
Raline sangat merasa bersalah pada Tristan dan Naufal. Dia ingin sekali membalas kebaikan Tristan dan Naufal yang telah membelanya dari siswa-siswa yang merendahkannya. Namun Raline tidak tahu harus membalas kebaikan mereka dengan apa.
"Siapa Ran yang menyebarkan fitnah keji itu?" tanya Tristan dengan sangat emosi.
"Dia.... mmm... dia...," Rania masih saja ragu untuk mengucapkannya.
"Dia siapa Ran?" ucap Naufal dengan nada kesal.
"Ran!" seru Naufal sambil menggoyang-goyang lengan Rania.
"Resti," ucap Rania sambil menutup matanya.
"Resti?!" ucap Raline, Tristan dan Naufal bersamaan.
Rania mengangguk dengan ragu. Dia sendiri juga ragu mempercayai apa yang dia dengar, namun semua mengatakan bahwa Resti lah yang menjadi sumber awal fitnah tersebut beredar.
"Kurang ajar! Sepertinya dia benar-benar dendam karena kamu menolaknya Bro," ucap Naufal pada Tristan tanpa sadar jika ada Raline dan Rania berada di antara mereka saat ini.
"Apa? Jadi Resti pernah nembak kamu Tristan?" Rania bertanya pada Tristan dengan raut wajah tidak percaya.
Siapa yang akan percaya jika Resti berani menyatakan perasaannya pada Tristan dan siapa yang akan menyangka jika Resti lah yang menjadi sumber fitnah yang beredar untuk Raline. Tidak ada yang pernah menduga hal itu, kecuali mereka sendiri yang diberitahu oleh Resti tentang fitnahnya pada Raline.
Raline tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Matanya berkaca-kaca dan bibirnya bergetar, dia sangat sedih mendengarnya karena Raline tidak pernah menganggap Resti sebagai musuhnya.
Bahkan Raline menyerahkan beasiswanya untuk Resti ketika mengetahui Resti menangis karena kehilangan beasiswanya. Dan Raline pun tidak pernah menyalahi ataupun membuat masalah dengan Resti.
Raline menggeleng dan segera berlari menuju kelasnya masih dengan mata yang berkaca-kaca menahan air matanya dan dia menahan sekuat tenaga agar dia tidak menangis.
Rania ikut berlari menyusul Raline di belakangnya, dan diikuti oleh Tristan serta Naufal di belakang Rania.
"Resti!" Raline memanggil nama Resti dan berlari mendekatinya ketika sudah berada di dalam kelas.
__ADS_1
Resti tersenyum sinis padanya dan dia berdiri ketika Raline sudah berada dihadapannya.
"Kenapa Res, kenapa harus aku?" tanya Raline dengan bibir yang bergetar.
"Apa maksudmu?" tanya Resti yang berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Kenapa kamu memfitnah aku seperti itu?" air mata Raline lolos begitu saja pada saat mengatakannya.
"Fitnah? Fitnah apa?" tanya Resti yang semakin membuat kesal Rania, Tristan dan Naufal yang berada di belakang Raline.
Resti memang berpura-pura tidak tahu agar dia tidak dipandang jelek oleh Tristan. Karena semua yang Resti lakukan ini adalah agar menjauhkan Raline dari Tristan.
"Gak usah pura-pura deh Lu?" tiba-tiba Tristan yang masih sangat emosi berteriak pada Resti karena sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.
"Pura-pura apa Tristan? Aku gak ngerti apa-apa. Tiba-tiba aja Raline menemuiku dan menuduhku memfitnahnya. Aku gak ngerti apa-apa, bukan karena berpura-pura," Resti berkelit dari tuduhan Raline dan Tristan padanya.
"Sok suci Lu!" Naufal berseru menyahuti ucapan Resti.
"Fitnah? Fitnah kamu bilang? Padahal kamu yang ada di puncak dengan seorang laki-laki menyewa villa bersama di akhir pekan kemarin, tega-teganya kamu memutar balikkan fakta pada Raline. Dia salah apa sama kamu?" Naufal benar-benar mewakili kemarahan Tristan, karena Naufal tahu jika Tristan paling tidka suka berdebat, Tristan lebih suka langsung adu hantam dengan tindakan.
Seketika terdengar suara riuh dan kasak-kusuk membahas apa yang diucapkan oleh Naufal tentang Resti.
"Enggak, bukan aku. Aku gak pernah ke puncak, apalagi menyewa villa," Resti mengelak dari tuduhan Naufal yang ditujukan padanya.
"Hmm... masih berkelit? Ok, kamu menantang kami. Siapkan aja dirimu untuk melihat bukti dan saksi yang kami punya untuk membuktikan apa yang diucapkan oleh Naufal semuanya adalah benar," ucap Tristan dengan memberikan senyuman merendahkan pada Resti.
"A-apa? Buk-bukti? Saksi?" tanya Resti yang gugup tanpa sadar.
"Takut?" tanya Tristan sambil tersenyum meremehkan Resti, begitupula Naufal yang juga tersenyum meremehkannya.
"Takut? Kenapa mesti takut? Aku gak salah. Silahkan saja buktikan jika memang ucapan kalian benar," Resti menetralkan ekspresinya dan mengucapkannya seolah dia tidak takut apa-apa karena dialah yang benar menurutnya.
__ADS_1
"Oke, tunggu saja kejutan dari kami," ucap Naufal sambil maju satu langkah mendekati Resti berniat untuk membuat Resti menjadi takut, dan benar saja, Resti mundur satu langkah dari tempatnya semula berdiri.
Semua siswa yang berada di dalam kelas itu mendengar apa yang mereka sedang ributkan, dan mereka pun menantikan akhir dari perseteruan mereka.
Bahkan sampai ada yang taruhan karena mempercayai Resti yang bertampang pendiam dan polos, sedangkan yang lain mempercayai Raline yang tidak mungkin melakukan itu karena di samping keluarganya yang kaya raya, mereka juga selalu mengantar jemput Raline ke mana pun.
Hingga terjadilah taruhan antar murid untuk menanti kebenaran dari fitnah yang beredar saat ini.
Raline dibawa oleh Rania menuju taman dan Tristan serta Naufal pun mengikuti mereka menuju taman sekolah yang sedang sepi karena pelajaran yang akan berlangsung sebentar lagi.
"Kalian benar-benar tau jika Resti menginap di puncak?" tanya Rania pada Tristan dan Naufal ketika mereka sudah duduk di bawah pohon yang rindang di taman tersebut.
Naufal dan Tristan saling menatap, kemudian mereka tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Bahkan kami kenal sama pemilik villa yang disewa oleh lelaki itu," jawab Naufal dengan santai.
"Benarkah?" tanya Rania dengan sangat antusias.
Tristan dan Naufal mengangguk dengan cepat tanpa berpikir panjang.
"Apa kalian tau siapa laki-laki yang bersamanya waktu itu?" tanya Rania kembali pada Tristan dan Naufal.
Tristan dan Naufal pun kembali mengangguk, kemudian Naufal menceritakan pertemuannya di cafe milik Tristan di puncak serta mereka uang melihat Resti dan lelaki yang menaiki motor sport warna merah masuk ke dalam villa milik kenalan Tristan dan Naufal.
"Oh My Gosh...! Jadi itu semua beneran?" tanya Rania kembali pada Tristan dan Naufal seolah tidak percaya.
"Iya beneran, bawel ih," ucap Naufal gemas sambil menjapit bibir Rania.
Raline hanya diam saja mendengarkan apa yang Tristan, Naufal dan Rania bicarakan. Sebenarnya dia sangat bersedih karena dia kehilangan satu teman meskipun mereka tidak terlalu dekat.
Tristan tahu kesedihan Raline, oleh sebab itu dia berjanji akan membuktikan pada semua orang jika Raline tidak seperti yang diberitakan akhir-akhir ini
__ADS_1
"Eh tunggu sebentar, sepertinya aku tau siapa laki-laki yang kalian maksud," ucap Rania pada saat dia teringat seorang laki-laki yang berada di gerbang saat itu.