Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
183


__ADS_3

Akhir pekan telah usai. Kini mereka kembali pada rutinitas mereka sebelumnya. Di sekolah, Resti selalu menghindari Raline. Bahkan ketika Raline menyapanya, Resti selalu membuang mukanya. Apalagi ketika Raline mendekatinya, seketika itu juga Resti meninggalkan tempat itu.


Sangat mencolok sekali ketidaksukaan dan kebencian Resti pada Raline setelah akhir pekan kemarin.


"Ada apa Ra? Kalian bertengkar?" Rania, teman sebangku Raline bertanya pada Raline.


Raline menggelengkan kepalanya sambil menatap Resti yang sudah berjalan menjauhinya.


"Aku gak tau Ran, tiba-tiba aja hari ini dia seperti itu padaku. Apa aku punya salah sama dia yang gak aku sadari?" Raline menjawab dan bertanya balik pada Rania.


"Udah gak usah dipikirkan, sebentar lagi kita ujian kelulusan, mending kita pikirkan pelajaran kita aja agar kita bisa lulus dengan maksimal," ucap Rania untuk menghibur Raline dan mereka terkekeh bersama setelah Rania mengatakannya.


Kini Raline dan Rania sedang berada di kantin sekolah mereka. Sedangkan Naufal menyeret Tristan untuk membelikannya makanan di kantin sekolah mereka. Dengan ogah-ogahan Tristan melangkahkan kakinya menuju kantin, namun sesaat kemudian bibirnya melengkung ke atas ketika melihat sosok cewek yang menjadi pemilik hatinya berada di sana.


"Bro," ucap Tristan pada Naufal dengan menggerakkan dagunya ke arah Raline dan Rania berada.


"Gass...," ucap Naufal sambil terkekeh.


"Hai cewek-cewek cantik... boleh gabung gak?" tanya Naufal pada Rania dan Raline pada saat Naufal duduk di sebelah Rania dan Tristan duduk di sebelah Raline.


"Lah tuh dah duduk. Harusnya sebelum duduk ngomongnya," Rania menjawab pertanyaan Naufal.


"Jangan judes-judes gitu dong, tambah cantik tau gak," Naufal mengeluarkan rayuannya pada Rania.


"Gak usah ngerayu-ngerayu, gak mempan," ucap Rania dengan ketus.


"Siapa yang ngerayu? Kenyataan kok. Iya gak Bro?" Naufal menjawab ucapan Rania dan mencari dukungan dari Tristan.


Tristan tersenyum dan menoleh ke samping, melihat wajah cantik yang sangat dirindukannya. Tiba-tiba Raline malu dan kikuk ketika Tristan melihatnya.


Resti sangat marah ketika melihat Tristan duduk bersebelahan dengan Raline, apalagi Tristan memandang Raline dengan penuh minat. Resti memang anak dari keluarga biasa saja, namun dia sudah terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan.


Dan kini, dia merasa dikalahkan oleh Raline yang menjadi saingannya dalam merebut beasiswa dan hati seorang Tristan.

__ADS_1


Dalam hatinya dia berjanji akan membuat perhitungan pada Raline, karena menurutnya jika Raline lah yang membuat semuanya memihak pada dia.


Resti perlahan menyusun rencana untuk menyingkirkan Raline sebelum mereka lulus dari sekolah itu. Sekarang dia mendekati semua teman-temannya untuk melancarkan rencananya.


Semakin dia melihat Raline dan Tristan semakin dekat, semakin kuat pula keinginannya untuk menghancurkannya. Dan jika dia sudah berkeinginan kuat, maka tidak ada yang bisa mengubahnya. Karena itulah dia bisa mendapatkan beasiswa, karena kegigihannya. Namun kegigihannya itu tidak seharusnya dia terapkan juga untuk menghancurkan Raline.


Pada saat Raline, Rania, Tristan dan Naufal masuk ke dalam kelas, semua mata memandangnya seolah mencibirnya. Mereka berempat merasa seperti sedang menjadi target incaran seluruh siswa di kelas tersebut.


"Ada apa sih? Mereka kenapa kok lihat kita seperti itu?" Rania berbisik pada Raline tapi masih bisa di dengar oleh Tristan dan Naufal.


"Udah kita duduk aja, palingan juga kita aja yang ke pedean," ucap Raline sambil tersenyum.


Akhirnya Raline dan Rania duduk di bangku mereka. Tristan dan Naufal pun sama, mereka juga merasa biasa saja meskipun tatapan teman-temannya tidak seperti biasanya pada mereka.


Resti tersenyum licik melihat teman-temannya memandang rendah pada Raline. Dia merasa menang untuk saat ini karena bisa mendapatkan hati teman-temannya.


Sekarang kamu bisa tertawa dan berdekatan dengan Tristan, tapi lihat saja sebentar lagi kamu pasti akan menangis, Resti berkata dalam hati sambil tersenyum sinis melihat Raline.


Sepulang sekolah, seperti biasa Raline pulang bersama dengan Kenshin dan Miyuki. Sedangkan Rania pulang sendiri dan diberhentikan oleh seorang laki-laki yang sedang menunggu seseorang di gerbang sekolah.


Ali menunggu Resti di depan gerbang sekolah dengan duduk di atas motor sportnya. Dia mengawasi setiap siswi SMU yang keluar dari sekolah tersebut. Lama sekali Ali sudah menunggunya, namun Resti tidak juga keluar dari sekolah itu.


"Permisi Mbak mau tanya, apa-" ucapan Ali terhenti karena melihat wajah Rania yang sedang tersenyum pada saat menoleh padanya.


"Iya Mas kenapa?" tanya Rania pada Ali yang sedang terpanah padanya.


"Eh i-itu... apa... anu.. eh...," Ali tergagap karena melihat wajah Rania yang membuatnya gugup.


"Kenapa Mas? Mau cari seseorang?" tanya Rania pada Ali yang benar-benar terpanah padanya, sehingga tidak berkedip melihatnya.


"I-itu... mmm... Resti," jawab Ali tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Rania.


"Oh... Resti... ada kok, kayaknya masih di dalam kelas deh. Tunggu aja Mas, mungkin sebentar lagi dia akan keluar," jawab Rania sambil tersenyum manis.

__ADS_1


Lagi-lagi Ali terpanah oleh senyuman Rania. Dia merasa baru kali ini jantungnya berdegup sangat kencang. Jika bersama Resti memang dia menyukainya, namun degupan jantungnya tidak seperti ini, tidak seperti pada saat dia bertemu dengan Rania. Sepertinya gadis imut ini sudah mencuri hati Ali yang sedang bucin pada Resti.


"Maaf saya permisi dulu," ucapan Rania ini membuyarkan lamunan Ali.


"Eh Mbak... Mbak... nama kamu siapa? Biar aku bisa berterima kasih," Ali menghentikan langkah kaki Rania.


"Rania," jawab Rania sambil mengembangkan senyumannya.


"Rania? Rania terima kasih ya," ucap Ali dengan kikuk.


"Sama-sama," jawab Rania dengan memberikan kembali senyum manisnya setelah itu dia kembali meneruskan langkahnya.


"Cantik...," Ali bergumam sambil tersenyum.


Kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini? Apa aku menyukainya? Tapi bagaimana dengan Resti? Aku kan menyukainya sejak dulu, Ali bertanya-tanya dalam hatinya tentang apa yang dirasakannya.


"Res!" tiba-tiba lamunan Ali buyar ketika Resti berjalan melewatinya.


Resti menoleh dan meneruskan jalannya tanpa berkata apapun pada Ali. Tentu saja Ali sudah terbiasa dengan sikap Resti yang seperti itu, hanya saja Ali tetap menyimpulkan perasaannya pada Resti adalah cinta.


Ali mengikuti Resti hang berjalan di depannya. Namun setelah mereka berada di tempat yang sepi tidak jauh dari sekolahnya, Resti berhenti dan naik pada boncengan motor sport Ali.


"Pegangan Sayang," perintah Ali pada Resti.


"Resti, bukan Sayang," ucap Resti menanggapi panggilan dari Ali.


Tanpa komando, Ali segera meraih kedua tangan Resti dan melingkarkannya pada pinggangnya. Dan tepat pada saat itu mobil Tristan yang berisikan Tristan dan Naufal melintas dan melihat Resti yang berpegangan erat di pinggang Ali.


"Tuh Bro lihat, itu benar mereka yang di puncak kemarin. Ckckck... gila bener tuh cewek. Gak nyangka pendiam di kelas ternyata nginep sama cowoknya di villa," ucap Naufal sambil melihat terus Resti dan Ali hingga mobil mereka tidak bisa lagi melihatnya.


"Kali aja suaminya," ucap Tristan dengan entengnya.


"Suami?" Naufal mengkerutkan dahinya.

__ADS_1


__ADS_2