Kau Khianati Aku, Ku Ambil Paman Mu

Kau Khianati Aku, Ku Ambil Paman Mu
Ayah


__ADS_3

Haikal menatap pemandangan sekeliling rumah, cukup Asri...!! jarang sekali pemandangan seperti ini di temukan di Jakarta,rumah yang tidak begitu besar,di lengkapi dengan beberapa tanaman buah di halaman rumah nya,dan ada kolam ikan di sebelah rumah cukup rapi tatanan nya.


"Menyenangkan" gumam Haikal pelan


"Terimakasih tuan,saya masuk dulu" ucap April


"Apa begitu cara mu berterima kasih pada orang yang sudah mengantar kan mu pulang,kalau saja aku berniat jahat bisa saja aku menculik mu dan minta tebusan" canda Haikal


"Tebusan pada siapa pak,tak akan ada orang yang mengkhawatirkan saya, justru jika tuan menculik saya akan menambah beban tuan"


"Bunda....." pekik bocah lelaki yang hampir seusia Satria


"Sayang,, kenapa keluar, kasihan nenek sendiri di dalam" ucap April


"Dia siapa? ayah..!!" ucap nya polos


"Sttttt.......bukan,jangan sembarang bicara,dia-"April menghentikan ucapannya karena memang dia tidak tau siapa nama Haikal


"Dia ayah bunda, Ayah Vino!!" kekeh Bocah ini dan membuat April tak enak hati,April segera mengangkat tubuh Vino yang hendak mendekat pada Haikal dan membawa nya kedalam rumah

__ADS_1


"Sayang....dia bukan ayah Vino,ayah Vino sudah tenang di surga" jelas April


"Tapi Vino mau ayah bunda, hikss.....hiks....ayah,kenapa ayah Vino di surga sedangkan teman-teman Vino punya Ayah" isak Vino


Ya,April berpisah dengan suami nya saat Vino masih berusia 8 bulan hingga saat ini mereka tidak pernah bertemu lagi jangan kan mengirimkan Vino uang sekedar melihat nya pun lelaki itu tidak pernah,April berjuang sendiri untuk keluarga nya, beruntung Vino anak yang baik dia mengerti cara menjaga nenek nya yang tengah sakit meskipun rumah selalu dalam keadaan berantakan saat April pulang tapi April tak pernah mengeluh.


Haikal melangkah kan kaki nya mendekat pada April dan bocah lelaki yang persis seperti Satria.


"Jangan menangis anak lelaki tak boleh menangis,siapa nama mu tampan?" ucap Haikal lembut mengulur kan tangan nya dan di balas uluran oleh bocah tersebut, terlihat jelas wajah sendu yang merindukan sosok ayah


Vino turun dari gendongan April dan mendekat pada Haikal.


"Maaf tuan,anak saya belum mengenal tuan" ujar April menarik tangan Vino dan menggendong nya kembali


"Tidak masalah anak seusia ini masih belum terlalu mengerti banyak,saya juga punya anak lelaki dan mungkin usia mereka hampir sama,siapa nama anak mu?"tanya Haikal


" Vino...." jawab April


"Anak seusia mereka memang hanya kenal bermain,saya memiliki anak lelaki juga"

__ADS_1


April mengangguk kecil ternyata lelaki di hadapan nya ini sudah menikah bahkan memiliki anak,ya mana ada lelaki tampan dan mapan yang lajang saat ini.


"Bun,mana janji bunda?" ucap Vino menatap April


"Astaga bunda lupa sayang,maaf kan bunda ya tapi besok bunda akan ke pasar untuk mencari nya" jawab April penuh sesal, semalam dia sudah berjanji kalau akan membelikan Vino mobilan kecil karena teman-teman nya semua memiliki mobilan kecil untuk bermain di teras depan rumah nya


Hari ini seharusnya April gajian dan jadwal nya membelikan obat untuk ibunya tapi semua berantakan karena dia harus di pecat, lagi-lagi air mata April menetes tanpa permisi mengingat perjuangan nya sia-sia.


"Bunda kenapa?" tanya Vino melihat April yang menitikan air mata


"Bunda kelilipan sayang" jawab April mengalihkan pandangannya


Haikal bisa melihat kesedihan yang terjadi pada April saat ini,ntah mengapa dia malah semakin tertarik mengetahui kehidupan perempuan ini,di mana suami April? kenapa dia membiarkan perempuan ini bekerja sendiri? apa yang terjadi dengan kehidupan perempuan ini?


Banyak pertanyaan demi pertanyaan di kepala Haikal tapi dia tak bisa gegabah karena dia belum mengenal perempuan ini bahkan untuk nama pun dia tidak tau.


"Seperti nya saya harus pamit dulu" ucap Haikal memecahkan lamunan April


April dan Vino mengantarkan Haikal hingga ke depan pintu,bahkan Vino melambai kan tangan nya seolah-olah sedang mengantar kan ayah nya di depan pintu,hati April semakin terisak melihat betapa Vino merindu kan sosok ayah,dia bahkan sering memperhatikan teman-teman nya yang sedang berjalan dengan ayah mereka.

__ADS_1


__ADS_2