Pernikahan Rahasia KIARA

Pernikahan Rahasia KIARA
57


__ADS_3

Kiki mengabaikan ketukan pintu dan panggilan dari Bunda dan Aydin. Dia kini terduduk di luar kamarnya, dia berada di balkon kamarnya, duduk di pojokan dengan menekuk lututnya dan menangis tersedu - sedu terbayang suaminya yang dipeluk dan dicium oleh wanita lain. Kiki menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya,bahunya bergetar naik turun menandakan dia sedang menangis. Dia sendiri heran mengapa dia secengeng ini, mengapa akhir - akhir ini dia sangat mudah sekali tersentuh hatinya sehingga mudah sekali mengeluarkan air mata.


Aydin segera turun ke bawah menyusul Bunda yang tak kunjung datang membawa kunci cadangan kamarnya. Aydin segera masuk ke dalam kamar ketika pintu kamar berhasil di buka. Aydin mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar namun tak mendapati sosok istrinya di manapun, kemudian dia mencari di dalam kamar mandi, namun lagi - lagi dia tidak mendapati istrinya di sana. Dia sangat frustasi, dia jambak rambutnya melampiaskan kefrustasiannya, dia sangat khawatir terhadap istrinya, takut terjadi apa - apa dengan istrinya.


"Sayang.... sayang.... kamu dimana?! "


Ayah dan Bunda mengikuti Aydin ke dalam kamar. Mereka berhenti berjalan ketika Aydin berjongkok di pojok balkon dan memeluk erat tubuh Kiki yang sangat dingin, mungkin karena terlalu lama dia berada di luar balkon sehingga tubuhnya terlalu lama terkena dinginnya angin malam.


Aydin memeluk erat dan menciumi puncak kepala Kiki berkali - kali.


"Maaf sayang.... maaf.... maafkan aku....", Aydin mengucap kata maaf berkali - kali, namun Kiki tak kunjung mendongakkan kepalanya.


Sepertinya dia asik menikmati kesedihannya. Ayah mengajak Bunda keluar agar memberi ruang pada Aydin untuk membujuk Kiki. Merasa tak ada respon dari Kiki, Aydin mengangkat Kiki yang masih dalam posisi duduk memeluk lututnya ke tempat tidur. Tak ada pergerakan dan perlawanan dari Kiki. Kini dia layaknya mayat hidup. Aydin menidurkannya di atas kasur dan menutupinya dengan selimut tebal. Dia menangis dan memeluk erat tubuh Kiki yang dingin dan merapalkan kata maaf yang tak ada hentinya. Tangisan Kiki pun kini sudah berhenti ketika suaminya memindahkannya ke atas tempat tidur, dia tetap diam saja tak bergeming namun tak menangis, seolah air matanya sudah habis. Aydin turun untuk mengambilkan susu hangat untuk Kiki, berharap tubuh Kiki akan lebih hangat jika meminum susu hangat. Di bawah, tepatnya di dapur, Aydin membuatkan susu untuk istrinya. Bunda dan Ayah menghampirinya, dan menanyakan apa yang terjadi. Aydin menghela nafasnya berat, kemudian dia menceritakan kondisi Kiki saat ini. Bunda menangis di pelukan Ayah, dia memarahi Aydin dan dia mengancam akan menjauhkan Kiki darinya jika dia sekali lagi membuat Kiki bersedih hingga seperti itu. Ayah menenangkan Bunda, kemudian mengajaknya masuk ke dalam kamar. Aydin semakin gusar dan sedih mendengar ancaman dari Bunda. Dia tidak menyangka jika hubungannya dengan Kiki yang begitu bahagia selama ini harus mendapatkan ujian dengan datangnya Naila, sepupunya. Dia tidak berpikir jika dengan adanya Naila bisa menggoyahkan keadaan rumah tangganya yang hampir tidak ada masalah. Aydin bingung harus bagaimana, di samping dia tidak ingin menyinggung atau menyakiti sepupunya, dia juga tidak rela kehilangan istrinya. Kini Aydin menjadi galau hanya karena masalah yang sepele menurutnya.


Setelah dia sampai di kamarnya, dia segera menghampiri Kiki yang masih tetap berada di tempat tidur dengan posisi yang sama seperti tadi, sepetinya dia tidak bergerak sedikitpun, hanya matanya saja yang kadang - kadang berkedip. Aydin meminumkan susu hangat itu pada Kiki. Namun Kiki hanya diam saja tidak merespon. Aydin kembali terisak, sedih melihat istrinya, wanita yang sangat dicintainya menjadi seperti ini, dia memohon agar Kiki mau meminum susu tersebut


"Sayang.... diminum susunya ya....", Kiki tetap bergeming tidak bersuara dan tidak bergerak.


"Sayang... jangan begini, lebih baik kamu pukul aku, kamu tampar aku, kamu maki aku", Aydin menggerakkan tangan Kiki untuk menampar pipi Aydin, tangan Kiki hanya menurut, lemas dan tidak bertenaga dan air matanya menetes ke pipi begitu saja ketika tangannya menampar Aydin.


Aydin menangis melihat Kiki yang seperti itu, dia tidak menyangka kesalahannya bisa mengakibatkan Kiki begitu syok dan bersikap seperti ini, karena selama ini memang Kiki tidak pernah berlaku seperti sekarang ini.


"Aku mohon sayang.... minum ya...", Aydin meminumkannya kembali pada Kiki, dan susu itu berhasil masuk ke mulut Kiki hanya sedikit karena Kiki tidak tega melihat Aydin menangis.


Aydin mengecup kedua mata Kiki agar tidak menangis lagi. Kiki juga tidak tahu mengapa tubuh dan pikirannya serta emosinya bisa selabil ini. Namun dia hanya bisa menuruti hati, tubuh dan pikirannya. Dia tidak mau ambil pusing karena dia merasa hatinya begitu sakit.


Kemudian Aydin menidurkannya dan menyelimutinya serta memeluknya dengan erat. Kiki hanya diam saja tak memberontak. Dia berkali - kali meminta maaf dan mengatakan bahwa dia sangat mencintainya dan berkali - kali juga dia mencium matanya, pipinya, bibirnya dan keningnya, berharap Kiki akan merespon, karena biasanya Kiki sangat senang jika Aydin memperlakukannya seperti itu. Namun Kiki hanya memejamkan matanya dan terdiam tidak merespon apapun. Hingga Aydin tertidur dengan mendekap erat tubuh Kiki, memberikan kehangatan pada tubuh dingin Kiki yang terlalu lama terkena dinginnya angin malam tadi sewaktu dia menangis di balkon.


Mata Kiki mengerjap merasakan tubuhnya sesak tidak bisa bergerak. Semalaman Aydin mendekap erat tubuh Kiki ketika tidur. Seperti kebiasaan mereka yang tidur saling memeluk. Namun kali ini Kiki hanya diam saja ketika dipeluk erat oleh Aydin, padahal biasanya dia balas memeluk erat tubuh Aydin dan menelusup kan kepalanya pada dada Aydin. Kiki menatap lekat wajah damai lelaki yang bergelar suaminya semalaman memohon maaf dan menangisinya, lelaki yang mendekap erat dirinya kini, suaminya yang begitu gagah semalam menjadi lelaki cengeng yang menangis memohon maaf padanya. Tanpa sadar disentuhnya alis, hidung, mata dan bibir suaminya itu. Aydin merasakan sentuhan itu ,namun dia masih menutup matanya ingin merasakan lebih lama sentuhan halus yang menyalurkan perasaan rasa sayang itu, dia juga ingin mengetahui apa yang akan dilakukan oleh istrinya itu selanjutnya. Namun Aydin perlahan membuka matanya ketika merasakan ada air yang menetes di lengan Aydin yang mendekap tubuh Kiki.


"Sayang kamu kenapa menangis? Apa ada yang sakit?" Aydin dengan nada khawatir menangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua pipi Kiki dan kedua jempolnya mengusap air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


Kiki melengos memandang ke lain arah , dia tetap diam saja, karena dia takut jika dia berbicara bukan suara bicaranya yang terdengar, malah suara isakan tangis yang akan keluar. Dia benci melihat dirinya yang selemah ini.


"Sayang...maafkan aku, jangan marah lagi. Aku mohon.....", Aydin memaksa kepala Kiki menghadap kepadanya. Kiki sudah tak kuat menahannya lagi, air matanya kembali jatuh dan kini tangisan Kiki berbeda dengan yang tadi. Kini air matanya jatuh lebih deras dan lama - kelamaan suara tangisannya pun keluar. Aydin memeluk erat tubuh Kiki, dibawanya kepala Kiki bersandar di dadanya untuk menenangkannya.


"Sayang.... aku mohon jangan menangis lagi. Aku sangat sedih jika melihat kamu menangis", Aydin sedikit menjauhkan kepala Kiki dari dadanya, kemudian dia mencium kedua mata Kiki yang mengeluarkan air mata. Seperti mantra jika Kiki menangis, maka air matanya akan berhenti jika Aydin melakukan hal itu.


"Sudah ya sayang, jangan nangis lagi, kita bicara ya sekarang", Aydin menatap lembut mata Kiki yang entah Kiki menatap apa, karena tatapannya kosong.


"Sayang aku mohon bicaralah", Aydin menengadahkan wajah Kiki padanya, menyuruhnya menatap matanya.


"Sayang, bicara ya", seolah terhipnotis secara langsung, Kiki mengangguk.


Aydin menyandarkan tubuh Kiki pada kepala tempat tidurnya, dan dia pun juga melakukan hal yang sama. Dia merangkul erat tubuh Kiki, melingkarkan tangannya pada punggung Kiki dari samping, sehingga tubuh Kiki merapat pada tubuh Aydin yang berada di sampingnya. Aydin menceritakan tentang Naila dan keluarganya dan bagaimana dekatnya dia dengan Naila. Dia benar - benar seperti mayat hidup yang hanya bisa berkedip, mengangguk dan menangis. Aydin lebih mempererat dekapannya dan mencium puncak rambut Kiki dan berkata,


"Sayang, aku harap kamu tidak salah sangka dengan kedekatan ku dengan Naila dan aku harap kamu jangan begini lagi. Hatiku sangat sakit melihatmu seperti ini. Kembalilah menjadi seorang Kiki, istri tercintaku yang ceria dan selalu tersenyum. Aku sangat... sangat... sangat mencintaimu istriku.... ", Aydin mengurai sedikit dekapannya dan menengadahkan wajahnya pada wajah Kiki yang sepertinya air matanya habis terjatuh pada saat Aydin berbicara barusan.


Aydin mengecup singkat bibir Kiki dan dia tersenyum. "Senyum dong istriku tercinta", ajaibnya Kiki ikut tersenyum, sepertinya senyum Aydin menular padanya.


Di bawah, di ruang makan Naila uring - uringan karena sejak dari tadi Aydin tak kunjung turun ke bawah. Naila hendak naik ke lantai atas untuk memanggil Aydin di kamarnya, namun Bunda dengan tegas melarangnya, sampai - sampai Bunda pasang badan berada di tengah - tengah tangga dan menghalangi Naila yang dengan nekatnya hendak naik ke atas menuju kamar Aydin. Ayah sangat geram, dan membentak Naila agar duduk dan memakan sarapannya duluan jika dia tidak sabar menunggu Aydin dan Kiki. Dengan berat hati Naila duduk kembali, menunggu Aydin di meja makan.


Beberapa saat kemudian Aydin dan Kiki turun ke bawah. Aydin seperti biasa menggandeng Kiki ketika turun menapaki tangga dan memeluk erat pinggang Kiki dari samping ketika sudah turun dari tangga berjalan menuju meja makam. Kiki hanya terdiam dan senyum jika Aydin senyum padanya. Naila menoleh ke arah tangga ketika mendengar suara langkah kaki, dia memandang ketus Kiki. Dia tidak suka miliknya dimiliki orang lain. Dia mencengkeram erat sendok dan garpu yang dia pegang saat ini.


Ayah dan Bunda memperhatikan Aydin dan Kiki yang sepertinya sudah berbaikan, mereka tersenyum dan mereka menggeleng ketika melihat raut muka tidak suka Naila yang memandang kedekatan Aydin dan Kiki. Ayah dan Bunda juga melihat sendok dan garpu Naila yang dicengkeramnya dengan erat di atas meja, menandakan dia begitu marah. Bunda menggeleng dan Ayah mengelus pundak Bunda dan mengangguk. Mereka saling menguatkan dan mengerti apa yang harus mereka lakukan.


"Lama banget sih, sampai karatan aku nunggunya", Naila menyindir Aydin dan Kiki ketika mereka sampai di meja makan.


Seolah tuli tidak mendengar, Aydin mengabaikan sindiran Naila, karena kini dia harus menjaga hati Kiki, istri tercintanya. Aydin mempersilahkan Kiki duduk dengan menarik sedikit kursinya dan mendorongnya kembali ketika Kiki hendak duduk. Kemudian dia duduk di kursi sebelah Kiki. Naila mendengus kesal mendapati yang ada di dekatnya malah Kiki.


"Ayo Bang buruan makannya, aku ada kelas bentar lagi", Naila merengek pada Aydin.


Kiki masih duduk dengan tenang. Dia sudah berjanji pada dirinya untuk mengabaikan Naila. Jika dia bersikap baik, maka Kiki pun akan bersikap baik padanya. Namun jika dia tidak menghargai Kiki, maka akan dia abaikan keberadaannya.

__ADS_1


"Kamu berangkat duluan aja. Abang sudah gak ada kuliah, Abang cuma mau antar Kiki ke kampus", Aydin mengambilkan Kiki lauk kesukaannya.


Tadi, Kiki hendak melayani makan Aydin dengan mengambilkan nasi dan lauk seperti biasanya, namun Aydin melarangnya, dengan senyumnya dia mengambilkan nasi dan lauk untuk Kiki dan dirinya. Untuk hari ini dia ingin memanjakan istri tercintanya itu. Naila menatap kesal Kiki dan mendengus kesal mendengar jawaban Aydin.


"Abang tega nyuruh Naila berangkat sendiri? Naila baru loh Bang disini. Cuma nganterin aja apa salahnya sih?" Naila mencebik kesal sambil sedikit melempar sendok dan garpu nya di atas piringnya. Ayah dan Bunda yang berada di depannya kaget tiba - tiba mendengar suara lemparan dentingan sendok dan garpu yang mengenai piring. Bunda mengelus - elus dadanya, dan Ayah segera memberikan minuman pada Bunda yang berada di depannya.


"Naila, gak sopan kayak gitu. Kamu itu udah besar, harus tahu sopan santun", Ayah Aydin menegur Naila dengan sangat tegas sehingga terkesan seperti memarahinya.


Naila tidak terima dia dimarahi di depan Kiki, dia meraih tasnya yang ada di kursinya dan beranjak keluar rumah.


"Cepetan Bang, aku tunggu di luar!!!" teriak Naila ketika hendak keluar dari pintu dan menutup pintu dengan membantingnya sangat keras.


Braaaaaak.......


Bunda terkejut kaget hingga dia sedikit terlonjak dari duduknya. Bunda memegang dadanya. "Allah Ya Rabbi.... anak macam apa itu... Udah cepetan bawa anak itu pergi, Bunda udah bosen lihatnya, bisa - bisa Bunda jantungan dekat - dekat dia terus"


"Kiki, maafkan Naila ya, dia memang keras kepala dan manja, tapi Ayah tidak menyangka jika semakin dia besar sikapnya semakin memburuk. Ayah janji akan menasehatinya hingga dia berubah lebih baik. Bahkan semalam Ayah sudah mengancamnya agar tidak mengganggu Aydin dan kamu", Ayah menenangkan Kiki dengan kata - katanya, namun tangannya menggenggam telapak tangan Bunda yang berada di atas meja untuk menenangkan Bunda.


Kiki hanya tersenyum getir tidak menjawab. Bunda sedih melihat Kiki yang tidak seceria biasanya.


"Ya udah, yuk sayang berangkat, kita antar Naila dulu, setelah itu kita sarapan di luar ya", Aydin meraih tangan Kiki dan memberikan senyumnya, menengadahkan wajahnya di depan wajah Kiki.


Dengan sedikit senyum, Kiki meresponnya dan mengangguk. Aydin beranjak dari duduknya dan menggandeng Kiki untuk berdiri dan berjalan bersamanya. Kiki pun berdiri, namun Bunda menghentikannya untuk menyuruh Kiki meminum susu yang sudah disiapkan Bunda di gelas yang ada di depan Kiki. Aydin berniat menunggu Kiki untuk menghabiskan susunya, namun suara teriakan Naila memaksanya untuk pergi ke luar duluan.


"Bang buruan.....!!! Braaaak.....", suara bantingan pintu kembali terdengar yang di sebabkan oleh Naila.


"Haduh lama - lama rumah ini ambruk karena tuh anak. Udah Aydin kamu ke sana duluan, biar dia gak ngomel, Kiki biar habiskan dulu susunya, setelah itu biar dia nyusul kamu ke depan", Bunda memberikan solusi untuk kesehatan jantungnya.


Aydin menatap Kiki, dan Kiki mengangguk setuju, sehingga Aydin pergi ke luar menuju mobilnya terlebih dahulu. Aydin menekan kunci remote mobilnya, kemudian dia duduk di belakang kemudi. Dengan tidak tahu dirinya Naila masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi depan sebelah Aydin. Sontak saja Aydin kaget ketika mendapati Naila sudah duduk di sampingnya.


"Naila, itu kursinya Kiki. Kamu duduk di belakang saja. Buruan pindah sebelum Kiki datang!" Aydin menyuruh Naila tanpa menghadapnya.

__ADS_1


Tadi, setelah mendengar suara pintu mobil yang tertutup dan Aydin merasa ada yang duduk di sampingnya, dia menoleh, dan dia kaget karena Naila masih juga tidak mengerti posisinya, dia menyuruh Naila pindah namun pandangannya lurus ke depan. Tiba - tiba dia terbelalak kaget karena kini Naila sudah duduk di pangkuannya dengan duduk menyamping. Pas sekali pada saat itu Kiki membuka pintu mobil dan mendapati Naila duduk di pangkuan suaminya dengan mengalungkan tangannya ke leher Aydin, sedangkan Aydin hanya diam terpaku karena saking kagetnya. Reflek Kiki lari dari situ tanpa menutup kembali pintu mobil. Bunda dan Ayah yang tadinya mengantar Kiki di depan pintu rumah kaget melihat Kiki berlari keluar pintu gerbang setelah membuka pintu mobil bukannya naik malah lari. Karena penasaran, Bunda dan Ayah berlari menuju mobil dan betapa kagetnya dia melihat apa yang ada di depannya. Bunda berteriak sehingga menyadarkan Aydin dalam keterdiamannya tadi. Reflek dia mendorong tubuh Naila sehingga terjengkang di dalam mobil, dan Aydin dengan segera keluar dari mobil dengan kikuk dan bingungnya.


__ADS_2