
Sore ini Aydin diajak sahabat-sahabatnya berkumpul di Cafe miliknya. Dion, Sofyan dan Kenan sudah berada di Cafe lebih dulu. Dion kini bekerja membantu Aydin untuk mengurus Cafe tersebut. Sedangkan Sofyan bekerja mengelola restauran Aydin. Mereka hanya sementara bekerja di sana sampai mereka mendapatkan pekerjaan yang mereka kehendaki.
Tak lama kemudian datanglah Kevin bersama Vina, mereka kini benar-benar menjadi pasangan yang serasi, paras mereka yang tampan dan cantik membuat orang disekitar mereka menjadi iri, dan juga sikap dan perhatian Kevin yang begitu manis membuat Vina semakin dalam jatuh hati padanya.
Setelah itu datanglah Aydin dan Kiki yang seolah tak terpisahkan. Aydin memeluk erat pinggang Kiki dan Kiki melingkarkan tangannya pada lengan Aydin.
"Nah nih dia pasangan fenomenal kita...," seru Kenan disertai suara tepuk tangan semua sahabat-sahabatnya.
"Fenomenal gundulmu," Kiki meraih sendok yang telah di tata di atas meja.
"Eits, taruh tuh sendok, bahaya," Kevin berseru ketika melihat Kiki meraih sendok, dia berpikiran bahwa Kiki akan melempar sendok seperti di Villa waktu itu.
"Cuma sendok doang bahaya apanya?" Kiki menaruh kembali sendoknya dan meraih minuman di depannya.
" Cuma sendok doang? Nih kepala kakak nyut-nyutan gara-gara tuh sendok kamu lempar kesini," Kevin menunjuk dahinya yang waktu itu terkena lemparan sendok Kiki.
"Tapi gara-gara itu seneng kan bisa ummuah... ummuah Kak Vina," Kiki memonyong-monyongkan bibirnya seperti orang berciuman untuk meledek Kevin.
Vina yang mendengar itu jadi malu. Kepalanya tertunduk dan wajahnya tersipu malu.
"Memang ada rejeki setelah bencana. Hehehehe....," Kevin menimpali ledekan Kiki dengan gurauannya.
"Cih gaya yang udah punya gandengan," sindir Dion.
"Hahaha... lah mangkanya jangan putus-putus mulu Bro, jadi gak nyambung-nyambung kan?" ejek Kevin pada Dion.
"Udah, Dion sama Sofyan aja deh biar seru. Hahaha...," ledek Kenan pada Dion dan Sofyan.
"Dih najis, dikira kita jeruk makan jeruk apa," sanggah Dion.
"Ogah mah kalau sama Dion. Masih waras lah, masih suka yang cantik-cantik," sahut Sofyan.
"Lagian kan cuma kalian yang belum punya pasangan," Kenan meledek kembali dua sahabatnya itu.
"Kayak dianya punya aja," cibir Dion.
"Ohohoho... tenang mas Bro, meskipun gak sefenomenal pasangan ini, tapi kita punya ciri khas sendiri," Kenan menyombongkan dirinya.
"Fenomenal apaan?" tanya Kiki bingung.
"Gimana gak fenomenal, saat istrinya kabur, suaminya sampai keliling nyari istrinya sampai berhari-hari, sampai lupa makan, lupa tidur, lupa mandi, tahu deh lupa cebok gak tuh. Hehehe... sampai sempat diinfus gara-gara kecapekan dan kurang gizi karena gak makan, akhirnya sahabat-sahabatnya lah yang bertugas membantu mencari istrinya yang hilang itu, ternyata..... diumpetin sama setang ganteng. Hahahaha....," Kenan berbicara dengan entengnya tanpa menyadari tatapan mata dari Aydin.
"Kirain fenomenal karena so sweet gitu, eh ternyata fenomenalnya karena...," Kiki memegang garpu dan siap mengarahkannya ke arah Kenan.
"Stop... stop... ampun Nyai...," Kenan menangkupkan kedua telapak tangannya di atas dahinya.
Kemudian Aydin mencegah tangan Kiki agar tidak melempar garpu tersebut.
"Jagain tuh Bro, istrimu biar gak kebiasaan lempar-lempar barang," Kevin berbicara pada Aydin.
"Halah itu juga kan ajaran dirimu mulai dari kecil," Aydin membela istrinya.
"Hmmm... dibelain, tambah cinta deh dedek Bang," Kiki memeluk tubuh Aydin dari samping.
"Dih gaya mesra-mesraan gak inget kemarin pada nangis-nangis," Kenan menyindir.
"Biarin wle... daripada situ gak ada pasangan," balas Kiki mengolok Kenan.
Tiba-tiba datanglah Renita bersama Raditya yang berjalan mendekati mereka.
"Maaf semuanya aku telat, baru pulang soalnya," Renita tersenyum lebar memperlihatkan giginya.
"Sini sayang, duduk dekat Abang," Kenan menepuk-nepuk kursi disebelahnya.
"Gaya, tuh sungkem dulu sama kakak ipar," goda Kevin pada Kenan.
"Duduk Di jangan berdiri terus. Gak lagi bisulan kan?" Kiki kembali dengan candaannya pada Raditya membuat Aydin kesal.
"Gak usah Ki, langsung balik aja kayaknya," Raditya masih berdiri sedangkan Renita sudah duduk di kursi dekat Kenan.
"Loh kenapa? Minum dulu gih," Kiki masih menyuruh Raditya untuk bergabung dengan mereka.
__ADS_1
"Entar bisulnya pecah lagi. Hehehe.... becanda, gak enak soalnya ada yang lagi berapi-api," Raditya menjawab dengan guyonannya.
"Ow Bang Ay, tenang aja udah jinak dia sama aku," dengan entengnya Kiki mengatakan itu.
Seketika Aydin melotot kaget dan menoleh ke arah Kiki yang ada di sampingnya.
"Pfft.... Hahahaha..," semua yang ada di meja itu tertawa mendengar ucapan Kiki.
"Kalau digigit gimana?" Raditya menanggapi ucapan Kiki.
"Gapapa, udah disuntik tetanus," jawab Kiki sambil menoleh ke arah Aydin dan tersenyum padanya sambil tangannya mengelus-elus lengan suaminya.
"Wkwkwk... dikira anjing herder kali lu Bro," Kenan berseru dari kursinya sambil tertawa terbahak-bahak.
Aydin melempar french fries yang berada di depannya kepada Kenan.
"Udah ah Bang, jangan marah-marah," Raditya menepuk pundak Aydin. Dan Aydin hanya menoleh melihat sekilas Raditya yang tersenyum padanya.
"Bang, nitip Renita ya, nanti pulangnya jangan malam- malam biar gak disuruh hafalan lagi sama Abah," Raditya berpamitan pada Kenan dan melemparkan candaannya.
"Beres..," Kenan mengacungkan jempolnya.
Renita mengambil telapak tangan Raditya dan menciumnya.
"Aa' hati-hati ya."
"Ki aku langsung balik aja ya," Raditya berpamitan pada Kiki dengan menjulurkan telapak tangannya ke depan Kiki. Reflek Kiki mengambil telapak tangan Raditya yang ada di depannya itu ditempelkan ke dahinya.
Semua yang berada di meja itu melongo melihat adegan salim-saliman antara Kiki dan Raditya.
Kenan berbisik pada Renita, " Itu Aa' kamu gak takut digorok sama Aydin?"
Renita menjawab dengan membalas berbisik di telinga Kenan, " Udah kebiasaan dari dulu sebelum mereka nikah, tapi udah lama juga gak dilakuin setelah mereka nikah."
Aydin melotot tajam pada tangan Raditya dan menghempaskan tangan Raditya dari pegangan tangan Kiki.
Kiki tersadar jika kini dia dan Raditya melakukan kebiasaannya dulu pada saat SMA sebelum dia pindah.
"Maaf Bang khilaf," Raditya nyengir tak berdosa dan memberikan tanda perdamaian lewat jarinya yang membentuk huruf V. ✌🏻
"Udah gak usah cemburu gitu, lagian kita kan cuma sahabat, dari dulu ya gini ni, mangkanya udah terbiasa. Cuma itu dulu sebelum aku pindah ke Malang," Kiki menenangkan Aydin dan mendudukkan tubuh Aydin ke kursinya kembali.
"Lah ngapain sekarang diulangi?" Sinis Aydin menatap Raditya.
"Gak nyadar Bang gara-gara habis disalami sama Renita tadi," Raditya membela dirinya dan Kiki.
"Gapapa Bro biar dia cemburu, biar dia ngerasain yang dirasain boncel kemarin-kemarin," ucap Kevin enteng yang dihadiahi cubitan kecil di lengannya oleh Vina.
Sedangkan Aydin hanya menatap tajam pada Kevin yang tertawa melihatnya.
Setelah itu Raditya pulang tanpa makan ataupun minum terlebih dahulu. Aydin hanya cemberut tanpa mendekat pada Kiki. Melihat suaminya seperi itu, Kiki tahu jika Aydin sedang merajuk. Dan Kiki tahu caranya menjinakkan suaminya yang merajuk. Dia dekati suaminya dengan bermanja-manja minta disuapi, tangannya melingkar di lengan suaminya dan tubuhnya dipepetkan ke tubuh suaminya, namun tak berhasil. Aydin hanya diam saja tak merespon. Sepertinya suaminya itu benar-benar sedang marah padanya. Padahal Aydin merasa sangat bahagia melihat istrinya merayunya dan bermanja-manja padanya, namun dia ingin memberi pelajaran pada istrinya itu agar tidak lagi berbuat seperti itu dengan Raditya yang katanya sahabatnya sejak SMA.
"Gimana hafalannya Bro?" tanya Kevin pada Kenan.
"Lancar dong," jawab Kenan.
"Apaan, masa' setor hafalan dicicil kayak kreditan panci," sahut Renita dengan entengnya.
"Hahahaha....," semua yang ada di meja tertawa mendengar ucapan Renita.
"Sayang, kok dibilangin sih?" Kenan merajuk.
"Lah emang bener kok," Renita menjawab dengan wajah polosnya.
"Ih najis denger lu merajuk gitu," sahut Dion.
"Merinding Bro bulu romaku," sahut Sofyan.
seketika tawa membahana dari meja tersebut, kecuali Kiki dan Aydin.
Aydin diam karena menahan kejahilan Kiki. Dua jari Kiki berjalan dengan indahnya di paha Aydin, membuat sang empunya merem menahan sesuatu ketika jari itu bergerak menuju sang junior yang sedang tertidur lelap. Kiki tersenyum jahil melihat ekspresi suaminya.
__ADS_1
Karena sudah tidak bisa menahannya, Aydin langsung berdiri dan meraih tangan Kiki.
"Kita balik duluan," Aydin pamit dengan berjalan dan menarik tangan Kiki tanpa melihat wajah teman-temannya.
Di dalam mobil Kiki tersenyum jahil melihat suaminya yang sepertinya sudah tersiksa.
Melihat istrinya yang begitu menikmati kejahilannya, Aydin segera menancapkan gasnya supaya cepat sampai. Kiki semakin jahil melihat suaminya yang begitu ingin cepat-cepat pulang, tangannya kembali bergerilya pada tempat-tempat favoritnya. Hingga Aydin mengerang dan mengumpat dalam hati. Akhirnya dia melampiaskannya dengan mengambil tangan Kiki yang jahil itu dan memasukkannya dalam mulutnya kemudian dia gigit kecil, namun Kiki meronta kesakitan karena gigitan itu.
Pada saat itu Kiki tak tahu jika Aydin sudah membelokkan mobilnya dan berhenti di sebuah gedung.
"Sayang, ngapain kita kesini?" Kiki menengok ke kiri dan ke kanan.
"Sayang harus tanggung jawab," Aydin menyeringai.
Aydin keluar dari mobilnya dan berputar untuk membukakan pintu untuk istrinya.
"Ayo cepat keluar sayang," Aydin menarik tangan Kiki yang masih bingung melihat ke sekeliling.
"Ini kita ngapain?" tanya Kiki dengan wajah polosnya.
"Bercocok tanam," Jawab Aydin berbisik pada telinga Kiki sambil memberikan kunci pada petugas valet.
"Dih, ngapain disini, di sawah kali Yang," ucap Kiki dengan nada biasa.
"Kejauhan, disini aja bikin adonan," Jawab Aydin.
"Yaelah Bang, kan Kiki belum beli bahannya," jawab Kiki dengan wajah polosnya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya.
"Kamu tuh ya... ayo cepetan," Aydin tersenyum geli melihat ekpresi Kiki sambil mencubit hidung Kiki.
Mereka langsung mengambil kunci di resepsionis tanpa mendaftar. Ternyata Hotel mewah ini milik Ayah Aydin. Usaha Ayah yang dirintisnya sendiri sejak dia muda, oleh sebab itu dia tidak mau menjadi seorang dokter, namun dia hanya menjadi pimpinan saja di Rumah Sakit peninggalan dari kakek Aydin. Dan hotel ini nantinya akan diambil alih oleh Aydin, karena Ayah sudah mewariskannya padanya. Aydin sangat sibuk sejak dia menikah karena dia selalu memantau semua kerjaannya melalui laporan yang dikirim oleh sekretaris Ayahnya pada Aydin, tak terkecuali hotel ini juga. Sedangkan rumah sakit, Ayah sudah menunjuk Kiki nantinya yang akan mengambil alih untuk menggantikannya.
Aydin membawa Kiki menuju kamar khusus untuk pemilik hotel melalui lift khusus petinggi hotel. Baru kali ini Kiki diajak Aydin ke tempat milik keluarganya selain cafe, restauran dan villa. Entah apa lagi yang akan ditunjukkan suaminya itu padanya.
Aydin memang berniat akan mengajak Kiki ke tempat ini nanti malam, oleh sebab itu dia sudah memberitahukan Ayah dan Bundanya bahwa mereka tidak pulang malam ini dan memberitahu tujuannya. Ayah dan Bunda sangat mendukung, oleh sebab itu Bunda memerintahkan langsung pada manager hotel agar menyiapkan kamar khusus pemilik dengan layanan dan fasilitas yang terbaik untuk anak dan menantunya. Mereka meninta agar mereka memberikan layanan untuk pengantin baru.
Sesampainya di depan kamar, Aydin membuka pintu dan segera dia membopong tubuh Kiki masuk ke dalam kamar. Kiki terkejut dengan perlakuan suaminya, dan dia lebih terkejut lagi ketika melihat suasana di dalam kamar yang begitu indah dengan suasana yang begitu romantis.
Tubuh Kiki direbahkan Aydin dengan sangat lembut di ranjang. Kiki mengerti bahwa dia tadi sudah membangkitkan singa yang sedang tertidur. Maka dia harus menerima konsekuensinya.
Aydin memperlakukan Kiki dengan lembut hingga Kiki terbuai dan hanyut dalam kegiatan mereka. Kini suara kamar tak lagi sunyi, ada suara-suara yang mereka ciptakan menambah semangat mereka dalam beraktifitas. Hingga akhirnya mereka menuju pelepasan dan terkulai lemas tanpa balutan benang.
Mata Aydin terbuka ketika mendengar suara ketukan pintu. Ternyata Waiter yang membawakan makanan mereka. Namun waiter hanya diperbolehkan Aydin sampai depan pintu saja, setelah itu troli makanan tersebut dibawa Aydin masuk ke dalam kamar.
"Sayang... bangun dulu, makanan sudah siap," Aydin membangunkan Kiki dengan kejahilannya.
Dikecupinya semua bagian wajah Kiki,namun Kiki hanya bergerak saja tanpa membuka matanya. Setelah itu Aydin beralih ke daerah-daerah sensitif Kiki agar dia terbangun.
"Iiiih... hayati lelah Abang....," Kiki merengek tanpa membuka matanya.
"Buka dulu matanya, kita makan dulu ya, setelah itu....," Aydin membujuk Kiki.
"Setelah itu apa?" Kiki duduk sambil mengusap-usap matanya.
Akhirnya Aydin berhasil membuat mata Kiki terbuka.
"Mandi terus makan. Ayo buruan makanannya nanti dingin, gak enak," Aydin membantu Kiki berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
"Abaaaaang.... ini apaan?" Kiki berteriak sambil menenteng sesuatu dari dalam kamar mandi.
"Apaan sih sayang?" Aydin mendekat ke tempat Kiki berada.
"Ini... kok ada di dalam kamar mandi?" Kiki bertanya tanpa sadar dia sedari tadi tanpa menggunakan apapun jalan ke kamar mandi, dan kini dia pun masih dalam keadaan seperti itu dengan menunjukkan sebuah barang untuk perlengkapan perang mereka.
"Itukan lingerie sayang... kenapa harus teriak-teriak sih?" Aydin menghela nafasnya lega karena dia kira tadi terjadi sesuatu dengan Kiki di dalam kamar mandi.
"Kok bisa ada disini? Abang yang nyiapin?" tanya Kiki heran.
"Bukan, tapi itu baru kan masih ada labelnya, berarti Bunda yang naruh itu. Tadi Bunda yang ngurus ini semua," Aydin berucap sembari jalan masuk ke dalam kamar mandi.
"Lah Abang ngapain?" tanya Kiki ketika melihat Aydin masuk ke dalam kamar mandi bersamanya.
__ADS_1
"Mandi bareng sekalian dari pada kelamaan. Simpan dulu itu baju haramnya, dipakai nanti malam ya buat dinas malam," bujuk Aydin yang sekarang malah mengajak Kiki bermain di bawah guyuran air shower.