
"Bentar Bik, apa susunya masih hangat? Apa perlu dibuatkan lagi yang baru?" Bunda menghadap ke arah Bik Sum dan menunggu jawaban darinya.
Bik Sum memegang gelas susu tersebut, "Masih hangat Nyah. Apa perlu diganti?"
Bunda berpikir sejenak, "Gak usah Bik, tolong cepat berikan pada Kiki supaya bisa segera diminum sebelum dingin", Bunda memerintahkan Bik Sum untuk segera membawa susu tersebut pada Kiki, namun entah mengapa perasaan Bunda tidak enak. Dia merasa khawatir dan gelisah. Namun cepat - cepat Bunda mengenyahkan pikiran buruk itu dan segera membawa makanan yang dia siapkan ke kamar Kiki. Bunda datang dan ternyata Kiki sudah menghabiskan susunya. Lantas Bunda menyuruh Kiki untuk memakan makanan yang dibawakan oleh Bunda, namun Kiki menolaknya, karena perutnya masih terasa penuh setelah meminum habis segelas susu yang dibawakan oleh Bik Sum tadi.
Bunda bercerita banyak pada Kiki tentang kehamilannya pada saat Aydin masih di dalam perutnya, hingga masa kecil Aydin dan kebiasaan - kebiasaannya. Kiki merasa sangat terhibur dengan cerita Bunda, namun tiba - tiba dia merasa perutnya tidak enak. Kali ini dia merasa mual, padahal selama ini dia tidak pernah merasakan mual, namun Kiki dan Bunda merasa itu hal yang wajar dirasakan oleh ibu hamil. Lama - kelamaan dia merasa perutnya tidak nyaman. Perutnya merasa sangat sakit, begah, tidak nyaman, dan lama - kelamaan Kiki merasakan kram di perutnya. Kiki tidak tahan lagi, dia merintih kesakitan, dan Bunda merasa ada hal aneh yang sedang dirasakan oleh Kiki, menurut Bunda ini sudah tidak wajar lagi bagi ibu hamil, hingga akhirnya Bunda berniat membawa Kiki ke rumah sakit. Namun disaat Kiki mencoba berdiri, dia tidak kuat menopang tubuhnya, badannya terasa sangat lemas dan selain itu juga kepalanya terasa sangat sakit sekali hingga dia merintih kesakitan karena sudah tak tertahankan, sampai - sampai dia mengeluarkan air mata.
Pas sekali pada saat itu Aydin datang dan ketika dia berjalan di tangga, dia langsung berlari menuju kamarnya karena mendengar suara rintihan kesakitan dan tangisan dari istrinya. Aydin sungguh kaget melihat Bunda yang berusaha memapah Kiki yang dengan sekuat tenaga berdiri dan merintih kesakitan disertai dengan tangisnya. Segeralah Aydin membopong Kiki, menggendongnya ala bridal style namun kali ini tidak seperti biasanya yang penuh dengan keromantisan, kini Aydin menggendong Kiki dengan penuh kekhawatiran. Aydin membopong Kiki turun menapaki tangga dan bergegas masuk dalam mobil Kevin yang kebetulan masih disitu, tadinya Kevin hendak putar balik mobilnya untuk keluar halaman rumah Aydin. Namun Kevin berhenti ketika dia melihat Aydin membopong Kiki yang sedang merintih kesakitan. Bunda dan Aydin sangat panik melihat kondisi Kiki sekarang ini, dan Kevin pun juga turut panik melihat adik kesayangannya itu merintih kesakitan. Aydin memerintahkan Kevin untuk melaju cepat supaya cepat sampai di rumah sakit. Tak henti - hentinya Aydin menciumi puncak kepala Kiki dan mendekapnya dengan erat dan tangisnya pun ikut menyertai kepanikannya. Ditengah kepanikan mereka, Bunda segera menelepon Ayah yang kebetulan masih berada di rumah sakit. Kemudian Bunda memberitahukan yang terjadi pada Kiki menantu mereka yang amat disayangi.
Aydin mendekap erat tubuh Kiki yang merintih kesakitan. Air mata Aydin jatuh ke pipi Kiki bercampur dengan air mata Kiki ketika Aydin mendekap kepala Kiki di dadanya dan dia kecup kening dan pipi Kiki bersamaan dengan tangisnya. Sungguh dia tidak tahan melihat istri tercintanya merintih kesakitan dan menangis karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Sesampainya di rumah sakit, segera Aydin membawa Kiki ke ruang IGD yang sudah ada Dokter Anggi dan juga Ayah Aydin yang menunggu mereka di sana setelah Bunda menghubunginya tadi. Dokter memerintahkan Aydin, Ayah, Bunda dan Kevin untuk menunggu di luar. Aydin menolak, namun Dokter Anggi menjelaskan bahwa mereka akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang akan diberikan pada Kiki untuk mengetahui kondisi janin yang ada di kandungannya. Karena pada saat di mobil tadi, tiba - tiba saja darah segar mengalir di kaki Kiki. Maka dengan sangat terpaksa mereka keluar dan menunggu di luar IGD.
Selama beberapa waktu, Aydin dan semuanya sangat gelisah menunggu hasil pemeriksaan. Menurut mereka , waktu berjalan sangat lama hingga mereka mondar - mandir kesana - kemari menunggu Dokter Anggi keluar dari ruang tersebut. Tak tahan lagi, Aydin hendak masuk ke dalam ruangan, namun Ayah melarangnya agar pemeriksaan cepat selesai. Tidak bisa membantah lagi, karena memang benar apa yang dikatakan oleh Ayahnya. Aydin menjambak rambutnya dengan frustasi. Dia merasa sangat bersalah karena telah meninggalkan istrinya tadi pagi di rumah. Seandainya dia tadi tidak meninggalkan Kiki, mungkin saja kejadian tersebut tidak akan terjadi.
Dokter keluar dari ruang IGD dengan wajah lesu. Aydin yang melihat Dokter Anggi keluar dari ruangan itu, dengan sigap dia menghampirinya.
"Bagaimana Dok keadaan istri saya dan bayinya?"
Dokter Anggi menatap lesu wajah Aydin,dia merasa gagal menyelamatkan nyawa pasiennya. Kemudian dia menggeleng,
"Maaf, bayi anda tidak bisa kami selamatkan", sungguh sangat menyesal Dokter Anggi tidak bisa menolong, apalagi itu cucu yang kehadirannya di dunia ini telah ditunggu - tunggu oleh Ayah Aydin yaitu pemilik rumah sakit tempat dia bekerja.
Aydin mematung tidak dapat berkata - kata, dunianya seakan runtuh. Bayi yang mereka harapkan dan mereka nanti, kini hanya menjadi kenangan.
"Silahkan anda temui istri anda. Dan tolong bantu dia agar bisa menerimanya. Jangan sampai dia syok dan kembali seperti waktu itu", kemudian Dokter Anggi pamit pada mereka dan meninggalkan tempat tersebut.
Ayah dan Bunda menenangkan Aydin dan mereka mengajak Aydin untuk masuk menemui istrinya. Aydin teringat kembali perkataan Dokter Anggi, dia merasa perkataan Dokter Anggi benar, jika dia saja down maka Kiki akan lebih down lagi karena Kiki yang mengandungnya dan merasakan semuanya, maka tentu saja dia akan merasa sangat kehilangan dan dia harus bisa menenangkannya, maka dari itu dia harus kuat menerimanya agar dia bisa menjaga, merawat dan menguatkan Kiki, istrinya yang kini sangat butuh perhatiannya.
__ADS_1
Kevin merangkul pundak Aydin,
"Sabar Sob, semoga Allah segera memberikan gantinya. Sekarang kita tenangkan dan kuatkan dulu Kiki, dan ingat, jangan sampai Kiki syok dan tidak bisa menerima semuanya ini."
Aydin mengangguk dan berjalan mengikuti Ayah dan Bunda masuk ke dalam ruangan untuk menemui Kiki. Nampak Kiki yang masih belum sadar karena pengaruh obat yang diberikan oleh Dokter tadi. Sekarang ini Kiki sedang dipersiapkan untuk dipindahkan ke ruang VVIP. Mereka semua mengikuti Kiki yang dipindahkan oleh para perawat ke ruang VVIP.
Beberapa lama kemudian, saat Kiki belum sadar, Dokter Anggi datang ke ruangan dimana tempat Kiki sekarang dirawat. Dokter Anggi membicarakan tentang keguguran yang dialami oleh Kiki. Dokter Anggi menanyakan tentang makanan, minuman dan obat yang dikonsumsi oleh Kiki tadi. Bunda memberitahukan bahwa Kiki tadi beberapa jam yang lalu baru meminum susu ibu hamil saja, bahkan dia belum memakan makanan yang sudah disiapkan, sehingga dia belum meminum vitamin dan obat yang diberikan oleh Dokter Anggi padanya.
Dokter Anggi menghela nafasnya berat, dia mengatakan bahwa dari hasil pemeriksaan telah ditemukan obat penggugur kandungan yang dikonsumsi dalam dosis yang besar, sehingga dengan cepat obat itu bereaksi pada kandungan Kiki dan janinnya tidak bisa ditolong lagi. Ditambah tadi Kiki belum meminum vitamin dan obat untuk menguatkan kandungannya, sehingga membuat efek obat penggugur kandungan tadi sungguh cepat bereaksi.
Bunda melotot saking kagetnya. Aydin menoleh pada Bunda, dan Bunda menggeleng kemudian berucap, " Tidak mungkin.... tidak mungkin Kiki mengkonsumsi obat itu, sedari tadi Bunda bersamanya, dan Bunda meninggalkannya ketika membuatkan dia susu, kemudian susunya diantar oleh Bik Sum karena Bunda mengambilkan Kiki makanan, setelah itu kita ngobrol dan bercanda, tapi kemudian setelah beberapa lama, Kiki mengeluh mual, tidak nyaman dan sakit pada perutnya hingga dia tidak mampu berdiri dan berjalan karena begitu lemah dan kepalanya sangat sakit", Bunda mengurutkan kejadian yang dia ketahui. Ayah mengelus pundak Bunda untuk menenangkannya. Sedangkan Aydin tertunduk lemah, dia tidak tahu harus menyalahkan siapa dan sekarang dia bingung bagaimana caranya untuk memberitahukan pada istrinya bahwa janin yang berada di kandungannya kini telah tiada.
"Maaf, apa susunya itu yang biasa dia minum?" Dokter Anggi bertanya dengan sungkan.
"Iya Dok, apa mungkin ada yang salah dengan susunya?" tanya Bunda penasaran.
Ayah mengangguk setuju, dan Ayah menghubungi Bik Sum agar mengunci kamar Aydin dan tidak menyentuh apapun yang berada di sana. Terutama makanan dan gelas susu Kiki. Kemudian Ayah pulang untuk mengambil gelas susu Kiki. Karena makanan Kiki masih terlihat utuh tak tersentuh, jadi Ayah hanya membawa gelas susu yang masih menyisakan sedikit susu yang tertinggal di dalam gelas. Setelah sampai di rumah sakit, Ayah segera memberikan gelas susu yang masih tersisa sedikit susu itu kepada Dokter Anggi untuk diberikan kepada petugas yang bertugas untuk memeriksanya.
Aydin selalu berada di dekat Kiki. Seperti sebelum - sebelumnya, dia tidak melepaskan sedetikpun tangan Kiki, dia selalu menggenggam tangan Kiki dan sesekali dia membelai dan merapikan rambut Kiki. Dibelainya pipi wanita yang dicintainya itu dengan lembut dan mendamba, dia ingin sekali agar wanita yang dia sentuh ini segera sadar agar rasa bersalah didalam hatinya berkurang. Kadang air matanya pun menetes sendiri, dia tidak menyangkan jika ujian yang diberikan oleh Allah begitu beruntun padanya dan Kiki. Ingin sekali dia protes dan berteriak pada Allah, namun dia sadar jika itu pun bukan hal yang tepat dan bukan sebuah solusi. Ah, Aydin baru ingat jika semua ini terjadi ketika Naila datang ke rumahnya. Ada pertanyaan yang menyusup dalam benaknya, "Apa mungkin Naila pembawa sial atau malapetaka? ataukah mungkin dia yang melakukannya?" Aydin menjadi berpikiran buruk pada Naila. Namun dia berjanji akan mengadakan perhitungan padanya jika memang terbukti dialah penyebab semua ini terjadi.
Bunda dan Aydin mulai mengobrol setelah beberapa lama mereka larut dengan pikirannya sendiri - sendiri. Mereka begitu heran dengan kejadian keguguran Kiki yang begitu mendadak, pasalnya tidak ada tanda - tanda pada kesehatan Kiki jika memang keguguran itu terjadi secara alami. Namun jika mendengar apa yang dikatakan oleh Dokter Anggi, tentang obat penggugur kandungan itu, Bunda dan Aydin yakin jika Kiki tidak mungkin melakukan hal tersebut. Karena menurut sepengetahuan mereka, Kiki begitu bahagia dengan kehamilannya sekarang ini, hingga dia rela untuk ijin tidak kuliah dalam beberapa hari.
Beberapa menit kemudian Kiki tersadar, dia merintih kesakitan. Aydin yang selalu berada disampingnya menenangkannya dan memberikan pelukan dan kecupan di semua wajah Kiki untuk menyalurkan kekuatannya.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa begitu sakit?" Kiki meringis kesakitan memegang perutnya.
Air mata Aydin kembali menetes tanpa permisi. Dia sangat bingung untuk sekarang ini dia harus berkata apa pada istrinya. Dia tidak ingin berbohong pada istrinya, namun dia tidak tega dan takut jika Kiki kembali syok setelah mendapatkan penjelasan darinya.
"Sayang... tenang ya, sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Abang panggilkan Dokter Anggi dulu ya", Aydin membujuk Kiki agar bisa lebih tenang.
__ADS_1
Kemudian Aydin menekan tombol untuk memanggil Dokter agar cepat datang ke ruangan tersebut. Bunda mendekati Kiki, dia tak kuasa menahan air matanya.
"Bunda kenapa? Bunda jangan nangis, nanti Kiki jadi ikut nangis loh", Kiki mencoba membujuk Bunda agar tidak menangis lagi, dia tersenyum manis menutupi rasa sakitnya agar Bunda dan Aydin, suaminya itu tidak cemas dan tidak sedih melihatnya.
Bunda hanya mencoba tersenyum mendengar perkataan Kiki. Rasanya Bunda ingin sekali tidak memberitahukan tentang keguguran itu pada menantunya ini.
"Kak Kevin dimana? Bukannya tadi ikut ngantar Kesini?" Kiki bertanya dengan menoleh dan mencari sosok kakaknya yang kadang menjadi musuhnya namun sangat menyayanginya.
"Kak Kevin tadi pulang sewaktu kamu belum sadar sayang, dia mau menjemput Mama dan Papa yang katanya mau kesini juga. Mereka sangat cemas mendengar kamu masuk rumah sakit", Aydin mencoba tersenyum, namun senyumnya itu mengisyaratkan luka dan kesedihan yang mendalam.
"Oooo....", Kiki mengangguk - angguk ber - o ria.
"Sayang mau sesuatu?" tanya Aydin untuk mengalihkan pertanyaan - pertanyaan yang nantinya Aydin takut mengarah ke pertanyaan tentang rasa sakitnya tadi.
"Emmm.... Gak pengen apa - apa, cuma ini kenapa aku jadi ada di kamar ini lagi sih sayang, apa aku harus dirawat lagi?" Kiki sepertinya begitu banyak pertanyaan yang ada di pikirannya.
"Udah gak usah mikirin apa - apa ya, kasihan itu otak cantik kamu kalau terlalu banyak mikir", Aydin sengaja menggoda istrinya agar tidak mempertanyakan tentang sakit yang dirasakannya.
Bunda tersenyum melihat interaksi anak dan menantunya itu, begitu hangat dan saling mencintai.
"Hah?! Tapi....", belum selesai Kiki berbicara namun terdengar suara dari luar.
Tok...tok...tok
Suara ketukan pintu mengalihkan pembicaraan mereka. Mata mereka bertiga beralih menatap ke arah pintu, ternyata di sana sudah ada Dokter Anggi yang akan memeriksa kembali keadaan Kiki setelah tersadar.
"Sudah sadar ya? Apa ada yang dikeluhkan?"
"Emmm.... Dok, sebenarnya saya kenapa sih? kok rasanya tadi sakit banget? sekarang juga masih sakit, tapi udah gak sesakit yang tadi", Kiki bertanya pada Dokter Anggi berharap jawaban yang dia terima sesuai dengan keinginannya.
__ADS_1