
Isakan demi isakan masih terdengar di makam ibu April,April masih terduduk di atas pusara belum sempat membahagiakan ibu mu nya tapi perempuan yang sudah melahirkan nya itu telah pergi selama nya,April merasa sendiri saat ini...
"Ayo kita pulang,tidak baik jika kamu terus menangis kasihan ibu di sana, ikhlas kan dia,ada aku dan Vino yang menemani mu" ucap Haikal merangkul April
April enggan berdiri perasaan nya masih campur aduk saat ini ,ada rasa lega karena ibu nya tak merasa kan sakit lagi tapi perasaan sedih lebih mendominasi dirinya karena belum siap kehilangan.
Cukup lama Haikal membujuk April untuk pulang dan akhirnya April mengalah saat Vino sudah merasa kan lapar,April juga kasihan pada Vino jika dia terus menerus larut dalam kesedihan,anak nya yang akan menjadi korban.
Sebelum pulang Haikal mampir untuk membeli makanan dulu dia tau kalau April dan Vino belum makan semalaman karena menunggu jenazah ibu nya.
Sesampainya di rumah Haikal meminta Vino dan April untuk mandi lalu makan,agar mereka punya tenaga.
"Sudah lah Pril jangan terus menangis tidak baik untuk ibu di sana,aku tau kamu sedih tapi beliau ingin kamu kuat Pril, beliau tau kamu perempuan yang sabar dan pasti bisa tanpa dia"
__ADS_1
"Tapi aku tak terbiasa tanpa beliau pak,aku belum bisa kehilangan beliau" isak April
"Tapi jika kamu terus begini bagaimana Vino,dia butuh kamu pril,dia butuh sosok ibu yang kuat"
"Aku belum bisa jadi ibu yang baik untuk Vino pak,belum bisa....!!!" ucap April menangis
Haikal memeluk tubuh April,dia tau perempuan ini sedang rapuh,dia kehilangan separuh hidupnya yang selama ini dia jaga,ingin sekali Haikal menemani April tiap saat tapi mereka belum menikah dan lagi Haikal tak akan mungkin mengajak April menikah dengan keadaan begini,Haikal cukup tau diri kalau April sedang berduka.
Haikal melirik jam di pergelangan tangan nya sudah semakin sore dia harus pulang tadi Damian dan Adel pun sempat datang sebentar karena tak bisa meninggalkan si kembar lama,kini April hanya bersama Vino bagaimana Haikal harus meninggalkan mereka,dia tidak tega.
April hanya mengangguk, Fokus nya saat ini ntah kemana, tatapan nya kosong membuat Haikal tidak tega tapi dia juga harus pulang karena memang harus mandi dan berganti pakaian, selepas dari makam tadi Haikal hanya berganti pakaian yang ada di mobil dan kini dia merasa gerah lagi pula tidak enak di lihat tetangga jika Haikal harus menginap.
Haikal menarik nafas panjang dan mendekat pada Vino
__ADS_1
"Sayang papa pulang dulu jika terjadi sesuatu pada Bunda segera hubungi papa ya" ucap Haikal dan di anggukkan Vino
"Anak pintar....!! besok papa kemari lagi" ucap Haikal tersenyum kecil dan mengusap kepala Vino pelan lalu pergi.
Hati Haikal tak karuan dia merasa kasihan pada April tapi mau bagaimana lagi mereka belum sah mau tak mau Haikal harus mengalah dulu agar hubungan mereka bisa di terima dengan baik .
****
Malam ini April menangis di dalam kamar ibu nya,dia sedih karena di tinggalkan ibu nya di saat kehidupan mereka baru saja membaik,ya sejak April bekerja dengan Haikal kehidupan mereka bisa di bilang mulai baik, Permintaan Vino bisa April berikan dan obat ibu nya pun bisa April berikan tanpa memusing kan harga tapi ibunya malah meninggalkan dirinya.
"Bunda,jangan menangis,nenek sudah tenang di sana" ucap Vino polos karena dia mendengar kan ucapan Haikal
April mencium pipi anaknya ini,Vino memang lebih dewasa,April berharap Vino bisa menjadi pelindung nya kelak ketika dewasa.
__ADS_1
"Hanya kamu yang bunda punya,jangan tinggalkan bunda sayang" ujar April memeluk tubuh Vino dan mencium nya berkali-kali