Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
60


__ADS_3

Aydin tersenyum senang. Lantas dia memeluk erat tubuh Kiki, kemudian dia mengecup keningnya dan berkata, "Makasih ya sayang kamu udah kembali menjadi istri aku yang ceria, selalu tersenyum dan cerewet", Aydin mencubit hidung Kiki disertai dengan kekehannya.


"Ish... ditanya juga malah ketawa", Kiki mengerucutkan bibirnya seperti kebiasaannya.


"Hehehe....", Aydin kembali terkekeh dan mencium sekilas bibir Kiki yang mengerucut itu karena saking gemasnya.


"Ish... cium - cium, kebiasaan nih,mesum", Kiki cemberut melirik Aydin yang semakin terkekeh.


"Iiih....cepetan bilang, siapa yang ngelakuin itu?" Kiki menggoyang - goyangkan bahu Aydin yang semakin terkekeh melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan menurutnya.


Aydin seperti memperoleh angin segar. Dia berniat mengadu pada Kiki agar Kiki marah pada Raditya dan tidak mau berbicara lagi padanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit memikirkan ide gilanya itu.


"Ini tadi aku dipukul Raditya, dua kali loh sayang", Aydin merajuk manja memperlihatkan lebih dekat memarnya pada Kiki.


Nah sekarang yang ada dipikiran Kiki malah sikap aneh suaminya ini yang mengadu dan merajuk seperti anak kecil yang mengadu dan merajuk pada Ibunya, tidak seperti seorang Aydin yang cuek dan dingin.


"Sini coba lihat", Kiki memegang dagu Aydin dan melihatnya dengan teliti.


"Pasti sakit ya? Udah diobati?" Kiki menyentuh memar tersebut dengan hati - hati.


"Awww....", Aydin meringis ketika memar di sudut bibirnya disentuh oleh Kiki.


"Kok bisa Didi mukul Abang? Dia gak pernah loh Bang mukul orang", seolah tak percaya, Kiki kembali bertanya pada Aydin.


"Kamu belain dia? Jelas - jelas Abang dua kali di pukul disini", Aydin menunjukkan kembali memar di sudut bibirnya itu.


"Bukannya belain... Ya aneh aja gitu. Lagian Abang jago bela diri kenapa malah kena pukul Didi sih? Sedangkan Didi aja gak kenapa - kenapa", Kiki kembali bertanya dengan nada heran.


Aydin diam saja karena kesal istrinya malah membela Raditya. Kalau seperti ini sih tidak sesuai dengan rencananya.


Kiki mengambil ponselnya di atas nakas. Dia melakukan panggilan pada nomer Raditya. Aydin hanya melirik saja tanpa ingin bertanya, karena dia masih kesal dengan istrinya yang menurutnya bukannya membela dia yang jelas - jelas suaminya, malah dia membela Raditya yang cuma sahabatnya, tapi ya memang pernah ada rasa sih diantara mereka, tapi kan yang lebih berhak di bela harusnya Aydin yang notabennya adalah suami Kiki.


Sepertinya Aydin tertular Kiki, dia sangat sensitif, mudah marah dan moodnya berubah - ubah. Entah karena memang dia yang sensitif seperti Kiki atau memang karena cemburu, hampir tidak bisa dibedakan.


"Halo, Di, kamu kenapa mukul suami aku? Kamu mau akau hajar?" Kiki bertanya pada Raditya diseberang sana dengan kemarahan yang berapi - api.


Mendengar itu, Aydin menoleh kembali pada Kiki dan tersenyum bahagia, karena ternyata istrinya membelanya. Aydin mendekatkan dirinya pada tubuh Kiki, lalu menempelkan telinganya lebih dekat ke ponsel Kiki, berharap mendengar obrolan mereka. Namun Kiki menjauhkan kepala Aydin dari ponselnya. Alhasil Aydin duduk kembali dengan muka kesal dan dia mendengarkan dari tempat duduknya.


Tatapan Kiki tajam pada Aydin setelah dia mengakhiri teleponnya dengan Raditya. Entah apa yang diomongkan Raditya pada Kiki sehingga Kiki menatap tajam setajam silet pada Aydin, yang menurut Aydin tatapan itu begitu horor membuat merinding bulu kuduknya.

__ADS_1


Glek....


Aydin kesusahan menelan ludahnya karena melihat tatapan membunuh dari istrinya.


"Sayang.... sakit ini.....", Aydin mendekatkan wajahnya dan menunjuk memarnya itu.


Kiki memegang memar Aydin, merabanya dengan halus, namun setelah itu dipukulnya pelan memar itu.


Plak...


"Aww... sayang... sakit... kok dipukul sih?" Aydin merengek layaknya anak kecil yang mengadu pada ibunya karena kesakitan dipukul temannya.


"Sukurin... itu akibatnya bikin istrinya kayak gini. Harusnya tadi Bang Kevin gak usah menghentikan Didi, biar tambah lagi tuh memarnya", Kiki melotot marah, membuat Aydin jadi mengkerut.


"Ckk, dasar tukang ngadu", Aydin mencebik kesal sambil memegangi memarnya yang bertambah sakit setelah dipukul Kiki.


"Tadi yang ngadu duluan siapa?" Kiki mendekatkan wajahnya, membuat Aydin tersenyum paksa memperlihatkan deretan giginya.


"Iya... iya... Abang yang salah, mangkanya Abang tadi diam saja pas ditampar Bunda tiga kali, dan dipukul Raditya dua kali, karena Abang sadar kalau Abang salah udah bikin kamu sakit kayak gini. Maafin Abang ya sayang...", Aydin meraih tangan Kiki dan mengecup punggung tangan dan telapak tangannya berkali - kali.


Kiki tersenyum geli melihat tingkah suaminya yang seperti abg yang masih labil.


"Udah sana obatin dulu. Apa mau aku yang obatin?"


"Coba bawa sini obatnya", Kiki meminta kotak obat dan mulai mengoleskan salep pada bagian memar tersebut.


Seminggu sudah Kiki berada di rumah sakit, seminggu juga Aydin selalu berada di samping Kiki, dia tidak pernah meninggalkannya walaupun hanya sebentar. Jika ada perlu untuk membeli sesuatu di luar, pasti Aydin menyuruh OB rumah sakit untuk membelikannya.


Raditya, Aldo dan Riri selalu datang menjenguk Kiki tiap hari sepulang mereka kuliah. Untuk seminggu ini Kiki masih ijin dari kampus, entah sampai berapa lama itu tergantung dari perkembangan kondisi kesehatan Kiki.


Di rumah keluarga Aydin,Ayah dan Bunda Aydin menanyakan tentang kedatangan Mama dan Papa Naila, namun tetap saja sesuai rencananya, Naila tetap menghindar tiap kali Om dan Tantenya bertanya. Dia beralasan jika Mama dan Papanya masih sibuk sehingga mereka belum bisa datang menemui. Bunda bertambah geram mendengar alasan Naila karena jujur saja Bunda khawatir karena beberapa hari lagi Kiki akan pulang ke rumah.


Hari ini Kiki sudah diperbolehkan pulang. Tadinya Kiki ingin tinggal di rumah orang tuanya atau pindah ke tempat lainnya karena dia tidak ingin bertemu dengan Naila. Apalagi dia tahu jika sekarang dia sedang mengandung, jadi dia tidak ingin ada lagi ulah dari Naila yang akan berakibat buruk baginya dan anak yang di kandungnya.


Ayah dan Bunda memohon agar Kiki mau tetap tinggal bersama mereka dan mereka memberitahukan tentang kepindahan Naila besok menunggu Mama dan Papanya datang menjemputnya. Mereka juga meyakinkan bahwa mereka akan menjaga Kiki dari Naila. Aydin pun meyakinkan bahwa dia juga akan selalu bersamanya, jadi Kiki tidak perlu khawatir tentang Naila. Akhirnya dengan berat hati Kiki menyetujuinya. Sebenarnya Kiki sangat berat menyetujui untuk kembali ke rumah keluarga Aydin, entah mengapa dia merasa tidak nyaman dan tidak ingin kembali ke sana jika masih ada Naila. Tapi bagaimanapun juga dia tidak bisa berjauhan dengan suaminya, dia harus menuruti suaminya, apalagi dia sudah berjanji untuk selalu bersamanya.


Kiki pulang ke rumah diantar oleh seluruh keluarganya. Selain Aydin, Ayah dan Bunda, ada juga Mama, Papa dan Kevin yang ikut menjemputnya dari rumah sakit dan mengantarkannya pulang ke kediaman keluarga Aydin.


Naila yang mengetahui bahwa suara mobil yang datang adalah Kiki, dia segera berlari ke dalam kamarnya. Dia tidak ingin bertemu Kiki, karena itu tidak akan menguntungkan baginya. Dia takut akan disuruh segera angkat kaki dari rumah oleh Om dan Tantenya. Selama Kiki dirawat di rumah sakit, Naila tidak pernah bertemu dengan Aydin, karena Aydin selalu berada di rumah sakit dan tidak pernah pulang ke rumah. Entah apa reaksi Aydin jika bertatap muka dengan Naila. Bisa dipastikan jika Aydin akan marah besar padanya. Jadi untuk menghindari kemarahan dari Aydin, lebih baik Naila menghindari bertemu dengan Aydin dan dia akan menemuinya jika rencananya sudah berhasil. Naila tersenyum licik mengingat rencananya dan dia tersenyum bahagia ketika membayangkan keberhasilannya yang bisa memiliki Aydin ketika rencana itu berhasil. Dia sudah mempersiapkannya dengan matang. Semuanya sudah dia persiapkan, tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakannya. Dia yakin semuanya akan bisa terlaksana dalam waktu dekat ini dan dia yakin rencananya ini 100% akan berhasil.

__ADS_1


Setelah selama kurang lebih satu jam, Mama, Papa dan Kevin berpamitan pulang. Aydin selalu menjaga Kiki, tak sedetik pun dia meninggalkannya, karena dia tidak ingin Kiki merasa tidak nyaman dan tidak aman karena kehadiran Naila di rumah itu.


Selama beberapa hari Aydin selalu setia bersama Kiki dan selama beberapa hari itu juga Naila tidak menampakkan diri di hadapan Ayah, Bunda dan Aydin. Hampir sama dengan Kiki yang selalu berada di kamar, Naila sengaja menghindari bertemu dengan orang - orang di rumah tersebut, dia selalu mengunci diri di kamar dan berangkat serta pulang ke rumah pun di jam yang orang - orangnya sudah bisa dia tentukan sedang berada di dalam kamar.


Hari ini Aydin terpaksa meninggalkan Kiki di rumah karena dia harus pergi ke kampus untuk menjalankan sidang skripsinya. Dia meninggalkan Kiki dengan wajah yang cemberut enggan untuk berangkat, namun Kiki memberikan senyum manisnya dan memberikan semangat serta doa agar semuanya berjalan dengan lancar. Mendadak Aydin menjadi semangat ketika sebelum berangkat dia diberi vitamin C oleh Kiki. Vitamin yang berasal dari ciuman Kiki. Ciuman yang hangat, lembut dan nyaman sehingga membuat mereka merasa lupa waktu karena mereka sangat menikmatinya. Namun ciuman mereka harus berhenti karena mendengar suara ketukan pintu dan suara Kevin memanggil - manggil nama Aydin untuk cepat berangkat bersamanya. Memang hari ini Kevin dan Aydin berangkat bersama menggunakan mobil Kevin, entah mengapa Aydin kali ini memintanya untuk menjemputnya, mungkin karena sekalian Kevin mengantarkan pesanan Kiki yaitu masakan rendang buatan sang Mama. Mungkin karena Kiki sedang ngidam menginginkan rendang buatan Mama, jadi tidak ada yang berani menolaknya. Kiki segera menyuruh Aydin berangkat, dan Aydin pun menuruti perintah Kiki untuk segera berangkat dan Aydin pun dengan sangat berat hati dia menuruti perintah Kiki agar segera berangkat bersama Kevin, serta dia berjanji akan segera pulang. Aydin juga berpesan agar Kiki tetap berada di dalam kamar dan jika Kiki butuh sesuatu harus minta tolong Bik Sum ataupun Bunda. Kiki pun menenangkan Aydin dengan menjanjikannya hal tersebut.


Bunda selalu menemani Kiki di dalam kamarnya ketika Aydin tidak berada di samping Kiki. Ketika jam Kiki harus minum susu ibu hamil, Bunda turun ke bawah untuk membuatkan susu ibu hamil untuk Kiki, karena memang selama ini yang membuatkan susu biasanya adalah Aydin, dan sekarang ketika Aydin tidak berada di rumah maka Bunda lah yang membuatkannya. Setelah Bunda membuatkan susu tersebut di dapur, mendadak perut Bunda mulas, karena sudah tidak bisa ditahan lagi, terpaksa Bunda menyuruh Bik Sum untuk mengantarkan susu tersebut untuk segera di minum oleh Kiki. Sedangkan Bunda terburu - buru masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya yang sudah tidak bisa ditahannya lagi.


Mendengar suara teriakan Bunda, Naila mencoba untuk mendengarkan secara seksama apa yang dikatakan oleh Bunda. Kebetulan hari itu memang Naila sedang tidak ada kelas, jadi sedari tadi dia berada di rumah, tepatnya berada di dalam kamar. Setelah dia mendengar perintah Bunda pada Bik Sum, Naila merasa bahwa ini adalah kesempatannya.


Dia mendekati Bik Sum ketika Bunda sudah mauk ke dalam kamar mandi.


"Bik, tolong dong ambilkan baju aku warna pink yang beberapa hari lalu aku pakai, pasti belum Bik Sum setrika ya? Cepetan Bik ambilkan, aku keburu telat nih", dengan akting terburu - buru dan gelisah dia meyakinkan Bik Sum.


"Tapi non, Bik Sum antar susu ini dulu ke kamar Mbak Kiki", Bik Sum hendak melangkah, namun badan Naila menghalangi Bik Sum.


"Ayo dong Bik buruan, itu udah ditunggu taksi di luar. Susunya taruh disini dulu aja!" Naila mengambil paksa gelas susu yang ada di tangan Bik Sum dan meletakkan di atas meja Bar.


Kemudian Naila membalikkan tubuh Bik Sum ke arah ruang setrikaan dan mendorongnya agar cepat berjalan.


"Buruan Bik, aku tunggu disini. Cepetan!!!" Naila memerintah seolah -olah dia dikejar waktu.


Segera dia menuangkan bubuk dari botol vial yang terbuat dari kaca dan tutupnya terbuat dari karet. Ada serbuk berwarna putih yang Naila keluarkan dari botol tersebut dan mencampurkannya ke dalam susu. Kemudian dia mengaduknya. Setelah berhasil mengaduknya, Naila segera berlari dengan cepatnya ke dalam kamarnya dan dia membawa sendok dan botol bekas obat tadi, lalu dibuangnya di tempat sampah yang berada di dalam kamarnya.


Bunda keluar dari kamar mandi dan mendapati susu buatannya masih berada di atas meja bar.


"Bik Sum....", teriak Bunda memanggil.


"Iya Nyah....", Bik Sum tergopoh - gopoh berlari dari dalam ruang setrika menuju dapur.


"Ini kenapa susunya belum dikasih ke Kiki? Kasihan kan dia nungguin dari tadi", Bunda menunjuk gelas yang berisi susu putih di atas meja Bar.


"Maaf Nyah, tadi Non Naila menyuruh saya cepetan ambilkan bajunya di belakang", Bik Sum memasang wajah takut dan gelisah.


"Aduh... anak itu ngerepotin aja. Lain kali suruh ambil sendiri aja Bik. Sekarang dimana anak itu?" Bunda mendadak berwajah kesal.


"Kurang tau saya Nyah, tadi ada disini, tapi sekarang sudah gak ada. Tadi sih bilang katanya sedang di tunggu taksi di luar, mangkanya saya disuruh cepat - cepat mengambilkan bajunya. Tapi sudah saya cari dimana - mana bajunya gak ketemu Nyah baju yang dicari Non Naila", jawab Bik Sum dengan menunduk ketakutan melihat wajah kesal dan geram Bunda.


"Yaudah Bik cepetan antar susunya ke Kiki, saya mau ambilkan makanan dulu buat Kiki", Bunda mengambil piring, kemudian menaruh nasi di atas piring tersebut.

__ADS_1


Namun ketika Bik Sum hendak membawa susu itu pergi, Bunda mencegahnya.


"Bentar Bik....."


__ADS_2