
Nisa membolak-balik tubuh nya,dia tidak bisa tidur karena masih memikirkan ciuman Ardian tadi sedangkan Ardian masih betah berbaring di sofa,malam ini dia malah memutuskan untuk tidur di kamar Nisa karena takut Devan datang kembali dan mengajak Nisa untuk party.
****
"Gile..... cakep-cakep uy cewek nya"batin Devan melihat kiri-kanan banyak perempuan yang mengenakan bra dan ****** ***** saja, meskipun sudah malam banyak yang berenang.
Devan mengangguk-angguk kan kepalanya mengikuti irama musik yang di putar, meskipun tidak pergi bersama Nisa Devan cukup happy bisa melihat yang bening-bening.
Devan dari tadi sibuk menggoda para perempuan cantik,mana tau ada yang kecantol pikir nya.
Devan yang memang mata keranjang gemas sendiri dengan perempuan-perempuan cantik di sana,tapi kali ini Devan malah salah sasaran, dia menggoda perempuan yang sudah memiliki kekasih hingga kekasih nya marah.
"Kalau mau menggoda lihat-lihat dulu,saya pacar nya"ucap lelaki itu marah
"Saya tidak tau, karena anda tidak bersama nya tadi"
"Jadi karena saya tidak bersama nya kamu bisa berbuat seenaknya" ujar lelaki itu mulai kesal
Devan yang tidak mau kalah malah lebih menantang membuat lelaki itu melayangkan tinjunya ke pipi Devan hingga terjadi perkelahian.
Devan tidak menyangka kalau lelaki itu tidak sendiri,ada teman-teman nya sedangkan Devan hanya sendiri, menghubungi Ardian tidak ada waktu lagi membuat Devan harus mencari pertolongan dengan cara kabur dari tempat itu.
Devan berlari sekencang-kencangnya, melayani mereka yang cukup banyak hanya akan sia-sia, dia bukan petarung hebat seperti papi Tama, bisa-bisa besok hanya jasad nya yang di kirim ke Jakarta.
Devan berlari jauh dari hotel dan melihat segerombolan perempuan yang sedang jalan-jalan lalu Devan menarik satu di antara nya..
"Tolong bantu aku, bantu aku!" mohon Devan dengan nafas terengah-engah
__ADS_1
"Kamu siapa? *******" ucap perempuan itu karena melihat lebam di pipi Devan
"Tidak, bantu aku,plese...aku sedang di kejar oleh segerombolan preman" jelas Devan
"Bagaimana cara aku membantu mu" ujar perempuan itu
Devan mengacak rambut nya,dia juga bingung bagaimana cara perempuan cantik ini membantu nya.
Tiba-tiba perempuan itu membuka jaketnya lalu menutupi tubuh Devan lalu menarik lelaki playboy ini ke arah gang kecil di sebelah toko.
Jantung Devan berdetak kencang dia takut nyawa nya melayang malam ini,jika ada Ardian dia tak akan setakut ini, setidaknya Ardian pasti bisa mengatasi nya, sepupu nya itu banyak mengenali kolega penting sedangkan dirinya selama ini hanya sibuk bermain wanita.
"Tuhan selamat kan aku malam ini,jika masih di beri kesempatan aku akan hidup lebih baik lagi" do'a Ardian dalam hati.
"Jangan banyak bergerak,dan ikuti semua permainan ku" bisik perempuan itu
Siapa saja yang melihat akan menjauh karena tidak ingin mengganggu kemesraan dua sejoli ini,Devan yang memang lelaki normal menikmati ciuman dari perempuan itu lalu membalas nya hingga ciuman panas itu terjadi lebih dari sepuluh menit.
Di rasa tidak ada lagi yang lewat perempuan itu melepaskan tautan bibir mereka.
"Gila.....aku cuma bantu kamu kenapa malah kamu balas" oceh perempuan itu
Devan yang tadi nya gugup hanya menyeringai karena memang dia tidak bisa diam jika berciuman.
Perempuan itu langsung pergi tanpa Devan bisa mengucapkan terima kasih.
Devan melihat kiri-kanan ternyata situasi mulai aman tapi dia penasaran dengan perempuan tadi,Devan mencari nya tapi tidak bertemu lagi.
__ADS_1
"Siapa nama nya?"gumam Devan
****
Nisa bangkit sambil menghela nafas panjang,dia merasa tidak tenang karena kejadian tadi,di liriknya Ardian masih betah menonton acara televisi favorit nya itu sedang kan Nisa merasa ada yang mengganjal.
"Tau begini lebih baik aku ikut Devan tadi" gumam Nisa pelan
Nisa berjalan kearah kulkas untuk mencari minuman.
"Kamu belum tidur?" tanya Ardian
"Tidak bisa tidur" ketus Anisa
Ardian berdiri dan mengambil selimut di ranjang Nisa lalu meletakkan nya di atas sofa
"Ka-mu tidur di sini?" tanya Nisa gugup, bagaimana dia bisa tidur nyenyak kalau Ardian malah tidur di kamar nya.
"Besok kamu harus menyakinkan Mr.Lie untuk menandatangani kontrak nya,jadi lebih baik kamu tidur segera" ujar Ardian sambil menggenggam tangan Nisa dan menuntut nya ke sofa.
Ardian berbaring sambil menatap televisi dan dia menepuk sofa agar Nisa ikut berbaring tapi Nisa ragu.
"Aku janji tidak akan. terjadi apapun, besok kita masih bekerja" ujar Ardian
Nisa seakan di hipnotis oleh lelaki tampan ini dan dia ikut berbaring, Ardian menyelimuti tubuh mereka berdua bahkan Ardian memberikan tangan nya untuk di jadikan Nisa bantal.
Benar saja tak butuh waktu lama Nisa langsung tertidur pulas.
__ADS_1
Ardian menatap wajah Nisa,bibir tipis dan pipi sedikit Cubby, pipi ini yang menjadi daya tarik Anisa, Ardian hanya menjahili nya dengan mengatakan gendut tapi di dalam hati Ardian memang harus mengakui kalau perempuan yang tengah berbaring di sebelah nya ini adalah perempuan hebat dan cantik.