
"Sayang,hari ini aku pulang sedikit telat jika kamu lelah tidur saja duluan...I love you"
isi pesan Tama pada Nur,hari ini Tama sangat sibuk karena ada proyek baru yang dia kerjakan.
Nur tersenyum kecil saat membuka pesan dari Tama, suami nya ini tidak pernah telat untuk mengabari nya membuat Nur merasa menjadi bagian yang sangat terpenting dalam hidup Tama.
****
"Vin....vin.... jangan gini Vin ayo bangun" ujar Via teman Vina,saat ini mereka sedang berada di salah satu club' ternama,Vina mengajak teman nya untuk menemani nya minum.
"Udah Vin, ntar lo mabok"
"Biarin gue mabok"
"Ayo pulang" ajak Via ingin menarik Vina tapi di tepis oleh Vina
"Gue mau pulang sama Bang Tama bukan lo" racau Vina
"Gue nggak tau di mana bang Tama loe"kesal Via
Vina tertawa kecil,dia saat ini terlalu mabuk...
"Vin jangan gini kalau mama loe tau kelakuan loe pasti mereka kecewa.
"Biarin,mama sama papa gue mau cerai,gue di tinggal nikah,biar semua pergi....pergi ..gue nggak butuh kalian semua" racau Vina
Via berusaha menarik tangan Vina mengajak teman nya ini keluar tapi Vina menolak.
Via bingung bagaimana cara membawa Vina untuk pulang, akhirnya Via mengambil ponsel Vina dan mencari nama Tama
Tut......tut ......
__ADS_1
Tut.....tut.....
Tama melirik sejenak kearah jam tangan nya sudah pukul 10 malam kenapa Vina menghubungi nya??
Sebenarnya enggan untuk menjawab tapi Tama merasa dia sudah terlalu kejam pada Vina sekedar menjawab telpon saja rasa nya tidak ada salahnya.
"Hallo...!!!"
"Halo ini dengan Bang Tama"
"Iya ....hallo, suara nya tidak kedengaran" ujar Tama karena memang suara musik terlalu berisik.
Via pergi meninggalkan Vina yang terbaring lemas di atas sofa yang ada di sudut ruangan.
"Maaf benar ini dengan bang Tama?"
"Iya saya sendiri,anda siapa?"
"Saya teman nya Vina,bisa saya minta bantuan anda untuk menjemput Vina sekarang?? Vina saat ini sedang berada di club' dia mabuk berat,saya tidak bisa membawa nya pulang karena dia selalu menyebut nama anda" jelas Via membuat Tama mengerutkan keningnya
Tama menghela nafas panjang" Baiklah beritahu saya di mana lokasi nya" ucap Tama
Tama menutup ponselnya dan membereskan beberapa berkas yang berserakan di atas meja kerja nya saat ini.
****
Nur terlihat gelisah karena sudah pukul sepuluh Tama belum juga pulang
"Sayang kenapa masih di luar?"tanya April pada Nur
"Bang Tama belum pulang bun"
__ADS_1
"Tumben pulang malam? kalian berantem?"
"Nggak bun, tadi bilang nya masih banyak kerjaan di kantor"
"Kalau gitu tidur aja dulu paling sebentar lagi juga pulang"
"Iya bun" sahut Nur berjalan perlahan ke arah kamar nya
***
"Vin...vin...ayo pulang" ajak Tama merangkul Vina menuntun nya keluar dari club
"Bang....bang Tama.....ini kamu bang kamu jemput aku" racau Vina berusaha memegang pipi Tama tapi Tama segera menarik tangan Vina dan membawa nya keluar.
"Ini Bang tas nya" ujar Via memberikan tas Vina pada Tama
"Terimakasih" ucap Tama segera membawa Vina ke dalam mobil
"Bang aku kurang apa sampai kamu ninggalin acara pertunangan kita,aku cinta bang...." gumam Vina dengan mata terpejam
Tama melirik kearah Vina yang dari tadi terus meracau,Vina sangat terpukul di tinggal kan oleh nya tapi mau bagaimana lagi dia tak mencintai Vina jika di lanjutkan pun akan sia-sia rumah tangga tanpa cinta.
Sesampainya di apartemen nya Tama segera menggendong Vina karena dia sudah terlelap tidur,Vina memang memilih tinggal di apartemen jika tak ada mama nya.
Tama menekan password dan meletakkan Vina di dalam kamar nya, lama dia memandangi wajah Vina ntah kenapa dia tak bisa jatuh cinta pada perempuan ini.
Tama hendak pergi tapi tangan nya di tarik oleh Vina
"Bang.... bang Tama kau takut" racau Vina membuat Tama mengehentikan langkah nya
"Tolong Bang jangan pergi"
__ADS_1
Tama duduk kembali di sebelah Vina lalu mengusap kepala perempuan ini,dia sudah menganggap Vina seperti adik sendiri, rasa sayang yang dia punya berbeda dengan rasa sayang nya pada Nur.
Tama melirik jam tangannya sudah pukul setengah satu pasti Nur cemas jika terbangun melihat dia belum juga pulang tapi bagaimana Vina,dia tidak tega meninggalkan Vina sendiri dalam keadaan mabuk, bagaimana pun juga dia merasa Vina bagian dari keluarga nya juga.