Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
147


__ADS_3

Liburan mereka yang tak terduga itu berjalan dengan lancar. Selama liburan itu, Kenshin tidak lepas dari Raline. Dia tidak mau membiarkan Raline sedetik pun jauh darinya. Karena sebenarnya Ken tidak yakin jika dia tidak menangis ketika Raline mulai berada di Pondok Pesantren.


"Kakak cantik, kenapa harus di sini? Ayo pulang... ayo tinggal di rumah Ken aja jangan tinggal di sini," Ken merajuk ketika mengantarkan Raline ke Pondok Pesantren milik Eyangnya.


"Hey jagoan Ayah. Gak boleh nangis dong, kan cowok. Kakak cantik di sini untuk belajar, Ken harus doakan Kakak cantik ya agar dia betah berada di sini," Raditya mencoba membujuk Ken agar mau melepaskan Raline dan dia tidak menangis lagi.


"Gak mau.... Kakak cantik kalau di sini gak bisa main ke rumah Ken, dan Ken juga gak bisa tiap hari ke sini, ini jauh dari rumah Ken. Pokoknya Kakak cantik harus pulang sama Ken sekarang, Kakak cantik sekolah di sekolahan Ken aja jangan di sini," Ken tidak mau melepaskan tangan Raline dan itu membuat Raline meneteskan air matanya karena dia sangat disayangi oleh keluarga yang bukan murni keluarganya.


"Ken, bisa kita bicara sebentar? Kakak ingin berbicara denganmu," ucap Raline yang air matanya masih menetes.


"Kakak cantik gak boleh nangis, kakak cantik harus tersenyum seperti biasanya," ucap Ken sambil mengusap air mata Raline yang berada di pipinya.


Raline pun menurut. Dia tersenyum ketika tangan halus Ken mengusap air mata di pipinya.


"Yuk kita bicara di sana," ucap Raline sambil menarik tangan Ken untuk mengikutinya.


Ken menurut, dia berjalan mengikuti Raline dengan melihat tangan Raline yang menggandengnya, Ken tidak bisa melepaskannya, dia tidak mau melepas tangan itu, apalagi jika mereka terpisah dengan jarak yang jauh seperti ini, rasanya Ken tidak bisa membayangkannya.


Raline berhenti dan dia akan melepas genggaman tangannya, namun Ken tidak mau melepaskan tangan Raline, dia menggenggam tangan Raline sekuat tenaganya. Raline pun tersenyum, dia mengerti Ken sangat menyayanginya dan tidak bisa jauh darinya. Raline pun merasakan hal yang sama, namun dia harus memilih jauh dari keluarga yang mereka sayangi agar tujuannya bisa tercapai.


"Ken, kamu mau kan menolong Kakak?" Raline menatap mata Ken dengan penuh permohonan.


Ken mengangguk setuju dan dia mendengarkan kembali apa yang akan dikatakan oleh Raline padanya. Ken menatap dalam mata Raline, dia ingin mengingat mata itu dan ingin menangkap memory dari mata yang selalu dirindukannya itu.


"Ken, sebenarnya Kakak juga gak ingin meninggalkan Ayah, Abah, Ambu, Mami, Papi, kamu, Miyuki, Max dan Lucas. Tapi Kakak harus menjauh dari kalian agar Kakak bisa bertemu dengan Bunda," mata Raline berkaca-kaca ketika menjelaskannya pada Kenshin.


"Bunda? Siapa dia? Kenapa Kakak cantik harus menjauh dari kita? Berarti Bunda itu orang jahat, kalau dia tidak jahat, dia tidak akan menjauhkan kita dari orang yang kita sayangi," Ken berucap seperti layaknya orang yang sudah cukup umur, ucapannya tidak seperti anak yang berumur sepuluh tahun, anak yang masih duduk di bangku SD.


"Bunda itu Ibuku Ken. Dia bilang aku harus menjauhi kalian jika ingin bertemu dengannya. Jadi aku terpaksa ke sini agar Bunda mau menemuiku Ken. Kamu mengerti kan apa yang aku rasakan?" kini air mata Raline menetes kembali di pipinya.


"Apa? Ibu Kakak? Di mana dia? Kenapa selama ini dia tidak bersama Kakak?" Ken memberondongi Raline dengan banyak pertanyaan.


"Aku gak tau Ken, mangkanya aku ingin tanya sama Bunda kenapa dia ninggalin aku selama itu," Raline menjawab pertanyaan Ken dengan sesenggukan.


"Jangan sedih Kak, jangan nangis... Ken gak bisa lihat Kakak cantik nangis," Ken meraih tubuh Raline dan memeluknya, dan Raline semakin enggan meninggalkan semuanya demi Bundanya.


"Aku harus gimana Ken?" Raline semakin sesenggukan di pelukan Kenshin.


Tanpa diketahui mereka berdua, ada Kiki yang mengikuti mereka karena jiwa keponya yang meronta-ronta. Sontak saja Kiki menutup mulutnya dengan telapak tangannya, dia tidka mengira jika Linda bisa melakukan hal seperti itu pada anak seusia Raline yang belum bisa menerima kenyataan jika dia tahu apa yang terjadi sebenarnya.

__ADS_1


Kiki tetap mendengarkan apa yang Ken dan Raline bicarakan, namun dia berlari untuk kembali pada yang lainnya ketika dia tidak kuat menahan tangisnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Aydin bingung dan cemas melihat istrinya datang dan berlari dengan berderai air mata.


"Kenapa Ki?" tanya Raditya yang tidak kalah cemas dengan Aydin.


"Raline... Raline...," jawab Kiki dengan sesenggukan.


"Kenapa Raline? Ada apa dengan Raline?" Raditya bertambah cemas ketika nama Raline disebut.


"Ada apa Sayang, bicaralah," Aydin mengusap punggung Kiki untuk menenangkannya.


"Raline... Raline... terpaksa minta ke sini karena... karena... karena Linda," ucap Kiki dengan sesenggukan dan tak lupa dia mengelap ingusnya dengan hoodie milik Aydin.


"Kata siapa Ki? Kamu tau dari mana?" Raditya geram ketika mendengar nama Linda bersamaan dengan nama Raline.


"Raline... Raline bercerita pada Ken alasannya datang ke sini, dan... dan dia menangis karena sebenarnya dia gak mau jauh dari kita, dia terpaksa datang ke sini karena di ancam oleh Linda. Aku... aku gak tega sama Raline Di. Kita harus gimana?" Kiki mengatakannya ketika sudah agak reda tangisnya.


"Sabar Bro, lebih baik kita tanyakan dulu apa yang sebenarnya terjadi pada Raline. Setelah itu kita bicarakan dulu apa yang sebaiknya kamu dan Raline lakukan. Ingat Bro, kita semua ada untuk mendukung kalian berdua, jadi jangan bertindak sebelum kamu memberitahu kami, karena kami gak mau kamu samapi salah langka karena emosi. Mengerti?" Aydin mencoba menjernihkan kembali pikiran Raditya.


"Bro, ngerti gak?" Aydin kembali bertanya pada Raditya karena Raditya tidak menjawabnya dan terlihat mata Raditya penuh dengan dendam.


"Baiklah, ayo kita tanyakan pada Raline. Itu mereka udah datang," Aydin memberitahu Kiki dan Raditya kedatangan Raline dan Kenshin.


Kiki dan Raditya berusaha menetralkan emosi mereka, dan mereka mencoba bersikap seperti biasanya agar Raline tidak merasa terbebani.


"Kalian habis dari mana kok lama?" Kiki mencoba membuat Raline tidak curiga.


"Kita habis bicara, ya kan Ken?" Raline tersenyum untuk menutupi kesedihannya.


"Raline sini, Mami pengen peluk, boleh?" suara Kiki bergetar, dia sudah tidak bisa menahan kesedihannya ketika melihat wajah Raline yang sudah seperti anaknya sendiri sedari dulu.


Raline langsung berhambur memeluk Kiki dan ikut menangis di dalam pelukan Kiki. Sedangkan Ken mulai meneteskan air matanya, dia tidak tega melihat Raline bersedih, apalagi karena alasannya yang menurutnya tidak masuk akal sama sekali.


Raditya semakin geram, rasanya dia tidak bisa menahan lagi emosinya. Raditya menjambak rambutnya dan meraupkan kedua telapak tangannya pada wajahnya, dia merasa frustasi karena merasa kecolongan.


Selama inindia benar-benar menjaga Raline agar tidak bisa bertemu dengan Linda, tapi sekarang... Raditya merasa dirinya tidak berguna karena anaknya lagi-lagi menjadi korban keegoisan dari Linda, ibu kandung Raline sendiri.


"Raline cantik, sini Sayang, Papi mau peluk juga dong," Aydin mencoba mengalihkan Raline agar tidak terlalu sedih berpisah dengan Maminya.

__ADS_1


Raline pun berhambur memeluk Aydin dan kembali menangis karena merasakan kasih sayang orang yang bukan orang tuanya sendiri.


"Cantik, boleh gak Papi tau kenapa anak Papi yang cantik ini bisa tega meninggalkan kita untuk memutuskan tinggal di sini? Kamu tau kan Cantik jika kita semua merasa kehilangan kamu jika kamu berjauhan dari kami?" Aydin mencoba memancing Raline agar jujur pada mereka.


Raline menganggukkan kepalanya. Dia sangat sedih mendengar Aydin yang dia panggil sebagai Papinya mengatakan hal seperti itu padanya.


"Karena Raline cinta kalian," Raline menjawabnya dengan suara yang berat disertai isakan tangisnya.


"Kalau Raline benar cinta kita semua, kenapa kamu tega meninggalkan kami Sayang? Lihatlah Ayahmu, dia sangat kehilangan kamu," Aydin mencoba kembali memancing agar Raline bisa bercerita pada mereka.


"Kakak cantik terpaksa Papi... sebenarnya dia gak mau jauh dari kita. Bawa Kakak cantik pulang Pi, dia gak boleh ada di sini, pasti nanti dia nangis terus di sini kangen sama kita," Kenshin merengek pada Aydin.


"Terpaksa? Apa itu benar Raline?" kini Raditya sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya lagi.


Raline menghela nafasnya dan menetralkan isakan tangisnya, kemudian dia menganggukkan kepalanya. Rasanya kini dia harus jujur karena dia tidak mau membohongi semua orang yang menyayangi bahkan menangisinya ketika dia akan meninggalkannya untuk masuk Pondok Pesantren.


"Coba ceritakan pada kita ya cantik. Mami gak akan membiarkan anak cantik Mami ini sedih karena terpaksa jika tinggal jauh dari kita," ucap Kiki yang kini sudah mendekat dan merangkul pundak Raline dengan sayang.


Raline menceritakan pertemuannya dengan Linda dan dia mengatakan bahwa jika Raline ingin terus bisa bertemu dengannya, maka Raline harus menjauh dari Ayahnya, keluarga Ayahnya dan keluarga Kiki.


"Lalu, apa kamu mau menurutinya?" tanya Raditya yang mati-matian menahan emosi dan kemarahannya pada Linda di hadapan Raline.


"Raline terpaksa Ayah, karena Raline ingin mempunyai Ibu seperti yang lainnya. Raline ingin merasakan dekat dengan Bunda. Mulai dari kecil bunda selalu sibuk kerja dan gak pernah mau main bersama Raline. Apa Raline dulu nakal Ayah sampai-sampau Bunda gak mau main sama Raline?" mata Raline kembali berkaca-kaca dan suara Raline bergetar menahan tangisnya.


"Raline punya Mami, Raline gak perlu Bunda. Apa Mami mengecewakan Raline hingga Raline lebih membutuhkan Bunda?" kini Kiki sudah tidak bisa menahan pertanyaan itu yang sedari tadi ada di benaknya.


"Mami yang terbaik buat Raline, Mami gak pernah ngecewain Raline. Mami selalu memberikan Raline apapun itu, dan semuanya terbaik buat Raline. Tapi... tapi Raline ingin merasakan dekat dengan Bunda kandung Raline Mi.... dan Raline... Raline ingin tau kenapa Bunda meninggalkan Raline ketika berangkat bekerja dan gak pernah pulang lagi," Raline benar-benar mengatakan semua yang ada di benaknya.


"Karena Bunda kamu-"


"Di!" Kiki menggelengkan kepalanya, dia melarang Raditya untuk menceritakan apa yang terjadi semuanya pada Raline sekarang.


"Tapi Ki-"


"Sans Bro, kita cari dulu waktu yang tepat. Sekarang kita bicarakan dulu saja bagaimana solusinya agar tidak ada yang menjadi korban dari permasalahan ini," Aydin menengahi perdebatan Raditya dan Kiki.


"Kakak cantik kenapa menangis? Apa Kak Ken nakal sama Kakak?" tiba-tiba Miyuki datang dengan membawa dua es krim ditangannya bersama dengan Lucas dan Renita.


Raline menggeleng dan tersenyum paksa pada Miyuki, kemudian dia mencium pipi gembul Miyuki yang sangat menggemaskan itu. Raline memandangnya sejenak, rasanya begitu berat jauh dari semua keluarganya ini, dia sungguh tidak ingin meninggalkan mereka semua demi sesuatu hal ketidakpastian, namun dia ingin mencari tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan keluarganya.

__ADS_1


"Ini buat Kakak Miyuki yang cantik. Dan please Kakak cantik jangan menangis. Ok?" kelucuan Miyuki ini mampu mengobati kesedihan Raline ketika para orang dewasa sedang melakukan rapat darurat di ruang sebelah.


__ADS_2