Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
178


__ADS_3

"Ini temannya ikut juga?" tanya Raditya pada Tristan.


"Iya Om, Naufal ini merangkap jadi asisten saya di cafe Om," jawab Tristan dengan hormat.


"Waduh, malah dengan dia cowok perginya," Raditya menggerutu dan disambut tawa oleh yang lainnya.


"Apa dia aja yang ditaruh sini sebagai jaminan?" ucap Kiki mencoba bercanda pada Raditya.


"Lah malah bahaya kalau mereka cuma berdua saja Ki," jawab Raditya kesal.


"Lah gimana dong? Eh tapi dulu kamu pas ke mana-mana sama Kiki kan cuma berdua aja," kini Kevin yang keceplosan mengungkit masa lalu Raditya dan Kiki.


"Ehemmm...," Aydin kembali berdehem membuat Kevin sadar jika dia telah membangunkan macan yang sedang jinak.


Seketika Raditya, Kevin dan Kiki merasa kikuk dan canggung di tatap satu persatu oleh Aydin. Sedangkan Raline bertanya-tanya dalam hati mereka, ada hubungan apa sebenarnya antara ayahnya dengan Maminya selain mereka seorang sahabat.


Ada hubungan apa ya sebenarnya antara Mami dengan Ayah di masa lalu selain hubungan sahabat antara mereka? Kenapa Papi sepertinya gak suka ketika mereka membahasnya? Raline bertanya-tanya dalam hatinya.


"Ya udah kalian berangkat sekarang aja," Aydin menyuruh Tristan, Naufal dan Raline untuk segera berangkat.


"Raline, sini dulu sebentar," Raditya memanggil Raline agar mendekat padanya.


Raline pun berjalan mendekat ke arah ayahnya dan Raditya membawanya agak menjauh dari mereka.


"Ayah harap kamu bisa menjaga kepercayaan dari Ayah dan semua orang yang menyayangimu," ucap Raditya pada Raline dan diangguki oleh Raline.


"Ayah harap Raline bisa menjaga diri Raline. Jangan termakan rayuan siapapun jika itu untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh Allah. Mengerti?" Raditya kembali memperingatkan Raline agar bisa menjaga dirinya.


"Iya Ayah.... Raline janji," ucap Raline dengan senyum manisnya membuat Raditya merasa sangat bersalah padanya karena tumbuh tanpa kehadiran seorang ibu.

__ADS_1


"Dan jangan lupa aktifkan GPS nya. Jangan coba-coba di non aktifkan," Raditya kembali memperingatkan Raline.


"Iya Ayahku Sayang....," ucap Raline sambil memeluk tubuh Raditya dan berjinjit untuk mencium pipinya.


Raditya tertawa dan dia mencium kedua pipi Raline secara bergantian, setelah itu Raditya mencium dahi Raline lama dan berkata,


"Anak Ayah udah remaja," sambil mengacak-acak rambut Raline dengan gemas.


"Bro, om itu siapanya Raline? Kok dia meluk-meluk sama cium-cium Raline?" Tristan berbisik di telinga Naufal.


"Gak ngerti, apa kita perlu tanya sama mereka?" jawab Naufal sekaligus memberikan ide pada Tristan.


"Ngaco. Yang ada kita malah malu. Nanti aja kita korek-korek info dari Raline," Tristan berbisik kembali pada Naufal.


Setelah itu Tristan, Naufal dan Raline berjalan menuju villa milik Tristan untuk mengambil mobil dan segera berangkat ke cafe milik Tristan.


Dari belakang Tristan melihat punggung Raline. Dia membayangkan adegan romantis yang dilakukan olehnya bersama Raline seperti yang dilakukan oleh Aydin dan Kiki.


Bibir Tristan melengkung ke atas di saat dia membayangkan tangannya melingkar di pinggang indah milik Raline dan dirinya memeluk tubuh Raline dari belakang persis seperti Aydin uang memeluk Kiki waktu itu.


Ah... indah sekali khayalanku. Seandainya itu bisa terjadi... Tristan mengatakannya dalam hatinya.


"Bro, lapar nih, makan yuk," Naufal membuyarkan kesenangan Tristan yang sedang mengkhayalkan dirinya bersama Raline.


"Kamu pesan aja sekalian buat aku sama Raline. Aku mau menemani dia dulu di sana. Sepertinya dia senang berada di sini, di tempat itu, sama seperti Maminya," ucap Tristan dengan senyumnya yang masih mengembang.


Naufal menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat sahabatnya yang menjadi orang berbeda semenjak menambatkan hatinya pada perempuan yang bernama Raline.


Tanpa ingin memikirkan tingkah Tristan yang lucu menurutnya, Naufal memesankan makanan untuk mereka bertiga.

__ADS_1


Tristan perlahan mendekati Raline. Namun Raline tak mengetahuinya karena dia sedang terhanyut oleh pemandangan yang sedari tadi tidak henti-hentinya dia lihat dan dia kagumi.


"Bagus kan pemandangannya?" suara Tristan yang tiba-tiba datang dan berada di samping Raline membuyarkan lamunan Raline.


"Banget," jawab Raline dengan tersenyum manis yang mirip sekali dengan senyum Raditya.


Mata Tristan tak bosan melihat senyum manis Raline yang disuguhkan padanya. Bagaikan terhipnotis, dia tidak berkedip melihat senyum Raline yang mempesonanya.


"Kamu pintar memilih tempat," ucap Raline yang membuat Tristan tersenyum malu karena mendapatkan pujian dari Raline.


"Dulu, tempat ini dipilih oleh Mamaku karena dia sangat menyukai pemandangan di sini. Dan ternyata Mami dan Papimu dulu banget, udah beberapa tahun yang lalu pernah di sini dan Papimu menyewa tempat ini untuk makan malam romantis dengan Mamimu. Dan beberapa hari yang lalu mereka berada di sini pas kebetulan aku juga ada di sini," Tristan memberitahukan pada Raline apa yang terjadi.


"Benarkah mereka dulu pernah ke sini? Kalau yang kemarin itu sih aku memang tau. Bahkan mereka harus menginap di sekitar sini karena cuacanya sedang buruk, jadi mereka gak bisa pulang malam itu," Raline terkekeh mengingat malam itu.


"Ada foto mereka waktu dulu di sana. Nanti kamu akan aku tunjukkan," ucap Tristan pada Raline dan dibalas oleh Raline dengan senyumannya yang antusias ingin melihat foto Kiki dan Aydin pada waktu dulu.


"Kamu tau gak, Mami dan Papimu sangat suka berdiri di sini dengan menghadap pemandangan di sana, persis seperti kamu yang terpukau dengan pemandangan itu," Tristan memberitahu Raline dengan menunjuk pemandangan yang dia maksud.


"Benarkah? Aku tebak pasti Mami sama Papi sangat romantis sekali," ucap Raline dengan senyum bahagianya.


"Iya benar, aku sangat ingin melakukan itu dengan seseorang yang aku cintai, pasti sangat membahagiakan," Tristan menimpali ucapan Raline.


"Mereka selalu romantis di mana pun. Hingga semua orang sering protes melihat mereka yang menebar keromantisan di depan mereka," ucap Raline kembali dengan terkekeh membayangkannya.


"Wah pasti sangat membahagiakan ya keluarga kalian," ucap Tristan dengan kagum.


Di meja yang tidak jauh dari mereka berdiri sekarang, ada sepasang mata yang sedari tadi melihat mereka dengan penuh kemarahan. Dia sangat iri dengan Raline yang bisa dekat dan bercanda dengan Tristan. Dia sakit hati karena dia yang merasa menyukai Tristan lebih dari Raline. Hingga kini dia tidak bisa menahan lagi untuk memisahkan ataupun mengganggu Raline dan Tristan ya g sedang tertawa senang bercanda bersama.


"Raline....!" teriak seseorang yang ingin sekali menghancurkan kebahagiaan Raline dan Tristan yang sedang bersama.

__ADS_1


__ADS_2