
Devan melirik kiri-kanan saat baru sampai di bandara mencari sosok sepupu nya, seperti nya Ardian dan Anisa belum datang,apa dia yang terlalu pagi atau kah Ardian yang memang telat.
Tak berselang lama Ardian datang dan di ikuti Anisa di belakang nya yang sedang menyeret koper sendiri membuat Devan memiliki ide jahil,apa benar Ardian sepupunya ini tak menginginkan Anisa menjadi istri nya? Devan memang belum siap dengan pernikahan karena dia terlalu bahagia menikmati hidup dengan berganti pasangan saat ini,Devan takut bosan karena itu salah satu sifat buruk nya.
Sebenarnya Devan bukan tipe lelaki yang memasang banyak wanita,dia fokus satu wanita tapi dalam jangka sebentar paling lama satu bulan dan berganti dengan wanita baru.
Devan berjalan mendekati Anisa dan meraih koper besar itu.
"Hey...jangan saya bisa sendiri" ucap Anisa menolak tapi Devan tetap memaksa
"Kamu perempuan,sudah seharusnya kamu di istimewa kan,jadi biar aku saja yang bawa" jawab Devan tersenyum kecil
Ardian mengepalkan tangannya melihat tingkah Devan yang sok akrab pada Nisa.
"Ayo..."Ajak Devan menggenggam tangan Nisa dengan satu tangan nya dan satu lagi memegang koper Nisa lalu berjalan melewati Ardian,Devan berpikir setidaknya dia tidak kesepian selama di Bali,ada Anisa perempuan cantik yang bisa dia goda, terserah pada Ardian toh dia juga tidak menyukai Anisa pikir Devan.
Anisa berjalan santai di depan Ardian,bukan bermaksud untuk membuat Ardian cemburu karena Ardian sendiri tak merespon diri nya,jadi tak masalah jika dia dan Devan sedikit bersenang-senang sambil bekerja.
"Devan" panggil Ardian membuat Devan dan Nisa berhenti berjalan,Nisa pikir Ardian akan melarang Devan menggenggam tangan nya
"Kenapa?" tanya Devan
"Koper mu...jangan menyelamatkan barang orang dan meninggalkan barang mu" ingat Ardian membuat Devan memukul kening nya sendiri karena lupa
__ADS_1
"Aku titip padamu" pekik Devan lalu berjalan cepat mengajak Anisa membuat Ardian mengeram kesal pada sepupunya ini.
"Bisa-bisa nya kau membawa calon istri ku dan meminta ku membawa koper mu" oceh Ardian sambil menarik koper Devan,untung saja Devan tak membawa koper besar sehingga Ardian tak begitu kesulitan membawanya.
Saat masuk kedalam pesawat Ardian ingin duduk tapi di cegah oleh Devan.
"Bro.. tukarkan tiket" Ujar Devan menarik tiket Ardian dan langsung duduk di sebelah Anisa
"Aku duduk di sebelah mu ya, kasihan nanti kamu tidak da yang jaga saat tertidur"alasan Devan
"Tapi aku-"
"Ardian tidak masalah dia mengerti,iya kan bro lagi pula kalian tidak ada hubungan apa-apa kan?" tanya Devan dan di anggukki Ardian cepat,dia terlalu gengsi meminta Devan untuk pindah ke kursi nya.
Ardian mencoba duduk dengan tenang di kursi nya dan sesekali melirik ke arah Devan yang sedang bercanda dengan Anisa.
"Andai saja dulu kau tidak pindah ke kantor papi Tama pasti aku akan betah bekerja di kantor Ayah karena tiap hari bisa melihat mu"
"Gombal!" cebik Anisa,siapa yang tidak tau sepak terjang seorang Devano
"Benar....kamu kenapa betah bekerja di kantor si beruang kutub itu" bisik Devan
Anisa tertawa kecil sambil melirik ke arah Ardian yang sedang membaca majalah
__ADS_1
"Aku bekerja dengan pak Tama bukan dia"
"Sama saja,papi Tama juga dingin,kamu harus tahu satu hal,ayah dan anak itu sama-sama dingin jika kamu masuk di keluarga nya kamu akan menjadi beku" ucap Devan terkekeh kecil membuat Anisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Devan.
"Pak Tama baik"
"Lebih baik aku,kamu belum mengenal ku,aku akan berikan apapun yang kamu inginkan asalkan -"
"Tidur bersama mu,aku bukan perempuan yang menghalalkan segala cara" potong Anisa cepat
"Tidak! aku tidak mengatakan begitu tapi jika kamu memaksa aku tidak akan menolak " jawab Devan membuat Anisa semakin pusing dengan ocehan anak dari mantan bos nya ini.
"Setelah pulang dari Bali kamu pindah saja lagi ke kantor Ayah ku,aku akan berikan fasilitas mewah"ajak Devan
"Bisa aku pikirkan" jawab Nisa cepat dia tak ingin meladeni ocehan tak bermutu dari Devan
"Baiklah aku tunggu kabar baik nya"
"Biarkan aku istirahat sejenak" pinta Nisa dan di anggukki Devan sambil menepuk pundak nya meminta Anisa bersandar di sana dan hal itu di perhatikan oleh Ardian dari kursi sebelah
"Tidak perlu,aku tidak terbiasa bersandar pada orang asing" jawab Nisa membuat Ardian tersenyum kecil
"Oke,, silahkan istirahat"ujar Devan mengalah
__ADS_1