
Bak gayung bersambut, Kiki terbuai dengan ciuman Aydin. Dia mulai membalas ciuman dari suaminya itu.
Kiki memang sedang kesal pada suaminya, namun dia tidak menampik jika dirinya juga merindukan suaminya dan juga ingin melakukan hal yang sama dengan suaminya sebagai pasangan suami istri.
Setelah dirasa ciuman mereka terlalu bergairah, Aydin melepaskan ciuman itu karena dia merasa harus menuntaskan sesuatu pada saat itu juga.
"Mi, kita ke dalam ya," ucap Aydin yang masih dalam posisi yang sama.
"Jangan Pi. Mami takut Ken akan pergi dari rumah itu jika tau ada Papi di sana," jawab Kiki dengan rasa bersalah.
"Lalu bagaimana Mi? Apa Mami mau pulang bersama Papi? Tapi Ken bagaimana?" tanya Aydin yang tidak kalah cemas dengan Kiki.
"Sepertinya Ken sudah tidur nyenyak Pi. Kita pulang saja. Mami akan menghubungi Bik Ratmi agar standby menjaga Ken.Besok pagi Mami akan kembali ke sini untuk memeriksanya," Jawab Kiki sambil membuka kunci layar ponselnya.
"Pi, apa Papi akan menyetir dengan memangku Mami seperti ini?" tanya Kiki ketika menyadari jika posisi duduknya kini masih berada di pangkuan Aydin.
Aydin terkekeh dan dia membantu Kiki untuk berpindah tempat duduk di sebelahnya.
"Untung badan Mami imut bisa Papi angkat-angkat," Aydin terkekeh mengiringi candaannya.
"Jadi Papi pengen istri yang badannya gede gitu?"
Bukannya marah, Kiki malah menggoda suaminya.
"Dalam pandangan Papi itu Mami yang paling sempurna, badan Mami imut dan seksi. Papi aja sampai gak bisa berpindah ke lain hati," jawab Aydin sambil meraih tangan Kiki dan menciuminya sambil mengemudikan mobilnya.
Bagaimana aku bisa marah jika suamiku semanis ini pada istrinya. Aku bersyukur bisa mempunyai suami sepertimu Pi.
Kiki berkata dalam hatinya sambil memandang wajah tampan suaminya yang semakin mempesona dengan aura kedewasaannya seiring bertambahnya usia.
Sesampainya di rumah, Aydin segera membawa Kiki ke kamar mereka.
Brak!
Pintu kamar ditutup oleh Aydin dengan kencangnya. Sepertinya dia sudah tidak bisa menunda keinginannya itu.
Ditariknya tubuh istrinya itu dan disandarkannya di tembok dengan meraup bibir Kiki dengan sangat menuntut.
__ADS_1
Setelah itu tubuh Kiki digendong oleh Aydin dan diletakkan secara perlahan di atas ranjang mereka.
Mulailah Aydin memanjakan istrinya itu dengan sentuhan-sentuhan tangannya dan permainan mulutnya sehingga membuat Kiki tak berdaya dan melambung tinggi.
Kini ranjang yang tadinya rapi itu berantakan. Ranjang yang tadinya dingin karena tidak berpenghuni, kini menjadi panas dan penuh dengan peluh sepasang suami istri itu.
Kamar yang tadinya sunyi kini terdengar suara lenguhan dari kedua manusia tersebut. Pemilik kamar itu telah kembali. Mereka kini sedang menuntaskan keinginannya yang sedari tadi ditahannya. Kerinduan mereka kini tersalurkan. Dan jarak yang sempat terkikis tadi seolah menghilang. Tidak ada lagi jarak antara mereka berdua.
Di tempat lain, tepatnya di dalam kamar Kenshin, nama Raline berulang kali keluar dari bibir Kenshin dengan mata yang masih terpejam.
Tampaknya Kenshin kini sedang mengigau. Dia mengigau nama Raline dalam tidurnya dengan keringat dingin yang menetes di pelipis dan dahinya.
Bik Ratmi yang sudah bangun ketika adzan subuh mencoba melihat keadaan Kenshin sesuai dengan perintah Kiki padanya.
Melihat kondisi Kenshin yang seperti itu membuat Bik Ratmi dengan segera menghubungi Kiki.
Lama Bik Ratmi menunggu sambungan teleponnya diangkat oleh Kiki. Sepertinya Nyonya dan Tuannya masih terlelap tidur karena aktivitas panasnya di malam hari tadi.
Tiba-tiba mata Kiki terbuka ketika terdengar suara ponselnya yang berdering mengganggu indera pendengarnya.
Dengan mata yang masih terpejam, Kiki mengambil ponselnya yang ditaruhnya di atas nakas dan menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
Seketika kedua mata Kiki terbuka sempurna setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Bik Ratmi melalui telepon.
"Apa? Ya udah Bik, saya akan ke sana sekarang," ucap Kiki sebelum dia mematikan teleponnya.
"Pi... Pi... bangun. Anterin Mami ke rumah Kenshin."
Kiki membangunkan suaminya dengan menggoyang-goyangkan lengannya.
"Emmm... kenapa Mi?" tanya Aydin tanpa membuka matanya.
"Cepat antar Mami ke rumah Ken. Sekarang dia sedang sakit. Bik Ratmi barusan telepon. Buruan Pi!"
Kiki bergegas turun dari ranjangnya dan mengambil pakaian yang bersih untuk dipakainya serta membawa tas peralatan medisnya.
Tas Kiki masih tertinggal di kamar Kenshin, dia hanya membawa ponselnya ketika keluar menemui Aydin kemarin malam.
__ADS_1
Mata Aydin pun seketika terbuka lebar mendengar anak kesayangannya kini sedang sakit sendirian di rumahnya. Dengan segera dia turun dari ranjang dan memakai pakaiannya.
Mereka bergegas menuju mobil dan Aydin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa memikirkan hal lainnya. Kini mereka hanya ingin segera cepat sampai di rumah Kenshin.
Jujur saja Aydin sangat cemas meskipun yang diketahui oleh orang lain dia sedang tidak dekat dengan Kenshin. Bagi Aydin anak adalah segalanya dan itu yang terbukti selama ini.
Dan karena hal itu juga, Kenshin tidak berani melawan Aydin karena memang selama ini Aydin tidak pernah mengecewakan Kenshin dan juga Miyuki.
Sesampainya di rumah Kenshin, Kiki terburu-buru keluar dari mobil ketika mobil baru saja dihentikan. Dia tidak mau membuang waktu untuk menunggu suaminya.
Kiki berlari sambil berseru dari kejauhan memanggil Bik Ratmi ketika memasuki rumah tersebut.
"Bik, di mana Ken?"
Bik Ratmi yang turun dari tangga untuk menyambut Nyonya dan Tuannya pun menjawab dengan nafas yang terengah-engah karena berlari dari lantai atas untuk menyambut mereka di lantai bawah.
"Masih ada di kamarnya Nyonya."
Dengan cepatnya Kiki menaiki tangga, namun dipertengahan tangga dia kembali berseru pada Bik Ratmi.
"Bik tolong buatkan bubur dan minuman hangat."
Setelah itu Kiki kembali menaiki tangga dengan cepatnya menuju kamar Kenshin. Sedangkan Aydin, dia ragu untuk masuk ke dalam kamar Kenshin. Dia mengingat ucapan Kiki semalam yang mengatakan bahwa dia takut jika Kenshin akan pergi apabila mengetahui Aydin berada di rumahnya.
"Apalagi ini, hanya karena hal seperti ini saja aku bisa bimbang. Harusnya aku bisa langsung saja masuk dan melihat keadaan anakku. Tapi kenapa aku harus bimbang seperti ini?" Aydin berucap lirih sambil melihat pintu kamar Kenshin yang tertutup.
"Maaf Tuan bisa tolong bukakan pintu kamarnya?"
Tiba-tiba suara Bik Ratmi menyadarkan Aydin dari lamunannya. Dia melihat Bik Ratmi yang membawa semangkuk bubur dan segelas minuman hangat dalam nampan.
Segera dibukakan pintu kamar tersebut oleh Aydin. Sekilas dia melihat Kenshin yang masih diperiksa oleh Kiki dan terlihat dengan jelas wajah Kenshin yang sedikit memucat.
Benar-benar serba salah dia sekarang. Dan dia ingin sekali segera memeluk jagoan kecilnya itu ke dalam pelukannya seperti biasanya ketika Kenshin sedang sakit.
"Kok cepat sekali Bik masaknya?" tanya Kiki pada Bik Ratmi ketika masuk dengan membawa semangkuk bubur dan segelas minuman hangat.
Kenshin pura-pura memejamkan matanya, namun dia sedikit melirik ke arah pintu karena mendengar tadi Bik Ratmi yang berbicara pada Papinya.
__ADS_1
Kenshin tahu jika sangat tidak mungkin jika Papinya itu tidak memperhatikan dan tidak mengkhawatirkannya. Hanya saja mereka berdua sama-sama keras kepala dan tidak ingin mengalah. Mereka ingin mewujudkan keinginan mereka masing-masing.
"Kenapa Tuan tidak masuk ke dalam?"