
Nisa membuka matanya perlahan kenapa malah tidur di pelukan lelaki dingin ini terasa nyaman pikir Nisa.
Nisa perlahan melepaskan pelukan tangan Ardian tapi Ardian malah mengeratkan pelukannya tidak ingin melepaskan Nisa.
Nisa berusaha meraih ponsel Ardian yang terletak di atas meja untuk melihat jam, ternyata sudah pukul delapan tapi belum ada tanda-tanda dari Mr. Lie untuk pertemuan mereka hari ini.
Anisa menghadapkan wajahnya pada Ardian di rabanya pelan hidung mancung lelaki berkulit putih ini lalu turun kearah bibir lelaki tampan ini, benar-benar ciptaan tuhan yang sempurna batin Nisa, Ardian terlihat jauh lebih tampan saat tertidur, Ardian datang dari keluarga kaya raya tak ada yang kurang dengan lelaki ini tapi tidak mungkin Nisa bisa meraih nya karena dia hanya orang biasa pikir Nisa.
Anisa tersenyum kecil mengingat ciuman Ardian semalam, ciuman mendadak yang membuat jantung nya hampir copot.
Ardian membuka matanya melihat Nisa tersenyum membuat nya merasa Nisa tengah memikirkan dirinya.
"Kenapa?"
"Kamu sudah ban-gun"
"Kamu kenapa tersenyum begitu?" tanya Ardian dan di jawab Nisa gelengan
Ardian mendekat kan bibirnya mencium Anisa membuat perempuan cantik ini terdiam kaku.
"Kamu bilang tidak akan terjadi apa-apa"
"Kamu yang memancing ku"ujar Ardian serak
"Ar..lepas!!! nanti Devan masuk lagi"
"Pintu nya sudah aku kunci semalam tidak akan ada yang bisa masuk" ujar Ardian
"Kamu menakuti ku"
"Kamu calon istri ku,kenapa harus takut" jawab Ardian membuat Nisa tercengang, Ardian mengakui nya sebagai calon istri berarti ini tanda nya-.
Ardian mencium bibir Nisa perlahan,Nisa meremas selimut yang mereka pakai,******* yang tadi nya perlahan menjadi semakin ganas membuat kedua nya terjatuh ke lantai.
"Awww....."pekik Ardian
Nisa tertawa kecil karena tubuh nya tengah menghimpit Ardian.
"Lepas...aku mau mandi" ucap Nisa merasa malu
"Mau kah kau menikah dengan ku?" tanya Ardian
"Ini masih pagi Ar.Jangan bercanda!"ucap Nisa berdiri dan ingin pergi tapi di tahan oleh Ardian
__ADS_1
"Nis,aku serius mau kah kau menikah dengan ku?" tanya Ardian lagi
"Akan aku pikirkan terlebih dahulu Tuan Ardian, karena tidak semudah itu mengajak ku menikah setelah kau meremehkan ku" tantang Nisa
Ardian ikut berdiri dia tidak perduli dengan ucapan Nisa yang jelas dia ingin segera menikah dengan perempuan ini.
"Ar...lepas aku mau mandi,nanti asisten Mr.Lie menghubungi kita"
Ardian mendorong tubuh Nisa kearah ranjang dan mencium nya perlahan,Nisa yang ikut terlena justru memeluk pinggang Ardian dan membalas ciuman nya.
Deringan ponsel Nisa membuat mereka melepaskan tautan bibir yang sedang menyatu.
"Hallo "jawab Nisa gugup
"Baik....kami akan segera ke sana" jawab Nisa sambil melirik Ardian yang tersenyum manis menatap nya
"Asisten Lie meminta kita untuk datang satu jam lagi ke restoran kemarin"
"Masih ada waktu kan!"
"Ar....jangan macam-macam aku ingin segera bersiap, kembali ke kamar mu" tegas Nisa membuat Ardian terkekeh kecil,dia suka melihat Nisa jika sedang marah bertambah cubby dan menggemaskan menurut Ardian.
"Tidak akan macam-macam hanya satu macam" jawab Ardian mencoba mendekati Nisa
"Mommy tidak akan percaya"jawab Ardian santai
"Ar....ini sudah terlalu siang,kita bisa terlambat dan tidak akan mendapatkan kontrak nya"
Ardian tak memperdulikan ucapan Nisa justru dia menggendong Nisa dan masuk kedalam kamar mandi
"Ar... keluar aku bisa mandi sendiri" pekik Nisa
Ardian menyalakan Shower lalu segera keluar membuat Nisa kesal dengan sikap calon suami nya ini.
Ardian tersenyum puas karena sudah menjahili Nisa,dia segera keluar dari kamar Nisa menuju kamar nya.
****
Ketukan pintu membuat Devan terbangun dan berjalan malas-malasan membuka nya.
"Van...kita harus segera-"Nisa terdiam saat melihat wajah Devan yang lebam
"Kamu kenapa?" tanya Nisa heran sambil menatap Ardian
__ADS_1
"Loe kenapa? di tangkap sat pol PP?" tanya Ardian sambil tertawa kecil
"Seneng loe ya! bahagia lihat sepupu nya dapat musibah begini" kesal Devan
"Loe kenapa? semalam mabuk sampe lebam begini"tanya Ardian lagi
"Pasti sakit ya,musibah apa sih Van,sampe segini nya" ujar Nisa sambil memegang pelan pipi Devan yang lebam
"Iya Nis sakit banget"rengek Devan membuat Ardian memasang wajah jutek nya
"Jangan pegang dia Nis,itu resiko penjahat wanita"ucap Ardian menarik tangan Nisa
"Tapi itu harus di obati Ar, kasihan Devan"
"Iya Nis,loe di sini aja tolong obati gue, jangan dengerin sepupu nggak punya hati itu" rengek Devan lagi
"Loe bukan anak TK yang harus di obati kan,lagian gue yakin loe begini karena ulah loe sendiri yang nggak berubah-ubah,Loe mau ikut nggak?" tanya Ardian
"Kemana?"
"Melanjutkan kerjasama kemarin,kalau selesai hari ini kita pulang"
"Jangan pulang dulu Ar,bunda bisa syock lihat muka anak kesayangan nya bonyok gini, setidaknya sampai memarnya hilang deh"
"Gue justru ingin lihat reaksi bunda pas lihat muka anak brengsek nya ini hancur "
"Jahat banget loe Ar"rajuk Devan
Nisa melotot kan mata nya pada Ardian karena tidak ada rasa simpati sedikit pun pada sepupu nya ini.
"Jadi harus berapa lama lagi? pekerjaan gue banyak di Jakarta"
"Jangan sok sibuk deh loe,gue tau kalian juga butuh liburan berdua,pengen mesra-mesraan tanpa gue "ejek Devan sambil mencibir
"Nah loe tau itu,kenapa malah nahan kita di sini" jawab Ardian datar
"Benar-benar jahat loe Ar, Sepupu kena musibah juga bukan nya prihatin tapi malah ngejahatin,Loe lupa kalau gue sepupu loe, setidaknya kasih gue kesempatan untuk bahagia Ar,hari ini gue nggak ikut" ucap Devan memohon pada sepupunya ini, Ardian menarik tangan Nisa untuk keluar dari kamar Devan, percuma bicara dengan sepupu nya ini tetap tidak akan pernah mau mengalah.
"Oke....gue kasih kesempatan dua hari lagi, setelah itu kita pulang"jawab Ardian sambil merangkul pinggang Nisa membuat Devan membelalakkan matanya,baru kali ini Devan melihat seorang Ardian yang posesif, biasanya terlihat dingin.
"Hati-hati Nis,jangan sampai beruang nya bangun" pekik Devan lalu menutup pintu kamar nya,takut Ardian malah marah kepada nya.
"Bucin kan loe,belum tau rasanya wanita sih" gumam Devan sambil berjalan ke ranjang nya.
__ADS_1
Devan meminta waktu pada Ardian bukan karena lebam di wajah nya tapi Devan ingin mencari sosok wanita yang menyelamatkan nya semalam.