
Satria membuka pakaian nya dan melirik kearah Vina sedang bermain ponsel di atas ranjang.
"Baru pulang?" tanya Vina basa-basi
"Hmmm....jam berapa kau pulang dari tempat Bella?" tanya balik Satria
"Sore,,aku lupa jam berapa" jawab Vina ketus
"Lagi pula aku pergi dengan keluarga mu,bukan orang lain,bukan nya semua nya sekarang kau yang atur"lanjut Vina
Satria berjalan kearah kamar mandi dengan mengenakan handuk putih di pinggang nya, sebenarnya asing bagi Vina tapi dia tak bisa berkomentar, Satria selalu berbuat semaunya.
"Oh ya lusa ada arisan keluarga"
"Keluarga siapa?" tanya Satria
"Keluarga kamu lah,kamu tau sendiri kan kalau aku tak punya keluarga di sini, selama ini aku hanya tinggal bersama-"
"Keluarga Tama, lebih tepatnya bersama Tama hingga kau jatuh hati pada nya dan menyerahkan diri mu hingga hamil" Sindir Satria dengan wajah sinis
"Aku tak seburuk yang kau kira Satria,aku bukan perempuan murahan"
__ADS_1
"Lalu apa?? pelakor murahan!"
Vina berdiri dan mendekat dengan Satria rasa nya pedih tiap kali Satria mengatakan nya pelakor dan tak memberikan nya kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Vina mendekat pada Satria yang hanya mengenakan handuk karena ingin segera mandi.
"Jangan mendekat pada ku" ujar Satria memberikan peringatan dengan telunjuk nya.
"Kenapa kamu takut,,,"tantang Vina
"Jangan buat aku menyakiti anak mu, menjauh" usir Satria mundur membuat Vina semakin maju menantang Satria,dia tak perduli lagi jika harus menyerahkan dirinya di tangan lelaki ini toh Satria memang suami nya hanya saja belum ada benih cinta di antara mereka.
"Bukan nya kamu mengakui kalau ini anak mu, ayo lah apa kau tak ingin merasakan tubuh pelakor murahan ini" goda Vina,dia berusaha mati-matian membuang jauh rasa malu nya .
"Aww......"Ringis Vina memegang bokong nya
"Maaf...maaf kan aku,aku sudah bilang menjauh kau masih saja berusaha mendekat. jangan memancing ku berbuat kasar,aku berusaha menghargai dirimu" ujar Satria mengulur kan tangan nya hendak membantu tapi di tepis Vina
"Aku bisa sendiri, Apa ucapan mu itu menandakan kau menghargai ku!
Satria segera pergi meninggalkan Vina,dia tak ingin malah memperkeruh suasana,dia pun merasa memang sedikit keterlaluan pada Vina tadi.
__ADS_1
Ponsel Satria dari tadi tak berhenti berbunyi membuat Vina penasaran dan mengangkat nya karena nomer yang muncul tak di kenal.
"Hallo"
"Hallo,bisa bicara dengan Satria"
"Hmmm,,, sedang di kamar mandi" jawab Vina santai
"Saya bicara dengan siapa?" tanya suara dari sebrang sana
"Saya...sa-ya is-"
"Kenapa mengangkat ponsel ku?" tanya Satria yang baru keluar dari kamar mandi membuat Vina segera meletakkan ponsel di atas ranjang.
"Ponsel mu terus berbunyi aku pikir mama,nanti kalau tidak di angkat mama khawatir"
"Jangan pernah mencampuri privasi ku,jangan karena kamu istri ku bisa berbuat seenaknya, aku hanya ingin memberikan ayah pada anak itu tanpa menyakiti adik ku,paham!" ujar Satria mengambil ponselnya yang sudah terputus
"Aku hanya-"
"Aku tak suka di bantah" potong Satria tegas membuat Vina mengepalkan tangannya kesal dengan lelaki dingin ini, Satria terus saja berkata kasar pada nya.
__ADS_1
Vina menghentak kan kaki nya kuat lalu segera keluar dengan membanting pintu kamar membuat Satria terkaget dan menghela nafas panjang,ntah kenapa setiap melihat Vina dirinya menjadi kesal mengingat anak yang ada di rahim Vina milik Tama,adik ipar nya.