Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
208


__ADS_3

Resti sungguh malu dan sangat terpukul. Dia berlari keluar kelas dan terus berlari menuju tempat sepi untuknya bisa bersembunyi.


Mau ditaruh di mana mukaku? Rasanya aku udah gak bisa bertemu semua orang di sekolah ini. Tapi sebentar lagi aku ujian. Bagaimana aku bisa lulus kalau gak ikut ujian? Bagaimana aku bisa dapat ijazah dan daftar ke perguruan tinggi jika aku tidak meneruskan sekolahku? Resti bertanya-tanya dalam hatinya disela tangisannya.


Resti bersembunyi di belakang kelas yang sepi untuk menangis dengan leluasa di sana, setelah tangisnya reda, dia menuju ruang kesehatan, dia beralasan sakit sehingga diperbolehkan untuk beristirahat di sana.


Untung saja Tristan dan Raline sudah keluar dari ruangan kesehata tersebut. Tadi Tristan memaksa Raline untuk membawanya ke ruang kesehatan agar lukanya bisa cepat diobati. Dan beruntungnya Resti masuk ke dalam ruangan tersebut sesudah Raline dan Tristan sudah tidak berada di ruangan tersebut.


Di sekolah sangat heboh ketika melihat Tristan menggendong Raline yang lututnya terluka sedikit menuju ruang kesehatan. Semua mata yang melihat mereka membicarakan mereka.


Dan tersebarlah sudah berita jika Raline dan Tristan berpacaran. Banyak yang iri pada mereka berdua. Pasangan yang sangat diidolakan oleh lawan jenisnya, dan kini mereka menjadi pasangan paling dibenci serta diidolakan dalam waktu yang bersamaan.


Ketika jam pulang berbunyi, Resti menunggu sampai semua murid di kelasnya pulang, sehingga dia bisa mengambil tasnya yang masih berada di dalam kelas.


Rasa sakit hatinya kini diselimuti rasa malu yang sangat besar. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika dia bertemu dengan Raline dan Tristan.


Langkah kaki Resti terasa tidak bertenaga. Kakinya diseret menuju kelas, dan helaan nafasnya sangat berat ketika melihat di dalam laci mejanya terdapat kertas yang bertuliskan cacian dan hinaan untuknya.


Diremasnya erat-erat kertas itu, dan dibuangnya ke sampah dengan emosinya yang dia salurkan pada kertas tersebut.


"Hufffttt..... apa aku harus menyerah saja?" Resti bermonolog sambil menyeret kakinya menuju gerbang sekolah.


Sungguh sial nasibnya hari ini, kini dia malah bertemu dengan Ali yang sedang menjemput Rania, dan mereka berdua sedang bercanda dengan mesranya.


Resti hanya mampu melihatnya saja. Sebenarnya dia ingin sekali mendekati mereka dan melampiaskan kemarahannya pada Ali serta Rania.


"Sialan! Brengsek kalian berdua! Ali, kamu pasti akan merangkak di hadapanku untuk meminta kembali padaku. Dan kamu cewek sialan, lihat saja nanti, kamu pasti akan menyesal berurusan denganku!" Resti berteriak memaki Ali dan Rania.


"Mbak, ada apa?" Pak satpam yang berlari dari pos penjagaannya bertanya pada Resti.


"Eh Pak, gak Pak, gak ada apa-apa," ucap Resti yang gugup dan malu seperti sedang terpergok melakukan sesuatu.


Kemudian Resti berjalan dengan cepat untuk menghindari satpam tersebut ketika hendak bertanya kembali padanya. Padahal sebelumnya jalannya sangat lambat dan lesu, namun sekarang dia berjalan seolah dikejar oleh anjing.


Tin... tin... tin...

__ADS_1


Klakson dibunyikan oleh Tristan di depan pagar sebuah rumah mewah nan elegan.


Pak satpam yang menjaga rumah tersebut segera membukakan pagar ketika melihat Raline yang membuka kaca jendela mobilnya.


"Loh Mbak Raline, dengan siapa Mbak? Kok gak bareng Tuan muda Ken dan Princess Miyuki?" Pak satpam tersebut bertanya pada Raline.


"Mereka masih di sekolah Pak," jawab Raline sambil tersenyum seperti biasanya.


Dan Pak satpam tersebut membukakan pagar dengan lebar agar mobil Tristan bisa masuk ke dalam rumah tersebut.


"Terima kasih Pak," ucap Raline pada satpam tersebut setelah satpam tersebut membukakan pagar untuk mereka.


"Tuan muda? Princess? Ada-ada aja," Tristan mengucapkannya sambil terkekeh.


"Kenapa kamu tertawa? Ada yang aneh? Semua orang di rumah ini dan semua keluarga besar memang memanggil mereka seperti itu," Raline menanggapi ucapan Tristan dengan kesal.


"Bukan seperti itu, hanya saja sepertinya mereka terlalu berlebihan. Apa mungkin sewaktu kecil mereka ingin menjadi seperti itu hingga mereka mengharuskan semua orang memanggilnya seperti itu?" tanya Tristan yang masih saja terkekeh.


"Kenshin memang seorang tuan muda dan Miyuki memang seorang princess di rumah ini. Jadi apa salah mereka dipanggil seperti itu?" Raline bertambah kesal pada Tristan.


"Bukannya gitu Tris, aku hanya gak suka ada yang mengolok mereka. Aku sayang sama mereka dan kami saling melindungi dan menyayangi sampai kapanpun," Raline menjawabnya dengan kesal.


"Maafkan aku Ra, aku gak bermaksud seperti itu, aku hanya-"


"Udahlah Tris, lebih baik kamu pulang saja. Dan aku gak mau kamu membahas soal ini lagi," ucap Raline yang masih marah padanya.


"Tapi Ra-"


Tanpa mendengarkan Tristan yang sedang berbicara padanya, Raline membuka pintu mobilnya hendak keluar dari mobil tersebut.


Namun ketika dia akan melangkahkan kakinya untuk berjalan masuk ke dalam rumah tiba-tiba Raline merasakan tubuhnya melayang, ternyata Tristan telah menggendong tubuh Raline.


"Kaki kamu sedang sakit, jangan gerak yang berlebihan dulu," ucap Tristan sambil berjalan masuk ke dalam rumah dengan menggendong Raline ala bridal style.


"Turunin Tris, aku bisa jalan sendiri. Turunin....!" Raline memberontak agar diturunkan dari gendongan Tristan.

__ADS_1


"Eh... eh kenapa? Cantik kenapa kok digendong?" Kiki yang membuka pintu kaget melihat Raline berada di gendongan Tristan.


Tadinya Kiki ingin keluar untuk menyirami bunga di taman depan, namun ketika dia membuka pintu depan dia malah terkejut melihat Raline digendong ala bridal style oleh Tristan.


"Mami!" Raline kaget melihat Kiki yang kini sudah berada di depannya.


"Turunin Tris!" Raline kembali memberontak, malu pada Maminya.


Seolah tuli, Tristan tidak mendengarkan keinginan Raline, dia tetap tidak menurunkan Raline dari gendongannya meskipun Raline memberontak dan menggerak-gerakkan kakinya agar Tristan menurunkannya.


"Permisi Tan, Raline kakinya sedang terluka, bisa saya masuk untuk mengantarkan Raline ke dalam?" Tristan berkata dengan tegas meminta ijin pada Kiki untuk bisa masuk ke dalam rumah.


"Eh iya, silahkan," jawab Kiki yang sedang panik mendengar bahwa Raline terluka.


"Raline kenapa Tris? Apanya yang terluka?" Kiki panik bertanya pada Tristan dan berjalan mengikuti di belakangnya.


Tristan tidak menjawab pertanyaan dari Kiki, dia bergegas meletakkan Raline di sofa ruang tamu karena semakin lama Raline yang semakin memberontak membuat Tristan semakin kewalahan.


Setelah tubuh Raline diletakkan di sofa ruang tamu, Kiki segera memberondong Tristan dan Raline dengan beberapa pertanyaan.


"Raline kenapa? Apanya yang sakit?" Kiki bertanya pada Raline dan Tristan.


"Raline gak kenapa-napa Mi, Tristan aja yang membesar-besarkan," Raline menjawab pertanyaan Kiki dengan santai.


"Lalu apanya yang sakit?" tanya Kiki kembali.


"Itu Tan," Tristan menunjuk lutut Raline yang terluka.


"Ini?" tanya Kiki sambil memegang lutut Kiki yang terluka.


"Iya Tan," jawab Tristan dengan percaya diri


"Cah edan! Cuma kayak gini aja kamu gendong?" tanya Kiki sambil melihat Tristan.


Tristan pun mengangguk dengan wajah tidak berdosa dan dengan rasa percaya dirinya yang tinggi.

__ADS_1


"Ngomong aja kamu pengen gendong anak Mami!"


__ADS_2