Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
184


__ADS_3

Hari-hari berlalu, pandangan teman-teman Raline kini masih tetap sama seperti hari itu, bahkan hampir semua kelas memandang Raline dengan tatapan yang sama.


"Jujur deh aku tuh kepo banget pengen tau kenapa mereka kok ngeliatin kita kayak gitu banget ya? Apa ada yang salah gitu sama aku Ra?" tanya Rania pada Raline sambil berjalan menuju kantin.


Raline melihat Rania dari atas sampai bawah dan kembali lagi ke atas, kemudian dia menggelengkan kepalanya dan berkata,


"Gak ada tuh. Kalau aku gimana?"


Rania pun melakukan hal yang sama. Dia melihat Raline dari atas ke bawah, kemudian dia menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa ya?" tanya Raline pada Rania.


Rania menggelengkan kepalanya sambil mengangkat pundaknya tanda dia tidak tahu.


"Eh tuh yang namanya si Raline yang bisa diajakin ke mana aja, termasuk menginap di villa?" tanya seorang cowok pada teman ceweknya yang berada satu meja di kantin tersebut.


"Katanya sih gitu. Gak nyangka ya, orang kaya tapi masih aja butuh duit," jawab cewek tersebut.


Tristan yang berada di belakang mereka merasa sangat marah pada mereka. Tangannya mengepal dengan kuat, rasanya ingin sekali dia menghajar mereka yang merendahkan Raline di hadapannya.


Sayangnya Naufal melarangnya ketika Tristan akan berdiri. Naufal menahan tubuh Tristan dan menggelengkan kepalanya, kemudian dia berbisik di telinga Tristan,


"Kita lihat dulu apa saja yang mereka bilang tentang Raline dan kita cari tau siapa yang membuat nama Raline tercemar seperti itu."


Akhirnya Tristan meredam amarahnya. Dia menuruti perkataan Naufal, karena dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan oleh Naufal.


"Eh jangan-jangan yang biasanya ke sini bukan bokapnya," sahut cewek yang satunya lagi.


"Maksudnya om-om yang bareng dia gitu?" cowok yang satunya lagi ikut berkomentar.


"Bisa jadi," jawab cewek tersebut.


"Wah bisa tuh Bro kita bawa dia. Lumayan bening juga tuh," ucap cowok tersebut.


Tristan semakin mengeram, mati-matian dia menahan amarahnya hanya demi lebih dalam lagi mengetahui berita yang tersebar tentang pujaan hatinya.

__ADS_1


"Hei Raline ya? sabtu besok ikut kami yuk ke puncak," ucap cowok tadi pada Raline ketika Raline berjalan melewati meja mereka.


"Hah?" Raline kaget, dia tidak mengerti apa yang diucapkan cowok tersebut ketika menghentikannya.


"Gak usah sok jaim gitu deh. Kita tau semuanya kok. Kamu mau berapa aja pasti kita kasih, asalkan servismu memuaskan," ucap cowok yang satunya lagi.


Tiba-tiba saja cowok tersebut terhuyung karena terkena hantaman dari seseorang dari belakang mereka. Tristan tidak bisa menahan dirinya lagi ketika mendengar ucapan tidak senonoh mereka pada Raline. Dengan segera Tristan membalikkan pundak cowok tersebut dan menghantamnya dengan sangat emosi.


"Sialan!" cowok tersebut berteriak sambil memegang sudut bibirnya setelah mendapat hantaman dari Tristan.


"Tristan?!" seru Raline yang kaget melihat Tristan memukul cowok yang merendahkan Raline tadi.


"Oh jadi ini cowok yang katanya bawa Raline ke puncak akhir pekan kemarin?" cowok tadi tersenyum merendahkan Tristan sambil meludah di hadapan Tristan.


"Bacot Lu!" seru Tristan yang kembali akan melayangkan tinjunya pada cowok tadi.


"Tristan jangan!" Raline berteriak sambil berlari mendekati Tristan.


"Kalian lihat kan, memang mereka pasangan mesum di sekolah ini!" teriak cowok tersebut berniat mempermalukan Tristan dan Raline.


"Kampret Lu!" Tristan akan melayangkan kembali tinjunya namun Raline menghalanginya.


"Cieeee," sorak seluruh siswa di kantin.


"Lihat mereka berdua, pasti benar gosip tentang mereka di puncak waktu itu," ucap cowok tersebut.


Tristan tidak bisa bergerak untuk menghantamnya karena Raline benar-benar memohon pada Tristan agar dia tidak berkelahi.


"Aku mohon Tristan," ucap Raline dengan menggelengkan kepalanya dan matanya kini sudah berkaca-kaca menatap mata Tristan.


Tristan luluh, hatinya tidak bisa berkata tidak pada Raline. Apalagi melihat wajah sedihnya, Tristan menghentikan niatnya untuk memberi pelajaran kembali pada cowok tersebut.


Bukk!!!


Naufal melayangkan tinjunya pada cowok tersebut menggantikan Tristan. Sungguh persahabatan yang indah. Naufal tidak terima jika perempuan pujaan hati sahabatnya dihina seperti itu oleh siapapun. Karena menurutnya mereka sangat keterlaluan menghina dan merendahkan Raline yang tidak pernah melakukan apa seperti apa yang mereka tuduhkan.

__ADS_1


Semua siswa yang berada di kantin itu mengerubungi mereka. Teman dari cowok tersebut tidak terima dan hendak membalas Naufal.


"Bubar!" tiba-tiba ada salah satu guru yang datang ke kantin untuk membubarkan semuanya.


"Kalian semua, ikut saya ke kantor!" teriak guru tersebut dengan menunjuk satu persatu mereka yang membuat kegaduhan.


Mereka semua menurut, berjalan berjajar mengikuti guru tersebut menuju ruang BK. Di sana mereka berdebat mengenai penyebab pertikaian mereka. Mereka semua mendapat skors selama satu minggu. Berbeda hal dengan Raline dan Tristan yang merupakan siswa teladan, mereka berdua hanya mendapatkan peringatan saja.


Hal itu membuat mereka yang mendapatkan skors menjadi kesal dan dendam pada Tristan dan juga Raline. Begitu juga Resti yang sangat kesal karena rencananya masih saja gagal.


Kenapa banyak sekali yang melindungi Raline? Kenapa pihak BK masih saja percaya sama dia? Apa keistimewaannya dia sehingga semua orang memihak padanya? Resti berkata dalam hatinya dengan penuh emosi dalam hatinya.


"Tristan, maaf....," ucap Raline lirih sambil menundukkan kepalanya di hadapan Tristan setelah mereka keluar dari ruang BK.


"Kamu gak salah Ra, buat apa kamu minta maaf?" ucap Tristan dengan suara yang lembut untuk menenangkan Raline dengan memegang pundaknya dan ikut menunduk agar bisa melihat wajah Raline.


Tanpa sadar air mata Raline menetes jatuh mengenai sepatu Tristan. Dan Tristan pun mengetahuinya.


"Kamu nangis Ra?" Tristan bertanya dengan panik.


Raline segera menyeka air matanya pada saat dia masih menunduk, setelah itu dia menghadap Tristan dan tersenyum paksa agar Tristan tidak mengkhawatirkannya.


"Aku gapapa kok. Tristan, Naufal makasih ya kalian mau membelaku. Dan maaf karena aku kalian jadi ikut terseret dalam masalah ini," ucap Raline dengan suara bergetar.


"Santai aja Ra. Kita bisa diandalkan kok," ucap Naufal dengan senyumnya untuk menenangkan Raline.


"Maaf Naufal kamu harus diskors gara-gara aku. Kalau bisa tukar, biar aku aja yang diskors," ucap Raline dengan tatapan sedih memandang Naufal.


"Tenang aja Ra, justru dengan aku diskors, aku bisa mencari tahu apa yang terjadi dan siapa dalang sari semua ini. Serahkan semuanya pada kami," Naufal kembali menenangkan Raline.


"Kalian... kalian baik-baik aja kan?" tiba-tiba terdengar suara Rania yang berbicara dengan ngos-ngosan.


"Gapapa kok Ran. Kenapa?" tanya Raline pada Rania.


"Sepertinya aku tau deh Ra siapa yang memfitnah kamu," Rania mengucapkannya setelah dia mengatur nafasnya.

__ADS_1


"Siapa?" tanya Tristan dan Naufal berbarengan.


"Dia....," Rania ragu mengucapkannya.


__ADS_2