
Raditya menjalani hidupnya seperti biasanya. Tidak ada yang berubah dalam hidupnya, hanya statusnya saja yang kini berubah menjadi duda.
Ketika teman-teman lamanya mengetahui Raditya yang kini sudah menduda, mereka yang dulu sempat menaruh hatinya pada Raditya pun kini mendekatinya kembali.
Namun Raditya tidak pernah menggubris mereka, para wanita yang menurut Raditya hanya mencari kesempatan saja. Raditya tetap fokus bekerja dan membuat Raline bahagia tanpa kekurangan kasih sayang dan tanpa mengingat kembali Bundanya.
"A' gimana ini lamaran Bang Kenan?" Renita meminta pendapat Raditya.
"Yang jalanin kamu Re, terserah kamu aja. Kamu harus yakin dulu sebelum menerimanya," jawab Raditya.
Raditya tidak ingin mengekang adiknya karena pernikahannya yang berdasarkan perjodohan pun kandas karena perselingkuhan. Wanita yang dipilihkan oleh kakeknya dengan asal usul yang sudah jelas diketahui pun bisa menipu dan mengkhianati mereka semua.
"Aku harus jawab apa A'?" tanya Renita kembali.
"Kenapa kamu bingung? Kamu gimana? Mau nikah sekarang apa masih butuh waktu?" Raditya bertanya pada Renita.
"Aku masih bingung A' harus jawab apa," jawab Renita dengan helaan nafasnya.
"Kamu mikirin Raline ya? Jangan jadikan Raline sebagai bebanmu Re, Aa' gak suka," ucap Raditya sambil membantu Raline menata pensil warnanya yang berserakan di lantai.
"Siapa yang ngomong Raline jadi bebanku? Aku gak pernah nganggap Raline sebagai bebanku A'. Aku benar-benar menyayangi Raline," Renita kesal dengan perkataan Raditya.
Raditya terkekeh dan mengacak rambut Renita sehingga membuat Renita bertambah kesal.
"Iih Aa' kumat, ini nih yang bikin Mbak Kiki kesal dulu itu," Renita menata kembali rambutnya dengan mengerucutkan bibirnya.
Seketika Raditya terdiam. Dia ingat momen-momen itu, masa-masa SMA yang dihabiskannya dengan Kiki, cinta pertamanya yang tidak mungkin dia dapatkan.
Ada rasa sesak di hatinya yang membuat matanya panas, sehingga ingin rasanya air mata itu keluar dari sudut matanya.
Raditya mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan untuk menguatkan hatinya. Dia meratapi nasib percintaannya yang kini menjadikannya seorang duda.
__ADS_1
"A', Aa' kenapa? Aa' ingat Mbak Kiki ya? Maaf ya A', maafin Renita yang gak peka sama keadaan," Renita memeluk tubuh Raditya dari samping.
Raditya tersenyum paksa, dia tidak ingin adiknya mengetahui seberapa berat yang dia rasakan.
"Ya udah kamu bicarakan sama Abah dan Ambu aja ya. Apapun keputusan kamu, Aa' pasti mendukung," ucap Raditya masih dengan senyumnya.
Renita mengurai pelukannya dan meninggalkan Raditya sendiri yang sedang membereskan barang-barang milik Raline, namun pikirannya kini kembali pada masa lalu dan beruntun hingga masa sekarang.
Klunting!
Terdengar suara notifikasi pesan dari ponsel Raditya. Diambilnya ponsel tersebut dari saku celananya. Bibirnya melengkung tatkala melihat nama Kiki pada layar ponselnya.
[Di, ajak Raline ke rumah ya, aku kangen nih sama Raline]
Ki, gimana aku bisa move on jika takdir kita selalu saja terikat, dan sayangnya ikatan itu bernama sahabat, Raditya berucap dalan hati sambil tersenyum getir.
Kemudian dia mengajak Raline untuk datang ke rumah Kiki sesuai dengan permintaan Kiki, dan tentu saja Renita meminta ikut agar bisa bertemu dengan Kenan di sana.
......................
Segala keperluan dan keinginannya terpenuhi hanya dalam hitungan jam saja. Pak Gunawan benar-benar memanjakan Linda dengan barang-barang mewah dengan syarat dia harus selalu siap melayaninya kapan saja ketika Pak Gunawan membutuhkannya.
Linda sangat nyaman kini berjalan dengan Pak Gunawan. Tangan Linda bergelayut manja di lengan Pak Gunawan dengan mereka jalan beriringan.
"Kamu senang Sayang?" tanya Pak Gunawan pada Linda yang sedang berada di pangkuannya.
Linda melingkarkan tangannya pada leher Pak Gunawan dan meletakkan kepalanya pada dada Pak Gunawan. Kemudian dia mendongakkan kepalanya ketika ditanya oleh Pak Gunawan.
"Banget... aku senang banget Sayang," kini Linda sudah merubah panggilannya pada Pak Gunawan ketika mereka sedang berdua sesuai dengan kesepakatan mereka.
"Apa kamu sudah nyaman denganku Sayang?" tanya Pak Gunawan dengan meletakkan tangannya pada dagu Linda dan mengarahkan pandangan Linda padanya.
__ADS_1
Linda mengangguk dan tersenyum malu. Hal itu membuat Pak Gunawan gemas padanya. Langsung saja bibir Pak Gunawan meraup bibir Linda dengan lembut dan penuh dengan perasaan, namun lama kelamaan ciuman itu sangat dalam dan menuntut, hingga membuat jari jemari Pak Gunawan ikut menari-nari di dalam rok Linda.
Linda pun kini sudah terbiasa dengan sentuhan dan perlakuan dari Pak Gunawan. Dia terhanyut dalam buaian Pak Gunawan, hingga dia lupa akan Riko.
Riko pun seolah terbebas dari Linda, dia sama sekali tidak menghubungi Linda karena dia tahu jika Linda saat ini sedang menikmati hubungan barunya dengan Pak Gunawan. Riko dalam beberapa hari ini kembali bersama wanita-wanita yang masih berstatus istri orang dan selalu memberinya materi selain kepuasan.
Linda dan Pak Gunawan kini kembali menikmati hubungan mereka di ranjang, dan kini mereka benar-benar sadar tanpa obat yang membuat mereka dikuasai rasa ingin selalu melakukannya.
Pak Gunawan terkulai lemas di atas tubuh Linda. Namun setelah itu dia merebahkan tubuhnya di samping tubuh Linda dan membawa tubuh Linda ke dalam dekapannya.
Ternyata Pak Sarno tidak kalah hebat dengan Raditya dan Riko. Ah aku jadi sebal mengingat Raditya, dia tidak pernah memanjakanku seperti Pak Gunawan. Memang dia memberiku uang, tapi dia tidak membelanjakanku seperti ini. Sedangkan Riko, dia hanya menaikiku saja. Sungguh sangat nyaman bersama Pak Gunawan, aku jadi tidak memikirkan apapun sekarang, Linda berbicara dalam hatinya dengan senyum yang merekah di bibirnya.
"Apa rencana kita besok Sayang?" tanya Linda pada Pak Gunawan yang tangannya masih sibuk dengan ujung gundukan Linda.
Lenguhan dari mulut Linda membuat Pak Gunawan semakin bersemangat. Pertanyaan Linda tidak dijawabnya karena kini mulut Pak Gunawan sedang sibuk dengan gundukan milik Linda yang kembar itu.
Linda menjambak rambut Pak Gunawan ketika dia mulai terpancing oleh sentuhan tangan dan mulut dari Pak Gunawan. Namun setelah Linda menginginkan lebih, Pak Gunawan malah menghentikannya karena mendengar ada suara dering telepon miliknya yang harus diangkat, karena dering telepon itu dikhususkan Pak Gunawan untuk nomer istrinya.
Linda kesal ketika mendengar Pak Gunawan memanggil sayang dengan ucapan-ucapan romantisnya pada istrinya.
Kekesalan itu membuat Linda melupakan statusnya yang hanya teman bersenang-senang saja bagi Pak Gunawan. Linda naik ke pangkuan Pak Gunawan yang sama-sama tidak memakai apapun pada tubuh mereka.
Tentu saja Pak Gunawan terkejut terhadap apa yang dilakukan oleh Linda yang terkesan agresif, berbeda dengan Linda yang terlihat malu-malu dari kemarin.
Pak Gunawan menahannya sekuat tenaga ketika Linda kini memainkan lidahnya di ceruk leher dan dada Pak Gunawan. Pak Gunawan menggeleng merasa tidak kuat lagi sehingga meminta Linda untuk menghentikannya.
Namun bukannya Linda menghentikannya, dia malah berpindah ke bagian bawah. Kini Linda berjongkok dan menunduk untuk mengulum milik Pak Gunawan sehingga membuat Pak Gunawan benar-benar tidak tahan, matanya merem melek sambil mendengarkan suara istrinya melalui ponselnya, dan akhirnya Pak Gunawan berkata,
"No!"
Hingga membuat si istri yang berada di seberang sana bertanya apa yang terjadi.
__ADS_1
"Sayang, nanti akan aku telepon kembali. Aku-aku sudah tidak tahan lagi untuk ke kamar mandi," Pak Gunawan segera menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari istrinya.
Linda menyeringai licik pada Pak Gunawan. Dan tanpa aba-aba Pak Gunawan membawanya kembali dalam pergulatan panas mereka di ranjang.