
"Good morning" bisik Kiara pada Luna yang masih dengan mata terpejam. Bocah itu kini memindahkan kepalanya pada paha Kiara sebagai bantal sembari melingkarkan lengan kecilnya di pinggang Kiara.
Pagi ini Kiara memang sudah janji pada Luna akan mengantarkan nya kesekolah.
Kiara menerbitkan seulas senyum di bibirnya melihat Luna yang sangat merindukan kasih sayang seorang ibu,dan kini dia dapatkan dari Kiara.
"Ayo bangun sayang,mau berangkat ke sekolah kan" ucap Kiara lembut
Luna masih betah memeluk tubuh Kiara,tak ingin bangun dari pangkuan perempuan cantik ini.
"Ayo, bangun Un,Ini udah jam 7 pagi, Sayang. Kamu harus bangun kalau nggak mau terlambat," jelas Kiara seraya menepuk kecil bokong Luna sebanyak beberapa kali hingga anak itu terusik dari tidurnya.
Luna segera membuka matanya dan bangkit,dia mencium pipi Kiara lalu segera berjalan kearah kamar mandi,hal ini tidak luput dari pandangan Andre,Kiara perempuan yang cantik dan keibuan tapi Andre tidak yakin Kiara mau dengan dirinya.
"Una mau mama" pekik Luna di dalam kamar membuat Kiara yang sudah berada di luar segera berlari ke dalam kamar Luna.
"Ada apa Un?" tanya Kiara
"Una sudah bilang kalau mau mama yang pasangkan seragam Una tapi mbak Aida tetap memaksa dia yang pasangin ma!" ketus Luna tidak suka
"Mbak kenapa tidak panggil saya" ucap Kiara lembut
"Pak Andre melarang memanggil bu Kiara,kata nya Buk Kiara lagi sibuk di depan" jawab Mbak Aida menunduk takut
"Lain kali kalau ada saya panggil saya saja mbak" ujar Kiara dan di jawab anggukan patuh dari pengasuh Luna ini.
Kiara dengan telaten memasang kan seragam sekolah pada Luna,Kiara terlihat seperti ibu sungguhan untuk bocah lima tahun ini.
__ADS_1
"Sudah selesai ayo sarapan lalu berangkat" ucap Kiara menuntun Luna keluar kamar
Setelah sarapan Kiara mengambil tas Luna
"Salim papa nya Un,kita berangkat"
"Kita nggak pergi bertiga ma?" tanya Luna polos, selama ini yang ada di khayalan Luna adalah berangkat ke sekolah bertiga dan pulang di jemput oleh mama nya.
Kiara terdiam sejenak,dia bingung harus menjawab apa, karena dia datang ke rumah Andre mengendarai mobil nya sendiri.
"Bagaimana jika kamu ke kantor bersama ku Ki, mobil mu di letakkan di sini saja,nanti kita pulang bersama menjemput Luna" usul Andre membuat Luna tersenyum sedangkan Kiara masih terlalu canggung dengan hal ini,dia hanya menepati janjinya pada bocah ini untuk mengantarkan ke sekolah.
"Bagaimana Ki?" tanya Andre lagi dan di anggukki Kiara pelan
"Yes....ayo ma,pa kita berangkat" ajak Kiara berlari keluar
****
"Bagaimana pun cara nya gue harus bisa deketin tu cewek bro,sumpah gue penasaran" aku Devan pada Samuel dan Ardian
Tiga serangkai ini sedang menikmati makan siang nya di sebuah cafe, Ardian uring-uringan siang ini karena Nisa harus menemani papi nya Meeting dengan klien sedangkan Samuel bisa ikut karena Vivian sedang menemani mama nya belanja alhasil ketiga lelaki tampan ini duduk manis di sebuah cafe.
"Selesai penasaran terus loe buang gitu!" sindir Sam
"Gila loe Sam,ya gue sayang-sayang lah" jawab Devan sambil menyesap kopi capuccino nya
"Gue nggak yakin, pasti habis manis sempah di buang,loe kan gitu" potong Ardian sedikit terkekeh
__ADS_1
"Gue nggak sesadis itu bro,gue udah tobat... Sumpah!!!" ucap Devan mengangkat kedua jari tangan nya berbentuk V
"Sejak kapan seorang Devan bisa tobat?" tanya Samuel dengan nada mengejek
"Sejak di Bali bos,loe tau gue hampir mati di sana,nih anak asik pacaran aja nggak tau sepupunya hampir meregang nyawa" tunjuk Devan pada Ardian yang sedang tertawa kecil
"Pacaran??"
"Hmmm...sama Nisa, sumpah Sam gedek banget gue lihat ni ******,awal nya sok cool gitu,he makin kesini malah bucin sendiri, Nisa nggak mau malah dia yang nyosor mulu" cerita Devan
"Pacaran? sama Nisa?" tanya Samuel lagi,dia masih tidak percaya kalau mantan pacar nya itu di pacari sepupu nya
"Ya....gue mau melamar Nisa,Sam secepat nya" aku Ardian tanpa malu lagi, karena cepat atau lambat pasti itu akan terjadi dan semua nya akan tau kalau Nisa calon istri nya.
"Loe yakin sama Nisa,Ar?"
"Ya,, yakin 100% malahan,gue suka sama semangat nya Sam,Nisa-"
"Dia perempuan yang memiliki semangat tinggi dan mandiri" jawab Samuel tanpa sadar membuat Devan dan Ardian menatap sepupunya ini curiga,dari mana Sam bisa mengetahui Nisa.
"Gue tau dari papi Tama,bukan nya dia dulu pernah kerja di kantor loe" jelas Sam menatap Devan agar sepupu nya ini tidak salah paham
"Yuup,,,dulu sebelum ketemu sama perempuan pahlawan gue,gue sempat mikir buat deketin Nisa kalau Ardian nggak mau"
"Enak aja loe" pukul Ardian
"Cemburu ye,, segitu bucin nya, becanda doang,gue udah jatuh cinta sama perempuan pahlawan gue bro, tenang aja" jawab Devan cepat....
__ADS_1