
April sedikit gugup saat memasuki gedung kantor yang cukup besar, perasaan nya campur aduk saat ink karena tidak pernah mendatangi gedung megah menjulang tinggi.
"Maaf...bisa bertemu pak Haikal" ucap April pelan pada salah seorang resepsionis yang duduk di depan lobi kantor
Sang resepsionis bukan menjawab tapi malah menatap April sinis karena dia menyangka April ingin melamar pekerjaan.
"Mbak bisa bertemu pak Haikal" ucap April lagi tapi kali ini dengan nada sedikit kuat.
"Mau apa ketemu pak Haikal? melamar pekerjaan? nggak ada lowongan,apa kamu nggak nanya dulu sama satpam di depan kalau nggak ada lowongan,jangan main masuk saja mentang-mentang tau nama bos nya,lagi pula Pak Haikal bukan bagian penerimaan pegawai dia bos di sini.....!!!" ketus Perempuan bernama Ratna tersebut
"Bukan mbak saya-"
"Sudah pulang sana pak Haikal lagi sibuk ada persiapan launching produk baru beliau tidak bisa di ganggu" usir nya
April tertunduk, bagaimana bisa dia bertemu Haikal, gedung ini terlalu besar dia tidak tau di mana ruangan Haikal, mungkin karena penampilan nya begini membuat nya di remeh kan tapi dia juga sadar diri dengan kemiskinan nya.
"Bodoh kenapa tidak minta nomer ponsel dia kemarin" gumam April merutuki dirinya sendiri, beberapa kali bertemu Haikal bahkan untuk nama pun mereka baru tau kemarin.
April ingin menangis karena dia tidak jadi bekerja sedang kan Vino sudah bahagia melihat April mendapatkan pekerjaan baru,April pun sudah membayangkan memegang uang untuk membeli obat ibu nya nanti tapi kini harapan nya musnah sudah.
April berdiri di tepi pintu masuk,dia menangis di sana,dia tidak tau harus bertanya pada siapa pasti orang tidak akan mau memberitahu di mana ruangan Haikal secara dia bos besar seperti yang di katakan perempuan tadi.
Adelia yang baru datang tak sengaja menoleh kearah perempuan yang sedang menangis sambil berdiri di sudut pintu masuk
__ADS_1
"Siapa dia" batin Adelia mencoba mendekat
"Mbak,bawa si kembar langsung masuk ya keatas sebentar lagi saya menyusul,kalau pak Damian tanya bilang saya ke toilet sebentar" ujar Adel dan di anggukki patuh oleh pengasuh anak nya
Adel mendekat dan memegang lengan April lembut
"Kamu menangis?" tanya Adel pelan membuat April mengusap air matanya cepat dan menatap Adel
"Adelia....."gumam nya pelan
"April" ucap Adel
"Kamu April??" tanya nya lagi dan di anggukki April
"Apa kabar?" tanya Adel
"Alhamdulillah baik del,kamu semakin cantik ya, aku senang bisa bertemu kamu lagi Del,kamu apa kabar? sudah lama ya kita nggak ketemu terakhir lulus SMA kamu kuliah sedangkan aku jadi kuli" ucap April terkekeh kecil
"Kamu juga cantik Pril tapi sayang masih saja cengeng" goda Adel membuat April malu
"Kabar aku Alhamdulillah baik,kamu kesini mau apa Pril?" tanya Adel
"Aku, A-ku..... tadi nya aku ingin bertemu pak Haikal, karena beliau kemarin menawarkan pekerjaan untuk ku tapi resepsionis nya tidak mengizinkan aku Del bertemu dengan beliau, mungkin karena penampilan aku kali ya yang nggak sekeren yang lain"
__ADS_1
"Kenapa? kamu keren kok, cantik juga...!! kenapa tidak boleh? mungkin resepsionis nya katarak kali,yuk aku yang temenin masuk" ajak Adel
"Nggak usah Del,aku takut" Aku April
"Kenapa mesti takut Pril orang kamu nggak maling kok, kamu mau ketemu pak Haikal kan,aku yang antar" paksa Adel menarik pelan tangan April
"Tapi-"
"Udah ....jangan takut,sudah cantik begini harus PD donk" ajak Adel lagi lagi menarik tangan April untuk ikut dengan nya.
"Pagi bu,,,,"
"Pagi..." jawab Adel ramah
"Pagi bu" sapa karyawan lain
"Pagi"
Setiap berpapasan pasti semua menunduk dan menyapa Adel karena semua tau kalau Adel adalah istri Damian yang notabene nya masih menjadi Presdir di perusahaan ini.
Memang Haikal yang menjadi CEO tapi untuk pemilik masih Damian karena pak Heru belum sepenuhnya menyerahkan pada Haikal dia masih membutuhkan bantuan Damian untuk membuat perusahaan mereka makin maju.
April sedikit bingung kenapa semua orang sopan pada Adel bahkan resepsionis tadi saja tak berani melihat Adel,tapi April tau kalau dari dulu Adel memang datang dari kalangan kaya raya jauh berbeda dengan dia tapi Adel tidak pernah sombong bahkan Adel tidak pernah memilih untuk berteman dia baik pada siapapun juga.
__ADS_1