
"Maaf sayang tadi mas masih ada meeting,sudah lama menunggu"
Suara Haris yang tak asing ditelinga membuat Karin mengangkat wajah nya, wanita itu menatap Haris yang saat ini tengah menampilkan senyum hangat seperti biasa.
"Gapapa. Mas, ada yang ingin aku bicarakan."
Karin menatap Haris takut-takut membuat laki laki yang kini tengah berdiri di depan perempuan itu mengerutkan kening bingung.
"Ya, katakan."
"Aku hamil."
Karin berucap dengan satu tarikan nafas, suaranya yang bergetar berusaha perempuan itu redam sebisa mungkin. Sedang Haris terkejut laki-laki wajahnya mengeras berusaha menepis bualan yang baru saja kekasih gelapnya itu ucapkan. Yang benar saja. Sungguh sama sekali tidak lucu.
"Jangan bercanda Rin,aku tau kamu sangat ingin aku nikahin tapi tidak cara murahan seperti ini"
"Aku serius mas, apa kamu pikir aku sedang membuat lelucon dengan hal seperti ini."
Laki laki itu menatap Karin dengan mata memicing tajam, bibirnya menipis dan wajahnya merah padam karena emosi yang tersulut.
"Kita melakukannya beberapa kali mas,bahkan dua bulan belakangan ini kita lebih intens melakukan nya," jelas perempuan itu.
"Tapi aku selalu pakai pengaman,tidak mungkin itu anak ku,kamu jangan mengada-ada" tolak Haris
__ADS_1
"Mas, kamu kira aku perempuan gampangan,aku hanya melakukan nya sama kamu mas setelah bercerai dari suamiku,dan kamu beberapa kali tidak memakai pengaman nya" kekeh Karin
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
Haris berujar sinis dengan senyum miring yang tersungging di sudut bibir laki-laki itu.
"Aku ingin pertanggungjawaban, nikahi aku...!!"
"Jangan mimpi rin, kita melakukannya suka mau mau lagian kita ini jauh berbeda. Aku dan kamu bagaikan langit dan bumi.kamu tau aku sudah punya istri kan?"
Karin tertegun mendengar penuturan Haris barusan, hatinya sakit dan kedua kelopak matanya berhasil meluncurkan cairan bening yang sedari tadi perempuan itu tahan. Sesakit ini kah tuhan. Di campakan setelah di cecap rasa manisnya.
"Gugurkan dan aku anggap masalah ini selesai."
Plak
Satu tamparan keras berhasil Karin layangkan pada laki-laki brengsek di depannya ini. Biarkan saja ia di anggap kurang ajar atau apapun itu. Karin tidak peduli,dulu Haris yang merayu nya dan menjanjikan di jadikan istri kedua tapi di saat dia sudah hamil justru Haris seenaknya minta Karin menggugurkan kandungan nya
"Kutekankan mas, sampai kapanpun aku nggak akan pernah membunuh janin tak berdosa ini. Dia harus tumbuh dan kamu sebagai manusia tidak memiliki hak untuk melenyapkannya." tegas Karin
Karin berucap dengan wajah memerah kedua tangannya mengepal kuat ingin sekali menghadiahi laki laki di depannya ini dengan tinjauan keras namun ia sadar tenaga perempuan tak bisa menandingi laki-laki.
"Oh silahkan saja, namun ingat jangan pernah menyusahkanku karena anak itu. Ini terakhir kali kita bertemu dan jangan pernah menemuiku lagi,aku tak mau tau tentang kamu lagi" jawab Haris enteng
__ADS_1
Kalimat dengan nada dingin Haris sukses membuat Karin memalingkan wajah, sekuat tenaga perempuan itu menahan tangis yang akan kembali pecah.
"Jika kamu mau menggugurkan nya kita masih bisa berhubungan lagi" ucap Haris sebelum Karin hendak pergi tapi Karin tak menggubris nya sama sekali
Karin berlari keluar kantor Haris,dia bingung apa yang harus dia perbuat sekarang sementara perutnya akan semakin membesar nanti.
" Brugk...."
Tubuh karin bertabrakan dengan seorang membuat Karin memegang lengan nya yang tengah sakit
" Om.... "gumam Karin pelan
"Karin"
"Maaf om aku buru-buru sehingga tak melihat om tadi" ucap Karin menghapus air mata nya membuat Damian bisa menebak kalau Karin tengah galau
"Tidak masalah saya juga buru-buru ingin bertemu Haris ada yang harus di bicarakan" ujar Damian
"Haris...!! om kenal Haris?"
"Beberapa bulan ini saya menjalin kerjasama dengan Haris,saya buru-buru... permisi..!!!" Damian segera meninggalkan Karin yang mematung sendiri
"Seperti nya aku harus minta bantuan om Damian" batin Karin
__ADS_1