Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
98


__ADS_3

"Sekarang apa mau kamu?" tanya Raditya pada Linda.


"Aku mau...," ucap Linda ragu.


"Aku mau kamu berhenti kerja," ucap Raditya tegas dengan menatap bengis Linda.


"Kenapa bahas masalah ini lagi sih?" Linda kesal dan menatap marah pada Raditya.


"Karena aku tidak suka jika kamu bekerja. Setelah bekerja kamu jadi berubah, bahkan kamu selingkuh dengan pria lain. Apa kamu tidak ingat dengan Raline?" Raditya emosi hingga dia berdiri dari duduknya ketika berbicara.


"Apa kamu yakin itu salahku? Bukannya kamu yang selingkuh terlebih dahulu?" pertanyaan yang dilontarkan oleh Linda seolah-olah menantang dan menyudutkan Raditya.


"Kamu pikir aku selingkuh? Kapan aku pernah selingkuh?" tantang balik Raditya dengan pertanyaannya.


"Apa selama ini kamu gak selingkuh?" ucap Linda dengan senyum meremehkan.


"Kamu pikir aku dan Kiki selingkuh?" tanya Raditya.


"Ya bisa aja kan? Siapa yang tau," ucap Linda dengan tenang.


"Kamu sadar dengan ucapan mu? Kamu pikir Bang Aydin akan membiarkan kami jika berselingkuh? Pasti kami udah mati dari dulu jika kami berselingkuh," ucap Raditya dengan emosi.


"Siapa yang tau kalau anak Kiki itu anak kalian bukan anak Kak Aydin," jawab Linda.


"Kamu gila Linda. Bisanya kamu berpikir seperti itu padahal kamu tau aku tidak pernah bertemu dengannya. Tiap hari aku hanya bersama dengan Aldo. Kalau kamu memang ingin membuktikan sendiri, ayo kamu ikut aku tiap hari kemanapun aku pergi, dan keluarlah dari pekerjaanmu," seru Raditya penuh emosi.


"Hufftt... selama ini aku selalu berusaha untuk memperlihatkan keseriusanku dalam berumah tangga denganmu, tapi apa? Dengan sadar kamu melakukan perselingkuhan. Aku kurang apa? Aku udah memberikan semua yang kamu inginkan. Aku juga jarang berkumpul dengan teman-temanku, itu demi menjaga perasaan kamu," suara Raditya kini melemah.


"Apa aku kurang menyayangimu? Apa perlakuanku tidak menunjukkan bahwa aku menginginkanmu menjadi istriku?" Raditya duduk kembali berhadapan dengan Linda.


Linda hanya diam saja karena tidak tahu lagi apa yang akan dia katakan. Dia takut, namun dia berusaha agar terlihat tenang.


"Mulai besok kami tidak usah bekerja, karena Raline lebih membutuhkanmu," ucap Raditya setelah itu dia berdiri hendak keluar dari kamar.


"Aku tidak bisa," jawab Linda tegas.

__ADS_1


Raditya menoleh dan berkata, "Kenapa?"


"Karena aku tidak mau. Aku masih ingin bekerja," jawab Linda kembali dengan tegas.


"Kamu ingin bekerja atau ingin bersama si br*****k itu?" tanya Raditya kembali emosi.


Linda diam tidak menjawab. Dia masih bingung mencari kata-kata.


"Apa sih yang kamu suka dari dia?" tanya Raditya merendahkan harga dirinya.


"Dia sangat mencintaiku, dia memperlakukanku penuh kasih sayang," jawab Linda bangga.


Raditya tersenyum miring. Sebenarnya hatinya penuh luka. Dia kecewa dengan istrinya yang terang-terangan memuji selingkuhannya.


"Apa aku kurang memperhatikanmu? Apa aku kurang meluangkan waktu untukmu? Jawab!" kini emosi Raditya memuncak.


Linda gemetar ketakutan karena dari dulu sampai sekarang suaminya itu tidak pernah membentaknya seperti sekarang ini.


"Baiklah, sekarang kamu pilih, tinggalkan pekerjaanmu dan selingkuhan mu itu atau kita pisah," Raditya meraih kunci motornya yang ada di nakas, kemudian dia pergi meninggalkan Linda yang masih syok di kamar.


Kini dia berada di sebuah danau yang sepi dan meratapi kisah rumah tangganya. Raditya duduk di rerumputan di samping danau dengan memandang kilauan air yang memantulkan cahaya.


"Bro!" sapa seseorang dengan menepuk pundak Raditya dari belakang.


Raditya menoleh dan kaget melihat calon adik iparnya yang lebih tua darinya.


"Eh Bang, sejak kapan di sini?" tanya Raditya merasa tidak enak karena takut jika Kenan menyaksikan tingkahnya sedari tadi.


"Baru aja kok. Disini tenang ya. Benar kata Renita jika pikiran kita sedang kalut, kita bisa tenang jika berada di sini," ucap Kenan sembari mengambil batu kecil dan melemparnya ke danau.


"Abang disuruh Renita kemari?" tanya Raditya yang kini meniru Kenan melempar batu kecil ke danau.


"Renita mengkhawatirkan mu. Sepertinya aku tidak bisa menggantikan sosok seorang kakak bagi Renita," canda Kenan.


"Karena Abang nantinya akan menjadi suaminya, bukan kakaknya," jawab Raditya.

__ADS_1


Mereka tertawa kecil bersama sambil melemparkan batu kecil ke danau.


"Tolong jangan kecewakan dan buat Renita menangis ya Bang. Tolong bahagiakan dia," kini suara Raditya bergetar, dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit dan sesak di dadanya.


"Aku janji akan membahagiakan Renita dan tidak akan membuatnya menangis," ucap Kenan tegas dan itu membuat Raditya sedikit tersenyum.


"Aku tau ini sangat berat untukmu. Aku tidak bisa membayangkan jika berada di posisimu, pasti aku sangat hancur sama seperti Aydin waktu itu," ucapan Kenan membuat Raditya menoleh padanya.


Seakan tau apa yang ditanyakan oleh Raditya, Kenan kembali bercerita.


"Kamu tau kenapa Aydin tidak suka kamu dekat dengan Kiki meskipun kalian bersahabat? Dulu si Caroline itu adalah pacar Aydin. Mereka akan bertunangan pada saat Aydin berulang tahun. Sayangnya Caroline tidak hadir pada saat itu, ternyata dia berada di luar negeri bersama sahabatnya yang juga menghamilinya," Kenan menceritakan tentang penghianatan Caroline.


Raditya kaget dan tidak menyangka jika Aydin pernah merasakan hal itu.


"Pantesan Bang Aydin tidak suka jika aku dekat dengan Kiki apalagi kita selalu bilang sahabatan," ucap Raditya sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Dan pernah saling mencintai," timpal Kenan menambahi perkataan Raditya.


"Itu kan dulu Bang. Sekarang kita sudah punya pasangan masing-masing dan sudah memiliki anak," Raditya tersenyum getir.


"Aku tau kamu masih mencintainya, mungkin sedikit, tapi aku mengerti kok. Dan Aydin juga tau, hanya saja dia tidak memperlihatkannya. Tapi jangan salah, dia selalu waspada denganmu," ucap Kenan diakhiri dengan kekehan.


"Mereka berdua beruntung karena memiliki pasangan yang saling setia," ucap Raditya dengan tersenyum getir.


"Yang sabar Bro, yang kuat agar Raline tidak kehilangan sosok Ayah dan Bundanya. Jika kalian harus berpisah pun , aku harap kamu akan bisa jadi sosok Ayah dan Bunda bagi Raline. Aku tau kamu tidak akan melepaskan Raline," Kenan menguatkan Raditya.


Raditya tersenyum dan berkata, "Makasih Bang."


"Ya udah, yuk kita pulang," ajak Kenan sambil menarik tangan Raditya.


Mereka menaiki motor saling beriringan. Kenan benar-benar mematuhi apa yang diucapkan oleh calon istrinya. Renita meminta Kenan agar menyusul Raditya yang keluar rumah dengan marah karena habis bertengkar dengan Linda. Renita mengatakan bahwa tempat Raditya biasa merenung di danau. Dan dia meminta agar mengantar Raditya sampai rumah dengan selamat.


Ketika melewati taman, mata Raditya menangkap dua orang yang tidak asing menurutnya. Motor Raditya berhenti, dia melihat dari kejauhan Linda sedang duduk berbicara serius dengan Riko.


Kenan ikut menghentikan motornya dan mengikuti arah pandangan mata Raditya.

__ADS_1


"Sialan!"


__ADS_2