pertama, tapi pembicaraan mereka seperti akan melahirkan besok saja.


Hari demi hari Danu lalui dengan penuh semangat dan bahagia. Setiap hari Danu melihat ponsel Sindi berdering. Baik Tuan Felix, Rian, Mia atau Maya bergantian mengabari dan memotivasi Sindi. Hal itu menjadi dukungan besar bagi Sindi.


"Kamu bersyukur bisa memiliki banyak teman dan keluarga yang menyayangi kamu," ucap Danu.

__ADS_1


"Semua teman dan keluargaku adalah teman dan keluargamu juga," ucap Sindi.


Danu tersenyum. Mungkin seperti itu, tapi pada kenyataannya Danu hanya memiliki Sindi dan kedua orang tuanya.


"Perut kamu makin besar. Bayi kita pasti udah kesempitan di dalam perut kamu," ucap Danu.


"Iya nih. Gerakannya aktif banget," ucap Sindi.


"Padahal hasil USG perempuan ya!" ucap Danu.


"Memangnya kalau perempuan gak boleh aktif?" tanya Sindi.


"Jangan mulai deh," ucap Danu saat mendengar pertanyaan Sindi dengan nada yang berbeda.


Kehamilan Sindi yang semakin membesar membuat Danu harus semakin bersabar. Menjaga ucapan dan tingkahnya agar tidak membuat Sindi marah dan berulah.


"Besok ke kantor?" tanya Sindi.


Danu diam sebentar. Ia mengingat jadwal apa yang ia lupakan dengan Sindi. Karena ia curiga jika itu adalah pertanyaan menjebak.


"Besok kan aku mau antar kamu ke dokter. Periksa kandungan. Masa kamu lupa sih?" tanya Danu dengan bangga saat ia ingat jadwal besok.


"Aku kira kamu lupa," ucap Sindi.


"Mana mungkin aku lupa soal anak kita," jawab Danu.


"Oh ya kamu sering ketemu sama Mia gak?" tanya Sindi.


"Sering sih gak. Cuma sempat beberapa kali ketemu pas acara kantor," jawab Danu.


"Mia sekarang makin sukses ya!" ucap Sindi.


"Kamu mau ketemu sama dia?" tanya Danu.


"Mia sibuk," jawab Sindi.


Ya, memang sibuk. Akhir-akhir ini Mia sedang sibuk mengelola perusahaannya. Sudah banyak sekali perusahaan lain yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Mia.


Nama Mia semakin dikenal dan melambung tinggi di dunia bisnis. Hal itu sampai ke telinga Tuan Felix dan Rian. Mereka bangga dengan pencapaian Mia.


"Aku udah bilang kalau Kak Mia itu memang pintar dan berbakat," ucap Rian.


"Iya. Aku bangga padanya. Kapan kamu libur sekolah?" tanya Tuan Felix.


"Dua bulan lagi. Kenapa pah?" tanya Rian.


"Kita harus ke Indonesia dan membuat kejutan untuk Mia. Oh ya, tanyakan sama Sindi kapan dia lahiran? Kita ke sana pas Sindi lahiran saja," ucap Tuan Felix.

__ADS_1


"Iya Pah, nanti aku tanyain ke Kak Sindi ya!" ucap Rian.


__ADS_2