
Orang tua mana yang tidak kaget mendengar anaknya yang masih sekolah meminta pada mereka untuk dijodohkan dengan gadis pilihannya sendiri.
Begitupula dengan Papa Tristan yang merupakan seorang pengusaha terkenal di bidangnya dan sering sekali bekerja sama dengan perusahan Aydin dan perusahaan Kevin.
"Apa kamu kenal dengan anak Pak Aydin?" tanya Papa Tristan pada Tristan.
Tristan pun mengangguk dan menjawab pertanyaan Papanya.
"Kenal banget malahan. Mangkanya Tristan minta Papa agar Papa mau menjodohkan Tristan dengan anak Pak Aydin. Bisa kan Pa?"
"Kamu yakin?" tanya Papa Tristan kembali.
"Yakin. Seratus persen yakin malah," jawab Tristan dengan penuh keyakinan.
"Baiklah kalau kamu memang yakin. Nanti Papa akan menghadiri pesta yang diadakan oleh Pak Aydin. Biar Papa coba bicarakan nanti dengan Pak Aydin," ucap Papa Tristan sambil menepuk bahu Tristan.
"Papa mau ke acara pesta Pak Aydin?" tanya Tristan pada Papanya dan diangguki oleh Papanya.
"Tristan ikut ya Pa?" tanya Tristan dengan sangat antusias dan mata yang berbinar.
"Boleh. Persiapkan dirimu dengan baik agar tidak mempermalukan Papa dengan penampilanmu," jawab Papa Tristan sambil terkekeh.
"Oke Pa, akan Tristan persiapkan dengan baik sekarang," ucap Tristan dengan menampilkan wajah senangnya.
Setelah itu dia meninggalkan ruangan Papanya dan bergegas pergi ke kamarnya untuk mempersiapkan dirinya.
"Yes! Aku akan berpenampilan sangat menarik agar aku tidak kalah dari sepupu Raline yang sok kecakepan itu," ujar Tristan di depan cermin dengan mencoba satu persatu setelan jas yang akan dia pakai nanti menghadiri acara yang diadakan oleh keluarga Aydin.
"Aku tidak akan pernah kalah dari bocah itu. Meskipun penampilannya sudah hampir sepertiku, tapi dia masih saja seorang bocah. Dan apa? Dia mau melarangku mendekati Raline? Hahaha... itu tidak akan terjadi. Keinginanku tinggal selangkah lagi, dan Raline akan menjadi milikku selamanya," ucap Tristan di depan cermin dengan penuh percaya diri.
Tristan menyiapkan dirinya dengan benar-benar sempurna menurutnya. Bahkan para pelayan di rumahnya mengagumi penampilan Tristan kali ini.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Aydin dan Kiki, semua keluarga besar Aydin dan Kiki sudah berkumpul kecuali Aydin yang memang di beri kejutan oleh Kiki dengan mengadakan acara tersebut dan mengahdirkan seluruh orang yang dekat dengannya, tak terkecuali relasi bisnisnya yang biasanya datang ke pesta yamg diadakannya.
Tadinya Aydin akan pulang lebih awal, namun Kenan yang bertugas untuk mengamankan Aydin pun menjaga Aydin agar tidak pulang dan tidak pergi ke mana pun, sehingga dalam seharian ini Aydin hanya berada di ruangannya saja.
Bisa dipastikan jika Aydin marah-marah pada Kenan yang menurutnya sedang mengada-ada mencari alasan untuk menyekap dirinya dalam ruangannya.
"Bos, ayo kita pulang sekarang," ucap Kenan ketika sudah berada di dalam ruangan Aydin.
Aydin tampak kesal dan wajahnya terlihat sangat marah. Kenan menelan ludahnya, dia tidak berani jika Aydin sudah memperlihatkan raut itu padanya.
"Kenapa Bro, apa ada yang salah?" tanya Kenan pada Aydin.
"Kalian berdua sangat menyebalkan!" seru Aydin dengan menatap tajam pada Kenan.
"Kami berdua? Siapa?" tanya Kenan dengan ekspresi bingungnya pada Aydin.
"Kamu dan Kiki. Kalian sama-sama menyebalkan," ucap Aydin kembali dengan kesal.
"Aku kenapa? Dan Kiki, dia kenapa?" tanya Kenan yang benar-benar bingung atas ucapan Aydin.
"Mungkin lagi sibuk kali Bos," ucap Kenan untuk membela Kiki.
"Enak kalian kalau ngomong. Aku kan jadi gak tau dia lagi ngapain dan gak ada yang ngingetin dia makan atau tidak," Aydin memberi penjelasan tentang kekhawatirannya pada istrinya.
"Halah Kiki itu gak pernah lupa Bos sama yang namanya makan, jadi mendingan Bos hilangkan kemarahan Bos dan sekarang kita pulang," Kenan berusaha menenangkannya.
"Kamu juga, ngapain kamu ngelarang-ngelarang saya untuk keluar dari ruangan ini? Apa alasannya?" tanya Aydin dengan tegas.
Alasannya sangat jelas, aku disuruh oleh istrimu, Kenan berkata dalam hatinya.
"Kenan! jawab, malah bengong," Aydin berseru menanyakan alsan Kenan.
__ADS_1
"Gak ada apa-apa. Udah... sekarang kita pulang saja. Dan aku ikut ke rumahmu," Kenan menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Aydin padanya.
"Ngapain? Enggak ah, gak boleh. Kamu nanti ganggu aja malahan. Soalnya kamu tuh kalau udah berkunjung ke rumah pasti lama gak pulang-pulang. Mangkanya kamu aku larang untuk datang ke rumah," ucap Aydin dengan tegas.
"Ck, itu kan dulu sebelum aku menikah. Kalau sekarang udah ada bini di rumah yang nungguin, ngapain aku lama-lama di rumah kalian?" jawab Kenan tidak terima.
"Yakin semenjak udah nikah gak pernah datang ke rumah lama-lama? Lalu siapa yang menginap di rumah ketika bertengkar dengan istrinya? Apa Kevin ya? Ah sepertinya aku harus meminum banyak vitamin agar bisa mengingat dengan baik," Aydin menyindir Kenan dengan matanya yang melirik ke arah Kenan.
"Dasar pendendam, ingat aja kalau ada masa-masa itu dalam rumah tanggaku," ucap Kenan sambil mencekik kesal.
Aydin kini tertawa melihat kekesalan Kenan yang ditampakkan dengan jelas oleh raut mukanya itu.
"Istriku dan anakku sedang berada di rumahmu. Jadi aku akan ikut ke rumahmu untuk menjemput mereka. Bukan karena ingin ke sana, tapi karena menjemput anak istriku. Dengarkan itu, udah dua kali aku jelasinnya," Kenan berkata dengan sewot.
"Ngapain mereka ke rumahku? Pasti ngadu sama Kiki ya kalau suaminya gini gitu," Aydin menanggapi penjelasan Kenan sambil terkekeh.
"Udah, yuk kita pulang!" kini Kenan yang berseru pada Aydin, kemudian secepat kilat dia berlari karena takut dilempar barang-barangnya oleh Tristan.
Dengan segera Aydin mengambil tas kerjanya dan keluar ruangan kantornya dengan terburu-buru persis seperti murid yang baru saja mendengar bel pulang.
Kenan yang melihat sekelebat bayangan Aydin yang berlari turun ke lantai bawah agar bisa segera mengendarai mobilnya dan pulang ke rumahnya yang sedari tadi menjadi pikirannya.
Setibanya di rumahnya, Aydin merasa heran karena di rumahnya yang sebesar itu bisa padam lampunya. Hal yang sangat tidak diinginkannya yaitu rumah besar mereka yang sangat sepi dan tidak sedikitpun cahaya yang ada di dalam kamar tersebut.
Apa ada perampokan? tanya Aydin dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.
Segera dia berjalan masuk ke dalam rumahnya dengan sangat hati-hati. Dia merasa harus waspada karena dia takut jika apa yang dipikirkannya benar-benar terjadi.
Tampak Kenan berlari mengikutinya ketika dia sudah turun dari mobilnya yang dia kendarai sendiri.
Ceklek!
__ADS_1
"Surprise....!!!"
"Yeeee....!!!"