
Raditya, Aydin dan Kiki berbicara tentang kelanjutan pendidikan Raline. Apakah Raline akan melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren milik Eyangnya atau bersekolah di kota ini kembali bersama mereka. Itulah yang menjadi topik pembicaraan mereka serta bagaimana caranya agar Raline tidak lagi bertemu dengan Linda kembali.
Suara notifikasi pesan dari ponsel Aydin membuat pembicaraan mereka terhenti. Aydin membuka pesan pada ponselnya, dan matanya membelalak ketika melihat foto-foto hasil pengintaian Linda untuk saat ini.
"Sialan! Dia kembali berulah!" Aydin berseru mengumpat ketika dia melihat ponselnya.
"Ada apa Bang?" Raditya bertanya karena penasaran, sedangkan Kiki segera melihat ponsel Aydin dan menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Coba kamu lihat ini," Aydin memberikan ponselnya pada Raditya.
Raditya melihat foto-foto di ponsel Aydin dengan penuh kemarahan. Dia tidak mengira jika Linda benar-benar datang ke sana dengan Riko untuk menemui Raline. Untung saja Ken sakit sehingga Raline saat itu juga pulang kembali ke kotanya, jika tidak sudah bisa dipastikan Linda bisa bertemu dengan Raline dan selanjutnya tidak ada yang tahu apa yang akan Linda perbuat selanjutnya.
Karena Linda berani datang ke Pondok Pesantren itu, jadi untuk sementara Raline harus berada dalam jangkauan Raditya dengan penjagaan ketat agar Linda tidak bisa mendekat padanya.
Mereka bertiga bersepakat akan mencarikan sekolah yang tidak bisa dijangkau oleh Linda. Dan untuk sementara Raline tinggal di rumah Aydin dan Kiki agar Linda tidak bisa menemukannya. Sedangkan untuk keamanan Raline, sudah pasti Aydin dan Raditya memerintahkan orang untuk mengawal ketat Raline tanpa sepengetahuannya dan tanpa diketahui orang lain.
Kini tinggal satu tugas mereka yaitu mencari sekolah yang terbaik untuk Raline dan sekolah yang tidak bisa terpikirkan oleh Linda.
......................
Di tempat lain Linda sedang emosi karena tidak diijinkan masuk ke dalam Pondok Pesantren untuk menemui Raline yang dia bilang sebagai anaknya.
Petugas yang bersangkutan memberitahukan bahwa tidak ada yang bernama Raline di Pondok Pesantren tersebut, padahal Linda sudah mencari Raline di mana-mana dan dia sudah bisa memastikan jika Raline berada di Pondok Pesantren tersebut karena Raline sudah keluar dari sekolahnya yang sebelumnya.
__ADS_1
"Gimana ini Yang? Apa kita pulang aja ya? Tau gini kan mending kita pergi ke tempat yang indah daripada ke sini," Riko menggerutu ditengah kebingungan dan kemarahan Linda.
"Udah deh Sayang, aku lagi bingung nih. Kamu diam aja dulu," Linda memarahi Riko yang membuatnya bertambah bingung.
"Lagian tumben banget sih deketin Raline sampai segitunya? Dulu aja gak pernah mau urusin dia," Riko menggerutu pada Linda.
"Sekarang aku lihat Raditya tambah sukses. Perusahaan yang dia rintis sendiri berkembang pesat," ucap Linda sambil mengotak-atik ponselnya mencari kontak Raline.
"Jadi kamu mau kembali padanya?" Riko bertanya dengan nada kesal.
"Kenapa? Kamu cemburu Sayang?" Linda mendekati Riko dan mendekatkan wajahnya ingin mencaritahu jawaban dari kejujuran di wajah dan mata Riko.
Riko hanya diam saja tidak mau menjawab. Karena sejujurnya dia juga bingung jawaban apa yang harus dia katakan pada Linda. Karena sejatinya dia tidak ingin menikahi Linda, tapi jika Linda tidak berada di sisinya, dia merasa kehilangan sosok istri yang melayaninya di rumah.
"Ya udah, aku akan ikut pulang sekarang. Tapi aku ingin ke tempat lain dulu sebelum kita pulang, gimana?" Linda mencoba mengembalikan mood Riko yang sudah dia buat badmood karena datang ke tempat itu tanpa ada hasil sama sekali.
Riko pun mengangguk dan segera menaiki motornya, sedangkan Linda terburu-buru naik motor Riko karena takut ditinggal olehnya.
Pada dini hari, tiba-tiba ponsel Linda berdering, Linda meraba nakas di kamar hotelnya untuk meraih ponselnya. Memang besok merupakan hari libur untuk semua unat di bumi ini, sehingga Linda dan Riko bebas menginap di mana pun mereka inginkan.
Mata Linda membelalak ketika melihat nama Pak Gunawan di layar ponselnya. Segera Linda buka pesan darinya. Dan seperti biasanya, Pak Gunawan menyuruh Linda untuk datang ke apartemennya. Linda bingung karena menurut perjanjian mereka, kapanpun Pak Gunawan menginginkan kedatangan Linda ke apartemennya, Linda harus datang saat itu juga. Dan Pak Gunawan tidak menerima alasan apapun.
Linda mencari alasan yang tidak mungkin Pak Gunawan bisa marah padanya. Karena bagaimanapun, dia tidak bisa datang ke apartemen secara langsung karena mereka sedang berada di luar kota yang butuh waktu berjam-jam untuk sampai di sana. Dan dia juga tidak mungkin meminta Riko untuk mengantarkannya.
__ADS_1
Linda beralasan sakit pada Pak Gamawan, namun Pak Gunawan tidak mau tau karena dirinya sedang kesepian, istrinya mendadak mendapat panggilan dari orang tuanya agar cepat pulang ke kota asal istri dari Pak Gunawan. Sedangkan anaknya sudah pasti ikut dengan istrinya karena anaknya sangat senang jika berada di rumah neneknya.
Dengan berat hati akhirnya Linda mengatakan bahwa dia berada di kota asalnya untuk mengunjungi orang tuanya. Karena Pak Gunawan ingin membuktikannya, dia meminta share lokasi di mana Linda berada. Dan detik itu juga Pak Gunawan melajukan mobilnya untuk datang menemui Linda.
Linda beralasan bahwa dia menginap di hotel karena orang tuanya masih marah padanya karena perceraiannya. Sehingga Pak Gunawan percaya pada alasan Linda begitu saja.
Linda segera keluar dari kamarnya bersama Riko ketika Riko masih tidur setelah rutinitas harian mereka berdua. Linda menunggu Pak Gunawan di lobi hotel agar Pak Gunawan tidak bertemu dengan Riko.
Pak Gunawan pun segera check in untuk beristirahat dengan ditemani oleh Linda karena tidak mungkin Pak Gunawan pulang pada saat itu juga.
Linda amat sangat bingung. Namun karena sudah terbiasa dalam keadaan perselingkuhan seperti ini, tiba-tiba saja ide cemerlangnya keluar, sehingga bisa membantu Linda di saat genting seperti saat ini.
Linda kembali ke kamarnya dan mengemasi tasnya. Dia menulis pesan, beralasan pada Riko jika dia ingin menginap di rumah orang tuanya dan Linda menyuruh Riko untuk segera pulang terlebih dahulu.
Linda segera masuk ke dalam kamar Pak Gunawan dan menemani Pak Gunawan yang sedang membutuhkannya, membutuhkan pelayanannya dan membutuhkan sosok wanita yang ada di sampingnya pada saat dia tertidur.
Di saat Pak Gunawan sudah mulai membuka baju Linda, tiba-tiba saja tangan Pak Gunawan berhenti menjamah bagian tubuh Linda dan mulutnya pun berhenti memanjakan tubuh Linda ketika dia melihat sesuatu di tubuh Linda.
"Sayang, kenapa ada banyak tanda merah di sini?"
Seketika mata Linda melotot, kenikmatan dan buaian yang diberikan oleh Pak Gunawan kini berangsur menghilang karena ketegangan Linda.
Gawat! Apa yang akan aku katakan? Apa mungkin Pak Gunawan curiga padaku? Apa mungkin dia bisa tahu hanya dengan melihat tanda merah itu saja? Aish, Riko kenapa kamu memberikan tanda merah itu pada tubuhku?
__ADS_1