
POV Erwin
"Erwin...bisa berhenti menatapku begitu?. Aku mulai risih sekarang''kata rara yg geram akibat kulihatin terus-menerus
''habisnya .aku binggung sekali sekarang''balasku
''huh?.kenapa?''
Ini aneh hari ini detak jantungku biasa saja. wajahku juga tak terasa memanas.apa itu artinya kemarin aku memang sakit ya?
''tidak bukan apa-apa''kataku yg tak mau membahasnya
''kau benar-benar mulai jadi aneh sekarang.'' ''untunglah lusa kau akan kembali''sambungnya
''apa kau senang aku akan pergi?''tanyaku sambil mendekatinya
''tentu saja. dengan tidak ada kau disini. Hidupku akan menjadi lebih tenang''balasnya sambil tersenyum bangga
''jahat sekali. Aku kan belum lama ada disini. Tapi kau sudah menanggapku seperti beban. Begini-gini aku bisa sakit hati loh'' balasku sambil mendekatkan wajahku kearahhnya
Aku tak tau kenapa tapi dadaku terasa nyeri. Mungkin ini karena aku berharap bisa akrab dengannya tapi sampai akhirpun ia selalu berusaha menjaga jarak dariku
''apa yg kau lakukan!. Jauhkan wajah menyebalkan mu itu dariku!'' serunya sambil mendorong wajahku menjauh
''baiklah''
Yah.. kelihatannya sampai akhirpun aku tak bisa mendekatiya lebih dari ini. Ini pertama kalinya aku sulit akrab dengan seseorang. Ku pikir eric sudah yg paling susah ternyata ada lagi yg lebih sulit darinya.
'' kau mau sakit atau apa itu bukan urusan ku. Alasan kita bicara saat ini pun karena kau adalah pasien disini. Jadi saat kau keluar dari sini jangan bicara apapun lagi pada ku.'' Katanya tiba-tiba yg tentu saja membuatku kaget
''kalau begitu .sama saja seperti kita tak saling kenal dong''
''itu terdengar bagus di telinga ku''katanya lalu kembali sibuk dengan pekerjaannya
....apa ia sebenci itu padaku?. Ku akui aku memang senang menganggunya tapi kalau sampai tak mau bicara padaku sama sekali...itu....
''memang kenapa kau sebenci itu padaku?''tanyaku
''hah?''
''aku tau aku memang sering menganggumu bahkan membuatmu kesal. Tapi yg ku lakukan itu masih dalam batas wajar. Aku tak pernah bercanda kelwat batas. Tapi kenapa kau sebenci itu padaku. Aku tak mengerti''
''kenapa tiba-tiba kau bicara begitu sih?.kalau aku tak menyukaimu ya aku gak suka'' balasnya
''ya kan pasti ada alasannya kenapa kau tak suka'' ''tak mungkin kau tak menyukaiku kalau tak ada alasannya'' *grep! '' kalau aku salah aku minta maaf. Aku tak akan lama lagi disini. Aku tak mau hubungan kit malah hancur setelah aku pergi'' kataku sambil menggenggam tangannya namun ia langsung menepisnya dan menatapku tajam
'' SIFAT MU YG SEPERTI INI YG MEMBUATKU TAK SUKA OKE!. balasnya yg terlihat begitu kesal . lalu tanpa berkata apapun lagi ia langsung pergi meninggalkan ku. Aku bahkan belum sempat membalas perkataannya barusan.dan ini membuat dadaku terasa semakin sakit
***
''Aku benci sikap mu ini. Itu membuatku risih''
Dia tak suka orang yg sok akrab ya?. meski sudah terlambat untuk mengubahnya sekarang .
Apa tak ada cara agar ia bisa memaafkan ku?.
''oh!. Tuan erwin''
''luis''
''ada apa tuan?. Muka anda terlihat lesu?''tanyanya sambil mendekatiku
''tidak, aku hanya sedang binggung harus berbuat apa''
'''rara kelihatannya sangat membenciku.padahal aku akan segera pergi dari sini.aku merasa tak nyaman jika pergi dengan kondisi di mana ia masih tak menyukaiku''jelasku
''rara tak menyukai anda?. Bukannya itu malah sebaliknya ya?''balas luis yg jelas membuatku kaget
'' kalau rara tak menyukai anda tak mungkin ia mau bicara dengan anda. Dan Tak mungkin juga ia berusaha keras melenyapkan kutukan anda''
Kalau di pikir-pikiritu benar juga..
''rara itu hanya binggung bagaimana mengekspresikan perasaannya tuan''
__ADS_1
'' ia sering bersikap dingin karena tak tau harus bersikap seperti apa. Kalau anda sudah mengenalnya dengan dekat sikapnya itu cukup imut loh''sambung luis sambil tersenyum gemas
Jadi maksudnya aku belum mengenal rara dengan baik?.yah..orangnya saja sulit di dekati bagaimana mau kenal dekat
'' anda kelihatannya kepikiran sekali ya dengan ini. Ini pertama kalinya loh. Biasanya orang-orang akan langsung menjauh setelah di tolak rara'' kata luis
''ah..itu..anggap saja aku itu bukan orang yg mudah menyerah. Lagi pula ini bukan pertama kalinya aku kesulitan mendekati seseorang. Mungkin ini terdengar egois tapi aku tak mau ada orang yg membenciku terlebih orang yg ku anggap spesial. Kalau aku memang ada salah aku ingin memperbaikinya''
''masalahnya rara sama sekali tak memberiku celah untuk memperbaikinya''kataku yg mulai frustasi
''umm.. tuan erwin ternyata tak peka ya'' gumam luis
''maaf?''
''tidak bukan apa-apa. Lupakan saja'' kata luis
'' kalau anda ingin akrab dengan rara. Pertama-tama anda harus mendekatinya secara perlahan.rara itu tak suka dengan sesuatu yg tergesa-gesa. Mungkin sudah terlambat untuk ini tapi. Coba lah untuk bicara baik-baik dengannya.lalu..saran saya.. saat bicara dengannya pastikan anda tak terlalu dekat dengannya karena itu akan membuatnya tak nyaman'' jelas luis
''baiklah.. lalu?''
''lalu...''
''AKHIRNYA JADI JUGA!'' seru dokter rei yg jelas membuat kami berdua tersentak lalu pergi ke ruangannya
''akhirnya..setelah darah dan keringat yg ku tuangkan''kata dokter rei yg terlihat begitu terharu
''selamat.saya ikut senang''kata ibu yg entah kenapa ikut terharu
''ada apa?''tanya luis
''luis lihat ini!.akhirnya aku berhasil membuat mata buatan untuk rara''kata dokter rei sambil menunjukan maha karyanya
''woah!. Itu bagus!. Dengan begitu rara bisa melihat dengan kedua matanya lagi kan?!''seruku yg ikut senang mendengar kabar ini
''luar biasa dokter.''kata luis yg ikut senang
''fufufu. Nah sekarang cepat panggil rara. Kita akan mulai oprasinya'' kata dokter rei
''baik'' balas ku dan luis kompak
***
''anak itu.dia kabur kemana sih?''
Meski sudah di cari ke sekeliling rumah nyatanya kami tak bisa menemukannya. Kami pun sepakat untuk mencarinya di luar. Awalnya aku ingin ikut mencarinya ke kota tapi dokter rei melarang karena katanya aku masih belum bisa berjalan dengan benar lagi pula harus ada satu orang yg berjaga disini kalau-kalau rara pulang
''huh~...anak itu. marah dengan ku saja sampai merepotkan satu rumah'' keluh ku sambil bersandar di sofa
Yah..dia kan bukan anak usia 5 tahun. Setelah amarahnya mereda ia juga akan kembali.
Karena berfikir demikian aku pun berniat tidur sambil menunggu mereka kembali namun...
''um?''
Istirahatku sedikit terganggu begitu aku mendengar suara kresek kresek dari belakang . tanpa pikir panjang aku pun pergi ke belakang lebih tepatnya ke taman belakang
'' aneh. Aku dengar sesuatu di sini tadi?'' gumamku sambil melihat sekelilingku
Perlahan ku pejamkan mataku dan mencoba menajamkan instingku hingga
''apa ada orang!?. Tolong aku!''
!!? suara itu!?.rara?!
Aku pun langsung berjalan menuju sumber suara dan semakin dekat aku dengan sumber suara semakin jelas pula aku bisa mendengarnya . hingga tiba lah aku di sumber suara tersebut. suara itu berasal dari lubang perangkap rusa yg ada di dekat ruamh dokter rei
''rara apa itu kau?''tanyaku sambil mengintip ke dalam lubang tersebut
''erwin kah!?..erwin tolong. Aku terjebak disini''
Dan bukannya langsung mencari bantuan aku malah....
''pfft..buahahaha.. gimana bisa jatuh sih? apa otakmu secetek itu?''ledekku
__ADS_1
''JANGAN TERTAWA DAN CEPAT KELUARKAN AKU DARI SINI!'' teriaknya
''se..sebentar..astaga aku tak bisa berhenti tertawa ahahaha'' kataku sambil berusaha menahan tawaku
''ukh!. KU BILANG JANGAN KETAWA!'' teriaknya lalu melempariku sebuah batu yg ia dapat dari dalam sana dan entah bagaimana itu tepat sasaran mengenai kepalaku . aki bat itu pula kepalaku menjadi pusing untuk sesaat dan karena tak seimbang aku pun ter pelesat dan...
*bruk!
......................................................................
''aw...aw..sakit'' rintihku yg baru saja ikut ter perosok ke dalam lubang
...... '' SI BEGO KENAPA MALAH IKUTAN JATOH!'' seru rara sam bil menjambak rambutku
''AW!..AW!.SAKIT WOI!'' ''salah sendiri ngelempar batu!'' seruku sambil berusaha menyingkirkan tangannya
'' kalau kau tak ter tawa dan langsung meminta bantuan kan gak akan jadi kayak gini!'' seru rara yg terlihat hampir menangis
''woi..woi..jangan nangis.. aku bakal mengeluarkan kita dari sini kok''kataku yg malah merasa bersalah pada
''AKU GAK NANGIS!. Mata ku ke masukan debu!'' serunya sambil mengelap air matanya
....di lihat dari mana pun dia kan menangis itu.
Huft... aku bisa aja sih mengunakan sihirku untuk membuat tanaman dan mengeluarkan kami dari sini.
''lebih baik aku melakukannya seka...''
*grep!...eh!?!...
''rara?'' panggilku yg kaget saat itu tiba-tiba memeluk tangan ku erat
???...apa ia setakut itu tak bisa keluar?.ini masalah gampang padahal.
*grep!. ''rara kau takut tempat gelap dan sempit?''tanyaku sambil mengenggam tangannya yg gemetar
''BUKAN !. AKU TAKUT ITU!'' serunya sambil menunjuk serangga yg keluar dari lubang-lubang kecil di dekat kami
A... ternyata begitu.. payah...
''ukh...terkurung di sini sendirian saja sudah membuatku dekat dengan mereka ini lagi malah berdua..tak mau..aku tak tahan '' katanya yg terdengar gemetar
''hmm... itu kan hanya seranga. Dan lagi bukannya itu serangga yg ku makan kemarin ya. itu enak loh. Mau di ambil ?''tawarku
''KAU GILA YA!''
''ahaha..bercanda'' tawaku yg membuat kerutan di wajahnya
Pfft.. ini menarik. Tadinya aku ingin langsung membawanya keluar dengan sihir tapi setelah melihat reaksinya ini...
Ku rasa mengerjainya sebentar tak akan jadi masalah (sosok setan mulai muncul :v)
''wah~..gawat nih. Sepertinya karena jatuh tadi aku menghancurkan sarang mereka.sepertinya mereka akan keluar semua sebentar lagi'' ledekku
''HIK!.. KALAU BEGITU LAKUKAN SESUATU!'' teriaknya
''ah!.. ada tsatu di kepalamu tuh'' ledekku dan begitu mendengar hal itu wajah rara langsung menjadi begitu pucat seperti orang mati
..eto...apa aku sudah kelewatan?
''ra'' *grep!
''HUWAAAAAAA!!!. SINGKIRKAN ITU DARI KU SINGKIRKAN!'' teriaknya sambil memelukku begitu erat hingga aku ke sulitan bernafas
''ra..ra...tu..tunggu dulu...a..aku kecekek..''kataku yg kesulitan bernafas
Namun rara yg sudah terlalu takut tak mendengarkan ku sama sekali.
Sial..tau begini .aku gak gangguin dia dan langsung bawa dia keluar aja tadi.
Gawat.. pengelihatanku mulai memudar.kalau ia tak segera melepaskan ku aku akan mati disini...
''ra..ra..''
__ADS_1
...****************...
...NEXT...