Kau Khianati Aku, Ku Ambil Paman Mu

Kau Khianati Aku, Ku Ambil Paman Mu
Bukti


__ADS_3

Pagi ini Adel masih berusaha melayani Haikal,Adel menyiapkan segala keperluan suaminya itu hingga Haikal berangkat ke kantor.


Ponsel Adel berbunyi membuat nya sedikit tersentak


" Hallo om?"


" Kenapa kamu tidak datang? ap merasa sudah pintar?" tanya Damian dari seberang sana.Adel menghela nafas panjang


" Aku lelah!" jawab nya singkat


" Del tak ada kata lelah untuk berbisnis,baru beberapa hari kamu belajar sudah lelah, katanya mau pintar tapi susah mundur duluan!" cerocos Damian membuat Adel mematikan ponsel nya dan segera bersiap


Saat di lampu merah Adel justru melihat mobil suaminya Haikal,masih jam Sepuluh Haikal sudah keluar kantor kemana dia pikir Adel


Adel yang penasaran malah mengikuti mobil Suaminya ,dia ingin tau kemana saja Haikal pergi seharian.


Haikal berhenti di salah satu toko kue ternama, Adel sengaja menjaga jaga jarak mobilnya dengan Haikal biar tidak ketahuan.


Tak lama. Sosok lelaki yang sangat di kenalnya itu ke luar dari pintu kaca toko itu.


terlihat jelas Haikal menenteng kantong plastik besar bermerek toko kue tersebut


" Siapa yang mau di jenguk mas Haikal" batin Adel


Setelahnya ia kembali masuk ke dalam mobil. Dan melajukan mobilnya


Apa kah ini yang dinamakan urusan? Mau dibawa ke mana kue itu? Adel jadi semakin penasaran.

__ADS_1


Adel Lanjut menginjak pedal gas pada mobil nya. Agar segera melesak membelah jalanan kota dan tak tertinggal oleh Haikal


Baru beberapa ratus meter dari toko kue. Haikal berhenti lagi disebuah toko mainan, untuk apa dia ke toko mainan?


Untuk anak siapa mainan nya?


Pikiran Adel sangat tak karuan. Pertanyaan demi pertanyaan dia lontarkan sendiri dan dijawab sendiri .Akan diberikan kepada siapa dua benda yang barusan yang di beli Haikal


Sabar Del, sabar. Tunggu semuanya berjalan. Jangan gegabah.


Berulang kali Adel menarik nafas. Berusaha mengusir pikiran yang mengganjal dalam hati.


Lelaki itu turun dari kendaraannya dan melenggang masuk ke dalam toko Mainan


Cukup lama aku menunggu ia keluar. Sudah hampir lima belas menit.


Akhirnya ... Haikal ke luar juga. Ia membawa bingkisan di paper bag besar berwarna merah dan tak bisa ditebak oleh Adel karena toko ini menjual berbagai macam mainan


Setelah berpacu dengan ramainya kendaraan. Mobil Haikal tengah berbelok dan memasuki sebuah perumahan elite


Tak jauh dari kelokan tadi. Mobilnya berhenti di sebuah rumah tanpa pagar dengan gaya arsitektur klasik, Rumah yang cukup mewah hanya tak sebesar rumah yang Adel dan Haikal tinggali saat ini


Rasa penasaran Adel semakin merasuk dalam. Sengaja dia tinggal kan mobil nya jauh dan dia berjalan kaki,tak lupa dia memakai masker dan kaca mata hitam nya agar tak ada yang mengenali nya


Lelaki berkulit putih itu memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah itu.


Perumahan ini cukup sepi mungkin sebagian pemilik nya sedang bekerja karena memang masih pagi

__ADS_1


Adel memilih memepet kan tubuh nya ke tembok dan bersembunyi agar tak terlihat oleh Haikal


"Yey, papa datang ...," suara anak kecil itu membuat jantung Adel serasa berhenti berdetak. Ia menyebut Haikal papa nya


" Ya Allah, ujian hidup macam apa ini? Kuharap telingaku hanya salah dengar" gumam Adel dengan lutut yang sudah terasa lemas


Terlihat jelas Haikal menghambur memeluk bocah itu sambil tertawa riang. Mereka saling peluk di teras rumah


"Ma....mama, Papa pulang," lagi-lagi, bocah kecil itu bersuara dengan berteriak membuat Adel jadi makin penasaran. Siapa yang disebut Mama


Air mata Adel mencelos begitu saja dari pelupuk mata nya. Sepahit ini kah hidup? Apa status Haikal dengan bocah itu. Mengapa ia menyebutnya papa? Berbagai pertanyaan mengitari kepala Adel.


Mata Adel fokus menatap ke arah sana. Sosok wanita muncul dari pintu yang tengah terbuka lebar


"Mas, baru datang? Kenapa nggak masuk rumah dulu." ucap wanita itu ramah. Ia menyambar tangan Haikal dan mencium punggung tangan lelaki itu takzim. Semakin hancur rasa hati Adel menyaksikan semua kejadian ini di depan matanya


"Tunggu ya," ujar Haikal Lalu berjalan ke arah mobil. Tak lama, ia kembali membawa paper bag dan kue.


"Ternyata kue dan mainan untuk anak wanita jal*ng itu dan Awas kamu Mas! "


"Wah, papa bawa apa?"


"Hadiah untuk kamu, Sayang. Happy Birthday jagoan papa" dengan raut bahagia Haikal melontarkan kata-kata itu. Ia pun mencium anak lelaki yang masih ada di gendongan nya


Hati Adel hancur lebur menatap semua ini. Ingin dia mencabik wajah wanita dan lelaki yang tengah bahagia di atas tangis nya itu. Namun Adel berfikir. Tak perlu membalas dengan kekerasan. Cukup pelan dan menyakitkan. Sungguh, jika rumah yang ditempati wanita itu adalah hasil dari uang Haikal. Adel tak akan rela,dia harus mengambil kembali apa yang menjadi hak nya


" Kau harus membayar mahal atas pengkhianat yang kau berikan mas"

__ADS_1


Adel menyeka pipi yang sedari tadi basah. Dia harus kuat, Dia harus tunjukkan kalau dia bukan wanita lemah.


Adel memilih untuk pulang,cukup sudah bukti yang dia lihat hari ini, berlama-lama di sini hanya akan membuat nya semakin cemburu


__ADS_2