
Suasana yg semakin ricuh, dan aku sama sekali tak bisa menenangkan mereka jelas ini membuatku panik.
''semuanya tolong te..'' belum sempat aku selesai berbicara tiba-tiba terdengar langkah kaki yg menuju kemari. Sontak menyadari hal itu aku langsung berlari dan berusaha bersembunyi . aku bahan sampai menarik kaki ku paksa dari tangan gadis kecil tadi karena panik.
Aku akan minta maaf padanya setelah ini..
*tap...tap...
Sebuah langkah kaki yg terdengar mendekat dari sebuah ruangan di depan sana.mendengar langkahnya aku pun bersiap menyerangnya nanti. Dari langkahnya aku bisa tau kalau hanya ada 1 orang kalau begitu harusnya ini tak akan sulit.
Tapi kenapa sendiri?
'' kenapa kalian berisik sekali, apa ada lagi yg datang?'' tanya suara yg tak asing bagiku mendengar suara itu aku pun langsung keluar dari tempat persembunyianku dan benar saja itu..
''LUZ!?" panggilku yg langsung membuatnya menoleh kearah ku
''mama?'' ''eh?..kenapa mama bisa ada disi...''
*syut!..*grep!.... belum sempat ia selesai berbicara aku langsung berlari kearahnya dan mendekapnya dalam pelukanku
''ma...mama?''
''syukurlah...syukurlah kau baik-baik saja''
'' apa kau terluka?. Coba tunjukan pada mama dimana yg sakit?'' kataku sambil melepaskannya dan meriksa apakah ada luka atau tidak
''tenang saja mama. Aku sama sekali tak terluka kok''balasnya sambil tersenyum
''baguslah kalau begitu. Tapi bagaimana bisa kau...''
''bagaimana bisa aku masih baik-baik saja?''potongnya
''ahahaha... mama putramu ini penyihir unggul loh. Kalau hanya melepaskan diri dari rantai dan melawan beberapa orang itu bukan masalah besar bagiku'' sambungnya sambil tertawa kecil
''melawan?''
''ah!... benar.. mereka ada disana'' kata luz sambil menunjuk ruangan tempat ia keluar tadi
Aku pun mencoba melihat nya dan mendapati ada banyak sekali orang-orang yg sudah terkapar lemas , bahkan ada dokter tadi juga disana yg terlihat sudah tak berdaya
''kau melakukannya seorang diri?''tanyaku tak percaya
''benar'' ''tadinya sih hanya ada dokter itu dan satu asistennya yg mencoba mengambil organ ku tapi begitu aku melawan tiba-tiba banyak sekali orang yg mulai berdatangan'' jelas luz
''apa kau benar tak apa sayang?''tanyaku cemas
Bukan apa-apa ku dengar luz sudah mengalami masa-masa sulit selama di menara penyihir ,aku yakin ini bukan pertama kalinya ia datang ke tempat seperti ini. Datang ke tempat dimana kenangan buruknya berkumpul....tubuhnya memang baik-baik saja tapi bagaimana dengan jiwanya?...
'' mama terlalu cemas.. aku sungguh tak apa''balasnya sambil tersenyum
''ah!. Aku akan membebaskan para budak dulu. Ku lihat mereka menyimpan kuncinya disana'' kata luz lalu pergi membebaskan para budak. Sedangkan aku mencoba mengecek kondisi para orang-orang brengsek tersebut
Ingin rasanya aku menghajar mereka semua terlebih dokter itu
''bisa-bisanya kau membawa putraku...tak bisa ku maafkan'' kataku geram lalu mencoba menghajarnya namun..
!!?....
Tubuh dokter itu langsung terjatuh begitu aku menyentuhnya. Tak sampai di sana saja saat ku periksa denyut nadinya rupanya ia sudah tak bernyawa.aku pun mencoba memeriksa orang-orang yg lain dan mereka pun sama sudah tak bernyawa. Menyadari hal itu seketika saja aku di buat merinding hebat.
Tak ada luka serius pada tubuh mereka..tapi mereka semua sudah mati ,apa luz yg melakukan ini?..bagaimana dia melakukannya?...
Kalau di pikir kan lagi luz handal dalam segala sihir,sihir macam apa yg ia gunakan?...
***
''lian.. ada satu hal yg harus ku beritahukan padamu''
''eh?..ada apa lean?''
''ini tentang luz. ''
''oh?..apa kau cemas aku tak bisa merawatnya?..tak perlu khawatir..aku pasi bisa melakukannya'' balasku
''bukan.. bukan itu'' katanya yg terlihat cemas
''lalu apa?''
__ADS_1
''apa kau sudah tau kalau luz itu pengendali darah?''
''tau kok, elissa sudah mengatakannya padaku ,memangnya apa yg salah?''
''itu berbahaya'' kata lean yg membuatku tersentak
''memanupulasi darah bukanlah hal yg mudah , sejujurnya itu kekuatan yg mengerikan. Bisa memanipulasi darah sendiri dan orang lain.. kalau semisalnya kekuatan itu tak di kontrol dengan baik itu akan membawa malapetaka. Di tambah lagi luz masih anak-anak emosinya tak stabil, aku khawatir kekuatannya itu akan meledak sewaktu-waktu..'' jelas lean
***
''apa mungkin pendarahan di otak?'' gumamku
''mama sedang apa mama disana?''taya luz yg tiba-tiba muncul dan mengagetkanku
''luz!?''
'' tempat ini menjijikan ayo segera pergi dari sini. Para budak juga sudah ku bebaskan'' kata luz sambil tersenyum polos
.......
*grep! '' ayo mama'' ajaknya sambil menarik tanganku namun...
*pats!... '' luz.. jawab pertanyaan mama''kataku sambil menepisnya
''eh?..''
''bagaimana kau membunuh mereka?'' tanyaku sambil menatapnya tajam
''me..membunuh?..apa yg mama bicarakan?..mana mungkin aku membunuh mereka..aku hanya membuat mereka pingsan kok'' balasnya
'' mereka sudah mati luz''
''eh!?..yang benar!?...gawat...bagaimana ini ...a..aku..''
''luz... jangan mencoba berbohong di hadapan mama''kataku yg membuatnya tersentak
''bagaimana kau membunuhnya? Kenapa kau membunuhnya?''tanyaku lagi
''a..aku tak tau...aku hanya merapalkan sihir angin ku, aku tak tau kalau itu malah membunuh mereka..aku sungguh....''
''BERHENTI BERBOHONG DAN JAWAB PERTANYAAN KU LUZ!'' bentakku yg tentu membuatnya tersentak takut
......... ''pfft''
!!?...dia tertawa?
''ahahaha..sudah ku duga aku tak bisa mengelabui mama''
''benar , aku memang membunuh mereka dengan kekuatan darahku''
''rasanya benar-benar nikmat'' sambungnya dengan tatapan yg haus akan darah
''memang apa yg salah dari itu?'' ''kan mereka sendiri yg minta di bunuh, kenapa aku tak boleh membunuhnya?. Mama juga pasti akan membunuh mereka kan karena sudah menculikku?''
''luz..''
'' ruang ini..tempat ini.. semuanya benar-benar menjijikan..saat pertama kali mereka membawaku ke sini , ingatan di menara penyihir langsung terlintas di benakku. Benar-benar menjengkelkan... darahku terasa mendidih...''
''mereka bahkan berniat membedahku ... '' ''aku benar-benar ketakutan tadi, siksaan di menara penyihir bagaikan menghantui ku kembali ''
'' aku benar-benar takut mama'' katanya dengan nada dan tubuh yg mulai gemetar
''dan saat dokter itu mengeluarkan pisau bedah... rasa takut itu semakin mengila... aku seperti kehilangan akal sehatku, hingga tanpa sadar...aku malah membunuhnya''
''awalnya itu menakutkan, tapi anehnya melihatnya mati, hati ku malah terasa sangat ringan. Seakan-akan semua rasa takutku tadi terbayarkan.'' Kata luz sambil tersenyum menatap tangannya sendiri
''satu persatu orang pun terus berdatangan, dan setiap kali mereka mati di hadapanku jantungku berdebar sangat kencang.rasanya benar-benar luar biasa...bagaimana aku mengatakannya ya...''
''puas?'' '' ah! Benar..aku sangat puas saat melihat itu'' sambungnya sambil tersenyum ceria
''rasanya penderitaan ku selama ini terbayar hanya dengan membunuh mereka''
.....luz.... apa dia benar putraku luz?....
Bagaimana bisa ia tersenyum polos seperti itu setelah mengambil nyawa seseorang?...
Tak boleh..tak boleh seperti ini... kalau ku biarkan luz bisa tumbuh sebagai seorang pembunuh... aku harus menghentikannya sebelum terlambat.
__ADS_1
''luz... nyawa seseorang sangatlah beharga'' kataku
''kalau itu aku juga tau mama, tapi apa nyawa orang-orang seperti mereka juga sangat beharga?...'' tanyanya
''sudah berapa banyak orang-orang tak berdosa yg mereka bunuh dan jual demi kesenangan diri mereka sendiri.orang-orang seperti itu,bukannya sebaiknya musnah saja?''
''kalau itu..''
Bukan itu maksud mama luz. Memang nyatanya orang seperti mereka lebih baik mati saja , tapi... kesenangan mu dalam membunuh orang itu lah yg mama cemaskan. Sekarang mungkin kau berfikir kalau orang seperti itu yg layak mati tapi kalau terus di biarkan suatu saat jangankan orang jahat , orang baik pun bisa saja kau bunuh...
Bagaimana aku mengatakan hal itu padanya?..
''....huh~...mama, aku paham mama cemas padaku tapi tenang saja, aku masih bisa membedakan yg benar dan yg salah kok. ''katanya lalu mengenggam tangan ku
''jangan terlalu cemas ma. Putramu ini jauh lebih pintar dari yg terlihat'' sambungnya lalu memelukku
..... lean... kalau kau ada di posisiku apa yg akan kau lakukan?...aku binggung mana yg benar dan yg salah. Aku tak bisa membantahnya karena apa yg ia katakan itu ada benarnya tapi aku mau menghentikannya karena memikirkan masa depannya. Aku harus bagimana?
***
POV Leandro de everon
'' lean, apa kau sibuk sayang?'' tanya lina sambil membuka pintu ruang kerjaku
''tidak, aku hampir selesai disini''balasku sambil merapihkan dokumen di meja ku
''ada apa ?''
''umm... itu..ini soal eli'' balasnya sambil bersandar di mejaku
''ada apa dengan elissa?''
''bagaimana mengatakannya ya...'' ''umm... aku sedikit cemas padanya'' sambungnya
''apa yg kau cemaskan?''
'' perkataan eli tadi itu soal ia yg mau ikut membantu kita kalau ada kejadian seperti tadi''
''ah~..itu kah. Tenang saja aku tak berniat melibatkannya dalam pertempuran''
'' kalau itu juga juga tau'' balasnya
''tapi yg ku takutkan bukan itu.'' ''kalau hal ini terus berlanjut , aku cemas suatu saat nafsu membunuh eli akan muncul'' katanya yg membuatku tersentak
''lean kau sendiri pasti paham akan hal ini, nafsu membunuh bukanlah hal yg bisa di anggap remeh begitu hasrat itu muncul akan sulit sekali mengendalikannya.''
''eli masih kecil, ia belum pernah sekalipun mengambil nyawa mahkluk hidup. tapi kalau suatu saat eli melakukannya dan merasakan rasa puas setelahnya aku takut kita tak bisa menghentikannya'' jelas lina sambil memeluk dirinya sendiri
''aku paham betul hal itu karena aku sendiri pernah mengalaminya. Rasanya kematian satu dua orang tak akan cukup untuk memuaskan hasrat itu...aku....''
''lina cukup''potongku
''hal itu tak akan pernah terjadi'' sambungku
''tak akan ku biarkan tangan putriku ternodai. Dan kalau semisalnya hal itu terlanjur terjadi sudah tugas kita sebagai orang tua untuk menghentikannya''
''meskipun yg ia bunuh adalah orang terjahat sekalipun, kita tetap harus menghentikannya.''
*grep. '' lina..kau dan aku sama-sama tau hal ini. Jalan yg di lumuri oleh darah bukanlah jalan yg mudah. Jangan biarkan putri kita mengambil jalan seperti itu. Cukup kita saja. jangan dia, masa depannya haruslah di hiasi bunga bukan darah'' jelasku sambil mengenggam tangannya lalu menempelkan keningku ke dahinya
''hmph..benar..'' balasnya sambil tersenyum lembut
''meski begitu aku tetap kecewa karena kita gagal menghentikan erwin saat itu''
''pada akhirnya erwin juga tak ada bedanya dengan kita'' sambungnya dengan nada sendu
''hmph..itu salah satu kegagalan terbesar kita sebagai orang tua. Tapi...''
''kau tak perlu cemas lina... karena erwin sudah pernah merasakan rasanya hampir kehilangan seseorang yg berharga baginya'' sambungku sambil memeganggi jantungku
''asalkan ingatan itu masih ada padanya , aku yakin ia akan bisa mengontrol dirinya'' kataku sambil tersenyum lembut
''pfft..benar juga. Biar bagaimana pun dia hampir membunuhmu dulu. Aku yakin itu bisa menjadi penghalang baginya sebelum memutuskan untuk mengambil sebuah nyawa'' kata lina sambil tersenyum
''benar. Asalkan seseorang tau arti penting sebuah nyawa ,ia akan berfikir berulang kali sebelum melakukannya''
''dan ku rasa elissa sudah sangat paham akan arti penting sebuah nyawa.''sambungku sambil memandangi pemandangan dari balik jendela.
__ADS_1
...****************...
...NEXT...