
"Jangan aneh-aneh Ar,aku tidak ingin datang malam nanti" ujar Nisa saat masuk ke ruangan Ardian
"Kenapa? bukan nya kamu sering pergi bersama mereka, tidak masalah bukan jika ada aku!"
"Ar, bagaimana jika mereka tau dengan hubungan kita?"
"Itu lebih baik sayang,jadi tak perlu ada lagi pengumuman nya kalau kamu sebentar lagi akan menjadi istri dari pemilik perusahaan!"
"Kamu gila" kesal Nisa
"Aku gila!"Tunjuk Ardian pada dirinya dan di anggukki Nisa
"Ya...aku gila karena kamu Nis,aku gila jika berjauhan dari kamu,jadi aku tidak ingin kamu pergi dengan mereka tanpa aku" aku Ardian membuat Nisa menggeleng kan kepala nya tidak mengerti bagaimana lelaki seperti Ardian bisa sebucin ini dengan dirinya.
"Ar....aku tidak ingin mereka tau sekarang"
"Tidak akan ada yang tau kalau kamu tidak memberitahu nya"
"Aku!! mama mungkin aku yang memberitahukan nya,terserah pada mu yang jelas aku tidak mau kamu terus menatap ku di depan mereka"
"Kenapa? ada yang salah jika aku menatap mu?" tanya Ardian membuat Nisa menghela nafas panjang,susah menjelaskan pada kekasih nya ini.
"Terserah kamu saja,aku pusing" ucap Nisa hendak keluar tapi tangan nya di tarik Ardian hingga Nisa masuk kedalam pelukan lelaki dingin ini
"Cup" satu kecupan mendarat di bibir mungil Nisa
"Ar,ini di kantor!"
"Cup" Ardian mengecup sekali lagi
__ADS_1
"Ar.... bagaimana jika ada yang masuk?"
"Cup"Lagi-lagi Ardian mengecup bibir kekasih nya ini
Semakin banyak kamu protes semakin gemas aku ingin mencium mu,Nisa tertawa kecil ntah kenapa dia malah tak bisa marah pada kekasih nya ini padahal Ardian selalu bersikap semau nya.
"Tok.....tok"
Ketukan pintu membuat Nisa menjauh dari Ardian dan menjatuhkan berkas nya.
"Ar.... penghitungan-"Dahlia menghentikan ucapannya melihat Nisa sedang memungut kertas di lantai.
Nisa segera menyelesaikan berkas nya lalu berdiri.
"Maaf pak,saya pamit" ujar nya lalu keluar
"Apa ada masalah dengan mu?"Tanya Ardian sedikit ketus
"Bukan,,, bukan dengan ku tapi dengan mu! aku melihat tatapan lain pada diri nya"
"Ini Laporan keuangan nya tolong di periksa segera agar aku bisa menaikkan nya" ujar Dahlia meletakkan map di atas meja Ardian lalu pergi.
****
"Papi lihat Ardian mulai merespon Nisa Mom, bagaimana jika mereka menikah segera" usul Tama
"Jika Ardian setuju tidak ada salahnya pi"
"Ya, Ardian tidak pernah lagi menolak jika di berikan kerja bersama Nisa, malahan dia lebih bersemangat"ucap Tama
__ADS_1
"Papi beberapa kali melihat Nisa masuk keruangan Ardian,papi percaya Nisa tapi tidak dengan Ardian"
"Bagaimana mungkin papi bisa tidak percaya pada anak sendiri, Ardian itu gengsian pi, tidak mungkin bisa secepat itu luluh pada Nisa"
"Dia lelaki mom, papi juga lelaki jadi tau lah bagaimana perubahan sikap nya,lagi pula selama ini Ardian tak pernah memperlihatkan ketertarikan nya pada wanita, berbeda dengan Nisa"terang Tama
"Kalau memang begitu,nikah kan saja pi! bukan nya ini permintaan Oma Adel dan Opa Damian, mereka ingin melihat cucu nya menikah!"
Tama tampak berpikir sejenak lalu mengangguk kan kepala
"Boleh Mom,nanti papi bicara kan pada Nisa"
****
Semua karyawan merasa canggung karena ada Ardian di tengah-tengah mereka, biasanya mereka akan bicara ceplas-ceplos dan semau mereka tapi kali ini harus menjaga image.
"Terkesan formal ya" bisik Dinda pada rekan yang lain nya
"Silahkan nikmati makan nya,jangan sungkan saya akan jadi bagian dari kalian,jangan anggap saya bos jika sudah di luar kantor" ucap Ardian membuat yang lain saling tatap
"Benar pak!!!"
Ardian mengangguk kan kepala nya membuat semua karyawan tersenyum bahagia, ternyata Ardian tidak seperti yang mereka kira, semua nya menyerbu memakan dan mulai membiasakan diri dengan Ardian.
"Ternyata kamu bisa mencair ya" bisik Nisa
"Maksud mu?"
"Tidak....ayo nikmati makanan nya" ujar Nisa tersenyum manis pada Ardian
__ADS_1