
Adel menatap langit yang mulai mendung dari balkon kamar nya, Damian datang dan memeluk istrinya dari belakang, seperti nya Damian tau kalau saat ini Adel tengah galau memikirkan Tama.
Di satu sisi Adel menyukai Nur, perempuan cantik dan imut sudah pasti hidup Tama yang terkesan kaku akan lebih berwarna bersama Nur,tapi Adel juga harus memikirkan segi keturunan Nur,ada Haikal di sana,bahkan terlintas di benak Adel suatu saat Nur akan meninggalkan Tama,Nur datang dari kalangan berada dan jika terjadi pertengkaran semua keluarga kena imbas nya.
"Pa,aku ingin yang terbaik untuk Tama, menikah dengan saudara sendiri itu tidak akan baik untuk semua nya pa,baik Tama maupun keluarga besar" ujar Adel pelan
"Tapi itu kebahagiaan Tama sayang" jawab Damian mengecup tengkuk Adel pelan
"Kamu tau kan meskipun keluarga kita sudah berbaikan ada darah Haikal di tubuh Nur,ada kenangan pahit di kehidupan ku pa"
"Aku tau kamu masih menyimpan rasa trauma,aku tau kamu mencoba menutup luka yang terlanjur mengangga tapi jangan jadikan Tama dan Nur yang harus menanggung semua nya sayang,lagi pula Nur bukan anak Karin tapi April sahabat baik mu,didikan April cukup baik buktinya Satria saat ini tumbuh menjadi lelaki yang bijaksana" ujar Damian mencoba menjelaskan pelan pada Adel.
Adel menghela nafas panjang,di balik itu semua Adel tidak ingin berbesan dengan Haikal.
****
"Nur, Lusa aku mau ke Bandung bisa buatkan aku cake spesial?" tanya Bella
__ADS_1
"Buat om Dion tante?"
Bella mengangguk kan kepala nya pelan
"Dalam rangka apa?"
"Lusa Dion ulang tahun aku mau memberikan nya suprise dengan mendatangi nya ke Bandung diam-diam"
"Boleh,,besok aku akan antara kan kerumah tante pukul 7 malam " ujar Nur
"Terimakasih sayang,kamu memang keponakan terbaik ku" puji Bella mencubit kecil pipi Nur membuat perempuan cantik itu tersenyum manis
****
Tama menatap layar laptop nya tanpa berkedip,saat ini dirinya terlihat fokus pada pekerjaan tapi isi kepala nya tentang perjodohan.
"Pak....pak Tama" ucap Vania Sekretaris Tama
__ADS_1
"Pak...."pekik Vania membuat Tama sedikit terkaget dengan suara keras Vania
"Maaf....maaf pak,dari tadi saya panggil tapi bapak tidak mendengar"
"Tidak masalah, sorry saya yang tidak fokus"
"Jika bapak tidak enak badan pulang saja pak, biar saya yang menyelesaikan pekerjaan nya,lagi pula berkasnya di kirim lusa masih ada waktu" ujar Vania
Tama memijat keningnya sendiri kepala nya terasa sedikit berdenyut.
"Saya hanya butuh istirahat beberapa menit saja, setelah itu akan saya lanjutkan kembali" ucap Tama
Vania mendekat ketempat duduk Tama dan mencoba memijat pundak sang atasan nya ini, terlihat sedikit lancang tapi Vania terus berusaha mendekati Sang atasan nya ini.
"Biar saya bantu agar bapak sedikit lebih rileks" goda Vania, selama menjadi sekretaris Tama, Vania sudah berulang kali berusaha mencari cara agar Tama melirik nya tapi Tama seakan cuek,dia sulit sekali untuk di sentuh oleh wanita.
"Tidak usah, silahkan keluar" ujar Tama menepis tangan Vania membuat Vania sedikit gugup melihat penolakan Tama
__ADS_1
Dengan wajah kesal Vania segera keluar dari ruangan Tama.
Tama mengusap wajah nya kasar,apa dia harus menuruti semua permintaan mama nya untuk menikah dengan Vina sedangkan hatinya saat ini menyimpan rasa pada Nur.