
"Bunda... Bunda kenapa gak pulang-pulang?" tanya Raline pada Linda.
Linda berjongkok mensejajarkan tinggi badannya dengan Raline. Air matanya menetes tak kuasa melihat putri kandungnya, anak yang dikandung di rahimnya kini berada di depannya.
"Bunda kenapa nanis?" tanya Raline yang masih agak cadel.
Linda menggeleng dan menyeka air matanya.
"Raline... Raline..," suara teriakan bersahut-sahutan memanggil nama Raline.
"Bunda, ayo pulang," ajak Raline dengan menarik tangan Linda.
"Raline ayo pulang sayang," Raditya tampak kesal melihat wajah Linda dan Riko.
"Ayo pulang Bunda," ajak Raline kembali dengan menarik kembali tangan Linda.
"Raline sayang... yuk pulang, kasihan adek Ken yang nungguin Kak Raline dari tadi," bujuk Kiki dengan lembut seraya berjongkok memegang tangan Raline.
"Tapi Bunda juga pulang ya, Bunda diajak lihat adek Ken," ucap Raline polos.
"Gak usah sayang, yuk kita pulang," Raditya mulai tidak sabar menghadapi situasi ini.
"Eh hargai anak kecil dong, dia pengen pulang sama Bundanya. Biarin dia ikut Bundanya," sahut Riko dengan kesal.
"Tau apa kamu tentang anak kecil? Tau mu cuma sela****gan aja," jawab Raditya emosi.
"Didi!" bentak Kiki pada Raditya.
"Sorry Ki, emosi," ucap Raditya sambil mengangkat Raline untuk digendong.
"Bunda gak pulang?" tanya Raline yang sepertinya rindu sekali dengan Bundanya.
"Raline ikut tante Kiki aja yuk," Kiki membujuk Raline.
"Tapi Bunda-"
"Raline, katanya pengen sama Tante Kiki, apa. udah gak sayang sama Tante Kiki?" tanya Renita sengaja membuat kesal Linda karena dia tahu jawaban Raline yang pasti.
"Sayang dong sama Tante Kiki. Ya udah aku Lalin pulang sama Tante Kiki aja. Dada Bunda....," Raline meminta gendong Kiki.
__ADS_1
Linda merasa hatinya sangat sakit sekali, anak kandungnya, anak yang dulu dikandungnya selama berbulan-bulan, kini lebih memilih wanita lain, wanita yang menjadi cinta pertama suaminya, dan mungkin nama wanita itu masih melekat di hati suaminya, dan kini apakah hati anaknya juga akan diambil darinya?
Linda tidak mampu berucap, bibirnya kelu, rasanya lidahnya tidak mampu mengeluarkan kata-kata. Terlalu menyakitkan bagi seorang Ibu yang tidak diinginkan oleh anaknya, bahkan anaknya lebih memilih wanita lain dibandingkan dengan dirinya yang notabennya adalah ibu kandungnya.
Aydin menghampiri Kiki yang sedang menggendong Raline karena Aydin tahu mata Riko yang memandang Kiki dengan maksud yang berbeda.
Aydin merangkul pinggang Kiki yang berjalan dengan menggendong Raline. Sedangkan Raditya berada di sampingnya.
"Siapa wanita tadi?" tanya Riko yang matanya masih tertuju pada Kiki.
"Dia cinta pertama Raditya. Tapi suaminya ada di sebelahnya. Beruntung sekali bukan dia dikelilingi oleh orang-orang yang dangat baik dan menyayanginya," jawab Linda menjelaskan.
"Kamu suka dengan suaminya?" tanya Riko heran karena melihat Linda memandang kagum pada Aydin.
Linda kikuk, dia takut Riko akan marah padanya. Namun di saat Riko tersenyum, Linda menjadi lega karena tau Riko tidak marah.
"Gimana kalau kita masuk dalam hubungan mereka. Kamu bisa balas dendam pada wanita itu dan sekaligus mendapatkan suaminya. Dan aku akan menggoda wanita itu. Kita tetap jadi pasangan yang punya banyak keuntungan. Bagaimana?" usul Riko dan dipandang heran oleh Linda.
"Gimana, mau gak? Kamu suka kan sama suaminya?" tanya Riko kembali untuk meyakinkan Linda pada rencana liciknya.
"Apaan sih sayang," Linda tidak menatap Riko karena takut ketahuan jika dia masih menaruh rasa suka dan kagum pada Aydin.
"Jujur aja lagi, udah kelihatan dari mata kamu," Riko masih saja membahas masalah Aydin.
"Cara kamu memandang dia itu beda, seperti.... gimana ya...," Riko memancing pengakuan Linda.
"Kagum. Iya benar aku dulu pernah suka sama dia, dan benar aku memang kagum sama dia. Tapi itu dulu, sebelum ada kamu," jawab Linda menjelaskan agar Riko tidak salah paham.
Riko manggut-manggut mengerti mendengar pengakuan dari Linda.
"Sekarang gimana, apa kamu gak ingin balas dendam sama itu cewek supaya dia pisah sama suaminya? Kan dia sudah berhasil ngambil perhatian anak kamu. Jangan-jangan perhatian suami kamu bisa diambil juga," Riko memanas-manasi Linda agar Linda mau menjalankan rencananya.
"Gak akan mudah. Aku udah pernah dulu mencobanya, namun gagal, bahkan mereka sekarang membenciku," Linda mengakui pada Riko.
"Itu kamu aja yang kurang pinter. Kita jalanin rencana yang aku buat dan kamu berdandanlah yang lebih cantik dan lebih menggoda dari istrinya itu. Dijamin deh, kita bakal menang," Riko mencoba meyakinkan Linda kembali.
"Nanti deh dipikir-pikir dulu. Sekarang aku cuma mau bahagia sama kamu. Oh iya sayang, kapan kita menikah?" Linda melingkarkan tangannya pada pinggang Riko.
"Kamu kan baru bercerai, nunggu masa iddah dulu baru boleh nikah. Lah sambil nunggu masa Iddah kamu selesai, kita jalanin dulu rencana kita tadi, gimana?" tanya Riko yang masih tidak ingin menyerah untuk meyakinkan Linda.
__ADS_1
"Kamu suka banget ya Yang sama Kiki?" tanya Linda cemburu.
"Bukannya gitu sayang, kan kita bisa dapat uang yang besar dari rencana kita. Lagian kamu gak dapat uang kan dari suami kamu?" ucap Riko.
"Gimana anakku? Aku takut anakku yang jadi korbannya nanti," ucap Linda.
"Gak akan sayang. Udah yuk kita pulang dulu, nanti aku kasih tau rencanaku untuk membuat mereka menyesal telah menyia-nyiakan kamu, wanita tercantikku," Riko merayu Linda agar dia percaya padanya.
Sampai kapanpun rayuan Riko selalu mampu membuat Linda tersipu malu dan percaya. Apalagi rayuan maut Riko itu diberikannya pada saat mereka sedang berada di ranjang, tanpa pikir panjang pun Linda langsung terperdaya oleh rayuan maut Riko.
Riko yang terbaik baginya. Riko yang paling mengerti tentang dirinya. Riko yang paling bisa membuatnya nyaman. Karena hanya Riko lah yang mencintainya dengan tulus. Itulah pemikiran Linda tentang Riko.
Di rumah Aydin dan Kiki mereka semua kembali berkumpul. Karena besok hari sabtu, maka mereka berniat menginap di sana.
Raline sangat senang sekali karena dia bisa bermain dengan Baby Ken dan dia merasa banyak orang yang menyayanginya.
"Ayah... ayah... dedek Ken itu adeknya Lalin kan Yah?" tanya Raline pada Raditya.
Raditya bingung menjawabnya, dia takut Raline salah mengartikan jawabannya. Raditya hanya tersenyum, namun Raline kembali bertanya.
"Raline pengen punya adek?" tanya Kiki mengalihkan pertanyaan Raline pada Raditya.
Raline mengangguk dan berkata, "Apa boleh dedek Ken jadi milik Laline?" tanya Raline pada Kiki.
"Boleh dong. Apa nanti Raline menikah aja sama Kenshin?" sahut Kenan dengan candaannya.
"Menikah? Apa boleh Laline menikah sama dedek Ken?" tanya Raline bingung.
"Bolehlah. Asal dedek Ken udah gak jadi dedek lagi. Kalau Raline dan Kenshin udah gede, boleh dah tuh kalian menikah," ucap Kenan sambil terkekeh dan langsung mendapat cubitan dari Renita.
"Yeaaaay... horeeee.... aku nanti bakalan menikah sama Kenshin," seru Raline sambil melonjak-lonjak kegirangan.
Dan berakhirlah Kenan yang mendapatkan tatapan aneh dari semua orang dewasa yang ada disitu. Kenan dipegangi oleh semua sahabat-sahabatnya.
"Re, ambilin pisau di dapur," Kiki menyuruh Renita.
"Buat apa Mbak?" tanya Renita heran.
"Buat nyunat Bang Ke, dia belum sunat," seringai iblis terbit di bibirnya.
__ADS_1
Glek...
Kenan menelan air liurnya kembali. Dia teriak histeris tidak mau aset berharganya nanti jadi korban kebocoran mulut Kenan sendiri.