Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
236


__ADS_3

"Selamat pagi semuanya!"


Suara ini.....


Kenshin berkata dalam hatinya, sontak saja dia melihat ke arah sumber suara.


Mata Kenshin membelalak sempurna ketika melihat pemilik suara tersebut adalah gadis pemilik hatinya.


"Cantik?!"


Tanpa sadar Kenshin berseru memanggil seorang perempuan yang kini ada di depan kelas.


Seketika semua mata di dalam kelas tersebut mengarah pada Kenshin.


Raline melebarkan matanya pada Kenshin seolah memberi peringatan padanya.


Kenshin pun hanya mematung, sibuk dengan apa yang ada dalam pikirannya.


Kenapa dia ada di sini? Bukannya tadi dia bilang kuliahnya libur? Sedang apa dia di sini? Kenshin bertanya-tanya dalam hatinya.


"Perkenalkan, saya guru pengganti dari Bu Setya. Dan saya akan menggantikan beliau selama beliau sedang cuti," ucap Raline yang sedang berdiri di depan kelas.


"Apa?"


Kenshin berdiri sambil bertanya dengan suara lantangnya.


Raline manahan tawanya melihat reaksi dari Kenshin yang sudah bisa diprediksi olehnya sebelum dia masuk ke dalam kelas tadi.


Theo, sahabat Kenshin yang duduk sebangku dengannya menarik tubuh Kenshin agar duduk kembali ke tempat duduknya.


"Sekarang kita akan mulai pelajarannya."


Raline memulai menjelaskan sesuai dengan pengarahan dari Bu Satya yang merupakan guru Raline pada saat masih sekolah di SMA tersebut dan kini dia menggantikannya untuk mengajar ketika Bu Satya sedang cuti melahirkan.


Mata Kenshin tidak lepas dari gadis pujaan hatinya yang kini menjadi gurunya dan mengajar di kelasnya.


"Sssttt... bukannya itu kakakmu yang dulu sekolah di sini itu ya?" tanya Theo dengan berbisik pada Kenshin.


Kenshin pun mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya pada Raline.


"Tanpa memakai seragam sekolah kelihatan tambah cantik ya," ucap Theo yang ikut melihat ke arah Raline yang sedang menjelaskan di depan papan.


Seketika Kenshin menoleh ke samping dan menjewer telinga Theo.


"Aduh!"


Theo mengadu kesakitan membuat semua mata menoleh padanya, tak terkecuali Raline yang berhenti menulis di papan dan menoleh ke arah di mana semua mata memandangnya.

__ADS_1


Theo mengusap-usap telinganya yang dijewer dengan kencangnya oleh Kenshin. Dan Kenshin berpura-pura menulis agar dia tidak diomeli oleh Raline nantinya.


Raline tetaplah Raline, dia tidak bisa marah ataupun memperingatkan dengan keras semua murid yang bersorak ke arah Kenshin dan Theo.


Dia hanya menggelengkan kepalanya ketika Kenshin melihat ke arahnya. Dan bukannya Kenshin merasa menyesal, dia malah tersenyum lebar ketik melihat Raline menatapnya sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Sudahlah, semuanya perhatikan ke depan, saya akan meneruskan kembali penjelasannya."


Raline mengalihkan kembali perhatian semua pasang mata di dalam kelas tersebut mengarah padanya. Kemudian dia mulai menjelaskan kembali pelajaran yang tertunda akibat ulah Kenshin dan Theo tadi.


Ketika jam pelajaran Raline selesai, Kenshin segera bergegas menghampirinya dan menjajari langkah Raline keluar dari kelasnya.


"Cantik, nanti pulang bareng ya," ucap Kenshin sambil tersenyum lebar.


Sontak saja Raline kembali melebarkan matanya dan membisikkan sesuatu di telinga Kenshin.


"Jangan panggil cantik kalau di sekolah."


Seketika Kenshin tertawa mendengar bisikan dari Raline sehingga membuat Raline bertambah kesal dan meninggalkannya dengan berjalan cepat menuju ruang guru.


"Ahhh.... aman....," ucap Raline sambil mengusap dadanya ketika baru saja sampai ruang guru dan duduk di kursi miliknya.


"Aman kenapa Bu Raline?" tanya seseorang dengan suara bas nya mengagetkan Raline yang baru saja duduk di kursinya.


Raline berjingkat kaget dan menoleh ke arah samping yang ternyata sudah ada seorang guru yang berdiri di sana.


"Eh Pak Amir, ngagetin aja Pak," ucap Raline sambil mengusap dadanya untuk menetralkan denyut jantungnya.


"Terima kasih Pak," ucap Raline setengah berseru pada Pak Amir yang sudah duduk di kursinya yang berjarak tidak dekat dengan Raline.


Pak Amir pun mengacungkan jempolnya pada Raline sebagai tanda menerima ucapan terima kasih Raline padanya.


"Hufftt... baru aja duduk, sekarang udah disuruh ke ruang kepala sekolah. Ada apa ya? Apa aku berbuat salah pada saat mengajar tadi? Aduuuh... kenapa aku jadi deg-degan ya?"


Raline menggerutu seiring langkah kakinya menuju ruang kantor kepala sekolah.


Tok... tok... tok...


Raline mengetuk pintu kantor kepala sekolah yang dulu selalu dihindarinya. Namun kini dia harus memasuki ruangan tersebut dengan situasi dan kondisi yang berbeda, bukan menjadi seorang murid melainkan menjadi seorang guru.


"Masuk!"


Suara itu... sepertinya aku kenal. Apa mungkin suara Bapak Kepala Sekolah ya? Sepertinya bukan. Suara Bapak Kepala Sekolah kan nge bas, Raline berkata dalam hatinya sambil berpikir mengingat-ingat suara yang menyuruhnya masuk ke dalam ruangan di depannya itu.


Ceklek!


Suara pintu yang dibuka itu membuat Raline yang berada di depan pintu tersebut menjadi kaget.

__ADS_1


"Ngapain di depan pintu gitu? Ayo masuk!"


Orang yang membukakan pintu itu menyuruh Raline masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.


Raline mengerjap-ngerjapkan matanya melihat orang tersebut yang kembali masuk ke dalam ruangan meninggalkan Raline yang masih mematung di depan pintu.


"Raline, Cantik, ayo masuk!"


Suara kali ini membuat Raline tersenyum dan bergegas masuk ke dalam ruangan kepala sekolah.


"Mami....!"


Raline berlari kecil masuk ke dalam ruangan tersebut dan menghampiri Kiki serta memeluknya dengan riang.


"Mami kok ke sini? Mami gak kerja? Papi kok juga ada di sini? Ih Papi bolos ya?"


Raline bertanya tanpa memberi jeda pada Aydin dan Kiki untuk menjawabnya.


"Ngawur aja bolos. Sejak kapan Papi bolos? Sekolah aja Papi gak pernah absen kok, apalagi kerja?!"


Aydin membela dirinya, dia tidak mau dikatai seperti itu oleh Raline.


"Oh ... oke. Terus Mami sama Papi ngapain di sini?" tanya Raline kemudian.


Aydin dan Kiki saling menatap, kemudian mereka tersenyum. Dan itu membuat Raline bertambah penasaran.


"Ada apa sih?" tanyanya dengan kesal.


Ceklek!


"Mi, Pi, Ken datang," ucap Kenshin seraya masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Miyuki mana?" tanya Kiki sambil mencari sosok princess kecilnya.


"Gak tau Mi, palingan sebentar lagi dia datang," jawabnya sambil duduk di kursi dekat Raline berdiri saat ini.


Raline tetap berdiri, dia heran dan merasa aneh dalam keadaan seperti ini.


"Bisulan Bu Guru? Kok gak duduk?"


Kenshin menggoda Raline dengan meledeknya.


"Iss... enak aja bisulan. Kamu tuh yang bisulan, di kelas rame aja," celetuk Raline tanpa sadar di hadapan Aydin dan Kiki.


"Ken...," Aydin memanggil Kenshin sebagai tanda, dan Kenshin pun mengerti arti dari panggilan Papinya padanya.


"Enggak Pi, tadi Theo yang tiba-tiba sakit giginya. Mangkanya dia tadi ramai di kelas."

__ADS_1


Kenshin membela dirinya sambil menarik tubuh Raline agar duduk di kursi yang ada di sebelahnya.


"Yuhuuuuu.... Princess datang....!"


__ADS_2